Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Sandiwara

Aira mendekat ke arahku, senyum tipis ia tampilkan di wajahnya yang cantik. Senyum yang sama persis seperti senyuman yang sering Bude Arum dan Dona berikan padaku.

"Oh... ini istri Revan," bisiknya di samping telingaku, bahu kami saling bergesekan.

"Kalau modelan seperti ini, mungkin aku tidak jadi cemburu padamu. Kamu cantik, Alya, tapi bukan selera Revan... dan perlu kamu ingat! Revan hanya milikku, kami akan menikah setelah nenek tua itu tiada..." bisik Aira, setiap katanya mengandung penegasan.

Baru satu kali bertemu dengan wanita ini, aku sudah mengetahui sisi buruknya.

Aku tidak akan meladeninya, karena itu percuma dan hanya buang-buang energi saja.

"Aira, pintu keluar sudah terbuka lebar. Kini giliran saya untuk bertemu suami saya."

"Kurang ajar!" desisnya tajam.

"Alya..." Suara bariton itu kembali memanggilku. Aku melanjutkan langkah untuk menemuinya, meninggalkan Aira yang masih menatapku tajam.

Aku duduk di sofa, sorot mataku tertuju pada punggung pria yang sedang sibuk mencari berkas di dalam lacinya. Sampai Kak Revan berbalik menghadapku dan beberapa detik mata kami bertemu. Tapi aku cepat memalingkan wajah.

Kak Revan melangkah mendekat ke arahku, duduk di sampingku dengan memegang selembar kertas di tangannya. Aku ikut memperhatikan kertas hasil pemeriksaan kesehatan ayah. Aku yang tidak terlalu paham dengan dunia medis.

"Fungsi jantung Pak Darman sudah menurun cukup jauh. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemampuan pompa jantungnya hanya sekitar 40 persen. Fungsi ginjalnya juga ikut menurun dan berada di kisaran yang sama. Kita harus menjaga kondisinya agar tidak terus memburuk."

Deg.

Cobaan kembali datang menghampiri. Ya Allah, kuatkan Alya. Ayah sakit, dan aku tidak berada di sampingnya. Aku sangat takut, satu-satunya orang yang sangat aku sayangi itu pergi meninggalkan aku.

Dadaku kembali terasa sesak, cobaan datang begitu bertubi-tubi.

Terdengar helaan napas ringan dari Kak Revan.

"Jangan khawatir, Pak Darman sudah aku siapkan untuk perawatan intensif di rumah sakit," ujarnya, tutur katanya terdengar menenangkan.

"Makasih, Kak." Aku menerima selembar kertas itu dari Kak Revan, lantas berdiri bersiap untuk pamit pulang.

"Kalau begitu aku pamit pulang..."

Tangan Kak Revan menahan pergelangan tanganku, menghentikan langkahku yang segera ingin melaju meninggalkan tempat yang terasa panas, bukan karena ruangannya. Melainkan karena seseorang di sampingku.

"Alya, tolong maafkan saya..."

Aku menoleh ke arah Kak Revan, tatapan kami kembali bertemu sekilas.

"Gelas yang retak tidak bisa kembali baik ke bentuk semula dengan waktu yang singkat. Begitu pun dengan lukaku, Kak..." Tenggorokanku terasa tercekat. Pegal dan sesak, menahan keras agar bulir air mata tidak kembali turun.

Kak Revan tetap mencekal pergelangan tanganku. Erat, tidak memberikan sedikit pun celah untukku bergerak.

"Aku tidak bermaksud menjadikanmu pelampiasan, Alya. Itu semua di luar kendaliku, aku sudah menahannya sekuat tenaga, tapi apa, aku tidak bisa..."

Penjelasan Kak Revan tidak masuk akal bagiku. Jika dia mengingat kejadian semalam, berarti dia sadar walau terpengaruh oleh alkohol.

"Kamu menyalahkan minuman alkohol itu, padahal kamu sendiri yang meminumnya. Itu juga sudah sangat salah, Kak.."

Aku menyusut lelehan air mata yang membasahi pipi. Sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi hidup dalam satu ruang dan satu atap dengannya. Kak Revan tidak sebaik yang aku kira.

"Aku sudah mendengar semuanya, Kak, obrolanmu dengan Aira tadi. Kamu yang berusaha meminta maaf padanya, karena merasa telah mengkhianatinya, hanya karena kamu menyentuhku. Padahal aku yang jadi korbannya."

"Alya, tidak seperti itu. Aku sudah menjelaskannya tadi."

Kak Revan masih berusaha keras menahan pergelangan tanganku.

"Aira yang meminta break, setelah itu kamu sakit hati. Melampiaskan semua dengan minuman terlarang, lantas kau pulang. Dan... kau melampiaskan semua beban dan masalah itu padaku. Aku sangat merasa terhina sekali, walaupun sudah menjadi istrimu, Kak.."

"Maaf, Alya. Maafkan aku, aku tidak bohong. Aku tidak berniat menjadikanmu sebagai bahan pelampiasan atau merendahkan dirimu. Itu sama sekali tidak terpikirkan malam itu."

Aku melihat sorot mata kesungguhan dari pria ini. Tapi entah mengapa, melihat wajahnya saja hatiku kembali berdenyut nyeri.

"Tolong lepaskan, Kak, aku mau pulang. Aku sangat merasa lelah dengan cobaan yang datang menyerangku. Semoga saja aku kuat.."

Lirihku, rasanya beban di pundak ini semakin terasa berat. Belum lagi rasa sesak, sakit, dan perih di dalam dada.

"Aku antar pulang."

"Tidak usah, Kak, aku takut kekasihmu itu kembali bertingkah dan membuat mentalmu hancur."

"Tidak begitu, Alya."

"Sebaiknya kita segera berpisah saja, Kak. Mungkin itu lebih baik bagimu dan terutama bagiku. Sebelum aku kembali menjadi korbannya."

Kak Revan berdiri di samping, ia melepaskan pergelangan tanganku perlahan.

"Bagaimana dengan Ibu, dia sangat menyayangi kamu, Al." Suaranya terdengar serak.

"Aku akan tetap menjadi putrinya, aku akan datang jika Ibu memintaku untuk datang."

"Tapi itu semua akan terasa berbeda, Alya." Suara bariton itu terdengar semakin melemah. Kak Revan melangkah pelan di hadapanku, langkah yang dipenuhi oleh kegelisahan.

"Permisi, Kak.."

🌸🌸🌸

Malam harinya aku duduk termenung di taman belakang, hanya melamun. Layar laptop aku biarkan menyala begitu saja. Tidak ada niatan untuk melanjutkan update bab, aku sedang di titik sangat lelah, baru kali ini aku merasa kalah dengan ujian yang datang.

Angin malam pelan menerpa wajah, deretan bintang di langit sangat terlihat indah, dengan rembulan yang menjadi raja di malam ini. Tampak gagah dengan sinarnya yang paling terang.

Pluk..

Satu embun yang menetes dari daun tepat membasahi pipiku.

"Non Alya... dipanggil Pak Revan di ruang keluarga.."

Aku menoleh pada mbak yang memanggil namaku. Ada apa Kak Revan memanggilku, apa dia akan meminta maaf lagi? Tapi aku lagi ingin menyendiri. Bahkan sejak tadi siang kami belum bertegur sapa sama sekali.

"Ada apa, Mbak?"

"Kata Pak Revan, ada sesuatu yang mendesak. Non Alya harus segera menemuinya."

"Ibu Rahayu?"

"Beliau sedang beristirahat, Non. Kalau begitu saya permisi dulu."

Pada akhirnya aku menelusuri balkon rumah, jalan pintas menuju ruang keluarga.

Sesampainya di sana, aku melihat Kak Revan yang sedang bersandar di dinding, sambil mendongakkan wajahnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana jeans-nya.

Mendengar derap langkahku, sorot mata yang tertutup itu kini terbuka lebar.

"Ibu akan segera sampai..." Kak Revan berbisik pelan. Pria itu mulai mengikis jarak denganku.

Aku terdiam sejenak, tidak lama kemudian terdengar pantulan sandal pada lantai. Derap langkah yang begitu teratur, sampai sosok wajah penuh keibuan namun penuh ketegasan itu muncul. Bu Rahayu..

"Peluk aku, Alya.. peluk aku.."

Bersambung

Ada apa yang sama Revan, kok minta dipeluk sama Alya..?

Jangan lupa like ya, readers 🤩 biar author semangat up-nya.

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!