Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Kaprah di Kafe Ujung Jalan
Tugas kelompok Pendidikan Pancasila itu sebenarnya bukan ide buruk kalau dilihat dari niat dosennya. Pak Suryadi, yang mengajar mata kuliah umum ini untuk gabungan tiga fakultas sekaligus, Teknik, Komunikasi, dan Ekonomi, punya gagasan bahwa mahasiswa perlu belajar bekerja sama lintas jurusan supaya paham nilai gotong royong bukan cuma dari teori.
Jadi dia membagi seratus dua puluh mahasiswa jadi dua puluh kelompok, masing-masing enam orang, dicampur acak dari tiga fakultas berbeda, tanpa peduli apakah orang-orang di dalamnya sudah saling kenal atau belum.
Aku dan Cahaya kebetulan masuk kelompok yang sama. Nomor sembilan.
Aku bilang "kebetulan" karena memang murni undian, nama diambil dari kertas kecil yang digulung dan dimasukkan toples, tapi begitu nama kami berdua muncul berurutan dari toples yang sama, empat orang lain di kelompok sembilan langsung menatap kami dengan ekspresi yang, sekarang aku sadar, sudah cukup familiar: campuran kaget dan penasaran, seolah mereka baru menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar undian acak.
Minggu lalu kelompok sembilan sudah rapat dua kali, membagi tugas untuk presentasi soal implementasi nilai Pancasila di kehidupan kampus. Empat orang mengurus bagian teori dan studi literatur. Aku dan Cahaya kebagian bagian survei, karena entah kenapa dua orang lain di kelompok sepakat kami berdua "paling cocok kerja bareng" tanpa memberi alasan yang jelas selain senyum-senyum aneh yang tidak bisa aku artikan.
Sekarang, Kamis sore, kami harus menyelesaikan analisis dari tiga puluh data survei yang sudah dikumpulkan dari mahasiswa angkatan sendiri, dan karena perpustakaan kampus penuh (ada dua kelas yang kebetulan sama-sama pakai ruang baca untuk ujian susulan), kami akhirnya sepakat kerja di kafe kecil dekat gerbang belakang kampus, tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya tapi katanya Cahaya sering ke sana bareng teman-temannya.
Kafe itu namanya Ruang Seduh, tempatnya tidak terlalu besar, dengan meja-meja kayu yang catnya sudah agak pudar dan kursi rotan yang berderit setiap kali diduduki. Aromanya campuran kopi dan sesuatu yang manis, mungkin karamel, dan di sudut ruangan ada rak buku kecil berisi novel-novel lama yang sepertinya disumbangkan pengunjung selama bertahun-tahun.
Aku sampai jam tiga sore, sepuluh menit lebih cepat dari janji, dan memilih meja di pojok dekat jendela karena itu satu-satunya meja yang cukup lebar untuk menaruh laptop dan kertas-kertas survei sekaligus.
Cahaya datang lima menit kemudian, membawa tas ransel krem yang sekarang isinya penuh sampai kelihatan agak berat sebelah, dan langsung duduk di seberangku tanpa banyak basa-basi, seperti orang yang sudah menghitung berapa jam kerja yang harus diselesaikan hari ini.
"Oke," katanya, mengeluarkan laptop dari tasnya. "Kita punya tiga puluh data. Tinggal input ke spreadsheet terus bikin grafiknya. Kalau kita fokus, ini kelar sejam."
"Aku enggak yakin secepat itu."
"Kamu emang enggak yakin apa pun soal estimasi waktu, Ren. Kamu pikir ngerjain PR fisika SMA aja bisa selesai sejam, padahal kenyataannya tiga jam."
"Itu kasus spesifik."
"Semua kasus buat kamu spesifik."
Aku tidak membantah itu, karena secara statistik memang benar, dan kami mulai bekerja, membuka spreadsheet bersama, aku yang mengetik data sementara Cahaya membacakan angka dari kertas survei satu per satu, kadang berhenti untuk mengomentari jawaban tertentu yang menurutnya lucu atau aneh.
"Nomor dua belas ini jawab pertanyaan soal 'contoh sila kelima di kehidupan sehari-hari' dengan 'ngantre beli boba'," katanya, menahan tawa. "Ini serius apa bercanda ya menurutmu?"
"Bisa jadi serius. Antre memang bentuk keadilan sosial dalam skala kecil."
"Kamu ngebela jawaban ini?"
"Aku cuma bilang logikanya masih bisa dipertahankan."
"Rendy, orang ini nulis 'ngantre beli boba' di kertas survei resmi untuk tugas kuliah."
"Dan aku bilang argumennya masih koheren meski konteksnya kasual."
Cahaya menggeleng, tapi aku bisa lihat dia menahan senyum sambil kembali fokus ke kertas berikutnya, dan kami melanjutkan proses input data dengan ritme yang, meski diselingi komentar-komentar seperti itu, sebenarnya cukup produktif. Setelah empat puluh menit, kami sudah selesai dengan dua puluh data, dan Cahaya memutuskan untuk pesan minuman karena tenggorokannya mulai kering.
"Kamu mau pesan apa?"
"Air putih aja."
"Ini kafe, Ren, bukan warung. Masa pesen air putih doang."
"Aku enggak terlalu suka kopi."
"Ada minuman lain kok, bukan cuma kopi." Dia menyodorkan menu ke arahku, satu lembar kertas laminating dengan tulisan tangan rapi. "Coba yang ini, cokelat dingin. Enak, aku sering pesen ini."
Aku memesan cokelat dingin yang direkomendasikannya, sementara Cahaya memesan kopi susu, dan sambil menunggu pesanan datang, kami melanjutkan input data, dan aku tidak menyadari, sama sekali tidak menyadari, bahwa di meja sekitar tiga meter dari kami, ada dua mahasiswi dari kelompok lain yang kebetulan sedang nongkrong di kafe yang sama, dan salah satu dari mereka baru saja mengambil ponselnya.
Aku baru sadar ada yang tidak beres ketika ponselku bergetar tiga kali berturut-turut, cukup cepat sampai aku pikir ada notifikasi error dari aplikasi kuliah.
Aku membuka layar. Bukan error. Grup chat angkatan, yang isinya seratus dua puluh orang dari tiga fakultas, sedang meledak dengan pesan baru.
[Grup Angkatan 2026 - MKU Pancasila]
Fadel Ramadhan: WOI GAES LIAT INI
Fadel Ramadhan: [Foto terlampir]
Fadel Ramadhan: ADA YANG LAGI KENCAN DI RUANG SEDUH NIH????
Aku menatap layar lebih lama dari yang seharusnya, mencoba memproses apa yang barusan aku baca, sebelum akhirnya membuka foto yang dikirim.
Fotonya diambil dari jarak yang cukup jauh, agak buram, tapi cukup jelas untuk menunjukkan aku dan Cahaya duduk berseberangan di meja pojok, laptop terbuka di antara kami, kertas-kertas berserakan, dan entah kenapa dari sudut pengambilan itu, dengan cahaya sore yang masuk lewat jendela membentuk semacam siluet lembut di sekitar kami berdua, pemandangannya memang terlihat seperti adegan dari drama, bukan seperti dua orang sedang input data spreadsheet untuk tugas kuliah.
Cahaya, yang duduk di seberangku, ponselnya juga bergetar tanpa henti, dan aku bisa lihat ekspresinya berubah dari fokus mengetik jadi bingung, lalu jadi sesuatu yang mendekati panik begitu dia membuka grup chat yang sama.
"Ren," katanya, suaranya agak tercekat. "Kamu liat ini enggak."
"Aku lagi liat."
"Ini... ini kenapa ada yang foto kita?"
Sebelum aku sempat menjawab, pesan-pesan baru terus masuk dengan kecepatan yang membuat notifikasi ponselku bergetar tanpa jeda, sampai aku harus meletakkannya di meja karena getarannya mulai mengganggu konsentrasi.
Wulan Safitri: OMG SIAPA INI
Wulan Safitri: eh tunggu itu Cahaya kan? anak Komunikasi yang PKKMB rame banget itu
Fadel Ramadhan: iya bener, temen sekelompok gua di tugas Pancasila
Fadel Ramadhan: yang cowok kayaknya anak Informatika, satu kelas gua juga
Bimo Prasetya: WOI ITU RENDY
Bimo Prasetya: GILA KO KENCAN DIEM DIEM
Bimo Prasetya: GAK BILANG BILANG
Aku menatap nama Bimo di layar dengan perasaan yang campur antara ingin tertawa dan ingin membenamkan wajah ke meja, karena dari semua orang yang bisa memperkeruh situasi ini, tentu saja Bimo adalah yang paling antusias melakukannya.
"Ini enggak bener," kata Cahaya, mengetik sesuatu dengan cepat di ponselnya. "Ini bukan kencan, ini tugas kelompok."
Aku bisa lihat dari layarnya (dia menaruh ponsel di meja, cukup dekat untuk aku baca) bahwa dia sedang mengetik balasan di grup, dan aku setengah berharap balasan itu bisa menjernihkan situasi.
Cahaya Kusuma Dewi: WOI INI BUKAN KENCAN
Cahaya Kusuma Dewi: kita lagi ngerjain tugas kelompok pancasila, kebetulan aja duduk berdua karena kita bagian analisis data
Cahaya Kusuma Dewi: fadel kan tau ini, kamu juga satu kelompok
Balasan dari Fadel datang dalam hitungan detik.
Fadel Ramadhan: iya bener sih ini emang tugas kelompok
Fadel Ramadhan: tapi kenapa cuma kalian berdua yang kerja di kafe
Fadel Ramadhan: yang lain kerja di grup chat doang
Pertanyaan itu, sayangnya, cukup valid, dan aku tidak punya jawaban yang bisa menepis kecurigaan lebih lanjut, karena memang benar bahwa dari enam orang di kelompok sembilan, cuma aku dan Cahaya yang memutuskan untuk kerja tatap muka, sementara empat orang lain memang menyelesaikan bagian mereka lewat chat dan panggilan video singkat.
Wulan Safitri: anjir excuse-nya "kebetulan aja"
Wulan Safitri: klasik banget wkwkwk
Bimo Prasetya: RENDY GUA KENAL LU
Bimo Prasetya: LU GAK PERNAH MAU KERJA DI KAFE
Bimo Prasetya: MINGGU LALU GUA AJAK NGERJAIN TUGAS ALGORITMA DI KAFE LU NOLAK
Bimo Prasetya: ALASANNYA "KEBISINGAN GANGGU KONSENTRASI"
Bimo Prasetya: SEKARANG TIBA TIBA MAU KE KAFE
Aku menatap layar itu dengan perasaan yang, aku akui, agak terpojok, karena Bimo benar. Aku memang pernah menolak ajakannya minggu lalu dengan alasan persis seperti itu, dan sekarang bukti tertulis dari alasan itu justru jadi senjata untuk membantah bahwa aku ke kafe hari ini murni karena keperluan tugas.
"Kamu pernah bilang gitu ke Bimo?" tanya Cahaya, menatapku dengan alis terangkat.
"Iya. Tapi konteksnya beda. Waktu itu buat tugas Algoritma yang bisa dikerjain sendiri di kamar. Ini tugas kelompok yang butuh diskusi langsung."
"Kamu enggak perlu jelasin ke aku, Ren. Jelasin ke seratus dua puluh orang di grup itu."
Grup chat semakin ramai dalam beberapa menit berikutnya, dengan berbagai reaksi yang datang dari mahasiswa yang bahkan tidak aku kenal namanya, beberapa dari Fakultas Ekonomi yang sepertinya cuma ikut-ikutan seru tanpa tahu konteks penuh.
Dimas Aditya: siapa nih yang di foto
Dimas Aditya: gua baru masuk grup jadi ga ngerti context
Wulan Safitri: cerita panjang bro, intinya ada dua anak yang katanya "cuma temen kecil" ketauan lagi kencan di kafe
Dimas Aditya: anjir drama kampus dimulai
Fadel Ramadhan: BUKAN KENCAN GUYS INI SERIUS TUGAS KELOMPOK
Fadel Ramadhan: gua yang bikin heboh malah jadi ga enak sekarang wkwk sori ren, sori cahaya
Bimo Prasetya: kalo emang cuma tugas kelompok kenapa mukanya Rendy di foto keliatan seneng banget
Aku langsung memperbesar foto yang dikirim Fadel tadi, mencoba melihat ekspresi wajahku sendiri di sana, dan sialnya, memang ada semacam senyum kecil di sudut bibirku, kemungkinan besar reaksi dari komentar Cahaya soal jawaban "ngantre beli boba" beberapa menit sebelum foto itu diambil, tapi dari sudut pandang orang yang tidak tahu konteksnya, ekspresi itu memang bisa disalahartikan sebagai sesuatu yang lain.
"Ini gimana coba jelasinnya," kataku, lebih ke diri sendiri, menatap foto itu lama.
"Kamu emang keliatan seneng di foto itu," kata Cahaya, melirik layar ponselku.
"Aku lagi mikirin jawaban survei nomor dua belas."
"'Ngantre beli boba' emang lucu sih."
"Tuh kan. Bukan konteks lain."
Cahaya menatapku sebentar, ekspresinya berubah jadi sesuatu yang lebih sulit dibaca, campuran antara geli dan sesuatu yang lebih pelan, sebelum akhirnya dia kembali fokus ke ponselnya untuk membalas grup chat yang masih terus ramai.
Cahaya Kusuma Dewi: BIMO INI ANAK KAMU TEMEN SEKELOMPOK RENDY
Cahaya Kusuma Dewi: HARUSNYA KAMU BELA KAMI BUKAN MALAH NAMBAHIN DRAMA
Bimo Prasetya: gua kan cuma laporan fakta ke publik
Bimo Prasetya: demi transparansi angkatan
Bimo Prasetya: btw ren beneran nih, seenggaknya jujur ke gua doang kalo emang lagi deket sama cahaya
Bimo Prasetya: gua janji ga bakal sebar (bohong)
Aku mengetik balasan dengan lebih hati-hati kali ini, mencoba merumuskan kalimat yang benar-benar jelas dan tidak bisa disalahartikan lebih jauh.
Rendy Alamsyah: ini murni tugas kelompok. kita kebagian analisis data survei, perpus penuh jadi kita kerja di kafe. udah itu doang.
Balasan yang masuk setelahnya justru lebih parah dari yang aku antisipasi.
Wulan Safitri: "udah itu doang" katanya
Wulan Safitri: classic banget defense-nya
Dimas Aditya: kalo emang cuma tugas kenapa defense-nya panjang banget
Dimas Aditya: biasanya orang yang bener bener innocent jawabnya singkat aja
Fadel Ramadhan: anjir bener juga
Fadel Ramadhan: ren maaf ya gua yang mulai ini semua
Aku menatap layar dengan perasaan campur aduk, karena logika yang dipakai orang-orang di grup itu jelas cacat, semakin aku menjelaskan justru semakin dianggap mencurigakan, seolah aku terjebak dalam semacam paradoks di mana diam dianggap mengakui dan menjelaskan juga dianggap mengakui.
"Ren," kata Cahaya, meletakkan ponselnya di meja dengan gerakan agak keras. "Kayaknya kita udah kalah di sini."
"Kalah gimana?"
"Kalah argumen. Apa pun yang kita bilang bakal diputer jadi bukti sebaliknya."
Aku menatap layar sekali lagi, mengecek pesan-pesan terbaru, dan memang semakin lama semakin banyak orang yang ikut nimbrung, beberapa bahkan mulai berspekulasi soal "sejak kapan mulai deket" dan "siapa yang PDKT duluan", topik yang sudah jauh melenceng dari klarifikasi awal soal tugas kelompok.
"Kita matiin aja notifikasinya," kata Cahaya akhirnya, mengambil ponselnya dan mengaktifkan mode senyap untuk grup itu. "Biar mereka capek sendiri."
"Itu bakal berhenti?"
"Enggak. Tapi minimal kita enggak harus liat tiap detik." Dia menyandarkan punggung ke kursi, menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya sejak foto itu tersebar, dia terlihat sedikit lebih santai, meski masih ada semburat merah tipis di pipinya yang tidak sepenuhnya hilang. "Lanjut kerja aja. Toh datanya masih sepuluh lagi."
Kami kembali ke spreadsheet, mencoba fokus, tapi konsentrasi jelas sudah terganggu, dan beberapa kali aku menangkap Cahaya melirik ponselnya meski sudah dia senyapkan, seolah tidak bisa menahan rasa penasaran soal apa yang sedang dibicarakan orang-orang di grup itu.
"Kamu penasaran ya," kataku, setelah melihatnya melirik ponsel untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit.
"Enggak."
"Kamu baru aja liat ponselmu lagi."
"Itu... aku cek jam doang."
"Ponselmu ada di posisi layar kunci, enggak nunjukin jam."
Cahaya menatapku dengan ekspresi kesal yang jelas dibuat-buat untuk menutupi bahwa aku memang benar, lalu akhirnya menyerah dan mengambil ponselnya, membuka grup chat sekali lagi.
"Oke, dikit doang," katanya, sambil menggulir layar. "Terus kita fokus lagi."
Dia diam beberapa detik, membaca, lalu tiba-tiba tertawa kecil, cukup keras sampai dua orang di meja sebelah menoleh sebentar.
"Apa?" tanyaku.
"Sasa baru masuk grup ini, dan reaksinya..." Dia menyerahkan ponselnya ke arahku, menunjuk ke pesan terbaru.
Salsabila Anggraini: LAH KOK RAME
Salsabila Anggraini: [scroll up sebentar]
Salsabila Anggraini: oh ini soal rendy sama cahaya
Salsabila Anggraini: guys santai aja, mereka emang gitu dari kecil
Salsabila Anggraini: tiap hari jalan bareng, makan bareng, chat tiap malem, tapi kalo ditanya "kalian pacaran ya" jawabnya selalu "ENGGAK" pake caps lock
Salsabila Anggraini: jadi ini bukan berita baru buat gua, ini emang standar operasional mereka sejak SMP
Bimo Prasetya: SASA TOLONG JANGAN BIKIN LEBIH RAME
Salsabila Anggraini: gua cuma kasih konteks historis
Salsabila Anggraini: buat riset masa depan angkatan ini
Aku menatap pesan Sasa itu, tidak tahu harus merasa lega karena setidaknya ada yang memberi konteks yang benar, atau justru semakin resah karena caranya menjelaskan malah membuat pola kedekatan kami terdengar lebih signifikan dari yang sebenarnya, seolah sudah jadi semacam fenomena yang dikenal luas.
"Sasa ini niat nolong apa niat nambahin bensin ke api," gumamku.
"Kayaknya dua duanya," jawab Cahaya, mengambil kembali ponselnya, tapi kali ini sambil tersenyum kecil, senyum yang berbeda dari kekesalan tadi, lebih ke arah pasrah yang sudah bercampur geli.
Kami akhirnya berhasil menyelesaikan input data sekitar jam lima sore, satu setengah jam setelah target awal Cahaya yang optimis "sejam kelar", dan itu pun belum termasuk membuat grafiknya, yang kami putuskan untuk lanjutkan besok lewat panggilan video saja, mengingat konsentrasi hari ini sudah cukup terganggu oleh drama grup chat.
Sambil beres-beres, mengemasi kertas dan menutup laptop, Cahaya tiba-tiba bertanya, "Kamu marah enggak sih soal ini?"
"Marah kenapa?"
"Soal foto tadi. Soal grup chat yang salah paham."
Aku memikirkan pertanyaan itu sebentar, memasukkan laptop ke tas dengan hati-hati. "Enggak marah. Lebih ke... capek aja jelasinnya."
"Sama."
"Tapi enggak ada yang bisa kita lakuin soal itu sekarang. Biarin aja mereka bosen sendiri."
Cahaya mengangguk, menyelempangkan tas ranselnya, dan kami berjalan keluar dari Ruang Seduh bersama, sore sudah mulai turun, cahaya matahari lebih lembut dari tadi siang, memantul di jendela-jendela toko di sepanjang jalan menuju gerbang belakang kampus.
"Btw," katanya, di tengah jalan, "aku enggak nyesel kok kerja bareng kamu tadi. Meskipun jadi bahan gosip sejagat angkatan."
"Bahan gosip itu efek samping yang enggak diinginkan."
"Tetep aja." Dia melirikku, senyumnya lebih tenang sekarang. "Dari semua orang di kelompok sembilan, kamu yang paling gampang diajak kerja fokus. Yang lain kebanyakan chat doang, hasilnya lama."
"Itu pujian?"
"Anggap aja gitu."
Aku tidak tahu harus merespons apa untuk itu, jadi aku diam saja, dan kami melanjutkan jalan dalam keheningan yang, meski hari ini penuh drama tidak terduga, terasa cukup nyaman untuk sekadar dinikmati tanpa perlu diisi kata-kata lagi.
Sampai di rumah, aku membuka kembali grup chat angkatan, penasaran seberapa jauh topik hari ini berkembang selama beberapa jam terakhir, dan ternyata sudah bergeser jauh dari topik awal, sekarang isinya perdebatan panjang soal apakah boba lebih enak pakai boba hitam atau boba pelangi, dipicu oleh jawaban survei nomor dua belas yang entah bagaimana ikut tersebar juga ke grup itu.
Aku menghela napas lega, karena setidaknya perhatian orang-orang sudah teralih ke topik yang jauh lebih tidak berbahaya, meski aku tahu ini cuma jeda sementara, dan nama kami berdua kemungkinan besar akan muncul lagi kapan pun ada bahan baru yang bisa dijadikan bercandaan.
Ponselku bergetar. Pesan dari Cahaya, bukan grup.
"Ren, besok lanjut bikin grafiknya jam berapa?"
"Jam tiga? Sama kayak tadi."
"Oke. Tapi kali ini kita kerja lewat video call aja ya. Enggak usah ketemu langsung."
"Kenapa?"
"Biar enggak ada yang foto lagi."
Aku tertawa kecil membaca itu, mengetik balasan.
"Kamu takut jadi bahan gosip lagi?"
"Bukan takut. Cuma capek jelasin doang."
"Alasan yang sama kayak aku tadi."
"Karena emang bener."
Satu stiker masuk, karakter kucing yang sekarang sudah familiar, kali ini dengan ekspresi lelah, mata setengah tertutup dengan kantong mata digambar berlebihan.
Aku menyimpan stiker itu, meletakkan ponsel di meja, dan duduk sebentar di kursi belajar, memikirkan kembali hari ini, dari input data yang berjalan lancar sampai kekacauan grup chat yang, sejujurnya, kalau dipikir ulang, cukup lucu meski di saat kejadian terasa merepotkan.
Aku memikirkan komentar Bimo soal ekspresi wajahku di foto itu. Aku memikirkan pesan Sasa yang menjelaskan pola kedekatan kami sebagai "standar operasional sejak SMP", istilah yang terdengar seperti prosedur resmi, bukan sekadar kebiasaan biasa antara dua teman.
Aku memikirkan juga cara Cahaya bilang "aku enggak nyesel kerja bareng kamu", kalimat sederhana yang, entah kenapa, terasa lebih berat dari yang seharusnya untuk sekadar komentar soal produktivitas kerja kelompok.
Tapi aku tidak mengejar pikiran itu lebih jauh malam ini. Ada tugas lain yang harus dikerjakan, ringkasan bacaan untuk mata kuliah lain yang deadline-nya besok pagi, dan aku memutuskan untuk fokus ke itu dulu, membiarkan sisa pikiran hari ini mengendap dengan sendirinya.
Meski, sesekali, sambil mengetik ringkasan bacaan itu, aku tetap tersenyum kecil setiap kali teringat ekspresi panik Cahaya waktu pertama kali melihat foto itu tersebar, dan betapa cepatnya dia mengetik bantahan yang, ironisnya, malah membuat semuanya terdengar lebih mencurigakan dari yang sebenarnya.