Ibu adalah orang yang paling bisa mengerti dan mengenal tentang kita. Tak ada cinta yang sekuat Cinta ibu. Kasih sayangnya begitu tulus sampai tak ada yang bisa menandinginya.
Novita adalah wanita paruh baya yang berstatus single parent, dia menghidupi kedua anak-anaknya seorang diri. Masalah dalam hidupnya datang silih berganti tak ada hentinya. Namun dia selalu berusaha sabar dan tegar untuk menghadapi semua masalah yang menimpanya. Baginya pengalaman adalah sebuah pelajaran berharga untuk dirinya.
Tapi hati ibu mana yang tak hancur ketika kedua anaknya berani untuk membenci ibunya sendiri. Akankah mereka sadar betapa besarnya kasih sayang yang tulus dari sang ibu? Bisakah Novita bertahan dan menyadarkan kedua anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang tanpa batas, walaupun di balas dengan kebencian?
Yuk berkelana dalam kisah hidup Novita bersama-sama😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yessie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam
Sepulang dari kerja Novita duduk di depan rumah setelah dia meletakan sepatu di rak, dia pun langsung menyandarkan kepalanya di kursi depan rumah.
“Hari ini aku merasa sangat lelah sekali. Ingin sekali aku beristirahat dan membaringkan tubuhku di kasur sebentar. Huft,” gumam Novita yang kemudian berdiri lalu masuk ke dalam kamarnya.
Mengetahui kalau ibunya sudah pulang dari kerja, Radit langsung keluar dari kamarnya sebab dia ingin segera memberitahukan kepada ibunya soal dirinya yang sudah mendapatkan panggilan kerja.
Namun, ketika dia akan menghampiri ibunya, dia melihat kalau ibunya sudah menutup pintu kamarnya.
“yah, ibu sudah menutup pintu duluan. Tapi tumben sekali ibu pulang-pulang langsung masuk ke kamar. Biasanya ibu selalu duduk dulu di depan tv atau nggak langsung memasak di dapur. Sepertinya ibu sedang capek. Sebaiknya nanti saja aku memberikan surat ini padanya,” gumam Raditya yang masih berdiri tak jauh dari kamarnya.
Sore itu di mana ketika mereka melakukan makan malam bersama di meja makan. Raditya memulai percakapannya dengan Novita.
“Ibu,”
“Iya ka?”
“Aku ingin memberitahukan sesuatu kepada ibu.”
“Apa?”
Cantika dan Novita terlihat sangat penasaran.
“Em, tunggu sebentar ya bu. Aku akan ke kamar untuk mengambilkan sesuatu,”
“Apa sih kak? Bikin penasaran saja ih,” sahut Cantika seraya menggenggam sendok.
“Bawel,” kata Raditya sambil mengacak-acak rambut adiknya.
“Iiihh, kakak! Jadi berantakan kan nih rambutku,” ucap Cantika sambil merapikan kembali rambutnya dengan jarinya.
Raditya lalu berjalan menuju ke kamarnya. Dia kemudian mengambil sebuah amplop coklat di atas meja belajarnya. Selepas itu dia berikan amplop itu kepada ibunya.
“Ini bu, lihat saja,” kata Raditya sembari menyerahkan amplop itu pada ibunya.
Awalnya, Novita memang penasaran, namun setelah melihat amplop itu dia tau apa isi di dalamnya.
“Apa Raditya sudah di terima pekerjaan? Pasti isi amplop ini adalah rekrutan pegawai baru di perusahaan temannya itu.” Gumam Novita yang nampak berat hatinya.
Ia kemudian berpura-pura tidak tahu.
“Apa ini nak?”
“Buka lah saja bu,”
Dibukalah amplop itu lalu dia segera membacanya.
“Benarkan, Radit sudah di terima di perusahaan temannya itu. Dan dia diberikan waktu hanya satu minggu,” gumam Novita yang masih menggenggam kertas surat itu.
“Ibu,” panggil Raditya sambil menepuk-nepuk kecil bahu tangan ibunya.
“Eh iya kak?” ucap Novita yang terlihat kaget.
“Aku sangat senang sekali bu. Akhirnya yang selama ini aku tunggu-tunggu datang juga. Jadi nggak sabar rasanya ingin sekali bekerja.”
Novita hanya tersenyum miring.
“Em, ibu mau masuk ke kamar dulu ya nak,” pamit Novita kepada kedua anaknya.
“Mulai deh, mulai lebay banget sih. Seperti mau di tinggal anaknya seumur hidup aja! Sok-Sokan pakai acara dramatis banget,” sahut Cantika.
“Hust! Diam saja, kenapa sih kamu Can!”
“Ya tapi kan…”
“Udah deh diem,” kata Raditya yang kemudian berdiri meninggalkan meja makan itu,
“Loh, kenapa kalian semua pergi sih! Terus siapa yang mau beres-beres meja makannya ini?” Tanya Cantika.
“Ya kamu lah!” pekik Raditya.
“Ih, pada ngeselin deh!” kata Cantika mengernyitkan mulutnya.
Akhirnya Cantika terpaksa membereskan meja makan yang baru saja mereka gunakan. Selesai itu dia lalu pergi menghampiri ibunya.
“Mana amplop coklat dari kakak tadi? Aku pengen tahu apa isinya.” Ucap Cantika sembari mengulurkan tangannya.
“Itu ada di atas meja nak.” Jawab Novita seraya menuding ke arah meja riasnya.
Cantika lalu berjalan mengambil amplop dan kemudian dia membaca isinya.
“Astaga, ternyta cuman pemberitahuan kalau kakak sudah di terima kerja? Aku kira apaan, sampai sok galau gitu.” Sindir Cantika.
Novita hanya membisu tanpa menjawab satu patah kata pun. Selesai membaca isi amplop itu Cantika lalu duduk di samping ibunya yang sedang bersandar di bahu tempat tidur seraya melipat kembali surat itu.
“Kalau menurut aku sih ya bu, ibu tuh nggak usah lebay, nggak usah sok sedih, dan nggak usah sok jadi orang yang paling kehilangan kakak. Toh, kakak hanya kerja di luar kota, dan nggak akan menetap di sana. Jadi ngapain sih ibu tuh sok drama gitu, kelihatan berat untuk melepas kakak. Inget ya bu, kakak tuh udah besar, dia juga udah bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi jangan memberat-beratkan kakak untuk pergi mencari rejeki.” Ucap Cantika dengan begitu sinis kepada ibunya.
Sakit rasa hati ini ketika seorang anak sama sekali tidak bisa berbicara dengan sopan kepada orang tuanya sendiri.
Diam, membisu itu yang sering Novita lakukan untuk menahan amarahnya. Orang yang diam bukan berarti dia lemah, namun dia tidak ingin membuat luka kecil untuk orang lain. Dan terkadang diam itu lebih baik daripada menjelaskan soal isi hati kita, karena akan menyakitkan jika kita tahu mereka bisa mendengar namun tak bisa mengerti dengan perasaan kita.
“Jadi, sebaiknya ibu nggak usah sok drama-drama gitu dan nggak usah memberatkan kakak untuk pergi. Biarkan kakak mengemkembangkan ilmunya yang sudah didapat dengan caranya sendiri.” Kata Cantika yang kemudian pergi meninggalkan kamar ibunya.
Novita seakan tak sanggup lagi membendung air matanya yang akan mengalir deras ketika mendengar perkataan kasar dari anak bungsunya tadi.
“Astaga, ternyata aku sudah tak ternilai lagi di mata anak ku ini. Ucapannya menunjukan bahwa begitu besar kebenciannya terhadap ku. Tak ada sedikitpun rasa sopan kepada ibunya sendiri. Aku bagaikan ibu yang tidak berguna untuk dirinya,” gumam Novita yang kemudian membaringkan tubuhnya.
Setelah keluar dari kamar ibunya, Cantika kemudian mendekati kakaknya yang sedang asyik menonton televisi.
“Hay kak,”
“Hem!”
“Ternyata, kakak sudah di terima bekerja di perusahaan yang kakak inginkan ya?” Tanya Cantika yang kemudian duduk di samping kakaknya.
“Iya Can,”
“Bagus deh kalau begitu. Aku juga ikut senang.”
“Ya, tinggal menunggu keputusan dari ibu sih. Kalau ibu sudah bilang “YA” aku akan berangkat minggu ini. Tapi, kalau ibu belum merestui mungkin aku akan mencari pekerjaan di sini.”
“Gimana sih kak, ini kan kesempatan emas buat kakak. Harusnya kakak nggak usah mikirin ibu. Aku kasih saran ya kak, kesempatan itu nggak akan datang untuk yang kedua kalinya loh ya. Jika kakak masih kekeh ingin meminta restu sama ibu, aku yakin kesempatan ini akan segera hilang.”
“Ah, kamu ini sok menggurui kakak.”
“Loh gimana sih kakak nih. Aku tuh cuman kasihan sama kakak, kakak sudah berusaha keras, dan sudah lama menginginkan hal itu, tapi kakak nggak langsung mengambil keputusan tepat untuk diri kakak sendiri.”
Raditya kemudian mulai mencerna perkataan yang baru saja dikatakan oleh adiknya itu. Penglihatannya kosong ketika matanya menatap tv.
“Sebenarnya perkataan Cantika ada benarnya juga sih. Aku memang sudah lama menunggu kesempatan seperti ini. Ta—pi, bagaimana dengan ibu? Ibu juga hanya diam saja tidak mengambil keputusan. Sedangkan aku hanya diberikan waktu seminggu.” Gumam Raditya sambari memainkan remote Tv.
Tak lama ponsel pribadi milik Raditya bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari temannya. Cantika yang mengetahui kalau ponsel milik kakaknya bordering, ponsel itu langsung diambil dan diberikan kepada kakaknya.
“Kak, ini ada panggilan masuk.”
“Hah? Owh ya, sini berikan pada ku.”
Setelah mengambil ponselnya, Raditya kemudian berdiri dan berjalan keluar untuk menerima panggilan masuk waktu itu.
bersambung....