Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Senyum dalam Ketenangan

Keheningan yang mencekam masih membungkus halaman rumah Dirga. Lumpur hitam sisa hujan semalam memantulkan bayangan mobil sport open-top merah yang terparkir mencolok. Di tengah kepungan tatapan warga sekitar yang menahan napas, Leon berdiri membusungkan dada dengan kepalan tangan mengeras, merasa terintimidasi oleh ukiran senyum tipis yang tersungging di bibir Dirga.

Eri menarik lengan kemeja Leon semakin kuat, matanya melirik liar ke arah Dirga dengan rasa tidak nyaman yang amat sangat. "Leon, ayo pergi dari sini! Jangan dilayani orang gila ini. Dia cuma mau cari perhatian!"

Leon tidak bergeming. Pengusaha muda itu menepis pelan tangan Eri, lalu melangkah satu titik lebih dekat hingga jarak dadanya dengan Dirga hanya berselisih beberapa sentimeter. "Kenapa kamu tersenyum, Dirga? Kamu pikir tatapan sok misterius kamu itu bisa bikin aku takut? Jawab aku! Apa yang ada di kepala sampah kaya kamu?!"

Dirga tidak berkedip sedikit pun. Di balik ketenangan wajahnya yang tenang bagai permukaan danau tanpa riak, benak Dirga baru saja memproses seluruh informasi dari kilatan visi masa depan yang diterimanya beberapa detik lalu. Visi itu begitu jernih, tanpa cela, dan teramat rinci.

Dalam waktu tepat tujuh hari dari hari ini, pilar kejayaan keluarga Leon akan roboh hingga ke akarnya. Audit forensik dari pihak berwenang atas skandal dugaan penyimpangan dana proyek kontraktor pemerintah yang dijalankan ayah Leon akan merembet secara agresif. Seluruh rekening bank atas nama perusahaan, rekening pribadi sang ayah, hingga seluruh rekening penjamin atas nama Leon sendiri akan dibekukan total oleh kejaksaan. Mobil sport merah yang sedang dibanggakannya ini, jam tangan bersepuh emas seharga ratusan juta di pergelangan tangannya, hingga unit apartemen mewah tempat ia memamerkan kekayaannya kepada Eri akan disita negara sebagai jaminan ganti rugi krisis finansial.

Leon yang hari ini berdiri menyombongkan kemewahan di atas tanah lumpur ini, minggu depan hanya akan menjadi seorang pemuda frustrasi yang dikejar-kejar kreditur tanpa menyisa sepeser pun uang di dalam dompetnya.

Namun, Dirga memilih untuk tidak membongkar rahasia takdir tersebut. Bagi Dirga, membocorkan visi tersebut secara mentah-mentah hanya akan membuat orang konyol seperti Leon menganggapnya melakukan manuver ancaman atau tuduhan fitnah. Biarlah waktu dan takdir sendiri yang bekerja menampar keangkuhan manusia secara langsung.

"Kenapa kamu diam saja, Dirga?!" bentak Leon lagi, suaranya meninggi hingga menggema di antara rumah-rumah warga. "Mana suara kamu yang tadi berani menatap aku?! Kamu sadar kan kalau kamu itu nggak ada apa-apanya dibanding aku?!"

Dirga menarik napas panjang melalui hidung, menghembuskannya perlahan untuk menjaga agar keteraturan fokus batinnya tetap stabil. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Leon dengan raut wajah yang sepenuhnya tanpa beban.

"Aku tidak perlu membalas apa pun yang kamu ucapkan, Leon," kata Dirga dengan suara datar, formal, dan teramat jernih. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu berbobot tanpa ada nada kemarahan sedikit pun.

Eri menyela dengan nada ketus, melipat kedua tangannya di dada. "Alasan! Bilang saja kamu memang iri melihat Leon, kan? Dulu waktu sama aku, kamu cuma bisa ajak aku naik motor tua yang bau asap! Sekarang lihat Leon, dia bisa kasih aku segalanya yang tidak pernah bisa kamu bayangkan!"

Dirga mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Eri. Tatapan mata Dirga begitu dingin, seolah sedang menatap seorang asing yang sama sekali tidak memiliki arti dalam perjalanan hidupnya lagi. Rasa sakit akibat pengkhianatan wanita itu di masa lalu telah sepenuhnya lenyap, berganti dengan benteng harga diri yang teramat kokoh.

"Iri?" sahut Dirga pendek. Sebuah tawa kecil yang teramat tipis keluar dari tenggorokannya. "Tidak ada satu hal pun dari kalian berdua yang membuatku iri."

"Sombong sekali kamu!" bentak Leon, wajahnya memerah karena merasa diremehkan di hadapan warga. "Kamu itu cuma tukang ojek yang kebetulan beruntung bisa membodohi warga dengan ramalan murahan! Jangan berlagak seolah kamu berada di atas kami!"

"Leon, sudah!" teriak Eri, menarik paksa bahu Leon. "Ayo kita pulang! Aku gatal berada di tempat kotor seperti ini lama-lama. Lagian ngapain sih mendengarkan omongan orang miskin yang halusinasi begini?"

Leon menggeretakkan giginya, menunjuk wajah Dirga dengan jari telunjuknya. "Hari ini kamu bisa berlagak tenang di depan warga kamu. Tapi ingat, Dirga, sekali sampah tetaplah sampah! Kamu tidak akan pernah bisa menyentuh level kehidupan yang aku miliki!"

Dirga tetap berdiri dalam posisinya. Kedua tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celana kainnya. Senyum ketenangan di wajahnya sama sekali tidak memudar sedikit pun menghadapi provokasi kasar tersebut.

"Nikmati selagi masih bisa naik mobil itu, Leon," ujar Dirga pelan, namun setiap artikulasinya bertekanan amat kuat.

Leon tertegun sejenak, keningnya berkerut dalam. "Apa kamu bilang?"

"Aku bilang," ulang Dirga sambil menatap mobil sport merah di balik tubuh Leon, "nikmati selagi kamu masih bisa naik mobil itu. Nikmati juga jam tangan mahal di pergelangan tanganmu itu selagi masih menempel di sana. Karena apa yang kamu anggap permanen hari ini, bisa hilang tanpa sisa dalam sekejap mata."

Eri tertawa mengejek dengan nada sumbang. "Hahaha! Maksud kamu apa? Kamu mendoakan mobil Leon mogok? Atau kamu mau meramal kalau mobil ini bakal hilang? Konyol banget kamu, Dirga! Kamu pikir doa atau ramalan konyol kamu itu ada artinya buat orang kaya kaya Leon?!"

"Aku tidak mendoakan apa pun, Eri," jawab Dirga tenang. "Aku hanya menyampaikan sebuah kenyataan yang tidak bisa kamu pahami sekarang. Waktu yang akan menjawabnya."

Leon menatap Dirga dengan pandangan penuh kebencian dan kebingungan. Kalimat pendek dari Dirga tadi mengandung misteri mendalam yang justru menusuk hingga ke jantung pertahanannya, membuat rasa percaya dirinya sedikit bergoyang meski ia berusaha keras menutupinya dengan kemarahan.

"Dasar orang gila!" maki Leon seraya berbalik arah menuju mobilnya. "Ayo Eri, kita pergi! Mendingan kita makan siang daripada melayani orang stres yang cuma bisa menghibur diri dengan khayalan konyol!"

Eri menyusul langkah Leon dengan terburu-buru, melirik jijik ke arah Dirga untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam kabin mobil mewah tersebut. Pintu mobil ditutup dengan dentuman keras. Mesin sport itu meraung kencang, memercikkan sedikit air lumpur ke tepi jalan saat mobil melaju cepat meninggalkan kawasan pemukiman warga.

Warga yang menyaksikan kejadian itu menghela napas lega. Pak RT melangkah mendekati Dirga dengan raut wajah khawatir. "Dirga, kamu tidak apa-apa, Nak? Orang-orang kaya itu betul-betul tidak punya tata krama."

Dirga menoleh ke arah Pak RT, lalu tersenyum sopan. Rasa dingin di wajahnya seketika mencair menjadi keramahan yang wajar. "Saya tidak apa-apa, Pak RT. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bapak dan warga yang lain bisa kembali ke aktivitas masing-masing."

"Tapi kata-kata mereka tadi..." Pak RT menggantung kalimatnya, merasa prihatin atas hinaan bertubi-tubi yang ditujukan kepada pemuda itu.

"Kata-kata tidak akan bisa melukai orang yang tahu siapa dirinya sendiri, Pak RT," potong Dirga halus namun penuh penegasan. "Biarkan saja mereka pergi."

Setelah berpamitan secara sopan kepada warga yang perlahan membubarkan diri, Dirga balik badan dan melangkah naik menaiki tangga kayu rumahnya. Ia menutup pintu depan rapat-rapat, mengunci slot kayu, dan menyandarkan punggungnya di pintu sejenak. Suasana di dalam rumah kayu panggung itu terasa begitu hening dan menenangkan, jauh dari bisingnya hinaan di luar sana.

Dirga berjalan menuju area meja kayu sederhana di sudut ruang tengah. Di atas meja tersebut, beberapa lembar dokumen transaksi perbankan dan kuitansi pembayaran tergeletak rapi.

Dirga mengambil kuitansi pertama, bukti pelunasan utang kasbon sebesar Rp5.000.000 kepada Pak Bambang di kantor PT Kantor Investasi. Beban jerat hukum dan ancaman penjara yang selama ini membayanginya telah sepenuhnya runtuh dan selesai secara sah.

Ia kemudian melihat kuitansi kedua, bukti pembayaran pelunasan biaya servis dan reparasi total sepeda motor matik lamanya sebesar Rp2.500.000 di bengkel kepercayaan. Motor tua peninggalan orang tuanya itu kini telah selesai diperbaiki dan siap digunakan kembali tanpa ada sangkutan utang sepeser pun.

Dirga menggeser kuitansi-kuitansi tersebut. Di bawahnya, tersisa sebuah amplop cokelat tebal yang berisi sisa modal tunai milik Lisa Larasati. Dari total uang ganti rugi sebesar Rp50.000.000 yang diberikan Lisa waktu itu, Dirga sebelumnya terpaksa memakai Rp40.000.000 sebagai modal awal investasi saham pertamanya. Kini, setelah meraih keuntungan spektakuler hingga saldonya menyentuh angka Rp122.700.000, Dirga telah memisahkan uang modal milik Lisa secara utuh untuk dikembalikan sepenuhnya tanpa menyisa satu rupiah pun uang modal asing.

"Utang kantor sudah lunas lima juta rupiah. Motor sudah selesai dan lunas dua setengah juta rupiah," gumam Dirga pada dirinya sendiri. "Uang milik Lisa Larasati sudah utuh kembali dan siap diserahkan kapan saja. Sekarang yang tersisa di akun RDN ini adalah murni uang pribadiku."

Dirga duduk di kursi kayu. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintar jadul dengan layar retak yang selama ini menjadi senjata utamanya. Jari-jarinya dengan cepat membuka aplikasi transaksi sekuritas saham yang terpasang di dalamnya.

Layar ponsel itu menampilkan angka saldo Rekening Dana Nasabah (RDN) milik Dirga secara bersih. Setelah dikurangi pelunasan utang kasbon, biaya motor, dan penyisihan modal utuh milik Lisa, saldo dana tunai siap pakai milik Dirga saat ini berdiri kokoh di angka Rp65.200.000.

Angka Rp65.200.000 ini mungkin tampak biasa bagi orang-orang kaya seperti Leon atau Lisa Larasati. Namun bagi seorang mantan petugas OB yang dulu harus memeras keringat hingga malam hari hanya demi mengumpulkan uang ratusan ribu, angka ini adalah sebuah fondasi benteng finansial yang teramat sangat berharga.

Dirga memfokuskan pandangannya pada pergerakan grafik pasar saham nasional yang sedang berjalan secara real-time. Matanya memindai satu per satu daftar emiten perusahaan di papan perdagangan utama.

Ia tidak ingin terburu-buru, tetapi ia tahu bahwa roda takdir dan putaran modalnya harus terus bergerak menanjak naik. Hinaan Leon dan Eri di tepi jalan tadi sama sekali tidak mengganggu jiwanya, justru menjadi pengingat dingin bahwa kekuasaan finansial yang nyata adalah kunci utama agar ia tidak lagi diremehkan oleh siapa pun di kota ini.

Dirga memusatkan aliran pernapasan di dadanya, memfokuskan titik pikirannya tepat pada daftar emiten sektor komoditas dan pertambangan yang tertera di layar ponsel. Cahaya dari layar retak itu memantul di manik mata Dirga yang tajam dan tak tergoyahkan. Transaksi kedua yang jauh lebih besar dan strategis siap ia eksekusi.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!