Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:794
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 - Paradoxa (Part 3)

Sudah hampir dua bulan hubungan asmara Kinan berlangsung bersama Romi. Tak jarang Romi menjemput Kinan hanya untuk mengantar berangkat kuliah, membiarkan motornya kadang hingga beberapa hari tak tersentuh di rumah.

Kinan pun sekarang jadi lebih sering pulang sore meskipun kelas kuliah tak sampai siang. Waktunya banyak ia habiskan bersama Romi. Mulai dari sekadar mengobrol hingga makan bersama di restoran.

Di Minggu sore, ketika sang ibu sedang menyapu ruang tengah, tanpa sengaja ia melirik ke arah kamar Kinan yang selanya terbuka. Matanya menangkap sebuah dompet berwarna merah marun di atas meja kecil dekat tas Kinan. Sekilas ia menyadari bahwa dompet itu bukanlah yang biasanya dipakai oleh anaknya—tampak mahal, elegan, dan masih sangat baru.

Tak jauh dari dompet itu, tampak pula sepasang flat shoes berwarna senada yang juga masih baru. Barang itu juga terlihat belum pernah dipakai, bak barang istimewa yang baru saja dibeli.

Kinan muncul dari balik tirai dapur, melangkah pelan menuju kamarnya.

"Istimewa banget barang-barangnya sekarang,” gumam ibu Kinan pelan, setengah bercanda namun menyimpan rasa penasaran, sembari menatap Kinan sesaat sebelum kembali mengayunkan sapu.

Kinan seketika mengerti maksud perkataan ibunya. Ia melirik sang ibu yang memberi isyarat lewat lirikan mata ke dalam kamar. Pandangan Kinan pun menyusul ke arah barang-barang baru yang dimaksud.

“Ohh, Itu… cuman dikasih, Bu. Cuman hadiah,” ucap Kinan cepat, tetapi masih berusaha tenang. “Kinan gak pernah sengaja minta semua itu. Kinan udah beberapa kali nolak, tapi Romi tetep maksa mau ngasih. Jadi, ya gitu deh.”

Ibunya hanya mengangguk pelan dan tidak bertanya lebih lanjut. Namun, tatapan matanya tetap mengamati, seperti menyimpan sesuatu yang belum terucap.

“Dulu…” gumamnya pelan, nyaris seperti bicara pada diri sendiri. “Barang-barang mewah juga sering datang tiba-tiba. Tanpa diminta, dan—”

Ia tak melanjutkan, langsung kembali menyapu. Tapi jelas terasa ada sesuatu yang ditahan dan berusaha untuk tetap ia simpan sendiri.

Kinan sejenak sempat penasaran, namun ia tak bertanya apa pun. Ia pun masuk ke dalam kamarnya dan perlahan menutup pintu. Sejenak ia memandangi semua barang pemberian Romi, namun pikirannya langsung teralihkan pada cowok itu berserta kenangan bersamanya.

Memang, dua bulan sudah berlalu begitu cepat sejak Kinan menerima Romi sebagai pacarnya. Awalnya, semuanya terasa seperti mimpi. Makan romantis bersama, bunga-bunga yang indah, kejutan-kejutan kecil yang membuat hati Kinan makin luluh. Namun belakangan, semua itu sudah jarang dan mulai semakin terasa asing.

Mereka tak lagi sering bertemu di area kampus. Setiap Kinan bertanya, Romi selalu beralasan tugasnya semakin padat, sibuk diluar urusan kampus, dan kadang harus sering pergi ke luar kota tanpa berpamitan atau cerita detailnya.

Pada awalnya Kinan mencoba untuk memahami kondisi pacarnya itu. Namun, makin lama hatinya merasa ada yang aneh. Dari semuanya, yang tersisa hanyalah kesendirian yang dingin dan hati yang berkecamuk penuh tanya.

Kinan sering mencoba menghubungi Romi melalui telepon, namun tak pernah diangkat. Ia juga sering mengirim banyak pesan hanya sekedar memberi semangat atau menanyakan kabar. Namun, kadang sehari atau dua hari kemudian baru mendapat balasan, dan itupun hanya berisi satu atau dua kata. Tidak ada lagi cerita, tidak ada lagi candaan.

Semua mulai terasa berubah sejak hari itu—hari di mana Kinan dengan lembut, tapi tegas, menolak ajakan Romi untuk menginap di hotel. Romi tak tampah marah atau kecewa. Namun, sikapnya perlahan berubah menjadi dingin dan aneh. Benan-benar tak seperti Romi yang Kinan kenal selama ini.

Tak hanya sekali atau dua kali Kinan menolak ajakan tersebut. Romi berkali-kali mengajaknya setiap kali ada kesempatan. Seusai makan malam, setelah dari mal, Kinan selalu berkata tidak tanpa keraguan sedikitpun, bahkan saat ia di ajak ke Vila milik Romi berdua.

Namun, semakin lama semakin terasa ada yang berbeda. Kehidupannya serasa perlahan kembali seperti semula saat sebelum ia mengenal Romi.

Kinan tidaklah bodoh. Ia tahu dan sadar ada yang bergeser. Tapi ia juga belum siap untuk menyimpulkan semuanya hanya dari diam dan jarak. Atau… mungkin ia hanya belum berani mengakui semuanya.

Dari cerita beberapa temannya, Kinan yang masih polos tampak terkejut mengetahui seperti apa remaja-remaja sekarang dalam menjalin sebuah hubungan asmara yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa.

Kinan memang punya perasaan sayang kepada Romi, namun jika Romi meminta lebih, Kinan pun tak bisa memberinya. Walaupun hatinya menjadi gundah dengan pertimbangan.

"...apa aku terima sesekali tawaran Romi. Tapi..."

Kinan yang sedang sendirian membaca buku di kamarnya mendadak buyar dari pikiran tidak jelasnya itu saat melihat ada sebuah notifikasi chat dari nomor yang tak ia kenal muncul di layar ponselnya. Ia tampak penasaran, lalu meraih ponselnya dan seketika langsung membukanya.

"Maaf sebelumnya kalo ngganggu. Aku tahu kamu mungkin gak tau aku siapa. Tapi aku liat-liat kamu sering jalan bareng sama Romi. Bukannya aku bermaksud buat ikut campur soal hidupmu, tapi aku cuman pengen bilang, hati-hati sama dia."

Kinan tak mengerti apa sebenarnya yang ingin dijelaskan oleh pengirim pesan jelaskan kepadanya. ia hanya tampak bingung. Lalu ia membaca chat selanjutnya.

"Aku juga pernah berada di posisimu sekarang. Awalnya aja terasa manis, penuh perhatian dan selalu bikin merasa spesial. Tapi semua itu cuman bertahan sampai dia dapet yang dia mau. Kalo kamu masih sayang sama dirimu sendiri, tolong jauhi dia dan jangan lagi percaya sama kata-katanya."

Kinan mencerna setiap kata yang tertulis dan menghubungkannya dengan kondisi hubungannya dengan Romi sekarang. Namun, perasaannya masih mencoba mengalahkan logikanya.

"Maaf banget aku harus ngasih tau hal kayak gini. Aku cuma gak mau kamu ngerasain apa yang pernah aku rasain."

Kinan terdiam menatap layar ponselnya. Jemarinya masih menggenggam erat ponsel, lalu sesaat kemudian ia meletakkannya di atas meja.

Degup jantungnya menjadi tak beraturan; pikirannya menjadi penuh sesak oleh kenyataan yang belum bisa ia proses sepenuhnya.

Pesan dari nomor tak dikenal itu masih terbuka. Baris-baris katanya terasa asing, tetapi juga terlalu familiar dengan apa yang selama ini tak ingin ia akui. Kinan menggigit bibir bawahnya, mencoba menepis prasangka—mencoba meyakinkan diri bahwa ini mungkin hanya rasa iri dari seseorang yang tak bisa memiliki perasaan Romi.

Tapi mengapa kata-katanya terasa terlalu nyata?

Pandangannya kosong menatap cermin di depannya. Kinan merasa ada sesuatu yang runtuh di dadanya, hingga berhasil membuat napasnya tak tenang.

Apakah… selama ini ia hanya dibutakan perhatian yang tidak tulus? Dan jika itu benar, mengapa rasanya lebih sakit dari yang pernah ia bayangkan?

Kinan tetap mencoba membuang jauh pikiran buruknya terhadap Romi. Ia ingin tetap percaya pada apa yang telah ia jalani dari awal. Namun tak bisa dipungkiri, ada setitik ragu yang kini perlahan menggerogoti hatinya.

Keesokan malamnya, layar ponsel Kinan menyala. Nama Romi muncul, disertai suara dering yang sudah lama tak terdengar. Ia buru-buru mengangkat, sedikit tergesa tapi juga tak bisa menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa sadar.

“Sayang, malam ini keluar, yuk,” kata Romi di seberang, suaranya terdengar santai—terlalu santai, malah.

Kinan terdiam sejenak mendengar ajakan tiba-tiba itu setelah sebelumnya Romi menghilang tanpa kabar. “Eh, malem ini?"

"Iya. Emangnya kamu gak kangen? Aku udah nyempetin waktu buatmu lho."

Entah apa yang ada di pikiran Kinan saat itu, ia seketika tersenyum. "K-kangen... banget."

"Yaudah, abis ini aku jemput. Dandan yang cantik ya, Sayang!"

"Ahh.. oke."

Setelah panggilan telepon ditutup, Kinan menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Hatinya sedikit kembali hangat, tetapi juga terasa aneh. Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin meluapkan kebahagiaannya—merasa begitu senang dan memang itu kenyataannya. Namun, ada juga bagian lain yang pelan-pelan berbisik: ada sesuatu yang tak beres.

Namun seperti biasa, ia memilih untuk percaya. Setidaknya… satu kali lagi.

Beberapa puluh menit kemudian, mobil Romi berhenti di depan pagar rumah Kinan. Bahkan sampai sejauh ini, Romi tak pernah turun dari mobilnya untuk menghampiri Kinan langsung di rumahnya, atau sekedar bertemu dengan ibu Kinan.

Kinan yang sudah menunggu sesuai magrib langsung berdiri dari sofa. Ia langsung berpamitan ke ibunya yang tengah duduk di sebelahnya.

"Kinan berangkat dulu, Bu."

"Nanti pulangnya jangan malam-malam lho, Nak," tutur ibunya yang raut mukanya tampak menahan rasa gusar.

"Iya, Bu. Nanti sebelum jam sembilan, Kinan pasti udah di rumah."

Setelah itu, Kinan berjalan keluar menuju mobil Romi. Ia disambut dengan senyum ramah dari Romi seakan ini adalah hari pertama mereka berkencan.

Semua berjalan lancar dan bahagia. Mereka makan malam bersama di sebuah restoran yang kali ini lokasinya cukup jauh dari kota. Cukup banyak obrolan di antara mereka, namun Romi secara halus menghindar saat ditanyai Kinan soal perubahan sikapnya akhir-akhir ini dan juga tentang pesan dari nomor tak dikenal kemarin.

Sekitar pukul setengah sembilan, mereka sudah selesai makan malam dan sedang dalam perjalanan pulang. Namun tak lama kemudian, mobil Romi berhenti di pinggir jalan yang cukup sepi, di dekat sebuah kafe kecil yang sudah tutup.

Di dalam mobil, hening. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar samar. Kinan menatap ke arah Romi dengan raut wajah bingung.

"Kok kita berhenti di sini?"

Romi diam tak menjawab pertanyaan Kinan, lalu perlahan menoleh ke arahnya. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat ke posisi Kinan. Ia memegang kedua tangan Kinan dan mencoba mendaratkan ciuman ke bibir Kinan, tetapi Kinan refleks menolak. Romi justru semakin kencang memegang tangan Kinan hingga membuat cewek itu sedikit berteriak.

Tak sampai disitu, Romi mencoba membuka baju Kinan. Namun, Kinan makin berontak dan berteriak lebih kencang hingga berhasil mendorong Romi menjauh.

"Kamu mau ngapain aku?" Tanya Kinan yang tampak ketakutan melihat tingkah Romi.

Romi hanya diam menatap Kinan dengan tajam.

"Jawab."

Romi masih membisu. Sedetik kemudian, ia kembali memegang kedua tangan Kinan dan mencoba melakukan hal yang sama. Namun kali ini, Kinan berhasil mendaratkan tamparan telak ke pipi Romi.

Dengan napas terengah-engah, Romi membuka pintu dan melangkah turun. Dari arah luar, ia membukakan pintu untuk Kinan, lalu Kinan pun ikut turun.

Romi menatap Kinan dengan begitu dingin dan tajam. “Aku tuh dah capek, Kin. Capek banget. Aku selalu ngasih semuanya, tapi kau kayak... gak pernah mau ngertiin aku.”

Kinan diam membeku. Romi menghela napas panjang. “Kau bilang butuh waktu dan perhatian dariku. Tapi tiap aku pengen waktu bersama cuman berdua, kau selalu aja punya alasan buat nolak.”

Kinan menatap kedua mata Romi dengan begitu serius. “Maksudmu waktu bersama cuman berdua yang kayak apa?”

Romi menatapnya balik. Tatapan matanya kini tidak lagi lagi hangat.

“Ya waktu berdua, tanpa gangguan siapa pun. Kau gak usah takut gitu, Kin. Aku gak akan maksa. Tapi... kalo kau emang beneran sayang, kau harus percaya aku.”

Kinan menggigit bibirnya. Di sorot matanya tampak selapis kesedihan. “Aku percaya... aku selalu percaya kamu dari awal. Tapi... aku juga punya batas.”

Romi mendengus. Nada bicaranya semakin meninggi. "Ya udah, terus sampe kapan? Sampe aku bosan nunggu, huh? Sampe kau ngerasa udah siap? Apa masih kurang semuanya yang aku kasih , huh? Dunia ini gak bisa selalu ngikutin cara pikir jadulmu itu, Kin!”

"Aku gak butuh semua barang pemberianmu, Rom! Aku juga gak pernah minta kemewahan apa pun darimu. Aku... aku cuman mau perhatian dan sedikit waktumu kayak awal dulu. Cuman itu, Rom, Gak lebih!" jerit Kinan, suaranya parau menahan sesak di dada.

"Kamu tuh gak usah sok idealis, Kin! Jangan sok nolak apa yang udah aku kasih dan nganggep itu semua gak penting. Hidup juga butuh duit, apa-apa pasti juga pake duit. Kamu pikir cuman dengan hal-hal sepele itu semua bisa bikin bahagia, hah?!"

Suara bentakan itu membumbung tajam, menggema liar di dalam kepala Kinan. Pedas, tajam dan penuh kemarahan yang membakar.

Sosok Romi yang dulu sempat Kinan anggap akan menjadi pelindung dan tempat hangat untuknya bersandar, malah berubah menjadi sosok monster yang menorehkan luka begitu dalam. Sebuah guratan trauma yang tak akan pernah sanggup ia sembuhkan sendiri.

"Jangan kamu selalu samakan aku dengan mereka, Rom! Uang bukanlah segala—"

PLAK!

Rasa panas dan sengatan ngilu itu seolah mendadak hinggap di pipi kiri Kinan. Sebuah tamparan yang bukan sekadar luka fisik, juga menghancurkan perasaannya, melumat habis kepercayaannya, dan meremukkan hatinya yang selama ini sudah tertatih-tatih bertahan.

"Dengar, ya! Aku bisa aja beli dan kasih semua yang kau mau, asal kamu nurut! Cukup diem dan gak usah banyak protes. Ngerti?!"

Kinan terdiam membisu. Di balik matanya yang mulai berkaca-kaca, ada samudra kata yang sejatinya ingin ia jeritkan. Tentang perih luka, tentang kekecewaan yang terlalu besar menumpuk, serta kebencian yang mulai menggerogoti jiwanya. Namun, suaranya bagai terkunci rapat.

Ia sama sekali tak berdaya melawan dentuman kata-kata beracun Romi yang menghantamnya layaknya petir di siang bolong.

Kinan hanya mampu berdiri di sana, tak berkutik. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi pipi. Namun tepat di hadapannya, sosok yang dulu begitu ia cintai sama sekali tak menunjukkan sedikit pun rasa belas kasihan.

Isak tangis Kinan belum reda ketika tangan kasar itu mencengkeram dagunya, memaksanya mendongak.

Di saat itu juga Kinan menyadari sebuah kenyataan pahit: seandainya pun ia menangis hingga habis air mata, Romi tak akan pernah luluh.

“Aku selalu dapet yang aku inginkan, Kin,” bentak Romi terdengar tajam dan dingin. “Apa pun. Dari siapa pun. Termasuk kamu. PAHAM?”

Kinan berusaha menggeleng, tapi cengkeraman itu terlalu kuat. Matanya memohon, namun tak ada belas kasihan di wajah Romi. Hanya amarah dan ego yang membakar. Kini, seluruh sisa perasaan yang tersisa hanyalah kecewa, amarah yang mendalam serta benih trauma yang perlahan membusuk di hati terdalamnya.

“Romi, tolo—”

PLAK!

Satu tamparan yang lebih keras dari sebelumnya, sekali lagi mendarat di pipi kanannya. Dunia di sekitar Kinan seolah tampak berputar. Kinan limbung, napasnya tercekat dan tubuhnya melemah. Ia mencoba bertahan, tapi lututnya mulai kehilangan daya. Tak hanya hancur secara fisik, mentalnya pun runtuh tak tersisa.

Romi melepaskan tangannya dari Kinan. Ia menjauh dan langsung masuk ke dalam mobil. Suara pintu ditutup keras terdengar, meninggalkan Kinan sendirian tergeletak di pinggir jalan. Gelap mulai menyelimuti pandangan Kinan, hingga pada akhirnya semuanya menjadi hitam.

“Kin.... Kinan?!” Suara ibunya menyadarkan Kinan dari lamunannya—lembut, tapi cukup untuk menarik Kinan kembali ke meja makan.

Tangan kanan Kinan masih memegangi sendok dengan sedikit makanan yang tersisa di piringnya. Tatapannya kosong—jauh melayang ke kilas balik yang terasa sesaat, tetapi cukup untuk membuat dadanya kembali sesak.

Kinan berkedip, seperti baru terlempar dari sebuah mimpi buruk yang panjang. “Eh... iya, Bu.”

“Lagi kepikiran apa, Nak?” tanya ibunya pelan, sembari menyeruput teh hangatnya.

“Emm, cuman... capek aja, Bu. Tadi malem susah tidur,” jawab Kinan sambil tersenyum tipis.

Tak ingin membuat ibunya khawatir, Kinan menghabiskan makanannya dalam diam. Setelah mencuci piring, ia melangkah ke kamar. Sore ini tak ada hal yang harus ia lakukan, dan tampaknya tubuh serta pikirannya butuh istirahat.

Ia benar-benar tak mengerti. Beberapa hari setelah ia pergi makan berdua bersama Nathan, tiba-tiba semua ingatan buruk itu muncul begitu saja. Hal tersebut membuat Kinan sempat beranggapan mungkin jika ia melangkah lebih jauh lagi, kejadian kelam itu akan terulang lagi.

1
Crestfall
Antagonis utama mulai diceritakan 👍
Daniela
Baru sempet baca dan...
lanjutkan 🤭
Daniela
🥹🥹🥹
Crestfall
mendekati tamat
Ryn Takumi: Pengen cepet kelar juga
total 1 replies
Daniela
OOOOOOHHHHHH
Ryn Takumi: 💪 Sabar sabar
total 1 replies
Daniela
Sapa lagi dah Ghea ini
Daniela
Terus kapan jadiannya ini hey???
Daniela: Yaaaah
total 2 replies
Daniela
satu per satu muncul hal baru lagi
Daniela
Dikit lagi tamat 🤭
Daniela: Bakalan kerasa cepet itu 💪
total 2 replies
Crestfall
Jejak 🤣
Setelah 6 hari gak update
Ryn Takumi: Rada sibuk. Semoga bisa dimaklumi ya hehe
total 1 replies
Daniela
Ohhh.... awalannya sama kayak ending chapter 24 🤭
Ryn Takumi: Tepat sekali
total 1 replies
Daniela
Panjang bener chapter kali ini 😄
Ryn Takumi: Kebablasan 🤣
total 1 replies
Crestfall
Mika favoritku sih
Ryn Takumi: Waaah 😄
total 1 replies
Crestfall
👍👍👍
Ryn Takumi: Terimakasih 🙏
total 1 replies
Daniela
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!