Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Hari yang ditunggu Anyara akhirnya tiba. Pagi itu, ia bangun lebih awal dari biasanya, menyiapkan sarapan untuk Ratih dan Juned sekaligus menyiapkan seragam sederhana yang diminta Bu Sari untuk dikenakan di hari pertama kerja—kemeja putih polos dengan bawahan gelap.
"Anyara, jangan lupa masakin makan siang buat Ibu sebelum berangkat kerja ya," pesan Ratih, meski nadanya sudah jauh lebih lembut dibanding beberapa minggu lalu.
"Udah saya siapin, Bu, tinggal dihangetin aja nanti siang," jawab Anyara, tersenyum sambil merapikan tasnya.
Juned yang sedang sarapan, menatap Anyara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara dukungan yang dipaksakan dan kekhawatiran yang belum sepenuhnya ia pahami sendiri. "Hati-hati ya, Ra. Kalau ada apa-apa, telepon aku aja."
"Iya, Mas, makasih," jawab Anyara singkat, lalu bergegas berangkat menuju butik tempatnya bekerja.
Suasana butik itu jauh berbeda dari rumah yang selama ini menjadi dunia Anyara. Rak-rak pakaian tertata rapi dengan warna-warna cerah, musik lembut mengalun dari speaker kecil di sudut ruangan, dan Bu Sari menyambutnya dengan senyum hangat.
"Selamat datang, Mbak Anyara! Siap buat hari pertama?"
"Siap, Bu, meski agak deg-degan juga," jawab Anyara, tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya.
Bu Sari mengajaknya berkeliling, menjelaskan sistem kasir yang ternyata sudah menggunakan aplikasi digital, jauh berbeda dari sistem manual yang dulu ia gunakan sebelum menikah.
"Nggak apa-apa, Mbak, nanti pelan-pelan saya ajarin. Yang penting Mbak udah punya pengalaman dasar jadi kasir, tinggal adaptasi sama sistem baru aja."
Anyara mengangguk, mencoba menyerap semua informasi baru itu dengan antusias. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasakan sensasi belajar sesuatu yang baru, sensasi yang membuatnya merasa hidup kembali setelah bertahun-tahun terjebak dalam rutinitas rumah tangga yang monoton.
Menjelang siang, seorang pelanggan datang, seorang wanita muda dengan gaya berpakaian modis, mencari beberapa pilihan blus untuk acara kantor.
"Mbak, ada rekomendasi warna yang cocok buat kulit sawo matang kayak saya?" tanya pelanggan itu.
Anyara, mengingat pengalamannya dulu, mulai memberikan saran dengan percaya diri. "Coba warna dusty pink atau earth tone kayak olive green, Mbak. Biasanya cocok banget buat kulit sawo matang, bikin kulitnya keliatan lebih cerah."
Pelanggan itu mencoba beberapa pilihan yang disarankan Anyara, dan akhirnya memutuskan membeli dua blus sekaligus. "Makasih ya, Mbak, rekomendasinya pas banget!"
Bu Sari yang mengamati dari kejauhan tersenyum puas. "Bagus, Mbak Anyara! Kelihatan banget pengalamannya, langsung bisa kasih saran yang pas."
Anyara tersenyum bangga, merasakan kepuasan tersendiri yang sudah lama tidak ia rasakan—kepuasan karena kemampuannya sendiri dihargai, bukan sekadar menjalankan rutinitas yang selalu dianggap remeh oleh orang-orang di rumahnya.
Sore harinya, saat jam istirahat sebentar, ponselnya bergetar—pesan dari Hans.
"Mbak, gimana hari pertama kerjanya? Lancar?"
"Lancar banget, Pak! Saya jadi inget lagi rasanya kerja, seneng banget rasanya."
"Saya seneng dengernya, Mbak. Mbak emang pantes dapet kesempatan buat berkembang lagi."
"Makasih, Pak. Ini semua juga karena dorongan dari Bapak sama Pak Bram kemarin."
"Mbak sendiri yang berani ambil langkahnya, kami cuma bantu dorong dikit aja."
Anyara tersenyum membaca balasan itu, merasa bersyukur memiliki dukungan yang tulus di tengah kekacauan hidupnya. Namun, di sela kebahagiaan kecil itu, sebuah pesan lain masuk—dari nomor tak dikenal.
"Anyara, ini Melia. Saya rasa kita perlu ngomong langsung."
Anyara terdiam, menatap layar itu dengan jantung berdebar kencang. Setelah sekian lama hanya mengamati dari kejauhan, kini pihak yang selama ini menjadi bagian dari perselingkuhan Juned justru menghubunginya secara langsung.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengetik balasan singkat.
"Ngomong soal apa?"
Balasan datang cukup cepat.
"Soal Juned. Ada beberapa hal yang menurut saya penting buat kamu tau, sebelum semuanya jadi lebih rumit."
Anyara menatap pesan itu lama, mempertimbangkan apakah harus menemui wanita yang selama ini menjadi salah satu sumber luka dalam pernikahannya, atau mengabaikannya sepenuhnya.
Setelah jam kerja selesai, dalam perjalanan pulang, ia menceritakan pesan dari Melia kepada Hans.
"Pak, tadi Melia chat saya, katanya mau ngomong langsung soal Mas Juned."
"Wah, ini perkembangan yang nggak terduga, Mbak. Mbak ada rencana buat temui dia?"
"Saya masih mikir, Pak. Di satu sisi saya penasaran, tapi di sisi lain saya juga takut malah bikin situasi makin runyam."
"Kalau menurut saya, Mbak, informasi tambahan biasanya nggak pernah rugi, apalagi kalau itu bisa memperkuat posisi Mbak. Tapi kalau Mbak mau ketemu dia, mending ajak saya atau orang lain yang Mbak percaya, jangan sendirian, biar lebih aman."
"Iya, Pak, saya setuju. Nanti saya kabarin lagi kalau udah ada keputusan."
Anyara menutup ponselnya, menatap jalanan yang mulai gelap di luar jendela angkot yang ia tumpangi pulang. Hari yang dimulai dengan kebahagiaan sederhana karena pekerjaan barunya, kini berakhir dengan babak baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya—pertemuan langsung dengan salah satu wanita yang selama ini menjadi bagian dari kehancuran rumah tangganya.
Sesampainya di rumah, ia disambut oleh Ratih yang tampak antusias menanyakan hari pertamanya bekerja, sementara Juned masih belum pulang dari kantor. Anyara menceritakan pengalaman kerjanya dengan penuh semangat, meski di balik senyumnya, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan besar soal apa yang sebenarnya ingin disampaikan Melia, dan bagaimana pertemuan itu nantinya akan mengubah arah hidupnya lebih jauh lagi.