Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Restoran itu kembali tenang. Pelayan baru saja meninggalkan meja mereka setelah mencatat pesanan yang cukup banyak.
Calista masih terlihat sedikit salah tingkah.
Sementara Arga berusaha bersikap biasa saja, meskipun ucapan yang baru saja terlontar dari mulutnya masih membuat dirinya sendiri merasa malu.
Beberapa saat kemudian...
Calista mengambil gelas air putih.
"Pak..."
"Hm?"
"Kalau makanannya sebanyak itu, saya benar-benar harus menghabiskannya?"
Arga menatapnya.
"Tidak."
Calista menghela napas lega.
"Syukurlah."
Arga tersenyum tipis.
"Kalau tidak habis, kita bungkus."
Calista tertawa kecil.
"Baik, Pak."
Itu adalah pertama kalinya Arga mendengar Calista tertawa di dekatnya.
Sederhana.
Tidak keras.
Namun entah mengapa...
Suara itu membuat suasana makan siang terasa jauh lebih menyenangkan.
Arga tanpa sadar ikut tersenyum.
Calista kemudian menyadari sesuatu.
"Pak."
"Iya?"
"Bapak dari tadi tersenyum terus."
Arga langsung kembali memasang wajah datar.
"Saya tidak tersenyum."
Calista menatapnya beberapa detik.
"Tadi tersenyum."
"Perasaanmu saja."
Calista menahan tawa.
"Baiklah."
Tidak lama kemudian...
Pesanan mulai datang.
Satu per satu piring diletakkan di atas meja.
Sup ayam.
Salad.
Grilled chicken.
Steak.
Udang saus mentega.
Spaghetti.
Kentang goreng.
Sup jamur.
Jus jeruk.
Calista semakin melongo.
Ia melihat meja yang perlahan penuh.
"Pak..."
Arga mengambil garpu.
"Hm?"
"Ini benar-benar cuma untuk kita?"
"Iya."
Calista menggeleng pelan.
"Kalau ada orang lewat, mungkin mereka kira kita sedang menjamu satu keluarga."
Arga tertawa kecil.
Calista langsung terdiam.
Ia baru saja membuat atasannya tertawa.
Dan entah kenapa...
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Arga kemudian menunjuk piring di hadapan Calista.
"Makan."
Calista mengangguk.
"Iya."
Ia mengambil sedikit makanan.
Arga memperhatikannya.
"Jangan sedikit-sedikit."
Calista berhenti.
"Kenapa?"
"Kamu dari tadi bilang belum makan."
Calista tersenyum.
"Saya memang tidak terbiasa makan banyak."
Arga mengambil sedikit lauk dari piringnya sendiri.
"Kalau begitu pelan-pelan."
Calista menatapnya.
"Pak..."
"Hm?"
"Terima kasih."
Arga mengernyit.
"Untuk apa?"
"Sudah mengajak makan."
Arga terdiam sejenak.
"Sama-sama."
Jawaban itu sederhana.
Namun cara Arga mengucapkannya begitu lembut.
Calista menunduk.
Mereka pun mulai makan.
Tidak ada pembicaraan mengenai pekerjaan selama beberapa menit.
Hanya suara alat makan yang sesekali terdengar.
Namun anehnya...
Tidak terasa canggung.
Justru terasa nyaman.
Sesekali Arga bertanya mengenai makanan yang disukai Calista.
"Kamu suka makanan pedas?"
"Sedang."
"Minuman?"
"Jus."
"Manis?"
"Jangan terlalu manis."
Arga mengangguk kecil.
Ia seperti sedang mengingat satu per satu jawaban perempuan itu.
Calista akhirnya menyadarinya.
"Bapak kenapa bertanya banyak sekali?"
Arga terdiam.
Ia sebenarnya tidak bisa menjawab bahwa ia ingin mengenal Calista lebih jauh.
Akhirnya ia berkata,
"Supaya saya tahu."
"Tahu apa?"
"Makanan yang cocok untuk kamu."
Calista kembali terdiam.
Wajahnya memerah.
"Oh..."
Arga sendiri tampak sedikit gugup.
Ia kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana pekerjaanmu belakangan ini?"
Calista tersenyum.
"Baik, Pak."
"Masih banyak?"
"Lumayan."
"Kalau terlalu banyak, bilang."
Calista mengangguk.
"Baik."
Arga menatapnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri."
Calista terdiam sebentar.
"Pak Arga..."
"Iya?"
"Bapak selalu seperti ini kepada semua karyawan?"
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.
Ia tahu maksud Calista.
Arga menatap perempuan itu beberapa detik.
"Tidak."
Jawabannya begitu singkat.
Calista perlahan mengangkat wajah.
"Kenapa kepada saya?"
Arga tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun kepada meja.
Kemudian kembali kepada Calista.
"Entahlah."
Calista menunggu.
Arga akhirnya tersenyum tipis.
"Mungkin karena kamu berbeda."
Deg.
Jantung Calista kembali berdebar.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Untungnya...
Ponsel Arga kembali berdering.
Arga melihat layar.
Kali ini ia langsung mengangkatnya.
"Ya?"
Percakapan berlangsung beberapa menit.
Calista menunduk dan melanjutkan makan.
Namun tanpa ia sadari...
Sudut bibirnya masih menyimpan senyum kecil.
Setelah makan siang selesai...
Arga berdiri.
Calista ikut berdiri.
"Terima kasih makan siangnya, Pak."
Arga mengangguk.
"Sama-sama."
Mereka berjalan menuju lift.
Kali ini...
Tidak ada Dimas.
Hanya mereka berdua.
Pintu lift tertutup.
Suasana menjadi hening.
Calista berdiri di sebelah Arga.
Arga sesekali meliriknya.
Calista pura-pura tidak menyadari.
Sampai akhirnya...
Arga berkata,
"Calista."
"Iya?"
"Besok..."
Calista menoleh.
"Kamu ada waktu?"
"Untuk apa, Pak?"
Arga kembali terdiam.
Ia seharusnya mengatakan ada rapat.
Namun kali ini...
Ia tidak ingin mencari alasan.
"Makan siang."
Calista berkedip.
"Besok juga?"
Arga mengangguk kecil.
"Kalau kamu tidak keberatan."
Calista tersenyum.
"Baik, Pak."
Ting!
Pintu lift terbuka.
Calista keluar terlebih dahulu.
Arga menyusul.
Namun sebelum mereka berpisah menuju divisi masing-masing...
Calista berhenti.
"Pak."
"Hm?"
"Besok... jangan pesan sebanyak hari ini."
Arga tersenyum.
"Saya pikir kamu suka."
Calista ikut tersenyum.
"Saya takut nanti meja makannya tidak muat."
Untuk beberapa detik...
Mereka saling tersenyum.
Tidak ada lagi jarak seperti sebelumnya.
Tidak ada percakapan formal yang kaku.
Perlahan...
Hubungan antara seorang CEO dan bawahannya mulai berubah.
Bukan sesuatu yang besar.
Bukan pula sesuatu yang mereka akui.
Hanya perhatian kecil.
Makan siang bersama.
Percakapan singkat.
Senyuman yang lebih sering.
Dan keinginan sederhana untuk bertemu lagi keesokan harinya.
Namun...
Di sudut koridor, seseorang berdiri memperhatikan mereka.
Dimas.
Ia melihat Calista pergi.
Kemudian menatap Arga yang masih berdiri di tempatnya.
Dimas tersenyum.
"Pak..."
Arga menoleh.
"Apa?"
Dimas berjalan mendekat.
"Besok saya perlu pesan meja untuk dua orang lagi?"
Arga langsung mengernyit.
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
Arga memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Kali ini saya yang pesan."
Dimas terdiam.
Kemudian tersenyum semakin lebar.
"Wah..."
Arga langsung menunjuknya.
"Jangan macam-macam."
"Siap, Pak."
Dimas tertawa kecil.
Sementara Arga kembali menatap ke arah Calista yang sudah menghilang di balik pintu.