Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: BENANG MERAH KEHAMPAAN

​Perlahan namun pasti, gelombang tekanan spiritual di ranah Sovereign milik Mu Bingyun mulai menyusut. Hawa beku ekstrem yang tadinya mengunci ruang di sekeliling Mo Xie mengendur secara bertahap, membiarkan pasokan Qi di dalam Aula Agung kembali mengalir normal.

​Mu Bingyun menarik kembali jemari lentiknya yang sempat melilit uap beku berkerak. Matanya yang sewarna batu safir kelam menatap Mo Xie dengan pandangan yang tak lagi murni dipenuhi kemurkaan, melainkan oleh kalkulasi dingin dan kewaspadaan yang amat mendalam.

​"Kau membawa dua kekuatan yang saling bertolak belakang di dalam raga fanamu, Bocah," desis Mu Bingyun rendah.

​Suaranya bergaung halus di antara pilar-pilar es raksasa saat ia membalikkan badannya. Dengan gerakan yang anggun dan lambat, gaun sutra peraknya meliuk menaiki undakan batu kristal. Ia kembali menduduki takhta es di samping Ketua Agung, menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari tetap mengunci Mo Xie dalam persepsi spiritualnya.

​Atmosfer tegang yang tadinya nyaris meledak kini berganti menjadi keheningan yang serba menekan. Reaksi pasif dari Inti Es Abadi barusan telah membuktikan secara mutlak bahwa Artefak Surgawi tersebut memang telah memilih Mo Xie sebagai wadahnya, menghentikan niat Ketua Sekte untuk mencabut mata kiri pemuda itu secara paksa.

​"Xue Qingyue," panggil Mu Bingyun datar, memecah kesunyian aula. "Laporkan kondisi di perbatasan selatan."

​Xue Qingyue yang sejak tadi mematung di atas lantai es segera menghela napas panjang yang menguap putih. Setelah keterkejutan akibat penolakan Inti Es Abadi mereda, ia menegakkan tubuhnya kembali. Dengan gestur yang kokoh dan penuh ketenangan, praktisi wanita di ranah Awakened puncak itu mulai menyampaikan laporannya.

​"Melaporkan kepada Ketua Sekte dan Ketua Agung," ucap Xue Qingyue, suaranya jernih bergema di seluruh sudut ruangan. "Celah dimensi di perbatasan selatan berhasil ditiadakan secara penuh. Entitas Void tingkat rendah hingga Penjaga Celah di ranah Awakened telah dimusnahkan."

​Ia menjeda kalimatnya sejenak, melirik sekilas ke arah Mo Xie yang berdiri membisu di sampingnya.

​"Di tengah pertempuran, utusan dari Sekte Angin Surgawi—Lu Cang dan Feng Yue—tiba di lokasi. Mereka ikut terlibat dalam pembersihan sisa-sisa gelombang musuh. Namun..."

​Xue Qingyue mendadak menghentikan ucapannya. Keraguan yang sangat jelas terpancar di raut wajahnya yang pucat. Sepasang mata biru es miliknya sedikit bergetar saat ia mengingat kembali detik-detik terbukanya celah terdalam di akhir pertempuran—saat Pemburu Dimensi melayang di hadapan Mo Xie.

​Ia tahu betul dampak dari informasi yang akan disampaikannya. Di hadapan Mu Bingyun yang sudah menaruh curiga pada Mo Xie, laporan ini bisa saja memicu gelombang permusuhan baru di dalam sekte.

​"Ada apa, Qingyue? Jangan menyembunyikan detail apa pun di depan Aula Agung," tegur Mu Bingyun dengan nada menekan yang sangat tajam.

​Mo Xie hanya menatap lurus ke depan tanpa mencoba memotong atau membela diri. Ia tahu hal ini tidak akan bisa disembunyikan selamanya.

​Xue Qingyue menarik napas dalam-dalam, menguatkan batinnya sebelum kembali bersuara.

​"Saat retakan utama bergejolak, muncul sosok Pemburu Dimensi dari lapisan kehampaan terdalam," lanjut Xue Qingyue dengan nada suara yang merendah. "Makhluk itu menyerang Mo Xie secara spesifik karena mengenali energi dari Pedang Kehampaan. Dan... sebelum melarikan diri kembali ke dalam retakan, entitas tersebut menyebut Mo Xie sebagai bagian dari mereka... serta mengklaimnya sebagai sang pembawa kehancuran."

​Suasana di dalam Aula Agung seketika membeku rapat.

​Retakan halus berderit samar dari dinding-dinding kristal es di sekeliling mereka, merespons gejolak aura yang mendadak menegang dari kedua penguasa sekte. Mu Bingyun menyipitkan matanya tajam, jemari tangannya mencengkeram erat sandaran takhta batu saat mendengar pengakuan tersebut.

​Namun, di tengah ketegangan yang kian memuncak, Ketua Agung Han Wuyan yang sejak tadi membisu dari atas takhta utama perlahan menegakkan posisi duduknya.

​Sinar mata tuanya yang bijaksana memancar terang, menembus kabut dingin aula dan terkunci rapat pada pergelangan tangan kanan Mo Xie yang terbalut kain hitam.

​"Benar dugaanku..." desis Han Wuyan pelan.

​Suara berat sang Ketua Agung bergaung rendah, membawa getaran Hukum Es tingkat Ascendant yang membuat sirkulasi Qi di dalam Aula Agung bergetar pelan. Tidak ada nada terkejut dalam suaranya, melainkan sebuah kepastian kuno dari penglihatan yang telah lama ia simpan sendiri.

​"Pedang Kehampaan yang terikat di lengan kananmu itu, Mo Xie... memang memiliki kaitan langsung dengan awal mula Bencana Langit yang menghancurkan Benua Tianlan."

Bahaya yang kau bawa tidak sekadar merobek raga fanamu, Bocah," sambung Han Wuyan, pandangan tuanya menembus helai-helai kain hitam yang melilit pergelangan tangan Mo Xie. "Tapi juga menembus dinding takdir yang telah runtuh sejak masa kiamat."

​Mo Xie perlahan mengangkat lengan kanannya, menatap telapak tangan yang terbalut kain hitam tersebut dengan mata yang berkerut rapat. Di balik balutan kain itu, simbol pedang hitam kecil yang terpatri di atas urat nadinya terasa membisu, seolah menyembunyikan kebenaran mengerikan yang tak terjangkau oleh akalnya.

​Bagaimana mungkin hanya sebilah Pedang Kehampaan bisa menjadi bagian dari awal mula Bencana Langit yang meretakkan seluruh Benua Tianlan? Jika pedang ini adalah bagian dari kehancuran masa lalu, lalu siapa sebenarnya dirinya sebelum ia terbangun di tengah reruntuhan lima ratus tahun kemudian?

​Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar di dalam benaknya, memicu denyutan dingin dari Inti Es Abadi di mata kirinya yang mencoba menenangkan gejolak batinnya.

​"Lalu... apakah utusan dari Sekte Angin Surgawi mengetahui hal ini?" Mu Bingyun tiba-tiba menyela, suaranya memotong alur pikiran Mo Xie dengan ketajaman yang menekan.

​Mata safirnya menatap Xue Qingyue dengan raut wajah yang kian mengeras.

​"Ya, Ketua Sekte," jawab Xue Qingyue cepat, menundukkan kepalanya sedikit. "Lu Cang dan Feng Yue berada di sana saat Pemburu Dimensi itu bersuara. Mereka mendengar perkataan itu secara langsung."

​Suasana di dalam Aula Agung seketika kembali membeku dalam keheningan yang serba mencekam.

​Mu Bingyun menghela napas panjang yang menguap menjadi butiran es tipis di udara. Praktisi di ranah Sovereign tingkat menengah itu melepaskan cengkeramannya dari takhta, lalu mengangkat satu tangannya untuk memijat keningnya yang terasa pusing.

​"Masalah besar..." gumam Mu Bingyun dengan nada berserat.

​Ia mendongak, menatap Mo Xie dengan pandangan dingin yang penuh kalkulasi politik faksi.

​"Sudah sejak lama sekte-sekte di luar sana mencari celah untuk menjatuhkan Sekte Es Abadi dari puncak benua utara. Sekte Angin Surgawi pasti akan memanfaatkan informasi ini. Mereka kini memiliki alasan yang sangat kuat untuk menghimpun faksi-faksi lain, menuduh sekte kita menyembunyikan benih kehancuran dunia."

​Mu Bingyun berpaling ke arah takhta utama, menatap sang penguasa tertinggi sekte. "Bagaimana menurutmu, Ketua Agung? Membiarkan bocah ini tetap berada di dalam sekte sama saja dengan memancing badai dari seluruh penjuru Benua Tianlan."

​Han Wuyan tampak teramat tenang. Raut wajah tuanya yang dipenuhi guratan masa lalu sama sekali tidak memperlihatkan kejutan atau ketakutan terhadap ancaman gabungan faksi luar.

​"Jangan khawatir, Bingyun," ucap Han Wuyan pelan, namun getaran suaranya membawa wibawa mutlak yang sanggup menundukkan badai. "Selama aku masih bernapas dan bertakhta di Sekte Es Abadi ini, sekte-sekte luar itu tidak akan pernah berani menyerang secara terang-terangan."

​Namun, sang Ketua Agung menjeda kalimatnya. Sinar matanya yang sewarna bintang musim dingin perlahan meredup, menyisakan pandangan sayu yang dalam.

​"Tapi..." lanjut Han Wuyan dengan helaan napas berat yang membawa hawa beku purba. "...waktuku di dunia fana ini sudah tidak lama lagi."

​Pengakuan itu menghantam keheningan aula bagai benturan godam raksasa. Xue Qingyue terperanjat hebat, matanya membelalak tak percaya menatap sosok guru agungnya, sementara Mu Bingyun hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat dalam kesedihan yang tersembunyi.

​Mo Xie berdiri mematung di tempatnya. Otaknya berusaha keras mencerna setiap kata yang terucap di antara dua petinggi tertinggi Sekte Es Abadi tersebut. Di tengah ancaman gabungan faksi luar dan batas usia seorang penguasa ranah Ascendant, Mo Xie menyadari bahwa waktu yang dimilikinya di tempat ini jauh lebih sempit dari yang ia bayangkan.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!