Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan terakhir
"Berani sekali kau masuk dan menghancurkan Vilaku?"
Cakra menatap tajam wanita yang berdiri di hadapannya.
"Jangankan vilamu, aku juga bisa menghancurkanmu sekarang juga!" balas Elea, suaranya dingin dan penuh ancaman.
Elea melangkah mendekat, tatapannya begitu tajam, berbeda dari tatapan yang pernah Cakra lihat sebelumnya.
Siapa wanita ini sebenarnya? batin Cakra.
"Putrimu hampir membunuh anakku, dan kau malah menutupi kebusukannya. Di mana hati nuranimu, hah!" bentak Elea, suaranya bergetar menahan amarah yang membuncah.
"Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan seorang Ayah!" balas Cakra tegas.
"Ayah?" Elea tertawa sinis, penuh kepahitan. "Ayah macam apa yang membiarkan anaknya jadi pembunuh, lalu menculiknya demi menutupi kejahatan itu?!"
Elea mendekati Cakra dengan tatapan tajam, menusuk, membuat pria itu tanpa sadar melangkah mundur.
"Anakku hampir mati karena putrimu yang pengecut itu..." desisnya tajam.
Cakra melirik sekilas ke arah Bimo, memberi kode kecil dengan matanya. Bimo yang paham langsung mengangguk pelan, perlahan bergerak mundur, membiarkan Cakra yang mengulur waktu.
"Kau menutupi kejahatan anakmu dengan menghancurkan hidup orang lain." lanjut Elea, belati di tangannya di putar pelan, membuat Cakra menelan ludahnya dengan kasar.
"Kau akan rasakan semua yang putriku rasakan!"
Tanpa peringatan lagi, Elea melesat maju, meninju wajah Cakra dengan kekuatan penuh.
BUGH!
Cakra terhuyung ke belakang, kaget dengan pukulan itu. Namun sebelum ia sempat memulihkan keseimbangan, Elea sudah kembali menyerang, kali ini dengan tendangan telak ke perutnya.
"Akh."
Cakra jatuh berlutut, meringis kesakitan. Ia mencoba membalas dengan pukulan asal, tapi Elea dengan mudah menghindar, lalu membalas dengan hantaman siku ke wajahnya.
"Sialan..." desis Cakra, mencoba bangkit meski tubuhnya mulai goyah.
Elea tak memberi kesempatan. Setiap gerakannya penuh perhitungan dan amarah yang selama ini terpendam, amarah seorang ibu yang anaknya hampir di bunuh dan diculik.
Cakra mencoba melawan, melayangkan pukulan balasan yang berhasil mengenai rahang Elea. Tapi wanita itu hanya meludahkan darah dari sudut bibirnya, matanya semakin menyala.
"Segitu doang kekuatanmu?" ejek Elea, sebelum kembali menyerang bertubi-tubi.
Cakra semakin kewalahan. Wajahnya yang tadinya rapi kini penuh memar, matanya mulai membengkak, darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Setiap kali ia mencoba bangkit, Elea selalu lebih cepat, menjatuhkannya kembali dengan pukulan atau tendangan yang tak kenal ampun.
"BERHENTI!" teriak Cakra putus asa, tangannya mencoba melindungi wajahnya yang sudah babak belur.
Tapi Elea tidak berhenti. Ia mencengkeram kerah baju Cakra, memaksanya berdiri, lalu menghantamkan tinjunya sekali lagi tepat ke wajah pria itu.
"Ini cuma permulaan kecil."
•○•
BRAKH
Vanesa menendang pintu besi itu dengan sekali tendangan mantap, membuat pintu terbuka kasar dan membuat gadis yang meringkuk di dalam ruangan itu terperanjat kaget.
"Bunda..." bisik Lyn pelan, matanya membelalak tak percaya menatap sosok yang berdiri di ambang pintu.
Vanesa langsung menghampiri, ia menarik tubuh ringkih Lyn ke dalam pelukannya, mendekap erat seolah takut kehilangan lagi.
"Sayang..." suaranya bergetar, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Lyn pecah dalam tangis di pelukan itu, tubuhnya bergetar hebat menahan segala rasa takut dan lelah yang selama ini ia pendam sendiri.
"Bunda..."
"Sekarang kamu sudah aman," ucap Vanesa lembut, melonggarkan pelukannya sedikit untuk menatap wajah Lyn yang pucat dan penuh luka. Matanya berkaca-kaca, baginya gadis ini bukan sekedar anak sahabatnya, tapi sudah seperti putrinya sendiri. "Bunda dan Ibumu akan bawa kamu keluar dari sini."
"Sekarang, ayo kita pergi," lanjutnya, mengusap air mata di pipi Lyn dengan lembut.
Lyn mengangguk lemah, dan Vanesa segera membantunya berdiri, merangkul tubuh gadis itu untuk menopang setiap langkahnya yang masih goyah.
"Kamu masih sanggup jalan, Nak?" tanya Vanesa khawatir, memperhatikan kondisi Lyn yang tampak begitu lemah.
"Aku akan berusaha, Bunda," jawab Lyn pelan, meski suaranya nyaris tak terdengar, tekadnya tetap terlihat jelas di matanya yang sembab.
Vanesa tersenyum tipis, meremas pelan bahu Lyn sebagai penyemangat.
"Pelan-pelan aja, kita nggak buru-buru. Yang penting kamu keluar dari sini dengan selamat."
Mereka baru saja melangkah keluar ruangan ketika sesosok bayangan muncul dari lorong gelap—Bimo, dengan senjata terarah ke hadapan Vanesa dan Lyn.
Lyn terperanjat, tubuhnya membeku seketika. "Bun..."
"Tenang, Lyn," bisiknya Vanesa, meski matanya sendiri menajam waspada. Ia melirik cepat ke arah timnya yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai, entah dibius atau dilumpuhkan diam-diam sebelum mereka sempat bereaksi.
Bimo menyeringai tipis, senjatanya tak bergeming. "Kalian pikir bisa keluar begitu saja dari sini? Letakkan gadis itu, atau kalian berdua yang akan jadi mayat berikutnya."
"Coba saja," desis Vanesa dingin.
Tanpa aba-aba, Vanesa mendorong tubuh Lyn ke belakangnya, melindunginya sekaligus memberi ruang gerak. Detik berikutnya, ia sudah melesat maju, menghindari tembakan pertama Bimo sebelum membalas dengan tendangan cepat ke arah tangan yang memegang senjata.
Lyn tercekat, matanya melebar tak percaya menyaksikan pemandangan di hadapannya. Selama ini ia mengenal Vanesa sebagai sosok yang hangat, penuh canda, sahabat setia ibunya. Tapi sekarang, gerakannya begitu lincah, tajam, dan mematikan. Sisi yang tak pernah sekali pun Lyn saksikan sebelumnya.
Namun Bimo bukan lawan sembarangan. Ia berhasil menangkis serangan Vanesa, membalas dengan telak ke rusuknya.
"Akh," Vanesa terhuyung, tapi cepat kembali menyeimbangi diri, melancarkan serangan balik.
Pertarungan itu berlangsung sengit, keduanya saling serang dengan kecepatan dan kekuatan yang seimbang. Namun di tengah kekacauan itu, dua anak buah Cakra tiba-tiba muncul dari area berlawanan, langsung menyeret Lyn yang masih lemah.
"LYN!" Vanesa refleks menoleh, panik melihat gadis itu ditarik paksa.
Kelengahan sepersekian detik itu cukup bagi Bimo. Ia mengambil kesempatan, menghantam Vanesa dengan pukulan telak yang membuatnya limbung ke lantai.
Vanesa mencoba bangkit, melawan sekuat tenaga, tapi staminanya sudah terkuras habis dari pertarungan sebelumnya. Bimo mencengkeram lehernya, mengarahkan pistol tepat ke kepalanya.
"Begitu saja kemampuanmu?" Bimo mengejek datar, jarinya mulai menekan pelatuk.
"BERHENTI!"
Suara itu menggelegar di lorong, membuat semua orang membeku.
Elea muncul dari ujung koridor, menyeret tubuh Cakra yang babak belur dengan belati menempel di lehernya.
"Lepaskan sahabat dan putriku," ucap Elea dingin, tatapannya menusuk tajam ke arah Bimo dan anak buah Cakra yang lain, "atau Tuan kalian akan mati di hadapan kalian sendiri!"