Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Keyna menarik tangan Keira menuju ruang tengah, tempat Bara, Gina, Arya, dan Segar sudah duduk berkumpul di sofa.
"Kau duduk di sebelah Kak Segar saja ya, tempat itu yang paling kosong," kata Keyna, lalu mendudukkan Keira di samping kakaknya.
Suasana ruangan terasa hangat dan penuh tawa. Mereka bercanda dengan riang, Arya terus menggoda Keyna yang sesekali mengerucutkan bibirnya tak terima. Keira hanya diam, sesekali menjawab pelan saat ditanya, namun tak ada yang benar-benar menyadari keberadaannya.
"Keyna, besok ulang tahunmu, hadiah apa yang Kakak berikan?" tanya Arya sambil mengusap lembut rambut adiknya.
Keyna mengerutkan kening. "Besok ulang tahunku?" Ia sendiri bahkan hampir lupa.
"Tentu saja, sayang," jawab Arya tersenyum melihat wajah bingung itu.
"Kalau begitu, kita rayakan di belakang taman saja ya?" ajak Keyna dengan semangat. "Keluarga pasti bisa merayakannya bersama-sama."
"Tentu saja, apa pun untukmu," Arya mengangkat tubuh Keyna dari tempat duduknya.
"Ke mana kau membawanya?" tanya Bara melihat putra pertamanya membawa Keyna pergi.
"Ajak tidur bersama dulu, Papa. Biar Papa yang siapkan acaranya untuk besok. Jangan sampai terlambat," seru Arya sambil berjalan pergi.
"Kak Segar juga ikut!" panggil Segar lalu bangkit menyusul mereka.
"Anak-anak ini memang..." gumam Gina sambil tersenyum, lalu menatap suaminya. "Sudahlah, Pa. Lebih baik kita siapkan sesuatu untuk malam ini."
Bara mengangguk, lalu keduanya berjalan pergi.
Keira berdiri sendirian di sudut ruangan. "Ulang tahun..." gumamnya pelan. Ia pun berulang tahun hari ini, sama seperti Keyna. Namun tak ada satu pun yang mengingatnya.
Tengah malam. Gina masuk ke kamar Keyna dengan kue kecil yang dihiasi lilin menyala.
"Selamat ulang tahun, sayangku," bisiknya lembut.
Keyna membuka matanya, masih mengantuk. "Ma... kenapa dirayakan malam-malam begini? Besok pagi saja bisa."
"Karena sekarang sudah lewat tengah malam, artinya hari ini adalah hari kelahiranmu," jelas Gina sambil tersenyum. "Ayo tiup lilinnya."
"Tapi kan pagi saja lebih baik," Keyna mengerucutkan bibir, merasa terganggu karena tidurnya terganggu.
"Bukankah setiap tahun kita selalu begini? Bahkan ulang tahun Kakak pun sama," kata Gina pelan, sedikit kecewa melihat sikap anaknya. Padahal setiap tahun, ia selalu membangunkan Keyna tepat di tengah malam untuk merayakan hari kelahirannya.
"Sudah, jangan membantah. Kau sudah besar, kurangi sifat keras kepalamu," ujar Bara yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu.
Keyna mendengus tak terima, namun tetap meniup lilin itu.
"Ini hadiah dari Papa, Mama, dan Kakak-kakakmu. Kita serahkan besok pagi saat acara ya," kata Bara.
Keyna tersenyum, lalu membagi kue itu kepada mereka. "Ini untuk Mama," potongan pertama diberikan kepada ibunya. "Ini untuk Papa." Dan seterusnya untuk Segar, lalu Arya. Semua tersenyum bahagia menerima kue itu.
Sementara itu, di balik pintu kamar yang tertutup, Keira berdiri diam. Tangannya mencengkeram gelas minum begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, luka-luka lama di tangannya terasa perih, namun ia tak peduli. Ia menahan tangisnya sekuat tenaga, tak ingin satu pun suara isak tangis keluar.
Ia juga ingin merayakan ulang tahunnya. Ia bahkan sudah menyiapkan hadiah, sebuah baju yang ia jahit sendiri dengan susah payah. Ia belajar dari tutorial di YouTube, tangannya terluka berkali-kali tertusuk jarum, namun ia tetap menyelesaikannya. Hanya untuk Keyna. Hanya untuk saudaranya yang tak pernah benar-benar mengingatnya.
'Aku juga ingin diperlakukan seperti itu. Aku juga berulang tahun hari ini. Bukan hanya Keyna saja...'