“Kadang kala setiap orang memiliki rasa sakit dari bekas luka lampaunya yang terlupa, mencoba sembuh namun selalu saja teriris dengan masalalu dan kepedihan yang selalu menghantui.
Akankah iya bertahan? Dan mampu bertarung dengan rasa takutnya, sedih dan kepedihannya hingga dia dapat keluar dari masa kelamnya itu? sampai iya menemukan seseorang yang membantunya mengobati lukanya.”
Cover Novel by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Dunia Penyelamat
"Katakanlah kau mencoba bermain-main dengan kematian, berterus teranglah. Aku takkan segan-segan menyergapmu." Kata Ela saat berada dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Matakku tertegung kaku tak menyangka hal itu benar terjadi, aku hanya mengabaikan kata-katanya. Namun Luka di lehernya sedikit meyakinkanku.
"Kelihatannya tanda-tanda vitalnya menurun. Dokter!"
"Kantong darahnya cepat! Serunya. Mengejutkan jantung lelaki itu. 1 2 3, hiyakkkkk. 1 2 3. Suara mesin itu tit. tit. tit. Menandakan detak jantung yang mulai menghilang. Kejut 200 joule. Iya tambah lagi. Tit. Tiiiit. Tit. Tiiit. Detaknya kembali."
Pengalaman yang luar biasa untuk bisa selamat dari kematian kau harus memiliki nyawa yang banyak seperti kucing. Tampaknya pak Mo Yi akan selamat.
Beberapa hari kemudian.
Tokk.Tokk.Tokk.
Pandangan dari sorot matanya datar dan terlihat kosong tetapi tegas, karisma yang di miliki sangat terlihat jelas.
"Tuan saya dan suami saya datang."
"Saya sudah tau kalian siapa. Melemparkan beberapa berkas diatas meja. Langsung saja ke intinya, saya tidak tahu sampai kapan saya bisa hidup. Tapi satu hal yang saya pinta dari kalian berdua. Tolong jaga dan lindungi cucuku Ela."
"Baiklah tuan. Kaget. Tentu saja dia akan menyelidiki masa lalu kami, tak mudah untuk orang sepertinya mudah percaya dengan orang baru." Berkata dalam hati dengan degupan jantung tak beraturan.
"Maaf tuan, tapi saya dan istri saya tak bermaksud menyembunyikan identitas kami sebenarnya." Memohon dan berlutut.
"Tidak apa-apa. Saya akan bersihkan nama kalian dan memiliki identitas baru di keluarga ini, berdirilah." Perintahnya.
"Maksud tuan?" Bertanya dengan ekspresi tercengang.
"Namamu akan menjadi Teddy Alderst dan Siska Alderts. Aku akan angkat kalian sebagai keponakanku sekaligus menjadi orangtua Ela agar dia tidak kesepian."
"Maaf tuan, sepertinya kau tak perlu masukkan kami kedalam keluargamu, menjadi pelayan saja sudah cukup." ucap wanita itu menolak.
"Iya tuan, menjadi pengawal dan pelayan bagi kami sudah sangat cukup. Karena kami sangat menyayangi nona Ela dan tak ingin mengambil apapun." Timpalnya.
"Haha. Anggap saja saya memberikan keluarga baru untuk Ela dan kalian. Anggap saja anak kalian hidup kembali dan Ela penggantinya. Tapi ingat, aku tak mau membuat Ela celaka atau apapun." Tegasnya dan menaikkan satu alisnya.
"Tuan apapun yang terjadi kami akan menyayangi Ela dan menjaganya seperti anak kami sendiri dengan nyawa kami."
"Baiklah, kalau begitu kalian sudah setuju. Mari tanda tangan disini, lebih cepat lebih baik." Menunjuk beberapa lembar kertas yang ada diatas meja.
Ragu-ragu saling menatap. "Sayang." Menatap suaminya mengangguk. Mulai menandatangani kontrak yang ada.
"Sebagai kompensasi aku akan memberikan masing-masing 5% sahamku pada kalian berdua."
"Kami tidak akan mengecewakanmu tuan."
"Pantau Ela, apapun yang iya lakukan laporkan padaku semuanya."
"Baiklah tuan."
"Kalian boleh mengajarkannya teknik bela diri dan apapun agar dapat melindungi dirinya di situasi tertentu."
"Tapi nona sudah sangat cekatan tuan."
"Aku memang tak tak tau bagaimana seorang anak berumur 12 tahun sepertinya bisa memainkan pistol dan pisau. Mungkin karena kurang perhatianku atas perkembangannya dahulu." Ekspresinya menyedihkan.
"Saya juga kaget tuan, namun kita kesampingkan dahulu masalah Ela dan berfokus menyelidiki biang masalah yang terjadi." Tegas tanpa ragu.
"Aku hampir melupakan hal ini. Aku tak tau musuh mana yang ingin menghancurkanku karena mereka sama-sama ingin berkuasa juga."
"Berdasarkan apa yang saya dengar dari percakapan kami semalam, sewaktu nona hendak diancam dengan pisau para penjahat itu adalah orang yang sama tuan." Tegas wanita itu.
"Sepertinya memang benar tuan, beberapa hari kemudian ditemukan bangkai mobil jatuh dari jembatan dan tenggelam di danau dan kejadian tersebut memiliki hari yang sama pada saat kejadian di gedung tersebut."
"Benar tuan, pasti ada. Iya pasti ada kerusakan pada ban mobil tersebut. Karena nona menyadari sesuatu dan menyuruh pak Mo merusak mobil tersebut." Tegas menyakinkan
Berpikir keras, "Baiklah, saya memerintahkan kalian berdua mengorek informasi yang ada dan mengumpulkan segala macam bentuk bukti untuk menyelidiki hal ini. Kalian harus berfokus kepada Ela, mereka juga berani menyakiti Deren. Sudah pasti mereka adalah musuhku."
"Baiklah tuan, Kami akan melaksanakan tugas anda." menunduk memberi hormat.
"Jangan lupa, kau harus meningkatkan penjagaan di ruangan pak Mo Yi. Sesekali cek keadaannya." Tunjuk kepada lelaki itu, yang sekarang memiliki nama Teddy Alderts.
"Baik tua. Saya akan mematuhi perintah anda. Jika tidak ada lagi hal yang ingin disampaikan, kami undur diri dahulu." Merunduk.
"Silahkan, kalian bisa pergi."
"Baik tuan." Serentak dan pergi.
Seorang anak lelaki mengintip dan mendengarkan segala bentuk dari percakapan mereka dan merunduk tepat di bawa meja yang ada di luar ruang kerja kakeknya.
"Jadi karena memang ada yang ingin membunuhku dan Ela, apa mungkin mereka ada kaitannya dengan kematian kedua orangtuanya Ela dan kematian papa? Tapi kenapa kakek hanya meminta Ela diajarkan bela diri? Aku harus bertindak juga untuk melindungi diriku dan ibuku." Semangat dalam hatinya berkobar.
...
Selama ini aku berusaha berlatih keras, berlaku sesukaku tetap saja mengapa aku selalu kala start dengannya. Mengapa dia selalu lebih unggul dariku dan selalu diperebutkan oleh banyak orang. Langkah kakinya mulai terlihat jauh bersama para pengawalnya.
"Kalau saja, kalau saja aku menemukan pembunuh itu. Apakah kakek akan lebih peduli padaku?"
Beberapa waktu lalu di Korea.
"Apa ini." teriak dan melempar foto-foto Ela dengan banyak coretan dan berkas darah.
"Astaga tuan." Tuan Yun juga ikut kaget.
"Perintahkan kepada Siska untuk menambah pengawal Ela untuk kepergiannya kembali ke Indonesia."
"Baik tuan, saya akan mempersiapkan sebaik-baiknya."
"Setelah 2 tahun terakhir mereka juga akhirnya bergerak kembali." Cemas, bagaimana ini sambil memegangi jantungnya.
"Tuan tenanglah. Menenangkannya. Nona Ela pasti bisa mengatasinya." Memegangi tubuhnya yang tadinya berdiri tegak di tempat duduknya mendadak runtuh.
"Bagaimana aku bisa tenang! Bertahun-tahun selalu ada saja orang yang mengejek dan mengganggu ketentraman keluargaku."
"Saya akan urus segalanya sebaik-baiknya."
"Mungkin jika aku tak mendatangi ruangan kakek saat itu dan mendengarkan percakapannya, aku takkan sampai di Indonesia dan meminum anggur merah di kamar hotel megah ini sendirian."
Glek. glekk. gleek. Menghabiskan tuntas minuman itu.
"Gadis nakal. Awas saja kau akan kubunuh. Ucap Deren dengan setengah tak sadar. Sepertinya aku melihat bayangan gadis bodoh itu mendekatiku, pergilah menjauhlah aku sedang gak ingin melakukan apapun denganmu."
Wanita itu mendekat, merabah tubuhnya. "Kelihatannya aku memiliki tuan kebangsaan korea tapi kenapa terlihat seperti orang Jerman atau belanda? Hmmm... sayang sekali harus membunuh pria tampan ini, sepertinya aku ingin sekali bermain beberapa saat selama dia disini." Tertawa licik dan menopang kepalanya hingga terjatuh.
Lelaki itu menggelengkan kepala lalu tertidur.