Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Setelah mempertimbangkan perkataan kedua orangtuanya, beberapa hari kemudian, Alfa akhirnya memutuskan menemui Pak Danu di kantornya. Dia ingin menyampaikan masa lalunya secara terbuka sebelum memberikan jawaban mengenai perjodohan dengan Ayudia.
Pak Danu menyambut kedatangannya dengan ramah. Setelah mempersilakan Alfa duduk, pria paruh baya itu menutup berkas yang sedang diperiksanya.
“Apa kedatanganmu kemari untuk memberikan jawaban atas tawaran saya kemarin?” tanyanya.
“Belum sepenuhnya, Pak. Ada beberapa hal tentang masa lalu saya yang perlu Bapak ketahui sebelum saya mengambil keputusan,” jawab Alfa.
Pak Danu mengamati wajah Alfa beberapa saat, lalu mengangguk. “Kalau begitu, saya akan memanggil Ayudia. Saya ingin dia mendengar langsung apa yang ingin kamu sampaikan. Bagaimanapun, keputusan ini menyangkut masa depan kalian berdua.”
Alfa mengangguk setuju. Kemudian Pak Danu menghubungi sekretarisnya dan meminta Ayudia datang ke ruangannya. Tidak lama kemudian, gadis itu muncul
"Papa memanggil saya?" tanyanya lantas melirik ke arah Alfa dan tersenyum.
"Iya, duduklah," perintah sang ayah. Ayudia lantas duduk di samping ayahnya.
“Baiklah, sekarang kita bisa berbicara dengan tenang. Silakan sampaikan apa yang ingin kamu ceritakan, Alfa,” ujar Pak Danu.
Alfa merapatkan kedua tangannya di atas lutut sebelum berbicara. Kemudian dia mulai mengungkapkan perjalanan hidupnya yang kelam.
"Saya menjalani rumah tangga selama lima tahun dan berakhir setelah istri saya berselingkuh dengan sahabat yang selama ini telah saya anggap seperti saudara sendiri...."
Lalu mengalir lah cerita bahwa pengkhianatan itu semakin menyakitkan karena keduanya merampas hampir seluruh harta miliknya, termasuk rumah, kendaraan, dan aset usaha yang telah susah payah dibangunnya.
Kehilangan segalanya memaksanya memulai hidup dari nol. Dia bahkan harus bekerja sebagai kuli bangunan demi bertahan hidup, hingga akhirnya perlahan bangkit dan membangun usahanya kembali.
Meski kejadian itu telah berlalu bertahun-tahun, luka akibat pengkhianatan tersebut masih membekas. Namun, Alfa tidak ingin menjadikan masa lalunya sebagai sesuatu yang harus disembunyikan, terlebih ketika dirinya hendak membangun hubungan baru dengan seseorang.
Pak Danu dan Ayudia mendengarkan tanpa menyela. Keduanya baru berbicara setelah Alfa selesai menceritakan semuanya.
“Saya menghargai kejujuranmu,” ujar Pak Danu. “Namun, sebagian besar dari apa yang kamu ceritakan sebenarnya saya sudah mengetahuinya.”
Alfa menatapnya dengan heran. “Bapak sudah tahu?”
“Ya. Sebelum mengajukan perjodohan ini, saya sudah mencari tahu latar belakangmu.”
Alfa terdiam, tak menyangka Pak Danu mau bersusah payah mencari tahu kisah hidupnya.
“Kalau begitu, kenapa Bapak masih ingin menjodohkan saya dengan Ayudia? Bukankah masa lalu saya cukup rumit?” tanyanya.
“Masa lalumu tidak mengubah penilaian saya terhadap dirimu,” jawab Pak Danu tegas.
"Karena menurut saya kamu sangat istimewa dan saya sungguh menghargai perjuanganmu untuk bangkit setelah kehilangan segalanya."
Alfa sedikit tersanjung atas kepercayaan yang diberikan Pak Danu. Akan tetapi, masih ada satu persoalan yang belum dia sampaikan.
“Terima kasih, Pak. Namun, ada hal lain yang menurut saya jauh lebih penting untuk diketahui Ayudia.”
Setelah mendapat anggukan dari Pak Danu, Alfa kembali melanjutkan penjelasannya. Dia menceritakan pengakuan mantan istrinya yang sengaja memberikan obat penurun kesuburan selama beberapa tahun pernikahan mereka. Hingga kini, diriny juga belum pernah menjalani pemeriksaan medis untuk mengetahui apakah obat tersebut berdampak pada kondisi kesuburannya.
Alfa berharap dengan pengakuannya tersebut, menjadi pertimbangan tersendiri. Sebab, dia tidak ingin Ayudia baru mengetahui kemungkinan tersebut setelah menikah, apalagi jika kelak persoalan itu menjadi sumber kekecewaan dalam rumah tangga mereka.
“Apakah kamu sudah berkonsultasi dengan dokter mengenai masalah itu?” tanya Pak Danu setelah beberapa saat terdiam.
“Belum, Pak," jawab Alfa sedikit ragu.
“Kalau begitu, lakukanlah. Jangan mengambil kesimpulan sebelum ada penjelasan medis yang pasti. Belum tentu obat yang pernah kamu konsumsi menyebabkan gangguan kesuburan permanen.”
Alfa mengerti bahwa kekhawatirannya belum tentu terbukti. Akan tetapi, dia merasa Ayudia berhak mengetahui hal tersebut sebelum mengambil keputusan.
Ayudia yang sejak tadi menyimak akhirnya angkat bicara.
“Saya berterima kasih karena Mas Alfa sudah mau jujur menceritakan semuanya. Saya bisa memahami mengapa Mas perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan.”
Ia menatap Alfa dengan tenang, tanpa menunjukkan sikap menghakimi.
“Saya tidak memungkiri bahwa masalah kesuburan bisa menjadi pertimbangan bagi saya. Namun, saya juga tidak ingin mengkhawatirkan sesuatu yang belum dipastikan secara medis.”
Alfa menghargai keterbukaan Ayudia, meskipun jawaban itu belum sepenuhnya menghilangkan keraguannya.
“Saya hanya ingin kita menjalani semuanya dengan jujur. Kalau memang diberi kesempatan untuk saling mengenal, saya berharap kita bisa melakukannya tanpa tekanan dari siapa pun,” ujar Alfa.
“Saya setuju, Mas,” jawab Ayudia.
Pak Danu memandang keduanya bergantian. Beliau tidak ingin memaksakan kehendaknya atau menuntut mereka segera menerima perjodohan tersebut. Baginya, kesediaan Alfa dan Ayudia untuk saling mengenal tanpa paksaan sudah menjadi langkah awal yang baik.
Kini, keputusan selanjutnya berada di tangan mereka.
*
*
*
Di rumah sakit
Siang itu, Davina baru saja selesai menemani Naima menjalani kontrol rutin. Setelah putrinya diperbolehkan pulang usai menjalani operasi beberapa waktu lalu, ia berusaha memastikan proses pemulihannya berjalan dengan baik.
Sambil mendorong kursi roda Naima, ia menuju pintu keluar. Namun, seseorang yang hendak memasuki lobi hampir menabraknya.
“Maaf,” ucap pria itu singkat.
Davina yang mengenali suara tersebut mendadak terdiam. Ia mengangkat wajahnya dan matanya langsung membulat saat mengenali wajah pria yang berdiri tepat di hadapannya.
Alfa, mantan suaminya itu berdiri sambil memalingkan muka. Meski penampilannya berbeda dari beberapa tahun lalu, Davina tidak mungkin salah mengenali wajah tersebut.
'Apa yang dilakukannya di rumah sakit ini?' batinnya heran.
Rasa penasaran membuat Davina mengamati penampilan mantan suaminya dari ujung kepala hingga kaki. Ia tidak menyangka akan bertemu Alfa di tempat seperti ini.
"Mas Alfa?" panggilnya, memastikan bahwa pria di hadapannya memang mantan suaminya.
Alfa hanya melirik sekilas lalu hendak kembali melangkah masuk.
“Tunggu, Mas!” Davina segera menahan langkahnya. “Kamu mau berobat?”
Alfa terpaksa menatap wajah wanita yang pernah mengkhianatinya itu tanpa berniat untuk menjawab.
Davina mengernyit. “Memangnya kamu punya uang mau berobat di rumah sakit semahal ini?"
“Jangan-jangan kamu datang ke sini cuma untuk mencari pengobatan gratis?” sindirnya.
Alfa tetap tidak menanggapi. Sikap acuh itu justru membuat Davina semakin kesal.
“Sudah jadi gembel saja masih belagu!” celetuknya, terdengar merendahkan.
“Aku mau berobat atau melakukan apa pun di sini, itu bukan urusanmu. Aku tidak perlu meminta ijin padamu,” jawab Alfa dingin.
Davina tertegun, tak menyangka mantan suaminya berani menjawab setajam itu.
“Aku cuma bertanya!” balasnya ketus.
“Dan aku tidak berkewajiban menjawab pertanyaanmu.”
Setelah mengatakan itu, Alfa kembali melangkah masuk, meninggalkan Davina tanpa menunggu balasan. Sementara itu, Davina hanya bisa menatap punggung mantan suaminya dengan menahan geram.