Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:374k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Aslan mendorong pintu kamar dengan gerakan lelah. Bau masakan masih menempel di tubuhnya, kaos oblong abu-abu yang dikenakannya sedikit basah di bagian bahu karena keringat. Ia melangkah masuk tanpa menoleh, langsung menuju sisi ranjang yang biasa ia tempati.

Liza yang sejak tadi berbaring sambil memainkan ponsel langsung menegakkan badan. Cahaya layar sempat menerangi wajahnya sebelum ia matikan. “Kamu dari mana saja? Kenapa tidak langsung tidur?” tanyanya, nada suaranya agak naik, campur antara penasaran dan sedikit kesal karena ditinggal sendirian cukup lama.

Aslan tidak langsung menjawab. Ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dengan berat, lalu menutup mata menggunakan lengan. “Sudah malam. Aku lelah. Tidak mau ribut,” ucapnya datar, suara teredam di balik lengannya.

Liza langsung duduk bersila di atas ranjang. Ia meraih lengan Aslan dan menariknya pelan, memaksa pria itu menurunkan tangan dari wajahnya. “Maksud kamu apa, Mas? Aku hanya bertanya. Tidak ada yang mengajakmu ribut,” protesnya, wajahnya memperlihatkan rasa tidak terima. “Kenapa kamu bilang seperti aku lagi mencari masalah?”

Aslan mengibaskan tangan Liza dengan gerakan kasar hingga genggaman wanita itu terlepas. Ia masih memejamkan mata, tidak ingin melihat wajah istrinya.. “Aku habis makan malam di dapur,” jawabnya kesal, setiap kata terasa berat. “Mie instan sama telur. Itu saja yang ada.”

Liza terdiam sejenak, lalu mengerutkan kening. “Mie instan? Kenapa tidak pesan saja dari luar? Atau suruh Mama yang buatkan?”

Aslan akhirnya membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap, rahangnya mengeras. Rasa lapar yang baru saja ia redakan dengan mie hambar itu masih meninggalkan jejak kesal di lidahnya. “Mulai besok,kamu harus masak. Dan menyiapkan semua kebutuhanku, termasuk air hangat, pakaian, makanan. Semuanya" perintahnya.

Liza membelalak. Ia menarik selimut ke dada seolah sedang melindungi dirinya. “Aku lagi hamil, Mas. Kata dokter tidak boleh terlalu capek. Lebih baik kamu sewa pembantu saja. Kan kamu mampu.” ucap Liza. Dia tidak mau mengerjakan semua pekerjaan rumah.

Aslan tertawa kecil, tawa yang pahit dan pendek. Ia membalikkan tubuhnya, memunggungi Liza sepenuhnya. “Suruh ibumu yang melakukannya,” ucapnya dingin. “Aku tidak mau bahas ini lagi. Matikan lampunya.”

Keheningan langsung mengisi kamar. Liza duduk diam di belakangnya, napasnya agak cepat. Ia membuka mulut ingin membalas, tapi melihat punggung Aslan yang kaku membuatnya mengurungkan niat. Dengan wajah kesal, ia berbaring kembali, memunggungi suaminya juga, lalu mematikan lampu samping tempat tidur dengan gerakan kasar.

Aslan memejamkan mata lebih rapat. Dia lelah, dia ingin segera istirahat. Tapi sulit untuk memejamkan matanya.

Aslan menghela napas panjang, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman. Tapi tubuhnya tetap tegang. Rasa lelah fisik bercampur dengan rasa jengkel yang semakin dalam. Ia sempat berpikir untuk bangkit dan tidur di sofa ruang tamu, tapi akhirnya mengurungkan niat. Ia terlalu lelah untuk berpindah lagi.

Di belakangnya, Liza bergeser-geser mencari posisi nyaman. Sesekali ia menghela napas keras, seolah ingin didengar. Tapi Aslan tidak merespons. Ia membiarkan keheningan itu mengisi jarak di antara mereka jarak yang tiba-tiba terasa jauh lebih lebar daripada sekadar dua sisi ranjang.

Pikirannya kembali ke surat panggilan pengadilan yang masih tersimpan di laci meja kantor. Nama Naya sebagai penggugat. Jadwal sidang yang semakin dekat. Dia berharap saat sidang mediasi nanti, Naya membatalkan semua tuntutannya.

Tapi kalau Naya benar-benar tidak kembali kerumah ini, Aslan tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Harusnya tidak berpengaruh apa-apa, karena dulu dia juga menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Hanya saja sekarang tidak ada yang membersihkan rumahnya.

Aslan menggigit bibir dalam gelap. Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya apakah keputusan membawa Liza ke rumah ini benar-benar sepadan dengan apa yang ia kehilangan.

Tapi ego laki-lakinya masih menolak untuk mengakui itu keras-keras. Ia hanya memejamkan mata lebih rapat, memaksa dirinya tidur, sementara di sisi lain ranjang Liza berbaring dengan wajah kesal yang tidak ia lihat.

Malam itu, di kamar utama yang dulu penuh perhatian diam-diam dari seorang istri, kini hanya terisi oleh dua orang yang memunggungi satu sama lain. Dan keheningan di antara mereka jauh lebih bising daripada ribut apa pun.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi itu suasana rumah masih sunyi, Ranti sudah berdiri di dapur dengan wajah kusut. Bau minyak panas dan bawang yang baru digoreng memenuhi udara. Liza yang masih mengenakan daster duduk di kursi ruang makan sambil mengusap perutnya, sesekali melirik ke arah ibunya yang bergerak dengan langkah berat.

“Apa-apaan ini, Aslan!” teriak Ranti tiba-tiba ketika melihat menantunya turun dari tangga dalam keadaan sudah berpakaian rapi. Suaranya nyaring, penuh rasa tidak terima. “Kenapa kamu menyuruh Mama mengerjakan semua pekerjaan rumah? Aku ini mertuamu, bukan pembantu!”

Aslan yang baru saja merapikan dasi berhenti sejenak di kaki tangga. Ia menatap Ranti dengan wajah datar, lalu menghela napas pendek. “Di rumah ini tidak ada pembantu,” ujarnya tegas, nada suaranya tidak memberi ruang untuk berdebat. “Dari dulu Naya yang mengerjakan semuanya sendiri. Sekarang Naya sudah pergi, jadi Mama yang mengerjakannya. Karena saat ini Liza sedang hamil.”

Ranti membuka mulut ingin membalas lebih keras, tapi Aslan sudah lebih dulu berbalik. Ia mengambil kunci mobil di meja konsol, lalu berjalan menuju pintu utama tanpa menunggu jawaban. “Aku pergi dulu. Jangan buat masalah,” katanya singkat sebelum pintu tertutup di belakangnya.

Bunyi mesin mobil menyala beberapa detik kemudian, lalu menjauh meninggalkan area rumah. Masih sangat pagi. Aslan sengaja pergi lebih awal. Ia tidak ingin mood-nya rusak sebelum sampai di kantor karena ulah istri mudanya dan mertuanya.

Di dalam rumah, keheningan kembali mengisi ruang makan. Ranti meletakkan spatula dengan kasar di atas kompor, wajahnya merah menahan marah. “Lihat itu sikapnya,” gerutunya. “Seolah-olah Mama ini pembantu yang bisa diperintah seenaknya. Kita datang ke sini bukan untuk disuruh-suruh seperti ini.”

Liza yang sejak tadi diam akhirnya berdiri dan mendekati ibunya. Ia meraih lengan Ranti pelan, suaranya rendah dan penuh kehati-hatian. “Lakukan saja, Ma. Jangan membuat Aslan marah. Nanti kita bisa diusir dari rumah ini.”

Ranti menoleh tajam. “Diusir? Dia suami kamu!” seru Ranti.

“Statusku masih istri siri, Ma,” jawab Liza pelan, hampir berbisik. Matanya menunduk, jari-jarinya memegang ujung dasternya. “Belum ada buku nikah resmi. Kalau Aslan mau, dia bisa menyuruh kita pergi kapan saja. Aku belum punya apa-apa di sini. Jadi… tolong, Ma. Kerjakan saja dulu. Tunggu sampai dia menikahiku secara resmi. Nanti semuanya akan berbeda.”

Ranti terdiam. Ia menatap wajah anaknya yang tampak cemas, lalu menghela napas panjang penuh kekesalan. Akhirnya ia berbalik ke kompor, mengambil lagi spatula, dan melanjutkan memasak dengan gerakan kasar.

Liza duduk kembali di kursi, mengusap perutnya pelan. Di luar jendela, matahari semakin tinggi. Rumah yang dulu selalu rapi karena tangan Naya kini terasa lebih sunyi dan kaku. Tidak ada yang menyiapkan sarapan dengan hati-hati. Tidak ada yang merapikan meja tanpa diminta. Yang ada hanya ibu dan anak yang terpaksa berbagi pekerjaan rumah karena takut kehilangan tempat tinggal.

Liza menatap pintu utama yang sudah ditutup Aslan. Di dalam hati, ia mulai merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah ia pikirkan ketika masih di Bandung, posisinya sebagai istri muda ternyata tidak semudah dan seenak yang ia bayangkan.

1
Night Watcher
di atas, aslan sbg ceo, didesak oleh direktur utama agar aslan nonaktif.
sekarang aslan sbg direktur utama, didesak agar nonaktif.
yg bener yg mana jabatan aslan?
Night Watcher
perusahaan punyamu lan, kamu yg mbangun, kenapa tunduk pd org² yg cuma pekerja?
yg ada mereka mentok mengundurkan diri atau keluar dr pekerjaan..😇
Marina Tarigan
semoga kamu dan bayi sehag terus dsn suami siagamu ber tambah2 mencintaimu dan bernuang menjadi suami siaga utk menhhapus lukamu dulu Naya
Marina Tarigan
meninggal dlm kancah dosa semoga bayimu jafi anak soleha nanti tdk mengikuti jejak ibunya yg hina
Marina Tarigan
aslan taya hidupmu kembali dan menjadi pribafi yg lebih baik
Lioniwati Ben
dasar perempuan sundal otaknya udah konslet udah dpt lakinya msh mau hak istri sah nya dasar perempuan sundal
Marina Tarigan
perbuata arogan kamu bertiga adalah hadiah paling besar buat kebangkitan Naya yg kalian hi na sangat kasar tanpa hati jadiah yg setimpal pd Aslan Lisa Tianti yh serakah
Marina Tarigan
baguslah lida sdh meninggal lisa wanita serakah otoriter menganggap dirinya paling benar menyakiti sesama wanita tdk punya hati memaksa tempat sakral suami istri Naya dan mengusir Naya lebih dari pembantu daro rmhnya semdiri perbuafan keji yg tdk bisa dimaafkan Aslan kamu berpetan penuh menyakiti istri sahmu Naya yg penuh air mata sampai kami tampar demi pelacur itu sekarang berbalil pdmu Adlan sampai hancur lebur Naya sekarang diratukan oleh Erlan sang suami yg punya sehala kehormatan kekayaan lekuasaan yg tdk bisa kamu lawan kamu kejam dan tdk punya hati pd istrimu sendiri yv pintsr dan penurut kamu sia2kam nikmati kehancuranmu dan bertobatlah demi masa depanmu
irma hidayat
cerita yg bagus
fatmiatun sahono
maaf ortu nya Aslan TDK ada ya....
fatmiatun sahono
cuma karena Naya hrs berkorban begitu besar. itu kan pengorbanan Erlan Aslan satu cinta satu marah. setipis plastik perbedaan nya. dampak nya luarr biasa....🙏 tinggal sedikit lagi ya tamat...🙏💪💪💪💪
fatmiatun sahono
heran....nikah siri itu emang dpt hak ya....
fatmiatun sahono
bukan jaim. bodohhhhh
Lioniwati Ben
terima salah Aslan
udah lah
mengalah aja lbh terhormat loh
drpd bikin rencananya busuk pdhal km yg busuk dr awalnya kg
Susi Yanti
sukurin.....
emang enak ngerebut milik org lain ?, diawal emang yg nampak sorga,namun waktu berjalan melintasi indahnya,selamat dtg kemasa sulit....
Cicih Sophiana
eh Naya tunjukan ke si Aslan klo kamu kuat kamu bisa melawan... jgn cuma nangis doang...
Cicih Sophiana
Naya kamu payah ah...
Lioniwati Ben
mencintaimu dalam senyap ath yah Erlan 👍 brarti tulus sih cinta Erlan utk nara
Night Watcher
sebenarnya posisi yg lebih tinggi di perusahaan itu apa ya? CEO atau direktur?
fatmiatun sahono
yahhhh sy pengen baca novel , setelah pergi de suami nya trus ketemu jodoh yg notabene bule tp maaf🙏muslim . yg konon bule nya bucin amat ma org indo. pasti romantisass....semngat Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!