Indonesia
NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah di Bawah Langit Malam

Sentuhan hangat dari telapak tangan Varro di kedua pipiku serasa menghentikan waktu. Hujan gerimis yang membasahi lorong belakang kafe masih menyisakan hawa dingin yang menggerogoti kulit, namun keberadaan pria berpostur 183 sentimeter di hadapanku ini mendadak membuat seluruh rasa takutku sirna tanpa bekas.

"Varro... tangan lo berdarah," bisikku pelan.

Mataku tertuju pada buku-buku jari tangan kanannya yang memar dan mengucurkan darah segar akibat pukulan mentah yang ia layangkan tanpa ampun ke arah tiga anak buah Raka beberapa menit lalu.

Varro tidak memedulikan lukanya sendiri. Pria itu justru memandang pergelangan tangan kananku yang memerah kebiruan akibat cengkeraman kasar preman-preman tadi. Binar mata cokelat gelapnya menyiratkan perpaduan antara kemurkaan yang menahan diri dan rasa bersalah yang teramat dalam.

"Tangan lo memar, Gisel..." suara bariton Varro terdengar bergetar tipis, sarat akan beban keputusasaan. "Gue terlambat beberapa detik aja... dan lo harus ngerasain sakit kayak gini gara-gara gue."

"Gue gak apa-apa, Varro," sahutku mantap, memegang pergelangan tangannya yang gemetar. "Gue selamat. Lo yang nyelamatin gue."

Klek!

Pintu kayu belakang kafe mendadak terdorong dari dalam. Steven melangkah keluar dengan raut wajah panik seraya memegang sebuah besi pemukul. "Gisel! Lo gak apa-apa?! Gue tadi denger suara keributan-”

Kalimat Steven terhenti kaku saat matanya menangkap pemandangan tiga pria kekar yang terkapar tak berdaya di atas lantai aspal basah, serta sosok Varro yang sedang melepaskan jaketnya untuk dibalutkan ke bahuku.

Varro menoleh ke arah Steven. Tatapan matanya seketika berubah menjadi sangat dingin dan mengintimidasi. "Masuk ke dalam, kunci pintunya, dan gak usah ikut campur kalau lo masih mau aman," potong Varro dengan nada datar namun penuh tekanan mutlak.

Steven menelan ludahnya kaku, menatapku dengan cemas. Aku mengangguk pelan pada Steven sebagai isyarat bahwa aku aman bersama Varro. Steven akhirnya melangkah mundur dan mengunci pintu kayu belakang kafe dari dalam.

SREEEET!

Deru suara mesin mobil lain terdengar mendekat. Sebuah mobil sedan hitam meluncur cepat ke dalam lorong sempit tersebut. Brandon dan Marcel melompat turun dari dalam mobil dengan raut wajah amat tegas.

"Al!" seru Marcel seraya menghampiri tiga preman yang tergeletak di tanah. "Sinyal SOS dari HP Gisel masuk ke sistem kita lima menit lalu. Anak-anak Viper ini nekat banget nyergap di area kafe!"

Brandon membetulkan kacamata tipisnya, memandang Varro dengan cermat. "Gimana keadaan Gisel?"

"Gisel agak syok dan pergelangan tangannya memar," jawab Varro dingin tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Ia merapatkan jaket kulitnya di tubuhku, lalu mengangkat tubuhku kembali ke dalam bopongannya menuju mobil sport-nya.

"Bereskan tiga sampah ini," perintah Varro pada Brandon dan Marcel dari balik bahunya. "Korek semua informasi soal keberadaan Raka malam ini. Gue mau lokasi pastinya sebelum subuh."

"Siap, Al. Serahkan urusan ini ke kita," balas Brandon tegas seraya menyambar kerah baju salah satu preman yang mulai sadar.

Suara deru halus mesin V8 mobil sport BMW M8 Coupe milik Varro membelah malam yang makin larut. Di dalam kabin yang hangat, Varro menghentikan laju mobilnya di tepi jalanan yang sepi, tak jauh dari pelataran taman kota.

Ia menyalakan lampu dalam mobil yang berwarna warm yellow, lalu merogoh sebuah salep pemudar memar dan kain kassa steril dari dalam kotak P3K di bawah jok.

"Ulurkan tangan lo," perintah Varro lembut.

Aku menurut, menyodorkan tangan kananku yang membiru di bagian pergelangan. Varro mengoleskan salep dingin itu ke kulitku dengan tingkat ketelitian dan kelembutan yang luar biasa, seolah jemari kekarnya takut akan menyakitiku lebih jauh.

"Perih gak?" tanyanya pelan, meniup-niup permukaan kulitku yang diolesi salep.

"Agak perih dikit, tapi gak apa-apa kok," jawabku menatap lekat-lekat garis wajah tampannya dari dekat. Tetesan air hujan masih tersisa di ujung rambut hitam pendeknya, dan kemeja putihnya tampak agak kusut.

"Varro..." panggilku pelan.

"Hmm?" sahut Varro tanpa menaikkan pandangannya dari tanganku.

"Makasih ya... udah beliin HP baru ini dan masang sistem SOS di dalamnya," ucapku tulus. "Kalau gak ada HP ini... gue gak tahu apa yang bakal terjadi sama gue malam ini di lorong kafe."

Varro menghentikan pergerakan jemarinya. Ia menghembuskan napas panjang, lalu perlahan mendongak menatap lurus tepat ke dalam kedua bola mataku. Binar mata cokelat gelapnya memancarkan kehangatan dan ketegasan yang sanggup meluluhkan pertahanan diri cewek mana pun.

"Gak usah bilang makasih, Gisel cantik," tutur Varro dengan suara bariton yang teramat dalam. "HP itu... cuma benda mati. Yang paling penting buat gue adalah keselamatan lo. Gue udah pernah bilang kan? Gue bakal lakukan apa aja demi menjaga lo."

Aku meresapi setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Rasa canggung dan gengsi yang dulu selalu kubangun di hadapannya kini menguap sepenuhnya. Aku mengulurkan tangan kiriku, mengusap pelan luka memar di buku-buku jari tangan kanannya.

"Tangan lo juga harus diobatin, Varro... Jangan cuma mikirin gue terus," kataku lembut seraya menyapukan salep ke lukanya.

Varro terpaku menatap pergerakan tanganku di kulitnya. Seulas senyum manis nan menawan terukir indah di bibirnya, sebuah senyuman tulus tanpa ada kepura-puraan atau kesombongan.

"Lo perhatian banget sama gue sekarang," goda Varro dengan mata berbinar jahil. "Gue anggap ini tanda kalau lo udah mulai suka sama gue ya?"

Wajahku seketika membara panas. Aku buru-buru melepaskan tangannya dan membuang muka ke arah jendela. "G-gue cuma manusia yang berprikemanusiaan ya! Jangan kegeeran lo!"

Varro tertawa renyah, sebuah tawa hangat yang memenuhi seluruh sudut kabin mobil. "Iya, iya... terserah lo deh, Gisel cantik."

Setengah jam kemudian, mobil Varro memasuki lorong gang menuju rumah sederhanaku. Lampu-lampu teras rumah tetangga sudah mulai dipadamkan, menandakan sebagian besar penghuni sudah tertidur lelap.

Varro memarkirkan mobilnya agak jauh dari pagar rumahku agar tidak menimbulkan suara bising yang bisa membangunkan Mama dan adik-adikku.

"Lo masuk sekarang, langsung mandi pakai air hangat, terus istirahat," pesan Varro seraya menatapku penuh perhatian dari kursi pengemudi.

Aku melepaskan sabuk pengaman, menyambar tas punggungku. "Lo juga langsung pulang ya, Varro. Jangan kelayapan lagi malam-malam begini. Obatin tangan lo pakai antiseptik."

Varro mengangguk pelan, mengelus lembut puncak kepalaku. "Siap, Calon Istri."

Aku memutar bola mata geli, namun tak mampu menahan senyum tipis yang terbit di bibirku saat melangkah turun dari mobilnya. Aku berjalan pelan menembus gerimis tipis menuju pintu depan rumahku, memutar kunci, dan masuk ke dalam dengan sangat perlahan.

Begitu sampai di dalam kamar kecilku, aku merebahkan tubuh yang terasa begitu lelah ke atas kasur. Aku menyentuh leherku yang masih melingkar kalung berlian pemberian Varro, lalu melirik HP baru di atas meja belajar. Ada rasa aman yang tak terlukiskan mendekap dadaku malam ini.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan selama beberapa menit.

Drt... Drt...

HP baru pemberian Varro yang tergeletak di meja mendadak bergetar halus diiringi denting pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Aku mendekat, meraih ponsel pintar itu dengan rasa curiga yang membuncah.

Begitu aku membuka kunci layarnya, sebuat gambar foto terunduh secara otomatis.

DEG!

Darah di dalam tubuhku seketika terasa membeku kaku. Napasku tertahan di tenggorokan, dan ponsel di tanganku hampir saja merosot jatuh ke lantai!

Foto yang dikirimkan oleh nomor asing itu adalah sebuah foto yang diambil dari sudut gelap seberang jalan rumahku beberapa detik yang lalu. Di dalam foto tersebut, terlihat jelas mobil sport milik Varro yang masih terparkir di ujung gang... dan sebuah bayangan pria bertopi hitam yang sedang berdiri tepat di balik jendela luar kamar Gwen dan Glenn yang tertidur lelap.

Sebuah pesan teks menyusul tepat di bawah foto mengerikan tersebut:

Pengirim Anonim:

“Mobil sport lo bagus, Varro. Tapi percuma lo jagain cewek lo kalau dua adik kembarnya bisa gue sentuh kapan aja tanpa lo sadari. Besok malam jam 10 malam, datang sendirian ke bangunan pabrik tua stasiun lama. Tanpa anak-anak Starlit, tanpa polisi. Kalau lo nekat bawa pasukan... dua adik kecilnya yang bakal bayar harganya.”

Lututku lemas seketika. Ancaman Raka bukan lagi sekadar gertakan di kampus. Musuh Varro itu kini sudah berdiri persis di depan kamar adik-adikku.

Bersambung…...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!