"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. MAKAN SIANG YANH MENGGANGGU PIKIRAN
BAB 23. Makan Siang yang Mengganggu Pikiran
Perubahan jam kerja yang diterapkan Kalandra mulai membentuk kebiasaan baru di lantai eksekutif Arshaka Group. Agenda yang sebelumnya sering bertumpuk hingga petang kini dipadatkan sejak pagi. Para kepala divisi pun perlahan menyesuaikan ritme mereka. Tanpa perlu instruksi tambahan, hampir semua laporan penting sudah berada di meja CEO sebelum tengah hari.
Bagi Hagia, perubahan itu justru membuat pekerjaannya semakin teratur. Setiap pagi ia menyusun ulang jadwal, mencocokkannya dengan agenda para direktur, lalu memastikan tidak ada satu pun pertemuan yang saling bertabrakan. Hampir semua berjalan sesuai rencana.
Hanya hari itu yang sedikit berbeda. Rapat evaluasi bersama jajaran direksi berlangsung lebih lama dari perkiraan. Beberapa pembahasan tambahan membuat seluruh peserta masih bertahan di ruang rapat ketika jam makan siang telah lewat. Sementara itu, Hagia tetap berada di ruang CEO. Beberapa dokumen yang harus dikirim sore nanti masih terbuka di atas mejanya. Ia baru saja menyelesaikan satu laporan ketika ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat muncul.
[Makan dulu. Jangan menunggu saya.]
Hagia membaca pesan itu sambil melirik pintu ruang rapat yang masih tertutup rapat. Jemarinya segera mengetik balasan.
Saya turun ke kantin saja, kalau begitu?
Di dalam ruang rapat, layar ponsel Kalandra menyala sebentar di samping map yang sedang dibacanya. Ia membaca isi pesan itu sekilas. Pembahasan yang tersisa tinggal satu poin terakhir. Tidak akan lama lagi. Ia memang berniat menyusul setelah rapat selesai. Tanpa banyak berpikir, ia membalas singkat.
[Baik.]
Ponsel kembali diletakkan di samping dokumen. Rapat pun berlanjut. Sementara itu, Hagia mengunci layar ponselnya, mengambil kartu identitas, lalu keluar dari ruang CEO.
Kantin utama Arshaka Group jauh lebih ramai dibanding yang pernah dibayangkannya. Hampir seluruh meja terisi. Aroma berbagai hidangan bercampur dengan suara percakapan para karyawan yang sedang menikmati waktu istirahat.
"Hagia!"
Suara Vanessa terdengar dari salah satu sudut ruangan. Hagia menoleh. Vanessa melambaikan tangan sambil menunjuk kursi kosong di sampingnya.
"Duduk di sini."
Hagia menghampiri sambil membawa nampan makan siangnya.
"Terima kasih."
Di meja itu sudah berkumpul beberapa karyawan dari divisi yang berbeda. Sebagian pernah bertemu dengannya di rapat direksi, sebagian lagi baru dikenalkan oleh Vanessa. Percakapan mengalir ringan. Mereka tidak membahas pekerjaan. Topiknya berpindah dari makanan kantin, lalu rekomendasi tempat makan di sekitar gedung, hingga cerita-cerita lucu yang terjadi di masing-masing divisi.
Hagia lebih sering mendengarkan.
Sesekali ia menanggapi dengan kalimat singkat yang justru membuat suasana semakin cair.
"Kirain Bu Hagia orangnya serius terus."
Hagia tersenyum kecil.
"Mungkin karena selama ini ketemunya di ruang kerja."
"Nah, itu."
Vanessa ikut tertawa.
"Di depan Pak Kalandra semua orang juga otomatis jadi lebih serius."
Ucapan itu langsung disambut gelak tawa kecil. Hagia pun tidak dapat menahan senyumnya. Tidak lama kemudian, pintu kantin kembali terbuka. Beberapa orang yang duduk membelakangi pintu belum menyadari siapa yang baru datang. Namun Vanessa lebih dulu melihatnya.
"Pak Kalandra."
Percakapan di meja langsung mereda. Hagia ikut menoleh. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang.
"Rapatnya sudah selesai?" tanya Hagia.
"Iya."
"Kalau begitu... ayo gabung."
Kalandra hanya mengangguk kecil.
Ia menarik kursi yang berada di ujung meja, bukan kursi di samping Hagia, lalu memesan makan siangnya kepada petugas kantin yang kebetulan melintas. Suasana sempat canggung beberapa saat. Namun, Kalandra sama sekali tidak berusaha menghentikan percakapan mereka. Ia hanya menikmati makan siangnya dalam diam.
Perlahan, obrolan di meja kembali mengalir seperti semula. Vanessa kembali bercerita. Seorang staf operasional menimpali. Beberapa orang lain tertawa. Termasuk Hagia. Kalandra mengangkat pandangan sekilas. Wanita itu tertawa tanpa beban. Tidak seperti ketika berada di ruang CEO yang hampir selalu dipenuhi dokumen, rapat, dan tenggat pekerjaan.
Untuk beberapa saat, Kalandra hanya memperhatikan. Ia tidak ikut berbicara. Ia juga tidak merasa perlu mengakhiri kebersamaan itu.
Dalam hati, ia justru menyadari sesuatu. Selama ini Hagia bukan tidak pandai bergaul. Ia hanya belum memiliki kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Dan melihatnya tersenyum seperti itu, entah mengapa, terasa lebih menenangkan daripada membiarkannya kembali menghabiskan jam istirahat sendirian di ruang kerja.
Dua hari kemudian, ritme kerja kembali berubah. Pukul sepuluh pagi, Haris mengetuk pintu ruang CEO sambil membawa sebuah map dan tablet berisi perubahan agenda.
"Pak, perwakilan vendor konstruksi sudah mengonfirmasi. Mereka meminta pertemuan dimulai pukul sebelas di gedung sebelah."
Kalandra menerima tablet itu, membaca jadwal beberapa detik, lalu mengangguk.
"Baik."
Setelah Haris keluar, pandangannya beralih ke meja Hagia. Beberapa map masih terbuka. Revisi kontrak dari tim legal menunggu pemeriksaan akhir, agenda direksi untuk minggu berikutnya belum selesai disusun, sementara beberapa surat elektronik yang memerlukan persetujuan harus dikirim sebelum pukul tiga sore. Ia mempertimbangkannya sejenak.
Kalau Hagia ikut menghadiri pertemuan itu, pekerjaan di meja tersebut pasti tertunda. Target pulang pukul empat yang baru beberapa hari diterapkan akan kembali berantakan.
"Kamu tetap di sini."
Hagia mengangkat kepala.
"Saya tidak ikut?"
"Tidak perlu."
Ia menunjuk tumpukan dokumen di atas meja. "Yang itu lebih dulu diselesaikan."
Hagia mengikuti arah telunjuknya lalu mengangguk. "Baik."
Beberapa menit kemudian Haris kembali masuk membawa map rapat.
"Kamu ikut saya."
Kalandra berdiri sambil mengambil jasnya. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di dekat meja Hagia.
"Kalau sudah jam istirahat..."
Hagia langsung mengangguk, seolah sudah hafal kalimat berikutnya. "Saya makan dulu."
"Hm."
Kalandra tidak menambahkan apa pun. Ia berjalan keluar bersama Haris menuju gedung sebelah. Pekerjaan di meja Hagia ternyata jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan. Satu surat elektronik belum selesai dibalas ketika bagian legal mengirim revisi terbaru. Belum sempat itu diperiksa, sekretaris direksi datang membawa perubahan jadwal rapat untuk minggu depan.
Tanpa terasa waktu terus berjalan.
Sampai akhirnya ponsel di samping laptopnya bergetar pelan.
[Sudah jam istirahat. Tinggalkan dulu pekerjaanmu.]
Hagia tersenyum kecil. Ia hampir lupa melihat jam. Jemarinya segera membalas singkat.
[Baik.]
Ia merapikan dokumen yang sedang dikerjakan, mengunci komputer, lalu turun menuju kantin. Suasana kantin masih cukup ramai. Vanessa sudah lebih dulu melambaikan tangan dari meja yang sama seperti beberapa hari lalu.
"Hagia, sini."
Hagia menghampiri sambil membawa nampan makan siangnya. Hari itu meja mereka sedikit lebih ramai. Selain Vanessa, ada beberapa staf dari divisi pemasaran, operasional, dan keuangan yang mulai mengenalnya.
Percakapan mengalir ringan. Tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Mereka lebih banyak saling bercerita mengenai pekerjaan sehari-hari dan pengalaman lucu di kantor.
Tidak lama kemudian, seorang pria membawa nampan makan menghampiri meja mereka.
"Boleh gabung?"
Vanessa mengangguk.
"Duduk saja, Mas Dimas."
Pria itu mengambil kursi yang masih kosong. "Terima kasih."
Setelah duduk, ia menoleh kepada Hagia dengan senyum sopan.
"Bu Hagia, kan?"
"Iya."
"Saya Dimas, dari divisi pengembangan bisnis."
Mereka berjabat tangan sekilas sebelum mulai makan. Dimas ternyata cukup mudah diajak berbicara. Ia tidak banyak bercanda, tetapi sesekali melontarkan komentar ringan yang membuat suasana tetap hangat. Di tengah obrolan, ia tersenyum kecil.
"Syukurlah sekarang Bu Hagia sesekali turun ke kantin."
Hagia menatapnya.
"Kenapa memangnya?"
"Suasananya jadi tambah ramai."
Vanessa langsung menyela.
"Itu maksud halus dia."
Dimas tertawa kecil sambil menggeleng. "Maksud saya, jadi teman makan kami bertambah."
"Nah, itu baru benar."
Semua orang ikut tertawa. Hagia pun tersenyum tipis. Percakapan kembali berlanjut seperti biasa. Sementara itu, pertemuan di gedung sebelah selesai lebih cepat dari jadwal. Haris menutup map terakhir.
"Berita acaranya langsung saya kirim ke tim legal, Pak."
"Kirim juga ke divisi pengadaan."
"Baik."
Keduanya berjalan kembali menuju gedung utama melalui koridor penghubung. Begitu memasuki lobi, pintu lift karyawan terbuka lebih dahulu. Beberapa orang keluar sambil masih melanjutkan percakapan. Di antara mereka, Kalandra langsung melihat Hagia.
Wanita itu berjalan bersama Vanessa dan beberapa karyawan lain. Tidak jauh di belakang mereka, Dimas masih mengobrol santai. Tanpa disadari, langkah Kalandra melambat.
"Haris."
"Ya, Pak?"
"Kita belakangan."
Haris hanya mengangguk. Ia berhenti sebentar membiarkan rombongan di depan melangkah lebih dahulu. Jarak mereka tidak terlalu jauh. Suara percakapan masih terdengar jelas.
"Bu Hagia."
Hagia menoleh.
"Iya, Mas Dimas?"
"Kalau nanti turun makan siang lagi... semoga saya masih kebagian tempat satu meja."
Hagia tersenyum kecil.
"Kalau memang masih ada kursi, silakan saja."
"Berarti saya harus datang lebih cepat."
Ucapan itu disambut tawa ringan dari teman-temannya. Vanessa menggeleng sambil tersenyum.
"Baru beberapa hari kenal, sudah takut kehabisan kursi."
Dimas ikut tertawa. "Ya... siapa cepat dia dapat."
Percakapan itu terdengar ringan.
Tidak ada kata-kata yang melewati batas. Dimas pun tetap menjaga sikapnya. Namun, entah mengapa, Kalandra tetap tidak menyukai apa yang baru saja didengarnya. Ia sendiri tidak dapat menjelaskan alasannya. Mungkin karena untuk pertama kalinya ia melihat ada orang lain yang mulai menunggu kehadiran Hagia di luar ruang kerjanya. Dan perasaan itu ternyata jauh lebih mengganggunya daripada yang ingin ia akui.
Next--->
semoga bukunya sukses
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻