Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERTAMA ATG
Obatnya datang jam 15.07 dalam box styrofoam putih.
Arga yang menunggu di lobi farmasi sejak jam 1 siang melihat kurir itu datang dengan jaket bertuliskan COLD CHAIN. Di dalam box ada 6 vial kecil, cairan bening kekuningan, dengan label: ATGAM - Anti-Thymocyte Globulin, equine.
Harganya 153 juta untuk 6 vial. Arga sudah transfer jam 9 pagi tadi, tanpa nego, tanpa tanya diskon. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, uang banyak itu terasa tidak ada artinya.
"Pak Arga, obatnya harus langsung dibawa ke HCU, tidak boleh kena suhu ruangan lama," kata apoteker.
Arga menggendong box itu sendiri, tidak dikasih ke perawat. Ia jalan cepat dari farmasi lantai 1 ke HCU lantai 5, box dipeluk seperti bawa bayi.
Di HCU, Alya sudah siap. Infus besar sudah dipasang di tangan kanan, bukan infus kecil biasa. Selang besar untuk ATG. Di sampingnya, alat emergency sudah standby: oksigen high flow, obat alergi, kortikosteroid.
Dokter hematologi dan 2 perawat sudah pakai APD lengkap.
"Bu Alya, ini hari pertama ATG ya," kata dokter. "Obat ini dari serum kuda. Tugasnya membunuh sel imun yang menyerang sumsum tulang Ibu. Efeknya, Ibu akan merasa seperti alergi berat: menggigil, demam tinggi sampai 40, tekanan darah turun, jantung berdebar. Itu normal, itu tanda obat bekerja membunuh sel nakal itu. Tapi tetap kami pantau ketat."
Alya mengangguk. Wajahnya pucat, tapi matanya fokus. Ia sudah baca leaflet yang dokter kasih tadi pagi.
"Berapa lama, Dok?" tanya Alya.
"8 jam infus hari ini. Besok 8 jam lagi, lusa 8 jam lagi, 4 hari total."
Bu Ratna yang duduk di pojok ruangan langsung buka mukena. "Ibu sholat di sini ya, Nak."
Alya mengangguk.
Pukul 15.30, vial pertama dibuka. Cairan bening itu dicampur ke dalam kantong infus besar 500cc. Perawat menggantungnya.
"Tetes pertama ya, Bu."
Tetes pertama masuk jam 15.32.
Menit 1-10 tidak ada apa-apa. Alya hanya merasa dingin di tangan.
Menit ke-15, Alya mulai menggigil.
Awalnya hanya bibir bergetar. Lalu tangan. Lalu seluruh tubuh.
"Mas... dingin..." bisik Alya.
Arga yang berdiri di samping langsung ambil selimut tebal 2 lapis.
"Dok, menggigil!" katanya panik.
"Itu efek ATG, Pak, sudah kami duga," kata dokter tenang, tapi tangannya sudah mengambil termometer dan tensimeter. "Bu Alya, tarik napas pelan. Ini obatnya lagi perang di dalam."
Menggigil itu bukan menggigil demam biasa. Ini menggigil hebat, seperti orang kedinginan di kutub. Gigi Alya bergemeletuk keras, bed bergetar. Monitor menunjukkan suhu naik cepat: 37,9 ke 38,5 ke 39,2 dalam 20 menit. Jantung 115, tekanan 90/60 turun.
Bu Ratna berhenti sholat, langsung pegang kaki Alya. "Alya, istighfar Nak, istighfar..."
Arga memeluk selimut itu ke tubuh Alya, menggosok punggungnya. "Al, aku di sini, aku di sini..."
Pukul 16.10, 40 menit setelah infus, Alya demam 39,8. Wajahnya merah, tapi tubuhnya menggigil hebat. Paradoks yang menakutkan.
Perawat menyuntikkan hidrokortison dan paracetamol IV untuk menahan reaksi.
"Pak Arga, ini puncak reaksi hari pertama. Biasanya 1-2 jam pertama paling berat, setelah itu turun," kata dokter.
Arga tidak menjawab. Ia hanya terus menggosok tangan Alya yang dingin di dalam selimut, padahal dahi Alya panas membara.
Alya menatap Arga di sela menggigil. "Mas... kalau aku..."
"Jangan ngomong dulu," potong Arga, suaranya pecah. "Simpan tenaga."
Alya menggeleng lemah, masih menggigil. "Kalau aku nggak kuat..."
"Kamu kuat," bisik Arga, menempelkan dahinya ke dahi Alya yang panas 39,8 itu. "Pabrik kamu kosong, sekarang lagi dibersihin. Sakit ini tanda dibersihin."
Kalimat itu, kalimat yang dokter bilang kemarin sore, sekarang Arga pakai untuk Alya.
Jam 17.00, setelah 1,5 jam perang, menggigilnya pelan-pelan berkurang. Suhu masih 39,5 tapi tubuh tidak lagi bergetar hebat. Alya lemas total, seperti habis lari marathon. Keringat membasahi rambut dan bajunya.
"Bagus, Bu Alya lewat fase kritis hari pertama," kata dokter. "Sekarang kita pelankan tetesannya, lanjut sampai jam 11 malam."
Alya mengangguk lemah, tidak ada tenaga bicara.
Arga mengambil handuk kecil, mengelap keringat di dahi, leher, tangan Alya. Pelan-pelan. Mbok Sari yang baru datang dari rumah membawa handuk hangat juga membantu.
Jam 19.00, infus masih jalan, sisa 200cc. Alya tertidur karena kelelahan dan obat tidur ringan yang diberikan dokter untuk menahan reaksi.
Di luar tirai HCU, Bu Ratna sholat Maghrib. Arga duduk di lantai koridor HCU, punggung bersandar tembok, box styrofoam ATG kosong di sampingnya.
HP-nya bergetar.
Keisya: Gimana ATG hari pertama?
Arga menatap chat itu. Keisya tidak datang ke lobi lagi, tidak bilang "kamu harus memilih" lagi. Hanya tanya kabar.
Arga: Baru lewat menggigil hebat. Demam 39,8. Sekarang tidur.
Keisya: Itu normal. Temen aku yang perawat bilang hari pertama emang paling berat. Kamu makan belum?
Arga: Belum.
Keisya: Makan, Ga. Kamu harus kuat 4 hari.
Arga tidak membalas lagi. Ia masukkan HP ke saku. Untuk pertama kalinya, chat Keisya tidak terasa seperti tuntutan, tapi seperti teman yang tahu diri jaga jarak.
Jam 23.00, infus ATG hari pertama selesai. 8 jam. 6 vial hari pertama habis 1,5 vial.
Dokter melepas selang besar, mengganti dengan infus siklosporin kecil.
"Bu Alya hebat, hari pertama lewat," kata dokter. "Besok jam 3 sore lagi, reaksi biasanya lebih ringan karena tubuh sudah kenal."
Alya membuka mata sedikit. "Dok... besok masih menggigil lagi?"
"Mungkin, tapi tidak sehebat hari ini."
Alya menatap Arga yang matanya merah karena menahan tangis sejak jam 3 sore.
"Mas masih di sini?" tanya Alya, pertanyaan yang sama seperti di Bab 19 malam mau pulang.
Arga mengangguk. Ia mengambil syal krem yang kemarin ia bawa dari rumah — syal yang di Bab 22 lama kamu bilang "dulu Mas nggak pernah memperhatikan" — dan menyelimuti bahu Alya yang masih berkeringat.
"Di sini. Sampai 4 hari ATG selesai. Sampai pabrik kamu tumbuh lagi."
Alya menyentuh syal itu dengan ujung jari, lalu tertidur lagi karena lelah.
Di luar jendela HCU, taman bunga kuning yang kemarin Alya lihat masih ada, diterangi lampu taman. Besok, hari kedua ATG, ia akan lihat lagi taman itu, setelah perang hari pertama selesai.
Dan box ATG kosong di koridor menjadi saksi bahwa hari pertama dari 4 hari pembersihan pabrik telah lewat.