Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.
Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.
Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.
"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: DUA PULUH LIMA PERWAKILAN
Namun, tepat sebelum serangan brutal Xiong Wei benar-benar meluncur dan melumat tubuh Xuan Chen, serangkaian pendaran aura yang dingin dan menindas meledak simultan di berbagai penjuru Hutan Bayangan.
Di bawah komando langsung Utusan Sekte berzirah hitam yang bertengger di atas pedang raksasa di udara, beberapa murid Aula Disiplin melesat cepat bagaikan kilat.
Puluhan anggota Tim Penegak Hukum menyebar secara instan ke seluruh penjuru hutan, menghentikan secara paksa setiap pertikaian yang masih terjadi di detik-detik terakhir.
Wuuush!
Dua bayangan mendarat di atas lantai batu, berdiri kokoh tepat di antara Xiong Wei yang mengamuk dan Xuan Chen yang terkapar di tanah.
Salah satu dari bayangan tersebut adalah Su Ling. Gaun merah darahnya melambai anggun dipeluk angin senja, sepasang matanya menatap tajam memancarkan ketegasan murni.
Di samping Su Ling, berdiri seorang pria berwajah dingin dengan jubah merah darah khas dari murid Penegak Hukum.
Begitu melihat dua figur dari Aula Disiplin tersebut berdiri memblokir jalan, Lu Feng seketika terduduk terkulai lemas di atas tanah basah. Suara napasnya yang memburu pelan-pelan mereda, bahunya merosot turun dalam kelegaan yang amat sangat.
"Akhirnya... Aula Disiplin datang tepat waktu," gumam Lu Feng seraya menyapu darah dan keringat dingin dari pelipisnya.
Pria dari Aula Disiplin di samping Su Ling memajukan langkahnya setengah tapak. Tekanan aura Ranah Pengumpulan Qi yang menguar dari tubuhnya mendominasi udara sekitar secara instan.
"Xiong Wei! Apakah kau berniat melanggar aturan resmi sekte dan memicu amarah Utusan?!" bentak murid Aula Disiplin itu dengan suara yang berat dan berbobot.
"Cih!"
Xiong Wei mendesis gusar, menarik kembali kepalan tangannya yang membengkak dengan wajah yang sangat masam. Niat membunuh yang tadinya membara hebat di dadanya terpaksa ia surutkan secara paksa.
Xiong Wei mungkin merasa tangguh di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima Puncak, tetapi dua orang di hadapannya ini bukanlah murid biasa.
Baik Su Ling maupun pria Penegak Hukum di depannya telah memicu Dantian mereka dan berdiri di Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Satu dan Lapisan Dua!
Jurang perbedaan antara Ranah Penempaan Tubuh dan Ranah Pengumpulan Qi adalah hal yang sangat jauh—bagaikan membandingkan tanah di dasar jurang dengan tingginya langit. Melawan mereka saat ini sama saja dengan menyerahkan nyawa secara konyol.
Xiong Wei memalingkan pandangannya yang menyipit murka ke arah Lu Feng, sebelum akhirnya mengunci tatapannya pada Xuan Chen yang masih terduduk lemas dengan mata kiri terpejam memercikkan sisa darah.
"Bocah! Kali ini kau selamat," desis Xiong Wei dingin, suaranya sarat akan dendam yang membara. "Tapi begitu Ujian Alam Rahasia selesai... kau adalah orang pertama yang akan kucari!"
Mendengar ancaman berdarah dingin itu, Xuan Chen yang sedang menyapu lelehan darah di pipinya tidak memperlihatkan setitik pun raut kepanikan.
Sebaliknya, bibirnya yang pucat perlahan terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang tajam dan dipenuhi keyakinan murni.
"Mungkin saat hari itu tiba..." sahut Xuan Chen tenang, menatap lurus ke dalam pupil mata Xiong Wei dengan mata kanannya yang masih terbuka. "...akulah yang justru akan datang mencarimu, Senior Xiong."
Xiong Wei yang hendak berbalik seketika menghentikan langkahnya. Pria raksasa itu kembali menatap Xuan Chen, niat membunuh yang sudah mereda di matanya mendadak membara kembali dengan sangat pekat.
Su Ling yang mendengar tanggapan nekat tersebut seketika memelototi Xuan Chen dengan tatapan tajam yang penuh kejengkelan.
"Kau diamlah, Xuan Chen!" tegur Su Ling tajam. Ia tidak percaya bahwa pemuda yang sudah terkapar di tanah itu masih sempat-sempatnya melemparkan provokasi mematikan.
Xuan Chen tidak membalas lagi. Ia hanya mengangkat kedua pundaknya secara santai seolah ancaman Xiong Wei maupun teguran Su Ling bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
"Sudah, hentikan!" ucap pria Penegak Hukum di depan Xiong Wei dengan nada menggelegar. "Kembalilah ke barisan belakang, atau aku sendiri yang akan menghukum kalian!"
Xiong Wei menggeram rendah menahan amarah yang hampir meledak. Ia memutar tubuhnya dengan kasar, lalu melangkah pergi membaur di balik kegelapan rimba tanpa menoleh lagi.
Setelah Xiong Wei menjauh, Su Ling memalingkan tubuhnya ke arah Xuan Chen dan Lu Feng. Pandangannya menyapu area pelataran tempat dua Mayat murid Lapisan Empat tergeletak tak bernyawa.
"Semua murid yang berhasil mendapat dan memegang Token Darah... serahkan token kalian sekarang!" seru Su Ling tegas.
Lu Feng merogoh balik jubahnya, menarik keluar Token Darah kedua yang baru saja ia ambil dari mayat Han Xiu. Di saat yang sama, Xuan Chen menyapu lipatan jubah hitamnya dan menyerahkan Token Darah pertama yang berhasil ia amankan dari dasar ngarai.
Su Ling menerima dua bilah Token Darah bercorak tengkorak tersebut. Ia meraba permukaan logam perunggu itu untuk memastikan keaslian pendaran esensinya.
Setelah memverifikasi token tersebut, Su Ling menarik keluar sebuah batu slip informasi dari balik gaun merah darahnya. Ia menggoreskan sedikit energi Qi untuk mencatat identitas mereka.
Nama Xuan Chen dan Lu Feng secara resmi tercatat ke dalam daftar dua puluh lima murid luar yang memenangkan kuota perwakilan menuju Alam Rahasia Kuno.
Su Ling melirik kondisi fisik Xuan Chen yang memprihatinkan. Lelehan darah di mata kiri dan luka memar hebat akibat benturan tinju Xiong Wei di bahunya jelas memperlihatkan betapa parahnya pertarungan yang baru saja dilalui.
Su Ling merogoh kantung semestanya, menarik keluar sebuah botol porselen kecil berwarna putih jernih. Dari dalam botol tersebut, ia mengeluarkan dua butir pil berwarna merah muda yang memancarkan aroma herbal pekat.
"Minum ini dan kembalilah ke kediaman kalian untuk memulihkan diri," ucap Su Ling seraya melempar botol porselen itu ke arah Lu Feng.
Lu Feng menangkap botol tersebut dengan cepat, lalu membagi satu butir pil pemulih internal itu kepada Xuan Chen.
Pria Penegak Hukum di samping Su Ling menengok ke arah pedang terbang raksasa di atas lautan awan, tempat Utusan Sekte berzirah hitam sedang menanti laporan akhir.
"Ayo, Adik Junior Su. Kita harus melapor kepada Tetua Utusan mengenai daftar lengkap dua puluh lima perwakilan ini," ajak pria itu datar.
"Baik, Senior," sahut Su Ling pendek.
Sebelum melangkah pergi menyusul seniornya, Su Ling sempat menoleh sekilas ke arah Xuan Chen yang sedang menelan pil pemulih. Ada kilatan ketertarikan yang sangat dalam bercampur rasa heran di mata wanita bergaun merah tersebut.
Bagi Su Ling, seorang murid baru Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Tiga yang sanggup bertahan dari perburuan berdarah, mengelus leher musuh di Lapisan Empat, dan selamat dari amukan Lapisan Lima Puncak adalah sebuah fenomena langka di zona luar.
Wuuush!
Su Ling dan murid Penegak Hukum melompat ringan, tubuh mereka meluncur bagaikan bayangan merah menembus kabut senja menuju platform utama sekte.
Di pelataran batu yang mulai sepi, Lu Feng membantu Xuan Chen berdiri tegap kembali.
Sensasi hangat dari pil pemberian Su Ling mulai merayap di dalam tubuh Xuan Chen, perlahan meredakan rasa membakar di balik saraf mata kirinya dan menstabilkan alur pembuluh darah yang sempat koyak.
"Kita berhasil, Junior Xuan," bisik Lu Feng dengan seringai lega yang penuh kepuasan. "Dua puluh lima kuota... dan dua di antaranya adalah milik kita."
Xuan Chen membuang napas panjang bercampur sedikit sisa darah kering di mulutnya. Mata kirinya yang perlahan bisa terbuka kembali menatap lurus ke arah langit Benua Merah yang kian gelap ditelan malam.
"Ini baru permulaan, Senior Lu," jawab Xuan Chen dingin, menyapu debu dari jubah hitam polosnya. "Alam Rahasia nanti akan jauh lebih berdarah daripada Hutan Bayangan ini."
Dengan langkah yang mantap meski tubuh mereka dipenuhi luka pertarungan, Xuan Chen dan Lu Feng melangkah meninggalkan zona perbatasan hutan, menyongsong takdir baru yang menanti di balik pintu Alam Rahasia Kuno.
tapi so cerita nya menarik.