Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Davina masih menggerutu sambil mendorong kursi roda Naima ketika keluar rumah sakit. Pertemuan singkat dengan Alfa beberapa saat tadi benar-benar merusak suasana hatinya. Ia tidak menyangka mantan suaminya itu berani bersikap sedingin itu, seolah dirinya bukan seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Begitu sampai di tempat parkir ia segera membuka pintu belakang, lantas mendorong kursi roda Naima masuk ke dalam. Setelah memastikan putrinya duduk dengan nyaman, Davina segera menutup pintu mobil hendak membuka pintu bagian kemudi. Namun, tanpa ia sadari, tiba-tiba seseorang mendekat lalu menyambar tas yang menggantung di bahunya.
“Aaah, Jambret.....! Tolong, tas saya di jambret!” teriak Davina berusaha mengejar pelaku.
Sayangnya, pria itu segera berlari menjauh. Davina terus mengejar sambil berteriak berharap seseorang bersedia mengejar penjambret tersebut.
Namun, tak seorang pun peduli atau tampak berniat membantunya. Bahkan, beberapa orang hanya melirik sekilas lantas kembali sibuk dengan urusan mereka.
Tak sanggup mengejarnya lagi, akhirnya Davina berhenti dengan napas memburu, menyaksikan tasnya dibawa kabur tanpa bisa berbuat apa-apa.
Ia mengepalkan tangan, menahan kesal sekaligus kecewa. Di dalam tas itu terdapat dompet berisi uang tunai, dan beberapa barang pribadinya. Dengan perasaan kacau, Davina kembali ke mobilnya, lalu meninggalkan area rumah sakit.
Sepanjang perjalanan pulang, ia terus mengomel. Dan begitu sampai di rumah, Davina langsung meminta bantuan Ammar untuk menurunkan Naima dari mobil.
“Mas, tolongin Naima! Aku lagi kesal tasku dijambret tadi," katanya dengan wajah masam.
Ammar yang baru saja keluar dari dalam rumah saat mendengar suara mobil, tampak terkejut. “Apa? Tas kamu dijambret?”
“Iya! Sudah teriak minta tolong, tapi tak ada satu orang pun yang mau membantu. Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing!” omel Davina kesal lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Ammar menghampirinya setelah membaringkan Naima yang tertidur di kamarnya. Pria itu lantas duduk di samping sang istri.
“Ini pasti gara-gara aku ketemu mantan suami tidak berguna itu. Jadi aku sial hari ini!” gerutu Davina lagi.
“Mantan suami? Kamu bertemu Alfa di mana?” tanya Ammar, mengernyit heran.
“Tadi di lobi rumah sakit, waktu aku mau pulang.” Davina mendengus. “Sekarang sombongnya minta ampun. Dia bahkan bersikap seolah tidak mengenalku.”
“Memangnya dia mengatakan sesuatu kepadamu?” tanya Ammar lagi, berusaha memahami duduk persoalannya.
“Aku tanya baik-baik, tapi jawaban dia malah ketus. Padahal, aku hanya ingin tahu apa yang dilakukannya di sana.”
Davina melipat tangan di depan dada. "Iiih... sok-sok-an banget. Gembel aja belagu, berobat di rumah sakit mahal. Memangnya dia pikir dirinya siapa?”
Ammar terdiam, nama Alfa yang kembali disebut-sebut membuatnya tidak nyaman, meskipun dia berusaha menyembunyikannya.
“Kita sudah lama tidak ada hubungan dengannya. Buat apa kamu masih mengurusi kehidupannya?” ujarnya kemudian.
“Aku juga tidak mau mengurusinya!” sahut Davina. “Aku hanya kesal karena dia bersikap seolah sudah menjadi orang hebat. Padahal, dulu dia bahkan tidak bisa mempertahankan rumah tangganya sendiri.”
"Jadi... Kamu menyesal dia tidak berusaha mempertahankanmu?" tanya Ammar sedikit tersinggung.
"Loh, kok, kamu jadi mikirnya ke situ sih, Mas?" Davina merasa tak terima. "Aku..."
"Sudahlah, tidak ada gunanya membahas dia lagi," putus Ammar.
Pria itu lantas beranjak dari duduknya, lalu mengambil kontak mobil di atas meja. "Hari ini aku mau ketemu pelanggan. Kamu urus yang di sini."
Selesai berkata dia langsung keluar dari rumah meninggalkan Davina yang masih terpaku menatap kepergiannya.
*
*
*
Di rumah sakit
Alfa duduk berhadapan dengan dokter spesialis yang memeriksa hasil tesnya. Setelah membaca hasil pemeriksaan dengan saksama, dokter itu mengangkat wajah dan mulai menjelaskan kondisi Alfa.
“Dari hasil pemeriksaan, kadar hormon reproduksi Anda berada di bawah batas normal,” jelas dokter.
Alfa menyimak dengan serius. “Apakah kondisi ini berarti saya tidak bisa memiliki anak, Dok?”
“Belum tentu. Hasil pemeriksaan hormon saja tidak cukup untuk memastikan kemampuan seseorang menghasilkan keturunan. Kita perlu mengaitkannya dengan pemeriksaan lain, termasuk analisis sperma, jika belum dilakukan.”
Alfa mengembuskan napas pelan. Dia datang dengan harapan mendapatkan jawaban yang pasti, tetapi ternyata masih ada tahapan yang harus dijalani.
“Jadi, apa yang harus saya lakukan selanjutnya?” tanyanya.
“Saya sarankan Anda menjalani pemeriksaan lanjutan terlebih dahulu. Setelah hasilnya lengkap, kita bisa menentukan penanganan yang sesuai. Jangan langsung menyimpulkan sesuatu sebelum seluruh pemeriksaan selesai.”
Alfa mengangguk. “Baik, Dok. Saya akan mengikuti saran dokter.”
Setelah berkonsultasi dan mendapatkan jadwal pemeriksaan berikutnya, Alfa segera meninggalkan rumah sakit. Dia hanya bisa berharap pemeriksaan selanjutnya memberikan gambaran yang lebih jelas.
Setibanya di rumah. Pak Ikhsan yang sedang duduk di teras segera menyambutnya. Namun, beliau menyadari perubahan raut wajah putranya.
“Sudah pulang, Nak? Bagaimana hasil pemeriksaanmu tadi?” tanyanya.
Alfa duduk di hadapan ayahnya, kemudian menceritakan penjelasan dokter tanpa menutupi apa pun.
“Dokter bilang masih perlu pemeriksaan lebih lanjut, sebelum bisa menyimpulkan kondisiku, Yah.”
Pak Ikhsan mengangguk, memahami bahwa putranya masih harus melalui beberapa tahapan sebelum memperoleh jawaban yang pasti.
“Kalau begitu, ikuti saja saran dokter. Jangan terlalu memikirkan hasilnya sekarang. Yang penting, kamu sudah berusaha mencari tahu dan mendapatkan penanganan yang tepat,” nasihatnya.
Alfa tersenyum tipis. “Iya, Yah."
Tak lama kemudian, Bu Mala datang membawa segelas teh untuk putranya lalu duduk di samping Pak Ikhsan.
“Dan jangan lupa untuk mengikuti pola hidup sehat, Nak. Apa pun hasilnya nanti, kamu tidak akan menghadapi semua ini sendirian. Ada kami ayah dan ibu,” ujarnya lembut.
Alfa menatap kedua orang tuanya bergantian. Kehangatan mereka selalu membuatnya merasa memiliki tempat untuk pulang, bahkan ketika ada persoalan yang belum mampu dia selesaikan.
“Terima kasih, Bu, Ayah. Aku akan berusaha sebaik mungkin.”
Percakapan mereka berlanjut dengan hal-hal ringan sampai akhirnya Alfa ijin membersihkan diri.
*
*
*
Di tempat lain
Ammar baru saja menyelesaikan pertemuan dengan seorang pelanggan. Dia keluar dari gedung perkantoran sambil memeriksa ponselnya, memastikan tidak ada pesan penting yang terlewat.
Langkahnya mendadak terhenti ketika melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dari pintu keluar.
Ammar mengenali wajah itu. Seketika, tubuhnya menegang dan pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Tanpa menunggu lebih lama, dia memalingkan wajah berharap pria itu tidak menyadari kehadirannya. Namun, harapannya pupus ketika sebuah suara memanggilnya dari belakang.
“Ammar!”
Langkah Ammar semakin cepat. Dia tidak ingin berhadapan dengan orang itu, terlebih di tempat terbuka seperti ini.
“Hei, Ammar! Tunggu!”
Suara tersebut terdengar semakin dekat. Ammar menoleh sekilas dan mendapati pria itu benar-benar mengejarnya.
Jantungnya berdegup kencang. Dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi jika orang itu berhasil mengejarnya. Satu hal yang pasti: dia belum siap menghadapi orang tersebut.
Ammar akhirnya berlari, lalu berbelok menuju seberang jalan tempat mobilnya terparkir. Karena panik, dia langsung menyeberang begitu saja tanpa memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Sementara dari arah samping, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Pengemudi tersebut membunyikan klakson keras-keras, dan berusaha menginjak rem dalam-dalam.
Ciiittt ...!!!
Suara rem berdecit memekakkan telinga. Mata Ammar membelalak, dia berusaha menghindar, tetapi terlambat. Hingga...
Braaakkk ...!!!
Benturan keras membuat tubuh Ammar melambung ke atas. Ponsel dalam genggamannya terlepas, terlempar ke tepi jalan. Sesaat kemudian tubuh itu terhempas menghantam kap mobil, lalu terguling dan jatuh di atas aspal.
“Astaga! Ada kecelakaan...!” teriak seseorang sambil berlari mendekat.
Orang-orang yang berada di sekitar lokasi sontak berlarian mengikutinya. Dalam hitungan detik, kerumunan mulai terbentuk di sekitar tubuh Ammar yang tidak bergerak.
Dari kejauhan, pria yang tadi mengejar Ammar terpaku, tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.