GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Pemimpin Redaksi, Surat Pembaca Berdarah, dan Status Baru Gala sebagai Bos Mafia Media
Seminggu setelah reruntuhan markas bawah tanah Pak Joko melebur menjadi tumpukan besi tua, kehidupan di Kedai Kopi Berkutut kembali berjalan normal—atau setidaknya, itulah yang coba diyakini oleh Gala setiap kali ia melihat mesin espresso yang ngadat karena kurang oli.
Pagi itu, matahari Jakarta bersinar terik, memantul di atas aspal jalanan yang mengepulkan panas. Di balik meja bar, Gala sedang serius menghitung lembaran kuitansi bensin Honda Revo miliknya menggunakan kalkulator tua, sementara Senja sibuk menyortir biji kopi pilihan dari Toraja.
“Nja, coba lu pikir logis deh,” keluh Gala sambil menunjuk tumpukan kertas kuitansi di depannya. “Dari jaman Pak Joko jadi bos redaksi sampai dia ketahuan jadi gembong teroris global, kuitansi bensin Rp35.000 tanggal 14 bulan lalu ini statusnya masih aja pending di meja keuangan. Apa perlu gue kirim somasi langsung ke sel tahanan pelabuhan tempat dia dititipin?”
Senja mendengus geli, melemparkan biji kopi ke dalam wadah gilingan. “Udah ikhlasin aja, Gal. Pak Joko kan sekarang lagi sibuk adaptasi jadi tahanan paling ditakuti di sel khusus, mana sempat ngurusin klaim bensin motor revo sejuta umat lo itu.”
Siska, yang duduk di sudut kedai mengenakan setelan jas hitam rapi tanpa cela sambil membaca tablet miliknya, mendadak mendongakkan kepala. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci ke arah Gala.
“Gala,” panggil Siska dengan nada suara datar yang selalu menandakan adanya marabahaya.
“Apa lagi, Sis? Jangan bilang lo mau nagih biaya sewa kawat penjepit kertas waktu kita di markas kemarin?” protes Gala cepat-cepat.
“Bukan,” jawab Siska dingin. “Algoritma pemantauan jaringan satelit gelap yang saya pasang di sisa-sisa server Suara Fakta baru saja mendeteksi lonjakan trafik aneh. Seseorang baru saja meretas brankas hukum darurat peninggalan Pak Joko.”
Senja menghentikan pekerjaannya. “Meretas? Bukannya sistem Pak Joko udah dihancurkan total?”
“Tidak semuanya,” Siska berdiri, berjalan mendekati meja bar. “Pak Joko meninggalkan satu protokol warisan terakhir. Dan target peretasan digital itu... mengarah langsung ke identitas ahli waris sah koran Suara Fakta.”
TINNG-TONG!
Bel pintu kedai berbunyi nyaring menandakan ada pelanggan masuk.
Seorang pria paruh baya berpenampilan rapi ala kurir ekspedisi kilat—mengenakan topi helm hijau tua dan jaket kain parasut—berjalan masuk membawa sebuah amplop tebal berwarna cokelat tua dengan stempel lilin merah berlogo burung rajawali.
“Atas nama bapak Gala Prasetya?” tanya kurir itu dengan suara serak yang kaku.
Gala menunjuk dadanya sendiri dengan bingung. “Ya, saya sendiri. Paket dari siapa nih? Kalau isinya tagihan cicilan panci, saya tolak ya.”
Kurir itu menyerahkan amplop tersebut tanpa tersenyum sedikit pun. “Paket khusus dari Notaris Eksekutif Sindikat. Selamat menikmati babak baru hidup Anda, Tuan Pemimpin Redaksi.”
Begitu amplop itu berpindah tangan, kurir itu langsung berbalik arah dengan langkah cepat keluar kedai, lalu melompat ke atas motor bebek hitam tanpa plat nomor dan melesat pergi dalam hitungan detik.
Gala merobek amplop cokelat tebal itu di hadapan Senja dan Siska. Ia mengeluarkan selembar akta notaris resmi berstempel emas, lalu mulai membaca isinya dengan suara keras:
“SURAT HIBAH DAN PENGALIHAN KUASA MUTLAK. Dengan ini, saya menyatakan bahwa seluruh aset kepemilikan harian Suara Fakta, rekening offshore senilai 5 miliar dolar di Kepulauan Cayman, serta kendali penuh atas jaringan logistik bawah tanah internasional, secara resmi dihibahkan tanpa syarat kepada...Gala Prasetya, mantan jurnalis paling bawel yang hobi nagih bensin.”
Gala terdiam kaku. Matanya melotot selebar bola pingpong. Mulutnya menganga membentuk huruf O yang sempurna. Kertas akta notaris itu hampir meluncur lepas dari jemarinya yang mendadak lemas.
Senja merebut kertas itu dari tangan suaminya, membaca ulang setiap barisnya dengan ekspresi tak kalah shock. “Gala... lu... lu sekarang resmi jadi bos mafia media internasional bernilai triliunan rupiah?!”
Siska menghela napas panjang, lalu perlahan-lahan mengeluarkan sebuah kalkulator saku dari dalam jasnya dan mulai menekan-nekan tombolnya dengan cepat.
“Berdasarkan hukum perdata internasional dan struktur aset baru ini,” kata Siska tenang tanpa kedip, “maka status utang jasa pengawalan kalian kepada saya otomatis naik lima puluh kali lipat, disesuaikan dengan standar gaji dewan direksi sindikat global.”
“Bukannya ngucapin selamat karena gue jadi orang terkaya sedunia, lu malah naikin tarif utang, Sis?!” teriak Gala histeris, nyaris menjatuhkan toples kopi di depannya.
Namun, sebelum keributan kecil di kedai itu reda, suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak terdengar dari luar jalan raya.
SKRITTT—BRAMMM!
Tiga unit mobil jip hitam berpelat diplomatik palsu berhenti mendadak tepat di depan Kedai Kopi Berkutut. Pintu mobil terbuka serentak, dan selusin pria berjas hitam dengan kacamata hitam turun membawa senapan serbu otomatis jenis HK MP5, langsung mengepung kedai kopi kecil itu dari segala penjuru!
Siska langsung melompat melewati meja bar, mencabut dua pistol dari balik jasnya dalam satu gerakan mulus. “Musuh! Berlindung!”
Senja menyambar sebilah pipa besi di bawah meja, matanya memancarkan aura petarung jalanan yang haus darah. “Wah, tamu tak diundang datang pas banget waktu kedai baru mau buka!”
Pintu utama kedai didobrak keras dari luar. Seorang wanita berambut pendek bergaya militer dengan bekas luka sayatan tipis di pipi kanannya melangkah masuk dengan tenang. Ia mengenakan jaket kulit hitam ketat dan menodongkan pistol laras pendek tepat ke arah Gala.
“Halo, Tuan Pemimpin Redaksi yang baru,” sapa wanita itu dengan senyuman sinis yang mematikan. “Nama saya Vanya, mantan kepala eksekutor sindikat The Black Press. Karena Tuan Joko sudah pensiun di sel penjara, maka kursi pimpinan tertinggi sindikat kini jatuh ke tangan Anda... atau, kepala Anda yang akan kami penggal lebih dulu untuk merebut kunci akses brankas Cayman.”
Suasana di dalam kedai kopi mendadak tegang luar biasa. Aroma biji kopi panggang berpadu dengan bau dingin ketegangan maut.
Gala, yang masih mengenakan apron denim cokelat barista, menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Vanya, lalu menoleh ke arah Siska dan Senja yang sudah memasang kuda-kuda tempur mematikan.
Dengan tangan sedikit bergetar, Gala merapikan kerah apronnya, mengangkat akta notaris triliunan rupiah itu tinggi-tinggi, lalu berkata dengan suara lantang penuh wibawa seorang bos baru:
“Mbak Vanya, ya? Sebelum kalian berdua nembak kepala saya... boleh saya ajukan satu syarat penting sebagai bos baru kalian?”
Vanya mengernyitkan dahi, terkejut sejenak dengan kenekatan pria di depannya. “Syarat apa, hah? Mau minta permintaan terakhir sebelum mati?”
“Bukan,” jawab Gala serius. “Tolong pastikan regu eksekusi kalian nanti kalau nembak nggak merusak mesin espresso di belakang saya, soalnya cicilan mesinnya masih sisa dua tahun lagi. Dan kedua... klaim bensin Honda Revo saya tolong segera di-approve sekarang juga!”
Vanya tertegun, sementara Senja di sebelah Gala menutup wajahnya dengan sebelah tangan, merasa salah memilih partner hidup seumur hidup.
DOR! DOR!
Pertempuran berdarah perebutan takhta sindikat media bawah tanah pun resmi dimulai di kedai kopi pagi itu.