Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM GERHANA MERAH
Malam mencapai puncaknya ketika warna merah darah merayap perlahan menutupi piringan bulan di langit Benua Luar. Fenomena Gerhana Merah membayangi seluruh daratan, membiaskan cahaya kehitaman yang janggal ke permukaan tanah. Udara malam mendadak terasa begitu kental, dingin, dan dipenuhi oleh tekanan spiritual berat yang membuat makhluk hidup enggan menatap langit.
Di jalur pendakian Gunung Tengkorak Merah, Ryu Jin melangkah tenang menaiki tangga batu kuno.
Jubah cokelat pudar yang dikenakannya berkibar keras dihantam angin gunung yang membawa aroma racun dan amis tembaga. Wajahnya yang kusam tetap datar tanpa ekspresi, tetapi matanya yang tajam mengawasi setiap jengkal dinding batu yang mengapit tangga.
Ada keanehan yang teramat mencolok di sepanjang jalur pendakian ini.
Pos-pos penjagaan internal, benteng pertahanan batu, hingga gerbang-gerbang perbatasan sekte yang biasanya dijaga ketat oleh ratusan prajurit berzirah darah... kini benar-benar kosong melompong. Obor-obor di dinding pilar membakar angin sepi, tidak meninggalkan satu pun penjaga yang bersiaga.
Ryu Jin tidak mempercepat langkahnya. Ia menyandarkan tangan kanannya pada pinggang, membiarkan jemarinya menyentuh gagang pedang besi berkarat. Musuh tidak sedang melarikan diri, juga tidak sedang lengah. Keheningan ini adalah bentuk penyambutan yang dirancang khusus untuknya.
TAP.
Kaki Ryu Jin menapak di anak tangga terakhir. Pelataran luas Altar Utama Puncak Gunung membentang di hadapannya.
Di tengah pelataran batu raksasa itu, berdiri sebuah altar bertingkat sembilan yang terbuat dari susunan kristal darah. Di sekeliling altar, ribuan pipa tembaga hitam bermuara, memuntahkan cairan esensi jiwa merah pekat yang dipompa dari seluruh formasi bawah tanah di Benua Luar.
DUAARR!
Tepat saat Ryu Jin menginjakkan kaki di tengah pelataran, gerbang kayu bertatahkan rantai besi di belakangnya membanting rapat dengan suara ledakan dahsyat! Formasi pelindung berwarna merah kehitaman meledak dari dalam lantai batu, mengisolasi seluruh puncak gunung dari dunia luar secara mutlak.
GZZZZZZ!
Dinding-dinding batu di sekeliling pelataran mendadak bergetar hebat. Dari dalam tanah, ratusan mayat prajurit, murid luar, dan para tetua sekte yang baru mati beberapa hari terakhir merayap keluar.
Tubuh-tubuh tanpa jiwa itu tidak bertarung sendiri-sendiri. Daging, tulang, dan organ mereka saling melilit dan menyatu secara menjijikkan di bawah kendali jimat-jimat kuno, membentuk sesosok raksasa daging setinggi sepuluh meter! Raksasa daging itu memancarkan racun busuk dan aura tekanan setara praktisi ranah Nascent Soul Menengah!
"ROAAAAAR!"
Raksasa daging itu mengayunkan tinjunya yang terbentuk dari tumpukan tengkorak manusia, menghantam udara lurus ke arah kepala Ryu Jin!
Pukulan itu membawa angin kencang yang sanggup meremukkan fondasi bangunan batu. Namun, Ryu Jin bahkan tidak mengedipkan matanya.
Saat tinju raksasa daging itu berjarak setengah meter dari wajahnya, Ryu Jin maju satu langkah ke depan. Tangan kanannya terangkat pelan, menempelkan dua jari tangan telanjangnya pada pusat simpul jimat di dahi raksasa tersebut.
TAP.
Aura kematian murni dari Pedang Tulang Hitam di dalam dada Ryu Jin merembes keluar seumpit melalui ujung jarinya.
KRAK!
Struktur energi terlarang yang mengikat ratusan mayat tersebut seketika hancur dari dalam! Raksasa daging setinggi sepuluh meter itu membeku kaku di udara, lalu dalam hitungan detik, seluruh tumpukan daging dan tulangnya runtuh terurai menjadi abu hitam yang lenyap ditiup angin malam!
Pertunjukan kekuatan yang teramat efisien dan sadis.
"Luar biasa... Sungguh efisiensi eksekusi yang sempurna."
Sebuah suara serak dan berat bergaung dari puncak Altar Utama. Tepuk tangan perlahan bergema menembus keheningan pelataran.
Di puncak altar bertingkat sembilan, melangkah keluar sesosok pria bergaun sutra hitam berukirkan rantai emas. Wajah pria itu teramat mengerikan—separuh wajahnya berupa kulit manusia yang pucat pasi, sementara separuh lainnya hanya berupa tulang tengkorak kering dengan mata berwarna hijau menyala.
Dialah Tetua Agung Du Xuan—pimpinan tertinggi Sekte Iblis Langit Merah dan praktisi ranah Nascent Soul Puncak!
Di belakang Du Xuan, sebuah sangkar kristal transparan tergantung di udara. Di dalam sangkar itu, terbaring seorang wanita bergaun putih bernoda darah—Lian Xue. Tubuh wanita itu terkulai lemah, wajahnya pucat bagaikan mayat saat saluran-saluran energi murni di lehernya ditarik secara paksa menuju ke pusat altar.
Ryu Jin menatap Du Xuan dari bawah panggung altar. Wajahnya yang kusam tidak menunjukkan sedikit pun keterkejutan.
"Kau membunuh Tetua Gong, melumpuhkan simpul balai kota, dan meremukkan Gubernur Yuan di Lembah Tengkorak Hitam," kata Du Xuan seraya mengusap tongkat tengkorak di tangannya, senyuman mengerikan terukir di separuh wajah kulitnya. "Kau pikir kau sedang mengacak-acak rencanaku secara sembunyi-sembunyi, bukan?"
Du Xuan tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul keras di dinding-dinding karang.
"Bocah dungu! Aku sudah mengetahui keberadaanmu sejak kau memusnahkan Tiga Sekte Besar di Benua Lama!" seru Du Xuan dengan mata hijau menyala gila. "Penyegelan formasi dan pembantaian di balai kota... aku sengaja membiarkanmu melakukannya! Aku memang sengaja memancingmu untuk melangkah ke puncak gunung ini!"
Ryu Jin tidak membalas provokasi itu. Ia hanya mendengarkan seraya merasakan aliran energi formasi yang bergetar hebat di bawah tanah.
"Kau pikir esensi jiwa dari ribuan warga ini dikumpulkan untuk dikonsumsi olehku?!" Du Xuan melebarkan kedua tangannya ke udara, menunjuk ke arah kolam darah di bawah altar. "Bukan! Esensi jiwa ini tak lebih dari sekadar bahan bakar pelumas! Pintu gerbang kuno yang terkurung di bawah Puncak Gunung ini membutuhkan sebuah 'Kunci Utama' agar dapat terbuka sepenuhnya!"
Du Xuan menunjuk lurus ke arah dada kiri Ryu Jin dengan wajah penuh kegilaan.
"Dan Kunci Utama itu... adalah kau dan Pedang Tulang Hitam yang menyatu di dalam dadamu!" jerit Du Xuan. "Pedang terlarang yang lahir dari pembantaian Desa Sunyi dua puluh lima tahun lalu! Hanya hawa kematian murni dari pedang itulah yang sanggup merobek segel purba di bawah tanah ini!"
SSSTTT!
Tepat saat kata-kata Du Xuan berakhir, seluruh ukiran aksara di permukaan Altar Utama meledak dalam pancaran cahaya merah darah yang teramat pekat!
Ratusan saluran esensi jiwa yang bermuara di pelataran mendadak membalikkan alirannya, menyembur keluar membentuk empat pilar cahaya raksasa yang mengurung posisi Ryu Jin di tengah pelataran!
PRANG! KRAK!
Dari dalam kolam darah di dasar altar, tiga sosok raksasa melompat keluar bersamaan, mendarat di sekeliling pilar cahaya tersebut!
Mereka adalah Tiga Jenderal Iblis Ranah Nascent Soul Tingkat Lanjut—tiga ahli pertarungan jarak dekat milik sekte yang tubuhnya telah dimodifikasi menggunakan jaringan tulang besi dan racun darah purba!
Jenderal Iblis pertama memegang dua kapak raksasa berduri, Jenderal Iblis kedua membawa rantai kait pemakan daging, dan Jenderal Iblis ketiga melayang dengan empat lengan baja beracun!
"Bunuh dia! Tenggelamkan dia ke dalam formasi altar hingga pedang di dadanya bereaksi!" perintah Du Xuan dari atas altar seraya menancapkan tongkat komandonya lurus ke dalam pusat kristal darah!
"HAAAAAGH!"
Tiga Jenderal Iblis itu meraung keras, memancarkan gabungan tekanan aura Nascent Soul yang teramat dahsyat hingga meretakkan seluruh lantai batu pelataran! Mereka melesat maju dari tiga arah berbeda secara serentak dengan kecepatan yang memecahkan dinding suara!
Kapak raksasa menebas ke arah leher Ryu Jin, rantai kait mengunci kedua kakinya, dan empat lengan baja beracun mengincar jantungnya secara mutlak!
Serangan gabungan itu begitu rapat, terorganisir, dan tidak meninggalkan satu pun celah untuk melarikan diri.
Ryu Jin yang berdiri di tengah pilar cahaya merah tidak melangkah mundur satu sentimeter pun. Wajah kusamnya tetap tenang, tetapi untuk pertama kalinya sejak ia menapakkan kaki di Benua Luar...
Tangannya mencengkeram gagang pedang besi di pinggangnya, dan matanya berkilat dalam warna merah darah yang teramat pekat dan mematikan!
KLANG!
Pertarungan sengit di Puncak Gunung Tengkorak Merah pecah secara dahsyat menembus malam gerhana!