Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

​"Duduk."

​Suara Pak Toto memotong sapaan Helga yang baru saja separuh terucap di ambang pintu. 

Ruangan berpendingin udara itu berbau kertas tua, minyak kayu putih, dan asap rokok samar yang tertahan di sudut jendela. 

Pak Toto berdiri di balik meja kerjanya yang penuh tumpukan stopmap merah, melipat kedua lengan di dada.

​Helga menarik salah satu dari empat kursi lipat besi berbusa tipis di depan meja. 

Klak. 

Ia duduk paling tepi. 

Varen, Andreas, dan Renan menyusul, berderet kaku di sampingnya.

​Pak Toto mengambil sebuah kaset mika hitam tanpa label di atas mejanya, lalu melemparnya pelan ke tengah area kosong di antara pembatas kertas. 

Puk.

​"Siapa yang naruh barang ini di loker bawah?" tanya Pak Toto. Matanya tertuju lurus pada Varen.

​Varen menelan ludah. Suara tegukan di tenggorokannya terdengar jelas di tengah desis pendingin ruangan. 

"Bukan saya, Pak. Saya cuma..."

​"Saya yang naruh, Pak," potong Helga.

​Tiga kepala di samping Helga mendadak menoleh serentak. 

Varen membelalakkan mata, sementara Andreas yang hendak membuka mulut langsung mengatupkannya kembali.

​Pak Toto memajukan badannya sedikit, menumpukan kedua telapak tangan di tepi meja kayu. 

"Lu yang naruh, Ga? Sejak kapan murid rajin serabutan kayak lu suka nimbung kaset gim balap punya budak rel?"

​Helga menarik ujung lengan kemeja seragamnya yang melar, lalu memutarnya pelan di pergelangan tangan. 

"Kemarin sore hujan deras, Pak. Saya pinjam tempat buat melindungin barang dari basah. Itu kaset titipan teman luar sekolah, mau diserahin nanti siang."

​"Teman luar sekolah?" Pak Toto menaikkan sebelah alisnya yang tebal. 

Tangannya meraih kaset mika itu kembali, mengetuk-ngetukkannya ke meja.

"Anak Tunas Bangsa yang kemarin malam bikin ribut di palang pintu kereta?"

​"Bukan, Pak," jawab Helga tanpa mengedipkan mata. "Anak bengkel depan stasiun. Cuma kaset game bekas biasa. Kalau Bapak mau tes, ada kasetnya di dalam, isinya bukan barang terlarang."

​Pak Toto diam selama beberapa detik. 

Matanya menatap wajah Helga yang datar, lalu beralih ke Varen yang jemari tangannya terus meremas pinggiran celana abu-abunya hingga kusut.

​"Saya bisa aja panggil orang tua kalian berempat jam ini juga," ucap Pak Toto pelan namun penuh penekanan. 

"Terutama lu, Varen. Catatan pelanggaran lu udah penuh dari semester kemarin."

​"Pak, beneran saya gak ada hubungan sama keributan semalam," gumam Varen lirik. "Bapak tanya aja Helga, kemarin sore dia yang antar anak sekolah lain balik."

​Pak Toto melirik Helga kembali. "Anak sekolah lain?"

​Helga memiringkan kepalanya sedikit. "Bukan siapa-siapa, Pak. Teman OSIS. Saya cuma numpuk barang sebentar di loker biar gak kena hujan."

​Pak Toto menghela napas panjang melalui hidung, membuat kumis tebalnya sedikit terangkat. 

Ia menggeser kaset mika itu ke dalam laci mejanya yang terbuka, lalu menguncinya dengan derit besi pendek. 

Kliik.

​"Kaset ini saya sita sampai orang tua kamu yang ngambil ke sini, Helga," kata Pak Toto. "Dan kalian bertiga, kalau sampai saya lihat nongkrong di dekat garasi rel kereta api lagi sebelum jam pulang sekolah, saya kasih surat skorsing seminggu. Paham?"

​"Paham, Pak," sahut Renan dan Andreas hampir bersamaan.

​"Keluar sekarang. Bel masuk sudah bunyi dari tadi," peritah Pak Toto sambil meraih tumpukan kertas absen.

​Keempatnya berdiri. 

Kursi lipat besi menyeret ubin keramik. Kriieek.

​Begitu pintu alumunium Ruang BK tertutup rapat di belakang mereka, Varen langsung menyenggol bahu Helga keras-keras. 

Bruk.

​"Gila lu, Ga!" bisik Varen dengan suara tertahan saat mereka berjalan di lorong koridor. 

"Kenapa lu ngaku itu punya lu?! Kalau bokap lu dipanggil ke sekolah gimana?!"

​"Bokap gua gak bakal datang," sahut Helga datar. 

Tangannya kembali masuk ke dalam saku celana.

 "Lagian lu kalau dipanggil orang tua lu, makin hancur urusannya. Motor lu disita bokap lu entar."

​"Tapi kaset itu kan punya budak Tunas Bangsa, Ga," timpal Renan sambil menyesap sisa es teh manisnya yang sudah mencair.

 Srrrpt.

 "Kalau mereka nanya kasetnya mana, lu mau jawab apa?"

​"Gua urus nanti," balas Helga pendek.

​Langkah mereka terhenti di persimpangan koridor dekat mading. 

Dari arah perpustakaan, Regina jalan berlawanan arah membawa sebuah map kertas tebal. 

Di belakangnya, Shinta berjalan sambil membawa dua botol air mineral.

​Regina melambat begitu posisi mereka berjarak kurang dari dua meter.

Shinta menyenggol lengan Regina pelan, melirik ke arah Helga dan rombongannya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.

​"Habis dari BK ya?" tanya Shinta blak-blakan. "Ngapain? Dimarahin Pak Toto gara-gara keributan rel semalam?"

​Varen memutar matanya. "Bukan urusan lu, Shin. Kita cuma... ngobrol santai."

​Regina tidak memperhatikan Varen. 

Matanya menatap lurus ke arah Helga yang berdiri sedikit di belakang Andreas.

​"HP elo udah diservis?" tanya Regina. Suaranya tidak terlalu kencang, menembus bisingnya suara langkah kaki murid-murid lain yang terburu-buru masuk ke kelas masing-masing.

​Helga berkedip sekali sebelum menanggapi. "Udah. Udah mendingan."

​"SMS gue semalam dibalas pas elo di mana?" tanyanya lagi. Alisnya terangkat tipis.

​"Di jalan," jawab Helga singkat.

​Shinta memandang Regina, lalu memandang Helga bergantian. 

"Tunggu, kalian berdua SMS-an semalam? Waktu hujan deras itu?"

​"Cuma nanya barang OSIS," potong Regina cepat. 

Ia merapikan pegangan map di dadanya, menggeser posisinya sedikit menutup akses jalan. 

"Nanti sore rapat OSIS jam dua. Jangan lupa."

​Helga menyentuh tengkuknya yang terasa dingin. "Gua ada kerjaan nanti sore."

​Regina menahan gerakannya. "Kerjaan apa? Kan rapat evaluasi cuma sejam."

​"Shift sore," sahut Helga netral. "Manager kafe minta gua masuk abis Jumat."

​Regina memiringkan kepala. "Kemarin katanya elo gak ada jadwal hari Jumat?"

​"Mendadak. Kasirnya sakit," balasan Helga datar. 

Ia tidak menghindar dari tatapan Regina, namun kakinya bergeser seinci ke arah lorong kelas IPS.

 "Gua masuk kelas dulu. Guru agama udah jalan dari ruang guru."

​Regina tidak bergerak dari tempatnya berdiri selama tiga detik. 

Tangannya yang memegang clipboard sedikit mengencang hingga kertas di bawah jepitannya melengkung tipis.

​"Yaudah," kata Regina pelan. "Terserah elo."

​Gadis itu memutar badannya mendadak, melangkah cepat mendahului Shinta menuju ruang kelas 12 IPA 2. 

Shinta menyusul di belakangnya sambil menoleh sekali lagi ke arah Helga dengan ekspresi bingung.

​"Lu kenapa sih rada kaku gitu sama Regina?" bisik Andreas saat mereka melanjutkan langkah ke kelas 12 IPS 2. 

"Padahal tadi malam mamanya baik banget ngasih lu pisang goreng, kan?"

​Helga tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kelas, duduk kembali di bangku belakangnya.

​Suara langkah guru agama terdengar mengetuk lantai koridor di luar. 

Tuk, tuk, tuk.

​Helga mengeluarkan buku tulis bergaris yang sudah lusuh dari dalam tasnya. 

Di sampul dalam buku itu, terdapat coretan angka rupiah: rincian biaya obat rumah sakit ibunya untuk minggu ini, ditambah tagihan listrik kamar sewa yang menunggak tiga minggu.

​"Gua mesti ngomong sama Pak Yudi biar bisa kasbon lagi," gumam Helga sangat pelan, nyaris seperti desis napasnya sendiri. 

Tangannya mengambil pulpen hitam bekas di meja, memutar-mutarnya di jari.

​Varen di sebelahnya menoleh. 

"Lu ngomong sama siapa, Ga?"

​"Sama tembok," jawab Helga asal.

​"Gila lu emang." Varen menggelengkan kepala, lalu melipat tangannya di atas meja untuk bersiap tidur sebelum pelajaran dimulai.

​Siang hari, pukul 12.30 WIB.

​Usai ibadah salat Jumat di masjid sekolah, cuaca di luar berganti menjadi terik menyengat. 

Hawa panas menguar dari aspal jalanan di depan gerbang SMA Negeri 1.

​Helga berjalan sendirian menuju tempat parkir motor roda dua. 

Seragam putih abu-abunya sudah berganti dengan kaos polos hitam dan jaket jeans yang bagian sikunya agak menipis. 

Helm bogo hitam diambilnya dari spion.

​Bzzzt.

​Ponsel di saku celananya bergetar sekali.

​Helga menyalakan layar ponsel sebelum menghidupkan mesin motor. 

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke aplikasi SMS-nya.

​Isi Pesan:

​"Helga, ini mamanya Regina. Mama mau titip belikan kue basah di dekat stasiun kalau kamu lewat sana, nanti uangnya Mama ganti pas kamu antar ke rumah."

​Helga memandangi pesan itu di bawah terik matahari siang yang membakar tengkuknya. 

Jarinya menahan tombol power ponsel hingga layar meredup perlahan.

​Klek. 

Mesin motor matic hitamnya menyala dengan deru halus. 

Helga memutar stang gas, membawa sepeda motornya keluar dari halaman sekolah menuju arah Kafe seduh di area arcamanik.

​Tepat saat Helga memarkirkan motornya di halaman belakang Kafe Seduh pukul 13.05 WIB, Pak Yudi keluar dari pintu dapur dengan wajah tegang sambil memegang selembar kertas nota tebal.

​"Ga, untung lu udah nyampe," panggil Pak Yudi tergesa-gesa. "Owner kafe mendadak datang dari Jakarta jam dua nanti. Dia mau sidik inventaris bahan sama cek berkas kasir bulan ini!"

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!