Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Bulan lalu, alokasi dana operasional untuk Klub Jurnalistik/Mading berjumlah Rp 750.000. Untuk apa dana sebesar itu? Mading kita hanya berisi kliping koran bekas dan puisi galau yang diganti sebulan sekali."
Siska yang duduk di sebelah Reyhan menundukkan kepalanya. "I-itu... pengajuannya untuk beli lem, spidol warna, karton, dan konsumsi rapat anak-anak Mading, Bel."
"Tujuh ratus lima puluh ribu untuk lem dan karton? Apakah karton itu terbuat dari daun emas? Dan kenapa ekstrakurikuler yang tidak menghasilkan output publikasi setingkat majalah sekolah harus mendapat biaya konsumsi dari kas umum?" cecar Bella tanpa ampun.
Reyhan berkeringat dingin. "Y-ya sudah tradisinya begitu. Setiap klub punya jatah anggaran bulanan tetap."
"Itu adalah kebijakan Fixed Budgeting yang usang dan korup," potong Bella tajam. Ia mencoret baris tersebut dengan garis merah tebal. "Mulai detik ini, sistem itu dihapuskan. Kita beralih ke Zero-Based Budgeting (Penganggaran Berbasis Nol)."
"Tunggu, tunggu, apa itu Zero-Based Budgeting?" tanya Reyhan kebingungan.
Dion, yang sudah sering mendengar istilah-istilah ini dari Bella selama sebulan terakhir, tiba-tiba menyeletuk dengan santai dari belakang. "Artinya, semua klub ekskul mulai dari saldo nol setiap bulan. Kalau mereka mau duit, mereka harus bikin proposal acara yang jelas fungsinya dan untungnya buat sekolah. Nggak ada proposal yang masuk akal, nggak ada duit. Gitu kan, Bos?"
Bella melirik Dion dengan apresiasi yang tulus. "Tepat sekali, Head of Security. Pemahaman bisnismu meningkat pesat."
Bella kembali menatap Reyhan. "Dengar, Reyhan. Saya melihat kalian sedang menyiapkan acara besar 'Festival Pendidikan' untuk semester depan, bukan? Saya melihat di catatan ini, kas utama OSIS kalian nyaris kosong karena tersedot oleh klub-klub parasit yang tidak berprestasi."
Bella menunjuk beberapa baris pengeluaran lain. "Klub Musik menghabiskan satu juta rupiah untuk perbaikan amplifier, tapi mereka tidak pernah memenangkan lomba band antar-sekolah selama tiga tahun. Klub Pecinta Alam meminta dana untuk camping, yang mana itu lebih terlihat seperti liburan pribadi yang disubsidi sekolah daripada kegiatan pendidikan."
"B-benar..." Reyhan akhirnya menunduk, bahunya merosot. "Aku selaku Ketua OSIS kewalahan. Ketua-ketua klub itu senior atau anak-anak populer. Kalau aku potong anggaran mereka, mereka memboikot acara OSIS."
"Kepemimpinan yang takut pada popularitas adalah kepemimpinan yang impoten," kata Bella tanpa basa-basi, membuat wajah Reyhan memerah karena malu. "Jika kamu tidak berani memotong anggaran mereka, aku yang akan memotongnya atas nama restrukturisasi akreditasi. Rindi!"
Rindi yang sejak tadi menunggu di luar pintu segera masuk membawa tumpukan dokumen baru. "Siap, Bos!"
"Cetak surat edaran pembekuan anggaran," perintah Bella layaknya dewa yang sedang menjatuhkan titah. "Tulis bahwa seluruh pencairan dana ekstrakurikuler ditangguhkan tanpa batas waktu. Setiap ketua klub wajib menghadap kepadaku dan Reyhan besok siang dengan membawa Rencana Strategis (Renstra) mereka. Jika mereka menolak, klub mereka akan dibubarkan secara administratif."
Reyhan membelalakkan matanya. "Bella! Kamu gila?! Besok siang ruang OSIS ini akan digeruduk oleh seluruh preman dan anak hits di sekolah! Mereka akan mengamuk!"
Bella tersenyum, sebuah senyuman tipis dan mematikan yang selalu muncul sebelum ia mengeksekusi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di perusahaan lamanya.
"Biarkan mereka mengamuk, Reyhan. Perubahan (Change Management) tidak pernah terjadi tanpa adanya gesekan. Jika mereka ingin berteriak, pastikan mereka membawa data. Kalau tidak, Dion dan tim keamanan saya akan mengajarkan mereka etika bertamu di dunia korporat."
Kekacauan yang diprediksi Reyhan benar-benar terjadi keesokan harinya pada jam istirahat siang. Surat edaran pembekuan anggaran yang ditempel di mading utama sekolah bereaksi seperti bensin yang disiram ke kobaran api. Pukul 12:15 WIB. Sekitar dua puluh siswa, yang terdiri dari para ketua ekstrakurikuler dan anggota inti mereka, berkerumun di lorong depan ruang Sekretariat OSIS. Wajah mereka merah padam karena marah. Garda terdepan dari kerumunan itu adalah Rio (Kapten Tim Basket, tinggi, atletis, dan arogan) serta Dika (Ketua Klub Band, berambut sedikit gondrong dan merasa paling keren di sekolah).
"Buka pintunya, Reyhan! Pengecut lo!" teriak Rio sambil menggedor pintu ruang OSIS dengan kepalan tangannya yang besar. "Lo pikir lo siapa berani-beraninya nahan duit kas tim basket?! Kita bentar lagi ada sparing (latih tanding) sama SMA Kencana!"
Pintu ruang OSIS terbuka perlahan. Namun, yang berdiri di ambang pintu bukanlah Reyhan yang gemetaran, melainkan Dion. ia berdiri tegak menutupi pintu, dadanya membusung, kedua tangannya disilangkan di depan dada. Meski Dion tidak memegang senjata apa pun, reputasinya sebagai mantan tukang pukul paling berbahaya di Geng Bone Breakerz membuat nyali Rio dan Dika sedikit ciut. Mereka refleks mundur satu langkah.
"Kalau mau masuk, antre," kata Dion dengan suara bariton yang berat dan tenang, sebuah teknik intimidasi tingkat lanjut yang diajarkan Bella. "Satu klub, satu perwakilan. Bawa proposal kalian. Yang teriak-teriak kayak monyet di kebun binatang, gue lempar keluar dari koridor ini. Paham?"
Rio mengertakkan gigi, tapi ia tidak berani mencari masalah fisik dengan Dion. "Minggir. Gue perwakilan basket."
Dion bergeser, membiarkan Rio dan Dika masuk ke dalam ruang OSIS, lalu menutup pintu dengan bantingan keras, mengunci sisa massa di luar. Di dalam ruangan, suasananya sangat kontras dengan kekacauan di luar. Ruangan itu telah ditata ulang, meja panjang diletakkan di tengah ruangan. Di salah satu sisi meja, duduk Reyhan yang berkeringat dingin, Siska yang sibuk mengetik notulensi di laptop, dan di kursi paling tengah memancarkan aura penguasa absolut duduklah Bella Anastasia.
"Silakan duduk, Saudara Rio, Saudara Dika," ucap Bella mempersilakan dengan tangan terbuka. Nada suaranya sangat sopan, namun sedingin suhu ruangan server.
Rio menolak duduk. Ia menggebrak meja dengan kedua tangannya, mencondongkan tubuh ke arah Reyhan, sama sekali mengabaikan Bella.
"Reyhan! Jelasin ke gue apa maksud surat edaran sampah itu! Anggaran bola dan konsumsi tim basket bulan ini mana?! Lo mau kita main basket pakai batu?!" bentak Rio.
"Jangan berteriak pada staf saya di dalam ruang rapat," suara Bella memotong tajam, volumenya tidak tinggi namun memiliki resonansi otoritas yang memaksa Rio untuk menoleh padanya. "Reyhan adalah Ketua OSIS, namun secara fungsional dalam audit ini. Saya adalah Project Manager-nya, keluhan finansial Anda berurusan dengan saya."
Dika, Ketua Klub Band, mendengus sinis. "Sejak kapan bos preman kayak lo ngurusin duit OSIS, Bel? Lo mau korupsi ya buat modal geng lo yang udah mati itu?"
Bella tidak terpancing emosinya sedikit pun. Ia mengambil dua buah map merah dari tumpukan di mejanya, membukanya, lalu memutarnya ke arah Rio dan Dika.
"Ini bukan tentang geng saya, ini tentang inkompetensi kalian berdua," kata Bella lugas, tanpa filter. Ia menunjuk grafik batang yang merosot tajam di dokumen tersebut.
"Tim Basket SMA Garuda," Bella membacakan data. "Anggaran terserap tahun lalu dengan total enam juta rupiah untuk bola, kostum, dan konsumsi. Hasil capaian (KPI Eksternal), gugur di babak penyisihan turnamen antar-sekolah tingkat kota selama dua tahun berturut-turut. Kalian menyedot 30% total dana kesiswaan, tetapi tidak memberikan Brand Awareness (publisitas positif) apa pun untuk sekolah. ROI kalian adalah minus."
Wajah Rio berubah dari merah menjadi ungu. "Heh! Basket itu soal mental dan proses! Lo nggak ngerti olahraga!"
"Saya mengerti angka," balas Bella tanpa berkedip. "Dan angka tidak peduli pada proses jika output-nya selalu gagal."
Bella kemudian beralih ke Dika. "Klub Band. Pengeluaran total empat juta rupiah. Prestasi? Nol. Kalian hanya menggunakan ruang kedap suara sekolah untuk nongkrong dan bermain musik cover tanpa pernah mengikuti kompetisi resmi. Kalian bukan ekstrakurikuler, kalian adalah Lounge (ruang santai) yang disubsidi oleh uang kas siswa."
"Terus lo mau apa sekarang?!" geram Dika, merasa terpojok oleh fakta empiris yang tidak bisa ia bantah.
Bella menyodorkan dua lembar kertas HVS yang berisi format Surat Perjanjian Kinerja (SLA/Service Level Agreement).
"Ini adalah kontrak KPI baru untuk klub kalian," jelas Bella. "Anggaran tidak dihapuskan, melainkan dibekukan. Jika Tim Basket ingin dana cair, kalian harus menandatangani komitmen tertulis bahwa kalian akan lolos minimal ke babak Semi-Final di turnamen bulan depan. Jika Klub Band ingin dana cair, bawa proposal partisipasi Festival Musik tingkat provinsi ke meja saya besok."
Bella melipat tangannya di atas meja, menatap kedua remaja populer itu dengan tatapan predator korporat.
"Ini adalah Performance-Based Funding (Pendanaan Berbasis Kinerja). Kalian berprestasi, kalian dibayar. Kalian gagal, klub kalian di defund (dicabut dananya) dan ruangannya akan saya alihfungsikan untuk gudang buku perpustakaan. Pilihan ada di tangan kalian."
Rio dan Dika terbungkam, mereka terbiasa mendapatkan uang hanya dengan modal senioritas dan intimidasi. Sekarang, mereka dihadapkan pada sistem meritokrasi (berbasis prestasi) yang dingin, rasional, dan kejam. Di belakang mereka, Dion berdiri bersandar di pintu sambil tersenyum menyeringai, menikmati pemandangan bagaimana bosnya menghancurkan mental orang-orang arogan hanya menggunakan kertas dan data.
"Gue... gue tanda tangan," gumam Rio akhirnya dengan gigi terkatup. Ia menyambar pulpen dan menandatangani kontrak tersebut, siswa itu terlalu gengsi jika tim basketnya dibubarkan. Dan Dika dengan enggan melakukan hal yang sama.
"Keputusan bisnis yang bijak," Bella mengambil kembali kertas tersebut dan menyerahkannya kepada Siska untuk diarsipkan. "Rapat selesai. Silakan keluar dan beri tahu antrean di luar bahwa persyaratan yang sama berlaku untuk mereka semua."
Saat Rio dan Dika berjalan keluar dengan kepala tertunduk layaknya karyawan yang baru saja diancam SP-3, Reyhan menatap Bella dengan kekaguman yang nyaris menyerupai penyembahan.
"Bella... kamu baru saja menundukkan dua ego terbesar di sekolah ini dalam waktu kurang dari lima menit," bisik Reyhan takjub.
"Itulah esensi dari Audit dan Restrukturisasi, Reyhan," jawab Bella sambil merapikan dokumennya dengan tenang. "Ketika kamu menghilangkan wilayah abu-abu (perasaan dan koneksi) dan menggantinya dengan metrik hitam-putih (data kinerja), semua ego akan runtuh dengan sendirinya. Sekarang, mari kita audit Klub Teater."
Hari itu, sejarah baru terukir di SMA Garuda. OSIS tidak lagi menjadi organisasi birokrasi siswa yang lambat dan penuh korupsi anggaran. Di bawah kendali bayangan Sang Manajer HRD, sekolah ini baru saja bertransformasi menjadi korporasi mini yang beroperasi dengan tingkat efisiensi yang brutal. Pengaruh Bella kini benar-benar telah menyebar ke seluruh penjuru sekolah.