Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.
Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.
Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.
Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.
Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Pertama
Lampu-lampu kota berkelebat di balik kaca mobil. Jalanan tergolong ramai lancar dengan laju kendaraan bermotor yang kondusif. Dan selama di perjalanan menuju mansion, suasana berlangsung dalam hening yang nyaman. Ketenangan tersisip dalam percakapan yang nyaris tidak ada.
Rozen yang duduk tenang bersandar menatap keluar jendela melalui kaca mobil yang tertutup rapat. Di sebelahnya juga Aurora melakukan hal yang sama.
Keduanya duduk di kursi belakang. Masing-masing dengan pemandangan yang terfokus pada jendela daripada ke jalan di hadapan mereka, dengan mendengar suara pikiran masing-masing.
Aurora masih memikirkannya. Perihal benda kecil yang ditemukan suaminya. Pita putih yang asing namun terasa familiar. Aurora dengan pikiran berisiknya masih berusaha untuk mengingat. Mungkin saja pita itu memang pernah dilihat olehnya, namun tidak ingat kapan dan di mana persisnya.
Aurora mengernyit kecil. Entah mengapa pita itu terasa begitu familiar. Bukan sekadar pernah melihatnya. Rasanya seperti ada sesuatu dalam bentuk, warna bahkan kesan sederhana dari pita tersebut yang membuat dadanya berdesir aneh. Tapi apa?
Di dalam mobil, Aurora memang duduk diam tapi tidak dengan pikiran yang sedang bekerja keras. Semakin dipikirkan, semakin kepalanya terasa penuh.
Rozen mulai memperhatikan dari sudut mata.
"Masih memikirkannya?" selidiknya dengan tenang.
"Aku tidak tahu, Rozen. Rasanya aku pernah melihat pita itu." Aurora tidak memandang Rozen ketika mengatakan hal tersebut. Pandangannya masih melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong memperhatikan gedung-gedung yang bergerak mundur beriringan.
Rozen tidak menimpali karena ia juga tidak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkan wanita penuh rasa penasaran itu.
Tangan Rozen tetap berada di atas sandaran kursi sambil sepasang mata tajam itu memperhatikan bagaimana raut kegelisahan istrinya yang secara tiba-tiba tampak begitu menarik di matanya.
Namun, Rozen segera membuang muka begitu pikirnya tersadar. Menepis segala penilaian yang menurutnya tidak masuk akal. Ia mengubah pandangan matanya menjadi menatap jalanan di depan. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kalau ingat sesuatu, katakan padaku."
Aurora menoleh dengan ekspresi penuh tanya yang kontras.
"Kenapa?"
"Karena aku perlu tahu."
Jawaban itu sama sekali tidak memberi Aurora kepuasan. Ia kemudian tersenyum kecil. Tentu saja tidak akan ada hal istimewa yang akan terjadi. Aurora baru saja berharap bahwa Rozen mulai memberikan perhatian yang tidak disangkutpautkan dengan yang namanya tanggung jawab semata. Aurora mulai berharap bahwa suaminya itu memang ingin memperhatikannya karena sebuah rasa yang disebut sayang.
Tapi realita kembali menyadarkan bahwa hal itu tidak akan mungkin terjadi pada wanita yang hanya menjadi pengantin pengganti di altar.
"Kamu benar-benar suka memerintah, ya?"
Rozen mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi datar andalannya yang seolah berkata, "aku tidak suka dibantah, Aurora."
Aurora tertawa hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Bahkan kedua mata bulat itu pun sedikit menyipit lantas ikut berekspresi saat tawanya terdengar renyah. Menertawakan suaminya yang tampan namun sayangnya sangat pelit berekspresi.
"Baiklah, aku akan memberitahumu jika mengingat sesuatu."
Aurora kembali menatap jendela dengan senyum kecil yang masih tersisa di bibirnya.
Rozen masih belum mengalihkan pandangan. Tatapannya berhenti pada Aurora lebih lama dari yang seharusnya. Rozen bahkan tidak menyadari bahwa pandangannya mengikuti setiap perubahan ekspresi di wajah wanita itu. Mulai dari mata yang berbinar, bibir yang masih menyisakan senyum, hingga pipinya yang sedikit memerah setelah tertawa.
Untuk beberapa detik, suara di mesin mobil yang samar terdengar seolah menghilang.
Rozen mengerutkan kening kecil karena pria dingin itu tidak mengerti kenapa dirinya harus memperhatikan hal sesederhana itu dari wanita yang terpaksa dinikahinya. Bahkan Rozen sudah sering melihat Aurora tersenyum. Lalu kenapa tawa kali ini terasa berbeda? Rozen tidak mengerti kenapa tawa sederhana itu terdengar begitu nyaman.
Sampai Aurora menyadari bahwa dirinya baru saja diperhatikan. Wanita itu menoleh hingga tatapan mereka bertemu dengan tidak sengaja.
"Rozen?”
Itu suara lembut Aurora. Rozen segera mengalihkan pandangannya dengan sedikit canggung.
"Ada apa?" tanya Aurora lagi karena tidak mengerti dengan tingkah aneh suaminya itu.
"Bukan apa-apa,” jawabnya datar seperti biasa namun di dalam dirinya gejolak asing terasa mengusik.
"Baiklah." Aurora mengubah arah pandangnya menjadi menghadap depan, pura-pura fokus pada jalanan di hadapannya. Tapi Aurora sadar bahwa suaminya masih mencoba mencuri pandang ke arahnya.
Wanita itu tersenyum, terlampau canggung dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Dan tanpa Rozen sadari, sudut bibirnya sendiri hampir ikut terangkat sebelum pria itu buru-buru menahannya.
Ada sesuatu yang mulai berubah. Bukan cinta. Rozen yakin dirinya belum bisa mencintai. Mungkin pantas disebut sebuah ketertarikan kecil yang tumbuh diam-diam, begitu samar hingga Rozen sendiri belum mampu memberinya nama.
Yang Rozen tahu hanya satu. Ia mulai terlalu sering memperhatikan Aurora.
...***...
Sementara itu pada dimensi waktu yang bersamaan, begitu meninggalkan La'Duna Hotel, Isabella berjalan cepat menuju mobil yang telah menunggunya di sisi belakang hotel. Adrian sudah berada di balik kemudi, memastikan tidak ada seorang pun yang mengikuti mereka. Isabella masuk ke kursi belakang dan segera menutup pintu.
Di sebuah mobil yang melaju meninggalkan La'Duna Hotel, Isabella duduk diam di kursi belakang. Gedung megah itu perlahan menjauh dari pandangan mereka, lampu-lampu keemasannya semakin kecil melalui kaca belakang.
Isabella masih menatap dengan pandangan kosong dengan pikiran dipenuhi banyak hal. Ia baru saja melihat Aurora, saudara kembarnya, yang begitu dekat tetapi tetap tidak bisa menyapanya.
Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya ketika mengingat senyum Aurora di meja makan tadi. Senyum yang dulu begitu sering ia lihat ketika mereka masih kecil. Namun sekarang senyum itu diberikan kepada pria yang seharusnya menjadi suaminya.
Rozen Salvadore.
Isabella menundukkan wajah. "Aurora terlihat bahagia," gumamnya pelan.
Adrian melirik melalui kaca spion. "Dan itu membuatmu khawatir?"
Isabella terdiam cukup lama lalu menggelengkan kepala lesu.
"Bukan."
Isabella menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Justru itu yang membuatku takut."
Adrian tidak bertanya lagi dan kembali fokus mengemudikan mobil.
Wanita itu, Isabella Valencia memiliki kecantikan yang hampir tidak bisa dibedakan dari Aurora. Dengan garis wajah yang sama, berbentuk oval yang lembut. Hidung kecil dan tegas, serta bibir berwarna merah muda alami yang membentuk lekukan manis ketika tersenyum.
Rambutnya panjang, hitam kecokelatan dan jatuh melewati bahunya dengan tekstur lembut. Beberapa helai sering membingkai wajahnya, memberikan kesan anggun sekaligus sedikit liar.
Dari semua aspek itu, matanya menjadi bagian yang paling mudah dikenali. Sepasang mata berwarna cokelat gelap dengan tatapan tajam dan dalam. Jika Aurora memiliki sorot mata yang lembut dan polos, mata Isabella justru menyimpan ketenangan seseorang yang telah melewati banyak hal. Tatapannya sering terlihat sulit ditebak, seolah selalu menyimpan sesuatu di balik diamnya.
Jika Aurora terlihat seperti seseorang yang membawa kehangatan ke dalam ruangan, Isabella justru membawa kesan sebaliknya.
Meski wajah mereka nyaris identik, orang yang mengenal keduanya akan segera menyadari perbedaannya.
Aurora tersenyum dengan mata.
Sedangkan Isabella lebih sering menyembunyikan perasaannya di balik tatapannya yang tenang.
Adrian yang berada di depan sesekali menoleh melalui kaca spion. Hingga pada akhirnya pria itu menyadari sesuatu. Hal fatal yang seharusnya tidak boleh terjadi hari itu.
”Di mana pita rambutmu?” ucap Adrian dengan nada suara sedikit panik.
Isabella mengerutkan kening, tidak terima saat lamunannya terusik.
"Apa?"
"Pita rambutmu, Bella!"
Isabella terdiam. Pada raut wajahnya terlukis jelas bahwa wanita itu mendadak menjadi panik dengan tangannya yang refleks menyentuh rambut.
Wajahnya berubah. Sepasang matanya terbuka lebar ketika menyadari benda itu memang tidak ada.
"Adrian, di mana aku kehilangannya?" Isabella dilanda panik seutuhnya.
"Pasti di hotel." Adrian menghentikan laju mobilnya, menepi sejenak untuk menetralkan kepanikan yang melanda keduanya.
Isabella memejamkan mata, membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi kedepannya.
"Jika Rozen menemukannya, Aurora pasti menyadari bahwa pita itu milikku."
Adrian tidak langsung menjawab karena hal itu mungkin saja terjadi
"Ayo kembali, cari pita itu!" Adrian hendak menyalakan mesin mobil kembali namun Isabella menghentikannya dengan menyentuh pundak Adrian dengan cepat.
Untuk beberapa detik wanita tidak mengatakan apa-apa, kemudian menatap keluar jendela.
Dengan suara yang sangat pelan, ia berkata, "Jika benar begitu artinya mereka punya sesuatu milikku."
Adrian menghela napas. "Dan kalau mereka menyelidikinya?"
Isabella menatap pantulan dirinya sendiri di kaca kemudian tersenyum pahit.
"Berarti waktuku untuk terus bersembunyi sudah semakin sedikit."
Di dalam mobil yang masih memilih untuk menepi, Isabella menerka-nerka tentang hari esok yang masih menjadi misteri.
Sementara jauh di belakang mereka, Rozen masih menyimpan pita putih itu di dalam sakunya tanpa mengetahui bahwa benda kecil tersebut adalah petunjuk pertama yang secara tidak sengaja akan menghubungkannya kembali dengan masa lalu yang selama ini pria itu kira telah meninggalkan hidupnya untuk selamanya.
...***...