Indonesia
NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Kecemburuan sang CEO

Dua bilah jemari Mira bergerak begitu lincah menari-nari di atas layar ponselnya. Senyum-senyum jahil tak hentinya terkembang di wajah Assistant Manager Marketing itu tatkala membaca rentetan pesan masuk dari Rio.

Rio: "Aduh Mbak Mira, kalau saja tadi kamu lihat, Pak Adrian dan mbak Nayla ciuman! Dari posisi dan ekspresinya yang saya lihat tadi, pasti Mbak Nayla tuh yang narik duluan! Pasrah banget kelihatan Pak Adrian. Ini mah fix aku yang menang taruhan ke Paris!"

Mira mendecih pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya membalas dengan ketikan kilat.

Mira: "Aduh Mas Rio, jangan terlalu percaya diri dulu deh. Itu mah jelas banget aku yang pasti menang! Yang cium duluan pasti Pak Adrian! Mana mungkin Nayla berani agresif begitu!"

Rio: "Lihat aja nanti Mbak! Pokoknya siap-siap tabungan buat beliin saya tiket pesawat ke Paris!"

"Dor!"

"Ayam kecemplung!" pekik Mira refleks meloncat dari kursinya seraya menepuk dadanya sendiri.

Nayla yang berdiri di samping mejanya terkekeh geli melihat reaksi kaget sahabatnya. "Ya ampun, Mir... Maaf, maaf! Kamu lagi ngapain sih? Dari tadi senyum-senyum sendiri menatap ponsel... Punya pacar baru ya kamu?"

Mendengar tebakan polos itu, Mira buru-buru menyembunyikan layar ponselnya. "E-eh! Nggak kok! Nggak ada pacar-pacaran! Ini... ini cuma pesan dari teman yang lagi cerita soal skenario film romansa kantor yang seru banget!"

Blush!

Mendengar frasa romansa kantor, pipi Nayla seketika membara merah padam bagaikan udang rebus. Bayangan panas adegan di mana bibir Adrian memagut bibirnya di atas meja rapat utama beberapa menit lalu langsung berputar liar di dalam kepalanya, membuat rasa hangat merayapi seluruh tubuhnya.

Sebelum Mira sempat menginterogasi rona merah di pipi sahabatnya, seorang staf wanita dari divisi sebelah melangkah mendekat dengan mata berbinar-binar penuh rasa penasaran.

"Mbak Nayla..." panggil staf itu setengah berbisik. "Emang bener ya... Pak Adrian itu sebenarnya sudah menikah?"

Tak jauh dari sana, Bu Dina, atasan Mira di divisi Marketing yang kebetulan melintas mendadak menghentikan langkah kakinya dan ikut nimbrung.

"Iya kah, Nayla?" tanya Bu Dina berusaha menjaga wibawa walau kentara sekali ingin tahu. "Pak Adrian sudah menikah? Kamu kan sekretaris pribadinya, pasti tahu betul dong informasi validnya?"

Nayla menarik napas pelan. Wajahnya tetap tenang dan dihiasi senyuman ramah nan sopan.

"Iya... Pak Adrian memang sudah menikah," jawab Nayla jujur tanpa sedikit pun ragu.

Staf wanita itu menutupi mulutnya, melotot kaget. "Wah! Ternyata beneran! Tapi... siapa istrinya ya Mbak? Kenapa sama sekali tidak pernah dipublikasikan ke media? Apa... apa mereka menikah karena ada skandal atau gimana?"

Melihat spekulasi liar yang makin melenceng, staf itu mendadak tersadar lalu mengibaskan tangannya panik. "E-eh! Maaf ya Mbak Nayla! Tolong jangan dibilangin sama Pak Adrian ya kalau saya tanya-tanya begini!"

Staf biasa itu langsung ngacir pergi ketakutan. Sementara Bu Dina membetulkan posisi kacamatanya, berdehem formal, lalu berbalik melangkah pergi karena enggan terlihat terlalu kepo di depan anak buahnya.

Begitu area koridor sepi, Mira memutar matanya gemas seraya merangkul lengan Nayla.

"Aduh Nay... gemes banget aku sama kamu!" gerutu Mira menepuk pelan paha Nayla. "Harusnya tadi tuh momen yang pas banget buat kamu bilang Iya, Pak Adrian sudah nikah, dan akulah istrinya! Wah, pasti mereka berdua langsung tercengang, kejang-kejang di tempat, terus sungkem sama kamu! Ahahaha!"

Nayla tertawa kecil. "Nanti, Mir... Ada waktunya sendiri. Yang paling penting buat aku sekarang, hubunganku dan Mas Adrian baik-baik saja dan saling mendukung. Ya udah yuk, kita makan siang. Perutku udah keroncongan nih."

"Ayok!" Sahut Mira dengan semangat.

Mereka berdua memutuskan untuk mencari makan siang di sebuah restoran yang terletak tepat di seberang gedung Dewangga Group. Restoran berkonsep modern tersebut terasa cukup sejuk dan nyaman.

Saat baru saja mendudukkan diri di dekat jendela kaca, seorang pria berbusana kemeja rapi mendatangi meja mereka. Pria itu terpaku sejenak sebelum akhirnya matanya berbinar mengenali dua wanita di depannya.

"Nayla? Mira?" sapa pria itu antusias.

Nayla dan Mira mendongak bersamaan, dan seketika wajah mereka dipenuhi raut terkejut sekaligus gembira.

"Kak Farhan?!" seru Mira heboh.

Pria bernama Farhan itu adalah kakak tingkat mereka sewaktu kuliah dulu. Berbeda dari kebanyakan mahasiswa pria lain di kampus yang cenderung pemilih dan hanya mau mendekati mahasiswi berparas cantik jelita, Farhan dikenal sebagai sosok senior yang sangat baik, hangat, dan tidak pernah memandang fisik atau membeda-bedakan teman, termasuk kepada Nayla.

"Wah, lama banget nggak ketemu kalian!" ujar Farhan tersenyum lebar. "Kalian sekarang kerja di mana?"

"Itu Kak, di seberang sana... di Dewangga Group," sahut Mira seraya menunjuk gedung pencakar langit melalui jendela kaca.

"Wow, hebat banget!" puji Farhan kagum.

"Nayla nih yang paling hebat, Kak!" timpal Mira membanggakan sahabatnya. "Dia sekarang menduduki posisi Sekretaris CEO-nya langsung!"

Farhan menatap Nayla dengan mata berbinar bangga. "Serius, Nay? Luar biasa sekali! Dari dulu aku sudah tahu kamu itu pintar dan pekerja keras."

Pipi Nayla merona tipis karena pujian tulus itu. "Ah, Kak Farhan bisa aja... Ngomong-ngomong Kak Farhan sendiri sekarang sibuk apa?"

"Aku lagi merintis beberapa bisnis kecil-kecilan," sahut Farhan rendah hati seraya merogoh saku apronnya. "Salah satunya ya restoran ini. Dulu punya orang tua, sekarang aku yang meneruskan pengelolaannya."

"Wah, hebat!" puji Nayla dan Mira kompak.

"Oh iya," lanjut Farhan seraya merogoh sebuah brosur tebal nan elegan dari sakunya. "Aku juga baru aja membangun tempat baru. lusa acara grand opening-nya. Kalian jangan lupa datang ya kalau ada waktu! Ini brosurnya... Nanti kalau kalian datang, aku kasih diskon khusus!"

Nayla dan Mira menerima lembaran brosur bersampul estetik tersebut. Di dalamnya terpampang foto-foto kafe bergaya aesthetic yang begitu indah, dipadu dengan deretan sajian dessert dan minuman yang sangat menggiurkan.

"Wah, kafenya cantik banget! Pasti kami bakal datang kok, Kak!" janji Mira bersemangat.

Reuni kecil di meja makan itu pun berlanjut hangat. Mereka bertiga mengobrol asyik, mengenang masa-masa perkuliahan dulu seraya menikmati hidangan makan siang.

Sementara itu, di lantai eksekutif gedung Dewangga Group...

Adrian telah menyelesaikan makan siangnya. Pria jangkung berbusana kemeja rapi itu melangkah menuju dinding kaca besar di ruang kerjanya, menyilangkan tangan di dada seraya menatap ke arah meja kerja sekretarisnya di luar sana.

Meja itu masih kosong melompong.

Adrian melirik jam tangannya, lalu memutar tubuhnya menghadap Rio yang sedang merapikan berkas di meja.

"Rio... Nayla belum kembali?" tanya Adrian dengan alis berkerut tipis.

"Belum, Pak," sahut Rio jujur. "Sepertinya Mbak Nayla makan siang di luar kantor bersama Mbak Mira."

Adrian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, berniat menghubungi istrinya. Namun, jemarinya hanya menggenggam udara kosong. Pria itu baru teringat bahwa ponsel milik Nayla ada padanya karena tadi Nayla melesat lari begitu saja akibat malu pada Rio.

Rio yang peka melihat raut cemas bosnya segera menawarkan bantuan. "Mau saya teleponkan Mbak Mira, Pak? Biar saya suruh Mbak Nayla cepat-cepat kembali ke ruangan?"

Adrian diam sejenak, menghela napas pelan. "Tidak perlu, Rio. Biarkan dia menikmati waktu makan siangnya."

Rio mengangguk paham. Ia kembali merogoh ponselnya sendiri untuk mengecek media sosial. Namun, begitu membukanya mata Rio mendadak melotot lebar saat melihat unggahan Story terbaru dari akun milik Mira.

Di layar ponsel Rio, terpampang sebuah foto selfie bertiga. Mira mengambil foto dari depan dengan gaya ceria, sementara di belakangnya... Nayla berdiri berdampingan cukup dekat dengan seorang pria berparas tampan bertubuh atletis yang tersenyum hangat.

Keterangan foto yang ditulis Mira berbunyi: 'Makan siang bareng idola lama zaman kuliah! Kak Farhan yang makin sukses dan makin ganteng!'

Bulu kuduk Rio seketika berdiri tegak. Ia melirik pelan ke arah sang bos yang masih berdiri mematung di dekat dinding kaca.

Rio berdehem keras, melangkah sangat perlahan mendekati meja Adrian dengan wajah menegang.

"P-Pak Adrian..." panggil Rio ragu-ragu.

Adrian menoleh dingin. "Ada apa?"

Rio mengacungkan layar ponselnya dari jarak aman seraya menelan ludah yang terasa pahit.

"Pak Adrian... saya ingin memperlihatkan sesuatu," bisik Rio dengan suara bergetar pelan. "Tapi... janji dulu ya Pak, tolong jangan bakar gedung kantor ini setelah melihatnya..."

Adrian mengerutkan alisnya tajam, menatap asisten pribadinya dengan pandangan menyala. "Maksudmu apa, Rio? Bicara yang jelas!"

"Ini Pak... coba lihat unggahannya Mbak Mira," sahut Rio seraya menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetaran.

Adrian meraih ponsel itu. Iris mata hitamnya yang tajam seketika menyapu foto di layar. Dalam hitungan detik, pandangan matanya membelalak kaku. Fokus matanya terkunci rapat pada sosok pria bernama Farhan yang berdiri begitu dekat di samping Nayla, bahkan posisi pundak mereka hampir bersentuhan, dengan pendar senyuman manis terlukis di wajah istrinya.

Deg!

Aura di dalam ruang kerja CEO seketika anjlok mencapai titik beku. Rahang Adrian mengeras tajam, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang membakar hebat. Matanya menyipit penuh kecemburuan mendalam yang amat konyol sekaligus berbahaya.

'Laki-laki ini... siapa?! Berani-beraninya berdiri sedekat itu di samping istriku sambil tersenyum lebar?!' batin Adrian bergejolak panas.

"Pak... Pak Adrian? Bapak tidak apa-apa?" cicit Rio ketakutan melihat genggaman tangan bosnya pada ponselnya makin mengetat, seperti hendak meremukkan benda berlayar kaca itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adrian mengembalikan ponsel Rio dengan gerakan menyentak, lalu berbalik menyambar jas hitamnya di sandaran kursi. Pria itu menyarungkan jasnya dengan gerakan cepat nan tegas.

Rio membelalak kaget. "Lho! Pak Adrian mau ke mana?!"

"Ke restoran di seberang jalan," jawab Adrian dingin tanpa menoleh sedikit pun, melangkah lebar menuju pintu keluar.

"Hah?! Pak! Bapak mau ke sana sekarang?!" seru Rio panik setengah mati seraya berlari menyusul bosnya. "Bapak kan CEO! Nanti kalau staf di bawah melihat Bapak melabrak restoran seberang cuma gara-gara cemburu konyol begini, reputasi Bapak bisa runtuh, Pak!"

"Biar saja!" potong Adrian tegas, matanya berkilat dipenuhi cemburu buta. "Aku tidak peduli! Istriku sedang makan siang dengan pria lain yang disebutnya idola lama, dan aku tidak akan membiarkan pria itu tersenyum-senyum di dekat Nayla satu detik pun lebih lama!"

1
Ariany Sudjana
eh ada pelacur murahan yang ga tahu diri, sudah ditolong bukannya terima kasih, sama seperti ibu kamu, sama-sama pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
Lisa
Sabar y Nayla..yg kuat y..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
sunshine wings
Good story i like..
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ariany Sudjana
ciye yang mau dinner romantis 🤣🤣😂😂
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!