CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yicheng Mencoba Mengantar Xiaoqi Pulang
Pagi itu, sinar matahari baru saja menyapu permukaan jalanan kota, namun Yicheng sudah bangun sejak pukul empat pagi. Ia berdiri di depan lemari pakaian Xiaoqi, pintu terbuka lebar, menatap tumpukan baju rapi dengan dahi berkerut serius seolah sedang mempertimbangkan keputusan bisnis terbesar dalam hidupnya. Di tangannya ada tiga potong baju — kemeja putih dengan saku kecil, kaos biru bergambar pesawat, dan baju rajut kuning yang Su Wan katakan favorit Xiaoqi. Ia membolak-baliknya berulang kali, bertanya-tanya mana yang paling nyaman, mana yang tidak terlalu panas, mana yang akan membuat anak itu senang saat berjalan bersamanya. Hatinya berdebar kencang — hari ini, untuk pertama kalinya, ia akan menjemput dan mengantar Xiaoqi pulang sendirian. Tanpa Su Wan. Hanya ayah dan anak.
Sejak kemarin malam, pikirannya tak henti-henti berputar. Bagaimana cara mengikat tali sepatu dengan benar? Apakah ia tahu jalan pulang? Bagaimana jika Xiaoqi bertanya sesuatu yang tidak bisa ia jawab? Bagaimana jika ia tersesat? Bagaimana jika anak itu merasa tidak nyaman berjalan bersamanya? Ia adalah CEO yang mengelola ribuan karyawan, yang membuat keputusan bernilai miliaran setiap hari, namun saat berdiri di depan lemari baju anak kecil ini, ia merasa canggung, takut, dan tidak tahu apa-apa. Ia merasa seperti orang asing yang berusaha masuk ke dalam dunia anaknya, dunia yang selama lima tahun ia tinggalkan kosong.
Su Wan masuk ke kamar Xiaoqi, melihat Yicheng masih berdiri di sana dengan tiga baju di tangan dan wajah penuh kecemasan. Ia tersenyum lembut, berjalan mendekat dan meletakkan tangan di bahu pria itu.
"Kau sudah berdiri di sini hampir satu jam, Yicheng," katanya pelan, suaranya menenangkan seperti angin sejuk di sore hari. "Xiaoqi akan senang dengan baju apa pun yang kau pilih. Yang penting kau ada di sana. Itu yang paling penting baginya."
Yicheng menoleh, menatap Su Wan dengan tatapan yang penuh keraguan. "Tapi aku takut salah, Su Wan. Aku takut memilih baju yang salah, takut salah jalan, takut tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak tahu kebiasaannya, aku tidak tahu apa yang ia suka di jalan pulang, aku tidak tahu… bagaimana menjadi ayah yang benar-benar ada untuknya."
Su Wan mengambil baju rajut kuning dari tangan Yicheng, lalu melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di tas kecil milik Xiaoqi. "Pilih kaos biru. Itu paling nyaman untuk berjalan. Dan jangan khawatir tentang hal-hal kecil. Xiaoqi tidak menuntut kau sempurna. Ia hanya ingin kau menjadi Ayahnya. Cukup berjalan di sampingnya, mendengarkan ceritanya, dan tersenyum. Itu sudah lebih dari cukup." Ia merapikan kerah kemeja Yicheng, jari-jarinya menyentuh bahunya dengan lembut. "Alamat sekolahnya sudah aku tulis di kertas ini, rute yang biasa kami lewati juga sudah aku tandai. Kalau bingung, telepon aku. Tidak ada yang salah dengan bertanya. Dan ingat — jalan pulang bukan tentang seberapa cepat kalian sampai di rumah. Tapi tentang perjalanan itu sendiri. Tentang waktu yang kalian miliki berdua."
Yicheng menyimpan kertas itu di saku dalam, menekannya dengan telapak tangan seakan itu adalah peta harta karun paling berharga. "Terima kasih, Su Wan. Terima kasih karena selalu percaya padaku, bahkan saat aku tidak percaya pada diriku sendiri."
Su Wan tersenyum, mencium pipinya dengan lembut — sentuhan ringan namun penuh keyakinan. "Pergilah. Anakmu sedang menunggu ayahnya."
Jam tiga sore, Yicheng sudah berdiri di depan gerbang sekolah Xiaoqi tiga puluh menit lebih awal. Ia berdiri sedikit di pinggir, menjaga jarak namun matanya tak berhenti menatap pintu keluar sekolah. Ia melihat orang tua lain — beberapa berbicara satu sama lain sambil menunggu, beberapa memegang camilan untuk anak mereka, beberapa tersenyum saat melihat anaknya berlari keluar. Ia merasa asing di antara mereka. Tidak ada yang ia kenal, tidak ada yang mengenalnya. Ia adalah pria yang terlambat datang ke pesta kehidupan anaknya, dan sekarang ia berdiri di sini, berharap diterima, berharap tidak terlalu terlihat seperti orang asing yang berusaha masuk.
Ia memeriksa ponselnya berulang kali, memastikan tidak ada pesan terlewat, lalu memeriksa kembali rute yang ditulis Su Wan di kertas itu, menghafal setiap belokan, setiap tanda jalan, setiap toko yang disebutkan. Ia tidak ingin tersesat. Tidak hari ini. Tidak pada perjalanan pulang pertama mereka berdua.
Bel berbunyi. Suara riuh anak-anak terdengar dari dalam, lalu pintu gerbang terbuka lebar. Anak-anak berlarian keluar, tertawa, memanggil nama orang tua mereka, memeluk orang yang menunggu di depan gerbang. Jantung Yicheng berdegup semakin kencang, matanya menyapu kerumunan, mencari wajah kecil yang selalu ia rindukan.
Dan di sana, di tengah kerumunan anak-anak yang berjalan berkelompok, ia melihatnya. Xiaoqi berjalan sambil memegang tas kecil di punggungnya, kepala sedikit menunduk sambil memandangi sepatunya, lalu sesekali menengok ke kanan dan ke kiri, seakan mencari seseorang. Saat matanya bertemu dengan mata Yicheng, langkahnya terhenti sejenak, lalu wajahnya bersinar terang — senyum yang begitu cerah, begitu tulus, seakan matahari baru saja muncul di tengah awan.
"Ayah!" serunya, lalu berlari kecil menuju arah Yicheng, tas di punggungnya bergoyang-goyang seiring langkah kakinya yang kecil namun cepat.
Yicheng berlutut, membuka kedua lengannya, dan saat tubuh kecil itu menabrak pelukannya, ia merasakan sesuatu yang hangat dan penuh meledak di dadanya — perasaan yang begitu utuh, begitu nyata, begitu miliknya. Ia memeluk anak itu erat, mencium puncak kepalanya, menghirup aroma sabun dan susu yang khas, aroma yang membuatnya merasa akhirnya pulang ke rumah.
"Xiaoqi," bisiknya, suaranya sedikit bergetar karena haru. "Ayah di sini. Ayah datang menjemputmu."
Xiaoqi menarik diri sedikit, menatap wajah ayahnya dengan mata berbinar penuh kebahagiaan. "Ayah datang sendirian? Ibu tidak ikut?"
"Ibu ada di rumah menunggu kita. Hari ini Ayah yang akan mengantar Xiaoqi pulang. Hanya kita berdua. Boleh?"
"Boleh banget!" Xiaoqi melompat kecil, lalu meraih tangan Yicheng dengan erat, jari-jarinya menyusup di sela jari-jarinya. "Ayo, Ayah! Aku tahu jalan pulang! Kalau Ayah tersesat, aku yang akan menuntun Ayah!"
Yicheng tertawa, perasaan gugupnya perlahan berubah menjadi kehangatan yang lembut. "Baiklah. Kalau begitu Xiaoqi yang menjadi pemandu Ayah. Tapi Ayah juga sudah menghafal jalannya, jadi kita saling bantu, ya?"
Mereka berjalan beriringan, tangan mereka bergenggaman erat, langkah Yicheng yang besar menyesuaikan dengan langkah kecil anak itu. Jalanan sore itu cukup ramai, kendaraan lewat beriringan, suara klakson terdengar sesekali, namun bagi Yicheng, dunia seakan menyempit menjadi dua hal — jalan di depannya, dan tangan kecil yang memegang tangannya dengan kepercayaan penuh.
"Ini jalan yang biasa Ayah lewati?" tanya Xiaoqi, menatap ke arah kiri dan kanan dengan rasa ingin tahu yang tak pernah habis.
"Ya, Ayah sudah mempelajarinya. Tapi Xiaoqi boleh memberi tahu Ayah kalau ada jalan yang lebih pendek atau lebih menarik."
Xiaoqi tersenyum bangga. "Ada! Di sana ada toko roti yang menjual roti susu! Ibu sering membelikanku kalau kami pulang bersama. Baunya enak sekali, Ayah! Seperti manis dan hangat!" Matanya berbinar seolah bisa mencium aroma itu dari kejauhan. "Dan di pojok itu ada pohon mangga yang buahnya selalu hijau, tidak pernah matang! Aku sudah menunggunya matang sejak tahun lalu, tapi sampai sekarang belum juga matang. Mungkin dia suka menjadi hijau, Ayah."
Yicheng mendengarkan setiap kata dengan saksama, menatap anaknya yang berbicara dengan antusiasme yang begitu tulus. Ia menyadari hal-hal kecil yang selama ini ia lewatkan — cara Xiaoqi melihat dunia dengan mata yang penuh keajaiban, bagaimana hal-hal sederhana seperti pohon mangga yang tidak pernah berbuah matang bisa menjadi hal yang paling menarik untuk dibicarakan. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk mengejar kesuksesan, sehingga lupa bahwa keindahan hidup justru ada pada hal-hal kecil seperti ini — percakapan dengan anak di jalan pulang, cerita tentang pohon mangga, aroma roti susu dari toko kecil di sudut jalan.
"Kau suka roti susu?" tanya Yicheng lembut. "Kalau begitu kita beli sekarang, ya? Sebelum pulang."
"Wah, boleh? Asyik! Terima kasih, Ayah!" Xiaoqi menarik tangan Yicheng, berlari kecil menuju toko roti itu, seakan takut Ayah berubah pikiran.
Di dalam toko, aroma roti yang baru dipanggang menyambut mereka — hangat, manis, mengisi ruangan dengan kelembutan. Xiaoqi berdiri di depan etalase, menatap tumpukan roti susu dengan mata berbinar, lalu menunjuk salah satu dengan kepastian. "Itu, Ayah! Yang bentuknya seperti bulan sabit! Itu yang paling enak, isinya krim susu yang lembut!"
Yicheng membeli dua — satu untuk Xiaoqi, satu untuk dirinya sendiri — lalu mereka duduk di bangku kayu kecil di depan toko. Xiaoqi membuka kemasannya dengan hati-hati, menggigit sedikit bagian ujungnya, lalu menutup mata seakan merasakan kelezatan yang luar biasa.
"Enak, Ayah? Coba Ayah gigit! Krimnya lumer di mulut!" katanya sambil tersenyum, mulutnya sedikit terisi krim putih.
Yicheng menggigit rotinya, rasanya manis dan lembut, tidak terlalu kuat, tidak terlalu lemah — persis seperti kebahagiaan yang sederhana namun sempurna. Ia menatap anaknya yang menikmati rotinya dengan wajah puas, hatinya terasa penuh hingga sesak. Selama lima tahun ia mencari kebahagiaan di tempat yang salah — di kesuksesan, di kekayaan, di pujian orang lain. Padahal kebahagiaan itu ada di sini, di sepotong roti susu yang dimakan bersama anaknya di bangku kayu kecil di sore hari.
"Enak, Xiaoqi," jawabnya dengan senyum tulus. "Paling enak yang pernah Ayah makan. Karena makan bersama Xiaoqi."
Xiaoqi tersipu, lalu menyodorkan rotinya ke mulut Yicheng. "Coba bagian tengahnya! Isinya paling banyak di sana!"
Yicheng menggigit sedikit bagian yang ditawarkan anak itu, merasakan kehangatan yang menjalar dari mulut ke hati. "Benar, paling enak di bagian tengah. Terima kasih, Nak."
Setelah menghabiskan roti mereka, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Xiaoqi berjalan sambil menunjuk ke berbagai arah, bercerita tentang segala hal yang ia lihat — kucing tidur di pagar, bunga mawar merah di halaman orang, mobil berwarna biru yang mirip dengan mobil mainannya, awan yang bentuknya seperti naga. Yicheng mendengarkan, bertanya, tertawa, menyadari bahwa berjalan pulang bersama anak ternyata bukan tentang mengantarnya sampai ke rumah — tapi tentang mendengarkan dunia dari sudut pandangnya, tentang melihat keajaiban dalam hal-hal yang biasa saja.
Saat mereka sampai di persimpangan jalan yang agak ramai, Yicheng berhenti, memegang tangan Xiaoqi lebih erat. "Tunggu sebentar, Nak. Kita lihat ke kiri dan ke kanan dulu, ya? Hati-hati mobilnya cepat."
Xiaoqi berdiri diam di samping Yicheng, menatap lalu lintas dengan tenang, lalu menatap ayahnya. "Ayah selalu berhenti di sini, sama seperti Ibu. Ibu juga selalu bilang, lihat ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi sebelum menyeberang. Supaya aman."
Yicheng menatap anak itu, terharu menyadari bahwa kebiasaan kecil Su Wan sudah tertanam begitu dalam pada diri Xiaoqi. "Ayah hanya ingin Xiaoqi aman. Ayah berjanji, akan selalu menjaga Xiaoqi. Selalu."
"Dan aku juga akan menjaga Ayah," jawab Xiaoqi serius, memegang tangan Yicheng dengan kedua tangannya yang kecil. "Kalau Ayah tersesat, aku tuntun Ayah. Kalau Ayah lupa jalan, aku ingatkan Ayah. Kita saling menjaga, kan?"
Yicheng berlutut, menatap mata anak itu dengan hati yang penuh kasih sayang dan rasa syukur yang tak terlukiskan. "Ya, kita saling menjaga. Selamanya. Ayah berjanji."
Mereka menyeberang jalan bersama-sama, tangan tetap bergenggaman, langkah serempak, dua hati yang berjalan beriringan — satu yang tumbuh, satu yang kembali menemukan arah.
Saat mereka berjalan melewati sebuah taman kecil, Xiaoqi berhenti, menarik tangan Yicheng ke arah ayunan yang kosong. "Ayah, boleh kita duduk sebentar? Aku ingin menunjukkan sesuatu pada Ayah."
Yicheng duduk di ayunan sebelah Xiaoqi, melihat anak itu merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar kertas gambar yang dilipat rapi. Xiaoqi membukanya perlahan, lalu menyerahkannya kepada Yicheng dengan wajah penuh harap.
Itu adalah gambar tiga orang — Ayah, Ibu, dan Xiaoqi — yang berjalan bergandengan tangan di jalan berwarna kuning cerah. Di langit ada matahari dan awan berbentuk hati, di pinggir jalan ada bunga-bunga berwarna-warni. Tulisan di bagian bawah ditulis dengan pensil warna merah: Keluargaku — Ayah, Ibu, Xiaoqi.
"Aku menggambar ini kemarin," kata Xiaoqi pelan, matanya menatap gambar itu lalu ke arah Yicheng. "Aku selalu menggambar kita berjalan bersama. Tapi kemarin aku menggambar jalan pulang — jalan yang kita lewati hari ini. Aku ingin memberikan ini pada Ayah. Supaya kalau Ayah sedang bekerja dan merindukan aku, Ayah bisa melihat gambar ini dan tahu bahwa aku selalu menunggu Ayah pulang."
Yicheng menerima gambar itu, tangannya sedikit bergetar, matanya terasa panas dan basah. Ia menatap gambar sederhana namun penuh makna itu — garis-garis yang tidak sempurna, warna-warna yang kadang keluar dari garis, namun penuh dengan cinta yang begitu murni dan tulus. Ini adalah hadiah paling berharga yang pernah ia terima, jauh lebih berharga dari sertifikat penghargaan, jauh lebih berharga dari semua kemewahan yang ia miliki.
"Terima kasih, Xiaoqi," suaranya terdengar berat namun penuh kasih sayang. "Ini hadiah terindah yang pernah Ayah terima. Ayah akan menyimpannya di meja kerja Ayah, di tempat yang paling terlihat. Setiap kali Ayah melihatnya, Ayah akan teringat perjalanan pulang ini — dan betapa beruntungnya Ayah memiliki anak sebaik, sebijaksana, dan sepenuh kasih sayang seperti Xiaoqi."
Xiaoqi tersenyum bahagia, lalu memeluk pinggang Yicheng, menempelkan pipinya ke dada ayahnya. "Aku juga beruntung punya Ayah. Ayah yang datang menjemputku, yang membelikan roti susu, yang mau berjalan bersamaku. Aku senang Ayah sudah kembali."
Yicheng memeluk anak itu erat, mencium rambutnya, berdoa dalam hati agar waktu berhenti sejenak, agar momen ini bertahan selamanya. Di taman kecil itu, di atas ayunan yang bergerak pelan tertiup angin sore, ia menyadari bahwa ia tidak lagi merasa asing, tidak lagi merasa takut, tidak lagi merasa tidak tahu apa-apa. Ia adalah ayah. Dan anak ini telah mengajarinya hal terpenting tentang menjadi ayah — bukan tentang menjadi sempurna, bukan tentang mengetahui segalanya, tapi tentang hadir, tentang mendengarkan, tentang berjalan di sampingnya, memegang tangannya, dan membiarkannya menuntunmu pulang.
Mereka melanjutkan perjalanan pulang, langkah mereka lebih ringan, hati mereka lebih tenang. Xiaoqi terus bercerita, Yicheng terus mendengarkan, dan setiap kali anak itu menoleh ke arahnya, ia tersenyum, memastikan bahwa ia masih ada di sini, masih berjalan di sampingnya, masih memegang tangannya.
Saat rumah akhirnya terlihat di ujung jalan — rumah kecil dengan halaman yang ditumbuhi bunga melati — Xiaoqi menunjuk ke arah pintu depan dengan antusiasme yang meluap-luap. "Ayah! Itu rumah kita! Ibu pasti sudah menunggu di depan pintu! Kita sampai, Ayah! Kita berhasil sampai!"
Yicheng melihat Su Wan berdiri di depan pintu, menatap ke arah mereka dengan senyum lembut yang menyambut, tangan di dadanya seakan lega melihat mereka pulang dengan selamat. Saat mereka semakin dekat, Su Wan berjalan turun menuju mereka, dan Xiaoqi berlari kecil menuju ibunya, memeluk kakinya dengan gembira.
"Ibu! Ayah mengantarku pulang! Kita beli roti susu! Kita duduk di ayunan! Aku kasih gambar pada Ayah! Perjalanan pulang menyenangkan sekali, Ibu!" Xiaoqi bercerita dengan napas terengah, kata-katanya tumpah ruah karena kebahagiaan.
Su Wan menatap Yicheng di balik bahu anak itu, matanya penuh kebanggaan dan kelembutan. Yicheng berjalan mendekat, memegang tangan Su Wan yang tersisa di samping tubuhnya, lalu mengangkat tangan Xiaoqi yang masih memegang tangannya, menyatukan ketiga tangan mereka menjadi satu.
"Kita sampai," kata Yicheng pelan, menatap Su Wan dengan senyum yang penuh rasa syukur. "Perjalanan pulang pertama kami berdua — dan kami berhasil. Xiaoqi adalah pemandu terbaik di dunia."
Su Wan tersenyum, menyentuh pipi Yicheng dengan lembut. "Aku tahu kalian akan baik-baik saja. Karena kalian berdua saling memiliki."
Malam itu, setelah Xiaoqi tertidur dengan tenang di tempat tidurnya, Yicheng duduk di meja kerja di ruang tamu, meletakkan gambar yang diberikan anak itu di tempat yang paling terlihat — tepat di samping foto Su Wan dan Xiaoqi yang selalu ia simpan di dompet. Ia menatap gambar itu lama, merenungkan setiap garis, setiap warna, setiap kata yang ditulis anaknya dengan penuh cinta. Ia menyadari bahwa perjalanan pulang hari ini bukan hanya tentang mengantar Xiaoqi pulang ke rumah — tapi tentang perjalanannya sendiri, perjalanan pulang ke hati anaknya, perjalanan pulang ke keluarga yang selama ini ia tinggalkan.
Ia tidak tahu segalanya, ia tidak sempurna, ia masih punya banyak hal untuk belajar. Tapi hari ini, ia belajar hal terpenting — bahwa pulang bukan hanya tentang sampai ke tujuan, tapi tentang siapa yang berjalan di sampingmu, siapa yang memegang tanganmu, dan siapa yang menunggumu di ujung jalan. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun ini, ia merasa benar-benar pulang — bukan ke sebuah rumah, tapi ke hati dua orang yang paling ia cintai di dunia.
Yicheng berdiri, berjalan ke jendela kamar Xiaoqi, melihat wajah damai anak itu dalam tidurnya, lalu berjalan ke ruang tengah di mana Su Wan sedang menunggu. Ia menggenggam tangan istrinya, merasakan kehangatan yang begitu akrab dan menenangkan.
"Terima kasih," bisiknya, "karena membiarkan aku menemukan jalan pulang. Dan terima kasih, Xiaoqi, karena menuntunku."
Di luar, bulan bersinar terang di langit malam, dan di dalam rumah, tiga hati akhirnya beristirahat dengan tenang — bersama, utuh, dan pulang.