Indonesia
NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut mata basah : 24

“Ini aloma Ayam goleng nya gak tipu-tipu kan, Pi?” Hidungnya mengendus-endus.

“Asli ini. Papi jadi kepengen nyicipi. Kira-kira siapa yang masak, ya?” Yarash menutup buku kumpulan kisah dongeng, menaruh di atas kasur.

“Mbak ndut,” jawabnya mantap, karena yang sering menggoreng paha ayam untuknya yakni, mbak Juraida.

Ardan menarik kakinya, lalu berguling dan mengangkat bokong sampai kening menekan kasur.

“Nak, jangan seperti itu cara bangunnya nanti lehermu sakit,” ucap Yarash penuh kasih.

“Belhasil!” Dia melompat-lompat diatas kasur, sangat puas bisa berdiri dengan cara sesuka hatinya.

Ayahnya hanya bisa menghela napas menyaksikan tingkah laku si bungsu.

“Papi, lobek ini!” Ardan maju sambil menurunkan celana tidur panjang. “Sudah belat.”

“Pampersnya kan bisa diturunkan, sama seperti celana,” beritahunya.

“Lobek buluan! Mau pamelin ke cucuku, bial dia juga pipis banyak-banyak.” Kakinya digoyangkan dengan bokong montok bergoyang.

Yarash merobek bagian samping popok, lalu sebelahnya lagi.

“Ih, baunya ….” Hidung mungilnya dijepit, tidak tahan mencium aroma air seninya.

“Papi yang bawa ya? Aku mau makan Ayam goleng!” Ardan bersiap lari.

Popok berat berisi air seni Ardan terlempar ke lantai. Yarash tepat waktu menghentikan kecerdikan anaknya yang sudah pasti akan membuat gaduh. Dipanggulnya bak karung beras balita yang meronta-ronta di atas pundak.

“Gosok gigi, cuci muka, bersihkan bokong dulu bang, Ardan. Burung kamu bau pesing, malu nanti kalau ada orang yang mencium aroma gak sedapnya.”

“Aku tu gak malu. Tulunin, Pi!” anggota geraknya dicekal sehingga tidak bisa membebaskan diri.

Yarash mendudukkan Ardan di atas meja wastafel, langsung saja anak energik tersebut merosot mau turun.

“Kamu lihat itu!” Badan Ardan dihadapkan ke cermin. “Kerak iler sudah seperti aliran anak sungai.

Lidah Ardan terjulur keluar, membasahi sudut bibir dan mengelap jejak air liur.

“Mana? Udah ilang dia!” elaknya pongah.

Terlanjur gemas, digigitnya perut bulat Ardan yang langsung menjerit kegelian.

“Nanti aku titip gigi nakal Papi di sulga … hahaha.” Dia maju-maju berujung keningnya terantuk cermin.

“Kan, kan … huuuaaaa!” tangisnya melengking.

“Maaf, Nak. Maaf.” Yarash menurunkan tangan Ardan yang menutupi kening, dan benar saja ada warna kemerahan.

“Ya sudah gak usah gosok gigi, basuh bokong saja.”

“Ndak mau disana, disini aja.” Ardan enggan membilas badan di area ruang mandi, maunya duduk di wastafel.

“Awas sana. Papi ndak pintel, buat batuk aku benjol.” Ia berjongkok, lalu kakinya masuk ke wastafel lebar dengan keran air tinggi.

Bagaikan berendam di bak mandi, Ardan bergoyang kaki di dalam wastafel yang airnya diatur pelan terjatuh tepat di burungnya.

Yarash bersedekap tangan, bersandar pada dinding tembok kamar mandi. “Kalau kamu kelamaan main air, nanti Ayam gorengnya keburu habis di makan kak Tita, mau?”

“Papi udah!” Tangannya terulur, dia tidak bisa mengangkat bokong montoknya.

Dalam hati, Yarash bersenandung riang. Makanan lezat terutama ayam goreng, adalah mantra sakti membuat putranya patuh.

Bokong bulat yang terdapat cap lingkaran penutup wastafel, dikeringkan menggunakan handuk. Telapak kakinya juga di lap, agar tidak terpeleset ketika berjalan.

“Jangan keluar kamar dulu, tunggu Papi sebentar!” Yarash baru saja hendak menaruh handuk pada gantungan baju, begitu dia menoleh ke belakang — Ardan sudah menghilang.

“Lek Lele! Tangkap ini bulungku lali-lali!” tanpa mengenakan celana, hanya memakai kaos yang disingkapnya sampai ketiak, Ardan berlari mencari tukang kebun yang sering adu mulut dengannya.

Hemmm …. “Wanginya!” tidak jadi berlari ke belakang, langkahnya pun berbelok ke arah dapur.

“Astaga, Ardan! Manukmu gondal-gandul (burung goyang) iku!” bi Lilik mendramatisir keadaan, berseru lantang.

“Apa itu ndal ndul?” tanyanya sambil mengerem laju kaki.

Telunjuk bi Lilik teracung di benda mengerut pendek. “Burungmu itu kedinginan, pakai celana dulu sana!”

“Sus Suci dalam debu! Lebus ail, mau lendan bulung!” jawabnya spontanitas.

“Yo mlocot (lecet), bocah!” kali ini bibi benar-benar terkejut akan jawaban aneh anak majikannya.

“Apa itu cot cot?” Ardan berusaha mengingat sampai matanya menyipit.

“Alah mbuh,” bibi pusing sendiri, lalu dirinya kembali ke dapur membantu sang nyonya.

“Abang Ardan, pakai celana dulu, ya?” bujuk sang pengasuh seraya menenteng celana pendek.

“Malas aku tu.” Dia pun lari lagi masuk ke area dapur basah.

“Kok ada Ibu tili?”

“Selamat pagi Abang kurang tampan karena belum pakai celana.” Saniya membuka tali apron, dia baru selesai memasak sarapan pagi.

“Bialin … wlekkk.” Bibirnya mencebik, sorot mata menatap tajam ibu tiri. “Aku mau makan ayam goleng. Sekalang!”

Saniya mengode Suci, dan baby sitter paham, ia memberikan celana dalam genggaman.

“Pakai celananya dulu, baru Tante kasih Ayam goreng mentega dua paha besar, mau?” Saniya mengangkat ketiak Ardan, putra sambungnya di berdirikan pada meja dapur tanpa lemari penyimpanan atasnya.

Jika sedang menggunakan kaki palsu, dia kesulitan berjongkok

“Kok tega-tega (mentega), kan golengnya pakai minyak,” ia ingat ayam goreng yang dimasak oleh mbak Juraida.

“Ini beda, rasa baru.” Saniya menggulung ujung celana selutut, lalu memasukkan kaki kanan Ardan ke sana.

Otomatis kedua tangan Ardan berpegangan pada bahu ibunya. “Enak ndak?”

“Enak dong. Tante juga masak ifu mie campur udang, bakso ikan, gak pedes loh.” Celananya dinaikan sampai menutupi bokong Ardan, dan Saniya menurunkan baju balita tengah memainkan rambutnya.

“Benelan, gak tipu-tipu?” Matanya berbinar, mie termasuk makanan kesukaannya selain ayam goreng.

“Bener,” jawabnya sama antusiasnya.

Dibelakang, pada batas dapur basah dengan ruang makan — Yarash terpaku, sudut matanya berembun. Rasa hangat menjalar sampai ke sanubari.

‘Sekarang kamu bisa merasakan diperhatikan seorang ibu ya, Nak. Semoga mami Saniya memang yang terbaik untukmu Ardan.’ Ia berbalik badan demi menyeka sudut mata berair.

Kemudian melangkah lebar mencegah Saniya hendak menggendong Ardan.

“Biar Papi saja, Mi. Putra kita kelewat gendut, harus dipaksa olahraga dia!” Ia berdiri tepat di belakang Saniya, dadanya menekan punggung, dan sebelah tangan merangkul pundak wanita yang mematung.

“Aku tu mau digendong Ibu tili!” tiba-tiba Ardan melompat menabrak tubuh Saniya yang belum siap.

Saniya terhuyung, bukan jatuh ke lantai, tetapi masuk dalam dekapan pria yang memeluknya sekaligus Ardan.

Perutnya mengempis, jemari berlengan kokoh menuruni sisi badannya lalu bertengger diperut. Suara Yarash menggelitik bulu-bulu halus pada sudut bibirnya. Wajah mereka terlalu dekat, lalu sedetik kemudian benda kenyal lembab menempel di pipi bersemu kemerahan.

“Mas ....”

.

.

Bersambung.

1
bibuk Hannan & Afnan
ndadak tanya ke Mbah google dulu bunga ylang-ylang jebule kenanga toh 😄😄😄😄
bunga kenanga kan pdhl identik dgn berbau mistis
bibuk Hannan & Afnan
Saniya kamu menderita sedari kecil sakit rasanya jd kamu 😭😭😭
bibuk Hannan & Afnan
🤦🤣🤣🤣🤣🤣
maaf 🙏 ya Tatiana aku ketawa diatas sakitmu 😄😄😄 soalnya gak kuat sama polae Ardan
bibuk Hannan & Afnan
tersebut miring maksudnya tersenyum miring mungkin ya thor
Priskha
dasar ibu gendheng, gak hbs pikir aq sm jln pikirannya tuch nenek sihir....
bibuk Hannan & Afnan
ini pasti ulah Tatiana
bibuk Hannan & Afnan
trauma pasca kecelakaan wkt kecil umur 8 th ternyata belum hilang meski sudah 18 tahun silam kejadiannya,
bibuk Hannan & Afnan
si kompor bleduk ini Tatiana
bibuk Hannan & Afnan
😱😱😱 si colo harganya bikin nahan napas 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
aku juga ikutan syok nahan nafas Saniya 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
warna bola matanya mirip artis India Rani Mukherjee ya mas Yash,🤭
bibuk Hannan & Afnan
👍👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhir cerita yang mengharukan dan membahagiakan.👍
Baca marathon ceritanya sampe ga terasa sudah akhir bab.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍: Sama² Thor.🤗
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Huss Huuss sana jauh jauh para Hama, jangan ganggu lebahagiaan keluarga Yarash - Saniya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ga apa² Titania yang penting kamu sudah berusaha keras untuk jadi lebih baik dan mendapatkan nilai bagus jadi tetap semangat untuk terus melangkah maju.
Penyesalan emang datangnya di belakang karna kalau duluan pendafyaran.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Baguslah KENA SEMUA para murid² toxic bukan hanya Titania saja yang rugi.👍
bibuk Hannan & Afnan
kecelakaan dr usia 8 th hingga skrg sudah dewasa usia 26 th trauma masih ada tp orang tua abai, duh kebangetan orang tuanya Saniya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Iyalah datang saja sebagai tamu, bawa kado seadanya, ga usah lagi di pikirkan antara enak ga enak toh itu jauh lebih baik Saniya jadi kamu ga harus ikut beban mereka.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Yarash saingan terbesarmu yang mampu mengalahkan mu merebut perhatian Saniya bukan laki² lain di luar sana tapi si Bodel gemol anakmu sendiri./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
SKAK MATT sampe mampus si Jena./Joyful//Joyful//Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!