Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Hari Terakhir, Keputusan Perpisahan, dan Simfoni yang Salah Nada

Pagi di hari terakhir sekolah terasa begitu berbeda. Tidak ada lagi tumpukan buku pelajaran di atas meja, tidak ada lagi bayang-bayang soal ujian digital yang mengejar, dan tidak ada lagi pengawas yang berjalan mondar-mandir di lorong. Yang tersisa hanyalah riuh napas murid-murid kelas 12 yang dihinggapi perasaan campur aduk: antara lega karena telah lulus, dan gundah gulana menghadapi perpisahan.

Di ruang 12 MIPA 1, suasana rapat angkatan dadakan berlangsung amat panas. Murid-murid dari kelas lain ikut berjejal hingga ke ambang pintu. Topiknya masih sama dan tak kunjung usai, Acara Perpisahan.

Keputusan pihak sekolah yang melarang acara di luar dan hanya mengizinkan seragam putih-abu-abu di lapangan sekolah kembali menjadi pemantik api.

"Gue tetep nggak terima ya!" seru salah seorang murid cowok dari kelas IPS sambil menggebrak pelan meja depan. "Masa udah kelulusan gini perpisahannya cuma berdiri panas-panasan di lapangan pakai seragam sekolah biasa? Nggak ada kesan anggun atau keren-kerennya sama sekali!"

"Iya! Mendingan di rumah aja sleep call!" sahut yang lain, disambut koor setuju dari belakang.

Lalu, seorang murid berdiri di sudut kelas dan memekikkan kalimat yang seketika membakar emosi seluruh ruangan:

"Jujur ya, kalau perpisahan cuma diadakan di sekolah dan cuma pakai seragam putih-abu-abu... mending DITIADAKAN aja sekalian! Nggak usah ada perpisahan-perpisahan segala!"

"SETUJU!"

"SETUJU BANGET!"

"Bener! Mending ditiadakan! Biar sekolah tau kita nggak main-main!"

Gemuruh teriakan setuju menggema di seluruh lantai dua. Seluruh murid kelas 12 sepakat secara bulat untuk memboikot dan menolak acara perpisahan versi sekolah tersebut.

Namun di tengah keriuhan dan sorak-sorai kekeuh itu, Alee yang menyandar di dekat jendela mendadak terdiam membisu. Gaya petantang-petentengnya yang biasa heboh mengompori suasana kini meluruh begitu saja.

Sebuah pemikiran menghantam dadanya dengan amat telak:

“Kalau perpisahan ini beneran ditiadakan... berarti hari ini... adalah hari terakhir aku bisa melihat wajah yang teduh itu?”

Alee mengalihkan pandangannya pelan ke arah depan kelas. Di sana, Rama berdiri di samping pilar, mencoba menenangkan keriuhan angkatan. Wajahnya tetap tenang, tatapan matanya tetap teduh di balik kacamata beningnya sebuah raut wajah yang dulu pertama kali membuat Alee terpikat.

Memory masa lalu mendadak berputar cepat di kepala Alee seperti rol film tua.

Kesan pertama (first impression) seorang Ramaditya di matanya adalah sosok cowok tenang yang membawa gitar di saung belakang sekolah. Rama-lah yang pertama kali mengenalkan Alee pada senar-senar gitar, mengajarinya petikan chord sederhana, mengenalkan nada-nada harmoni, hingga mengenalkan semuanya tentang bagaimana sebuah nada bisa menyampaikan perasaan yang tak sanggup diucapkan oleh kata-kata. Rama adalah maestro pertama dalam hidup Alee yang mengajarinya indahnya sebuah simfoni.

Tapi kini... lagu itu telah usai, dan rel mereka harus memilih persimpangan.

Sore hari tiba. Sekolah perlahan-lahan mulai sepi. Rapat angkatan telah dibubarkan dengan keputusan final: perpisahan sekolah resmi ditiadakan atas kesepakatan murid. Satu per satu murid mulai mengemas tas dan melangkah pulang, melepaskan status mereka sebagai anak SMA.

Alee berjalan lambat menyusuri lorong parkiran yang mulai melengang. Nara sudah pulang lebih dulu, meninggalkan Alee yang sengaja memperlambat langkahnya.

"Lee."

Suara berat yang sangat dikenalinya memanggil dari belakang. Alee menghentikan langkah, menyunggingkan senyum tipisnya yang paling tenang sebelum memutar badan.

Rama berjalan mendekat. Pria itu menyampirkan tas sekolahnya di satu bahu, menatap Alee dengan tatapan teduh yang selalu berhasil menggetarkan dada Alee.

"Belum pulang, Lee?" tanya Rama halus.

"Ini baru mau pulang, Pak Ketua," jawab Alee renyah, mencoba menutupi gelombang emosi di dadanya.

Hening sejenak menyelimuti mereka di tengah remang sore parkiran sekolah. Alee menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian dan kedewasaan yang ia miliki. Ia menatap lurus ke dalam iris mata Rama.

"Ram... ini hari terakhir ya, Ram," ucap Alee dengan nada suara datar namun teramat jujur.

Rama terpaku, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir gadis di depannya.

"Makasih banyak ya udah ngajarin aku banyak hal selama ini," lanjut Alee, matanya mulai berkaca-kaca namun senyumnya tetap terkembang. "Makasih udah buat aku sadar atas semua ini. Walaupun hubungan kita kemarin sempat diwarnai kesalahpahaman... setidaknya aku tau, kalau simfoni kita emang salah nada."

Rama meremas tali tasnya. Dadanya berdenyut nyeri mendengar kiasan itu, tetapi ia tak memotong.

"Mungkin kamu atau aku bisa mencari nada terbaik kita di masa depan selanjutnya," tutur Alee lembut, mengusap serpihan angin sore di wajahnya. "Oh iya... aku mau ngomong sesuatu. Pilihan universitas kita ternyata sama-sama ke sana, kan?"

Rama mengangguk pelan. "Iya, Lee."

Alee menyunggingkan senyum tipis senyum penentu atas doa yang selalu ia panjatkan di malam-malam ujian.

"Kalau misalnya nanti kita sama-sama diterima di universitas yang sama... maka itu adalah jawabannya. Aku bakal buka hati lagi buat kamu," tegas Alee pelan. "Tapi... kalau kita diterima di universitas yang berbeda, maka itu adalah jawaban kalau aku bener-bener harus menghindari kamu selamanya. Tapi untuk sekadar berteman... aku bakal selalu menjalin hubungan baik itu bersama kamu."

Rama menatap Alee lama sekali. Ada kilatan rasa haru, rasa bersalah, dan keikhlasan yang dalam di mata sang Ketua Kelas. Rama memahami betul taruhan takdir yang baru saja diletakkan Alee di atas meja.

Rama mengangguk mantap, menyunggingkan senyum paling tulus yang bisa ia berikan.

"Terima kasih juga ya, Lee... untuk semua nadanya," balas Rama pelan namun tegas. "Saya terima semua syarat dari kamu. Biarkan pengumuman univ nanti yang jadi konduktor buat simfoni kita selanjutnya."

Alee tertawa renyah, menepuk lengan Rama ringan dengan gaya petantang-petentengnya yang terakhir di sekolah itu. "Oke! Hati-hati di jalan ya, Pak Ketua!"

"Kamu juga hati-hati, Lee."

Alee berbalik dan melangkah mantap menuju gerbang sekolah tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Rama berdiri menatap punggung gadis itu hingga menghilang di belokan jalan. Hari terakhir SMA telah usai, membiarkan jawaban takdir menggantung indah di antara lembar pengumuman universitas yang menanti di masa depan.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!