Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ada Jalan Kembali
POV Paolo
Aku bukan lelaki yang mengadakan rapat tanpa alasan.
Bahkan, dalam kedudukanku... setiap panggilan punya bobot. Setiap keputusan membawa akibat.
Dan yang satu ini... adalah salah satu yang terpenting dalam hidupku.
Kupanggil semuanya.
Tanpa terkecuali.
Ayahku, Ricardo Salvatore.
Ibuku, Carmela Rigone.
Adikku, Pietro Salvatore.
Omku, Lorenzo Salvatore.
Dan sepupuku, Matteo Salvatore.
Bahkan Lutero Russo pun dipanggil.
Ini rapat darurat.
Dan semua orang tahu itu.
Markas terasa senyap.
Berat.
Seperti selalu terjadi setiap kali keputusan besar hendak diambil.
Aku sudah berada di ruangan ketika yang pertama tiba.
Lalu yang lain.
Dan yang lainnya lagi.
Sampai semua hadir.
Om Lorenzo yang terakhir masuk.
Ia mengedarkan pandang, menilai suasana, lalu berucap dengan nada blak-blakan yang selalu ia miliki:
"Di mana kebakarannya?"
Tak ada yang tertawa.
Karena semua tahu...
Itu bukan kiasan.
Aku tak bicara.
Kutatap Pietro.
Ia paham.
Ia selalu paham.
Ia melangkah maju dan mulai bicara.
Tanpa berputar-putar.
Tanpa memperhalus.
Ia menceritakan semuanya.
Sejak awal.
Maria Cecília.
Panti asuhan.
Penculikan.
Jati diri yang sesungguhnya.
Ingrid Hansen Ragnar.
Putri Dom Norwegia.
Seiring ia bicara... keheningan di ruangan itu kian memberat.
Omku kehilangan raut sinisnya.
Sepupuku berwajah serius.
Ibuku menutup mulut dengan tangan, terguncang.
Dan ayahku...
Ayahku hanya mengamatiku.
Ketika Pietro selesai, tak seorang pun bicara selama beberapa detik.
Sampai ayahku bangkit.
Ia berjalan ke arahku.
Berhenti di hadapanku.
"Kau paham apa arti semua ini?"
Kubalas tatapannya.
"Aku paham."
Ia mengangguk, tetapi wajahnya tetap keras.
"Kalau begitu, kau tahu apa yang harus kaulakukan."
Aku tak menjawab.
Ia melanjutkan:
"Kalau kita berpura-pura tak tahu apa-apa... itu akan dianggap pengkhianatan."
Jeda.
"Dan pengkhianatan antar-Dom... berarti perang."
Kata itu menggantung di udara.
Berat.
Tak terbatalkan.
Aku mengangguk.
Tanpa ragu.
"Aku tahu."
Kuraih teleponku.
Ayahku sudah mendapatkan nomornya.
Tentu saja sudah.
Ia selalu selangkah di depan.
Kutekan nomor itu.
Semua terdiam.
Mengamati.
Menunggu.
Panggilan berdering beberapa kali...
Sampai akhirnya dijawab.
Dari seberang sana...
Suara itu terdengar mantap.
Berwibawa.
Berat.
Itu dia.
Harald Hansen Ragnar.
"Siapa ini?"
Suaraku keluar terkendali.
"Paolo Salvatore."
Hening.
Ia tahu siapa aku.
Sebagaimana aku tahu siapa dia.
"Apa maumu?"
Langsung.
Tanpa kesabaran.
Tanpa basa-basi.
Layaknya seorang Dom sejati.
Aku menarik napas dalam-dalam.
"Aku menelepon karena aku menemukan sesuatu... yang berhubungan langsung dengan keluargamu."
Hening.
Aku melanjutkan.
"Aku mengenal seorang wanita di Brasil."
"Maria Cecília Santana."
"Ia menjadi sahabat adikku."
Jeda.
"Dan aku jatuh cinta padanya."
Tatapan-tatapan di ruangan itu tertuju padaku.
Tetapi tak seorang pun menyelaku.
"Kami sudah bersama."
"Dan aku hendak menjadikannya wanitaku."
Suaraku tak goyah.
"Calon ratu di sisi sang Dom."
Keheningan mutlak dari seberang sana.
"Tetapi hari ini... aku menemukan sesuatu."
Tanganku mencengkeram telepon lebih erat.
"Maria Cecília... bukanlah dirinya yang kaukira."
Jeda.
"Ia adalah Ingrid Hansen Ragnar."
Dampaknya seketika.
Meski tak melihatnya... aku merasakannya.
"Putrimu."
Hening.
Berat.
Dalam.
Nyaris mencekik.
Aku melanjutkan.
Kuceritakan semuanya.
Tanpa menyembunyikan apa pun.
Penculikan itu.
Panti asuhan.
Penderitaan.
Kehidupan di Brasil.
Bu Iracema.
Kuliah.
Semuanya.
Setiap perincian.
Ketika aku selesai...
Keheningan kembali.
Tetapi kali ini... berbeda.
Bukan ketegangan.
Melainkan sesuatu yang lebih dalam.
Lebih manusiawi.
Dan kemudian...
Aku mendengarnya.
Suara yang tak kuduga.
Tangisan.
Dari seberang sambungan.
Dom Norwegia itu...
Sedang menangis.
Suaranya keluar tersendat.
Sarat emosi.
"Putriku..."
Hening.
"Ia masih hidup..."
Tak seorang pun di ruangan itu bergerak.
Tak seorang pun bernapas dengan benar.
"Aku akan berangkat ke Italia."
Suaranya kembali mantap.
Bulat.
"Aku dan keluargaku."
Jeda.
"Aku harus memeluk putriku."
Ayahku yang pertama menyahut.
"Suatu kehormatan menyambut kalian."
Omku mengangguk.
Sepupuku juga.
Karena semua orang di sana tahu...
Ia bukan Dom sembarangan.
"Kami tiba dalam dua hari," ucapnya.
"Kami akan siap," jawabku.
Sebelum menutup sambungan...
Ia berkata sekali lagi.
Suaranya lebih rendah.
Lebih manusiawi.
"Astrid... istriku..."
Astrid Hansen Ragnar.
"Ia sudah sakit bertahun-tahun."
Jeda.
"Sejak putri kami menghilang."
Hening.
"Ketika kami tahu ia berada di Brasil..."
Ia mulai tersenyum lagi.
Tenggorokanku tercekat.
"Ia akan kembali hidup... saat melihat putri kami."
Sambungan pun terputus.
Dan keheningan kembali ke ruangan.
Tetapi sekarang...
Tak ada lagi yang sama.
Semua saling berpandangan.
Mencerna.
Memahami.
Memperhitungkan.
Ayahkulah yang memecah keheningan.
"Tanpa sengaja..."
Ia menatapku.
"Kau baru saja mengikat sebuah ikatan."
Jeda.
"Dengan putri seorang Dom."
Ia tersenyum tipis, nyaris tak kentara.
"Tetapi bukan Dom sembarangan."
Bobot kata-kata itu menggantung di udara.
"Dom Norwegia..." lanjutnya, "sama kuatnya dengan kita."
Aku tak mengalihkan tatapan.
Tak surut.
Tak ragu.
Karena, di tengah semua itu...
Hanya ada satu kepastian.
Maria Cecília...
Atau Ingrid...
Adalah milikku.
Dan sekarang...
Seluruh dunia mengetahuinya.