"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESALAHPAHAMAN DI HALAMAN RUMAH
Pagi bergulir dengan suasana rumah yang makin canggung dan dingin. Di meja makan, Ibu Lestari dan Aini duduk berbisik-bisik seraya melemparkan tatapan sinis setiap kali Isma melintas. Yoga sendiri sudah lebih dulu berangkat ke kantor dengan wajah datar, masih menyisa keangkuhan dari perdebatan semalam soal uang tabungan.
Isma sama sekali tidak memedulikan atmosfer beracun di rumah itu. Dengan gerakan tenang dan elegan, ia mengenakan pakaian terbaiknya, menyampirkan tas kulit berisi seluruh berkas identitas dan dana pelunasan, lalu mengambil kunci motor matic-nya dari atas meja rias.
Saat melangkah melintasi ruang tamu menuju pintu depan, suara Ibu Lestari kembali melengking dari arah meja makan.
"Mau keluyuran ke mana lagi kamu pagi-pagi begini, Isma?!" sindir Ibu Lestari pedas. "Pekerjaan rumah belum tersentuh, suamimu sudah berangkat kerja, kamu malah sibuk dandan rapi mau keluar!"
Aini ikut bersuara dengan nada mencibir, "Iya, gaya banget. Punya uang banyak tapi rumah sendiri tidak diurus."
Isma menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu. Ia menoleh perlahan, menatap ibu mertua dan adik iparnya dengan raut wajah yang sangat tenang—tanpa emosi, tanpa bantahan, hanya senyum tipis yang tak terartikan. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Isma melanjutkan langkahnya keluar, menutup pintu rapat-rapat, dan menyalakan mesin motornya.
Ia melaju membelah jalanan pagi yang mulai ramai, membiarkan angin sejuk menghempas sisa-sisa sesak di dadanya. Tujuan utamanya sudah jelas: sebuah diler mobil resmi di pusat kota.
Hanya dalam waktu dua puluh menit, motor matic Isma sudah terparkir di halaman diler yang luas dan megah. Pintu kaca otomatis terbuka, dan seorang sales consultant berseragam rapi langsung menyambutnya dengan senyuman hangat dan ramah—sebuah penghormatan yang sangat kontras dengan perlakuan yang biasa ia terima di rumah mertuanya.
"Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa petugas diler itu santai.
Isma melepas helmnya, membalas senyuman itu dengan binar mata yang penuh rasa percaya diri.
"Selamat pagi. Saya mau membeli satu unit mobil baru secara tunai hari ini," jawab Isma tegas.
Hari ini, skenario besarnya resmi dimulai. Mobil baru akan berada di tangannya, kamera tersembunyi akan segera terpasang, dan jebakan manis untuk Yoga tinggal menunggu waktu untuk dieksekusi.
Sebuah truk pengangkut mobil (towing) berukuran besar perlahan menghentikan lajunya tepat di depan halaman rumah mertua Isma. Di atas baknya, terparkir sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam mengilat yang memantulkan kilau cahaya sore. Kehadiran kendaraan mentereng itu seketika memancing perhatian warga sekitar dan membuat suasana rumah yang semula tenang mendadak heboh.
Ibu Lestari yang sedang menyapu teras langsung menghentikan kegiatannya. Matanya membelalak lebar, mulutnya menganga menatap mobil baru di depan matanya. Aini yang mendengar suara bising pun berlari keluar rumah dengan wajah berbinar.
"Ya Tuhan! Aini, lihat ini!" teriak Ibu Lestari histeris dengan wajah penuh kebanggaan. "Ini pasti mobil barunya Yoga! Anak Ibu memang luar biasa! Kemarin bilang mobilnya sudah tua, tahu-tahu hari ini pulang bawa mobil mewah begini!"
Aini menepuk tangannya kegirangan. "Wah, keren banget, Bu! Mas Yoga pasti naik jabatan atau dapat bonus besar dari kantor! Akhirnya kita tidak perlu malu lagi naik mobil butut!"
Ibu Lestari melangkah busung dada mendekati petugas diler yang baru saja turun dari mobil pengangkut. Dengan nada pamer yang dibuat-buat agar terdengar oleh tetangga sebelah, ia langsung menyapa petugas tersebut.
"Pak! Tolong diturunkan pelan-pelan ya mobil anak saya ini! Kirimnya tepat waktu sekali, anak saya Yoga sebentar lagi pulang kerja itu!" seru Ibu Lestari jemawa.
Petugas diler berjas rapi itu mengerutkan kening sejenak, melihat papan nama dokumen di tangannya, lalu tersenyum sopan.
"Maaf, Ibu... Apakah benar ini kediaman Ibu Isma Zetri?" tanya petugas itu ramah. "Kami mencari Ibu Isma untuk penandatanganan serah terima unit, penyerahan kunci utama, serta berkas kelengkapan kendaraan atas nama beliau."
Tawa Ibu Lestari seketika terhenti. Wajahnya yang semula merah berbinar memucat seketika, berganti dengan ekspresi cengo dan tidak percaya. Aini di sampingnya tertahan dengan mulut ternganga.
"M-maksudnya bagaimana, Pak?!" potong Aini dengan nada tinggi dan tidak terima. "Mobil ini dibeli atas nama Kak Isma?! Tidak mungkin! Mana punya dia uang buat beli mobil mewah begini?!"
Tepat pada saat itu, Isma melangkah keluar dari dalam rumah dengan tenang. Ia mengenakan pakaian santai namun memancarkan aura anggun yang tak tergoyahkan. Tanpa memedulikan wajah syok ibu mertua dan adik iparnya, Isma berjalan mendekati petugas diler seraya menyunggingkan senyum tipis.
"Selamat sore, Pak. Saya Isma Zetri," sapa Isma halus.
"Selamat sore, Bu Isma. Mohon tanda tangan di lembar serah terima ini, dan ini set kunci utama serta dokumen jalannya," ucap petugas diler menyerahkan map tebal dan kunci keyless berlogo mewah ke tangan Isma.
Isma membubuhkan tanda tangannya dengan jemari mantap. Dinginnya kunci mobil baru di genggamannya terasa begitu memuaskan. Di sudut mata Isma, ia bisa melihat Ibu Lestari dan Aini berdiri mematung bagai patung garam—tertampar keras oleh kenyataan yang baru saja terjadi di depan mata mereka.