Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.
Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.
Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.
Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.
Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.
Namun Noah bukan anak biasa.
Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.
Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?
Dan sebenarnya...
siapa Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM ACARA AMAL
Malam acara amal tiba dengan gemerlap lampu yang menghiasi aula besar tempat perayaan itu diadakan, ratusan tamu berpakaian mewah memenuhi ruangan, tidak menyadari sedikit pun ketegangan tersembunyi yang menyelimuti seluruh persiapan di baliknya.
Noah, mengenakan setelan jas mininya dengan bangga, berjalan di antara Elena dan Althea, matanya berbinar mengagumi dekorasi mewah dan lampu gantung besar yang menggantung dari langit-langit aula, sesekali berhenti untuk mengagumi patung es berbentuk angsa yang dipajang di dekat meja makanan.
"Ini kayak istana di dongeng," bisiknya kepada Althea, membuat wanita itu tersenyum meski matanya terus waspada mengamati setiap sudut ruangan, insting lamanya sebagai Black Rose kini bekerja penuh di bawah topeng seorang ibu yang tampak tenang di permukaan.
Tim keamanan yang diperkuat, sebagian besar menyamar sebagai staf acara, tersebar di berbagai titik strategis, berkomunikasi melalui alat komunikasi tersembunyi, mengawasi setiap gerakan yang mencurigakan dengan kewaspadaan penuh yang tidak terlihat oleh tamu-tamu lain yang asyik menikmati acara.
Adrian, meski berusaha tampil tenang sambil menyambut berbagai tamu penting dengan senyum profesionalnya yang biasa, sesekali melirik ke arah Noah dari kejauhan, memastikan putranya selalu berada dalam jangkauan pandangannya.
Vera dan timnya, yang sudah menyusup ke dalam acara dengan berbagai penyamaran yang telah mereka persiapkan dengan teliti, mulai bergerak sesuai rencana yang sudah mereka susun. Salah satu anggota timnya, menyamar sebagai pelayan, mulai menciptakan gangguan kecil di dekat meja makanan, sengaja menjatuhkan nampan penuh gelas kristal yang pecah berantakan, menciptakan keributan yang menarik perhatian banyak tamu dan sebagian tim keamanan ke arah tersebut.
Namun apa yang tidak diketahui Vera adalah bahwa tim keamanan Virell, yang sudah diberitahu sebelumnya tentang kemungkinan taktik pengalihan seperti ini berkat informasi dari Gerald, tidak sepenuhnya terpancing oleh gangguan kecil itu. Sebagian besar tim tetap fokus pada tugas utama mereka: menjaga Noah.
Ketika Vera memberi sinyal kepada agen lain untuk mulai bergerak mendekati posisi Noah, memanfaatkan momen kerumunan yang sedikit lebih padat di sekitar area tempat anak-anak tamu lain sedang bermain di sudut khusus yang disediakan panitia, dia mendapati bahwa jarak menuju Noah lebih sulit ditembus daripada yang diperkirakan sebelumnya, dikelilingi oleh beberapa "staf katering" yang, jika diperhatikan lebih dekat, memiliki postur dan kewaspadaan yang jauh lebih terlatih daripada pelayan biasa.
Mereka sudah tahu, pikir Vera, merasakan firasat buruk mulai muncul di benaknya.
Dia memberi sinyal darurat kepada timnya untuk menunda rencana, namun terlambat. Salah satu agennya yang sudah bergerak terlalu jauh mendekati area anak-anak tertangkap oleh salah satu penyamar keamanan Virell yang dengan cekatan dan tanpa keributan berlebihan berhasil menahan pergerakannya, membawa pria itu keluar ruangan dengan alasan yang terdengar sopan di telinga tamu lain: "kesalahan izin masuk area terbatas."
Kekacauan kecil itu cukup untuk membuat Vera menyadari bahwa operasi malam ini telah gagal sebelum benar-benar dimulai secara penuh. Namun, sebagai agen yang terlatih dengan disiplin tinggi, dia tidak langsung menyerah begitu saja.
Dia mengubah rencana dengan cepat, memutuskan untuk mundur sementara namun tetap mengawasi dari jarak aman, mencari kesempatan lain yang mungkin muncul di tengah kekacauan yang sudah mulai terjadi.
Sementara itu, di sudut tempat bermain anak-anak, Noah, yang tidak menyadari sepenuhnya drama yang baru saja terjadi di sekelilingnya, sedang asyik bermain dengan beberapa anak lain, tertawa riang sambil menyusun balok-balok besar menjadi menara yang menurutnya sangat mengesankan.
Namun tiba-tiba, di tengah keceriaannya, Noah berhenti sejenak, matanya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak biasa di kerumunan orang dewasa yang lalu lalang tidak jauh darinya. Seorang pria dengan seragam pelayan yang, entah kenapa, membuat Noah merasakan sesuatu yang aneh, sebuah insting kecil yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata sederhana khas anak seusianya.
Dia menatap pria itu lama, wajahnya yang tadinya ceria berubah serius, seperti saat dia menghadapi tantangan sulit di depan layar komputernya.
"Ada yang aneh," bisiknya pelan kepada salah satu penjaga yang menyamar di dekatnya, seorang wanita yang biasa dia panggil "Kak Rina" tanpa mengetahui perannya yang sebenarnya sebagai bagian dari tim keamanan.
Rina, terlatih untuk tidak pernah meremehkan insting siapa pun, termasuk seorang anak berusia lima tahun yang sudah terbukti memiliki kepekaan luar biasa, mengikuti arah pandangan Noah dan segera melaporkan melalui alat komunikasinya kepada tim lain.
Pria yang dicurigai Noah, ternyata memang salah satu agen Vera yang belum sempat mundur sepenuhnya, langsung diawasi lebih ketat begitu laporan itu diterima, mencegah kemungkinan dia mencoba pendekatan lain di kemudian waktu acara.
Malam itu berakhir tanpa insiden besar yang terlihat oleh tamu-tamu umum, sebagian besar dari mereka pulang dengan kesan bahwa acara amal itu berlangsung lancar dan meriah seperti biasanya. Namun bagi mereka yang mengetahui kebenarannya, malam itu menjadi bukti nyata bahwa ancaman yang mereka hadapi sungguh nyata, dan bahwa perlindungan yang lebih ketat harus segera diterapkan.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Noah tertidur di pangkuan Althea, kelelahan setelah malam panjang yang penuh kegembiraan baginya, tanpa menyadari sepenuhnya betapa dekat dia dengan bahaya yang berhasil dihindari malam itu.
Adrian menatap wajah damai putranya yang tertidur, kemudian menatap Althea yang duduk waspada di sisi lain mobil, matanya masih menyimpan sisa ketegangan dari malam itu.
"Ini baru permulaan," kata Althea pelan, suaranya penuh keyakinan yang dingin. "Mereka tidak akan berhenti hanya karena rencana malam ini gagal."
Adrian mengangguk, menggenggam tangan Althea erat dalam kegelapan mobil yang membawa mereka pulang. "Maka kita juga tidak akan berhenti melindungi keluarga kita," jawabnya, tekad yang sama kuatnya terpancar dari suaranya.