Indonesia
NovelToon NovelToon
Before The Red Winter

Before The Red Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Segeralah Kembali

Aiden meninggalkan kamar Mikael dengan sedan biru di tangan kanan dan sebuah mainan tentara di tangan kiri. Dmitri tetap berdiri dekat pintu sampai Aiden berbelok di ujung koridor, tetapi pria itu tidak mengulang perintah agar dirinya kembali kepada Marcus.

Langkah Aiden melambat saat mencapai lift. Rasa senang karena memperoleh mainan baru mulai surut, digantikan kembali oleh ingatan mengenai kalimat yang dilemparkannya kepada ayahnya sebelum pergi.

Ia tidak seharusnya mengatakan bahwa dirinya membenci Marcus. Kalimat itu masih terasa keras bahkan ketika hanya diulangi di dalam kepala.

Marcus telah merawatnya seorang diri sejak Miranda menghilang. Ayahnya memasak untuknya, memperbaiki pakaian yang sobek, menunggu ketika ia sakit, mengajarinya membaca, dan mempertaruhkan nyawa untuk membawanya keluar dari Haven.

Aiden bahkan pernah melihat Marcus berdiri di antara dirinya dan puluhan Remnant tanpa memikirkan keselamatan sendiri. Semua itu tidak terhapus hanya karena satu kebohongan, meskipun kebohongan tersebut telah disimpan selama setengah usia Aiden.

Ia masih tidak setuju dengan keputusan ayahnya. Marcus seharusnya mengatakan bahwa Miranda dibawa raider dan tidak pernah ditemukan, bukan menciptakan penyakit yang tidak dapat diingat Aiden.

Kedua perasaan itu tidak mau menyatu. Rasa bersalah membuatnya ingin meminta maaf, sedangkan kemarahan membuat bagian lain di dalam dirinya menolak melupakan apa yang baru saja diketahui.

Pintu lift terbuka setelah tombol dipencet. Aiden masuk seorang diri, menekan angka satu, lalu berdiri di sudut sambil memeluk kedua mainan agar tidak terjatuh ketika lantai mulai bergerak.

Rasa geli kembali muncul pada perutnya. Kali ini tidak ada tawa yang keluar, karena Aiden sibuk menyusun kalimat yang akan diucapkan saat melihat Marcus.

Tidak satu pun terdengar benar. Kata maaf terasa terlalu kecil, sementara penjelasan mengenai kemarahannya akan membuat mereka kembali membicarakan Miranda sebelum Aiden siap mendengar lebih banyak.

Lift berhenti pada lantai bawah dengan sentakan lembut. Aiden keluar bersama dengung mesin, lalu menyelipkan mainan tentara ke dalam saku agar satu tangannya bebas.

Ia melewati ruang depan dan mengambil lorong menuju kamar mereka. Beberapa orang berjalan dari arah berlawanan, tetapi Aiden tidak lagi memedulikan pandangan yang berhenti pada pakaian kebesaran atau ketapel yang mencuat dari saku kemeja.

Ketika berbelok menuju koridor terakhir, suara Marcus terdengar sebelum kamar mereka terlihat. Nada bicaranya tinggi dan cepat, berbeda dari suara yang biasa digunakan untuk berbicara kepada orang asing.

Marcus berdiri bersama seorang penjaga di tengah lorong. Ia telah mengganti pakaian kotor dari perjalanan dengan kemeja bersih berwarna kelabu dan celana yang ukurannya hampir sesuai, tetapi rambut cokelat pendeknya masih berantakan dan bagian kiri wajahnya tetap bengkak.

Kedua tangannya bergerak ketika berbicara. Salah satunya menunjukkan tinggi kira-kira sampai pinggang Marcus, sementara tangan lain beberapa kali menunjuk menuju persimpangan lorong.

“Kau melihat putraku?”

Penjaga muda itu berdiri kaku di hadapannya. Rambutnya dipotong pendek, tubuhnya kekar di balik seragam, dan senapannya tergantung pada dada.

“Tingginya kira-kira segini. Rambutnya cokelat sepertiku, dan dia memakai kemeja yang terlalu besar.”

Marcus menurunkan tangannya hanya untuk mengangkatnya kembali. Napasnya terdengar berat, seolah ia telah berlari menyusuri beberapa lorong sebelum menemukan penjaga tersebut.

Penjaga itu memandang ke arah ruangan depan. Kerutan muncul di antara alisnya ketika ia mencoba mengingat.

“Aku melihat seorang anak memasuki lift tadi.”

Bahu Marcus langsung mengeras. Ia mengambil satu langkah mendekati penjaga sampai pria muda itu harus mengangkat dagu untuk mempertahankan tatapan.

“Apa? Kau tidak menghentikannya?”

Suara Marcus memantul sepanjang lorong. Tangan penjaga berpindah mendekati tali senapan, tetapi Aiden berbicara sebelum pertengkaran tersebut berkembang.

“Dad.”

Marcus menoleh. Kemarahan pada wajahnya hilang begitu cepat hingga mulutnya masih terbuka tanpa ada kalimat berikutnya.

Matanya memeriksa Aiden dari kepala sampai kaki. Setelah memastikan orang yang berdiri di ujung lorong memang putranya, Marcus meninggalkan penjaga dan berlari.

Aiden hanya sempat memindahkan sedan biru dari depan dada. Marcus mencapai dirinya dalam beberapa langkah, berlutut, lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukan.

Kedua lengan besar itu menekan Aiden begitu rapat sampai mobil-mobilan terjepit di antara tubuh mereka. Bau sabun dari kemeja bersih Marcus bercampur dengan keringat baru yang muncul akibat kepanikan.

“Maafkan aku, Nak.”

Suara Marcus terdengar dekat telinga Aiden. Napasnya masih cepat, dan salah satu tangannya menahan belakang kepala bocah itu agar tetap merapat pada bahunya.

Aiden tidak menjawab. Kata maaf yang telah disusunnya di dalam lift hilang ketika merasakan tubuh ayahnya gemetar tipis.

Marcus melepaskan pelukan hanya sejauh satu lengan. Kedua tangannya langsung bergerak memeriksa bahu, lengan, wajah, dan sisi kepala Aiden.

Ia melihat telapak tangan serta lututnya, kemudian menyentuh kemeja pada bagian rusuk untuk mencari darah. Gerakannya cepat dan tidak teratur, membuat sedan biru hampir terlepas dari tangan Aiden.

“Aku baik-baik saja.”

Marcus berhenti memeriksa. Kedua tangannya kembali pada bahu Aiden dan bertahan di sana, sementara matanya memastikan ucapan tersebut sesuai dengan apa yang dilihatnya.

“Jangan pergi sendirian lagi.”

Aiden mengangguk. Rasa bersalah kembali menekan dadanya saat melihat ketakutan yang belum sepenuhnya pergi dari wajah Marcus.

“Katakan.”

Nada Marcus tidak keras, tetapi tidak memberi ruang bagi anggukan saja. Jari-jarinya menekan bahu Aiden sampai bocah itu mengangkat wajah.

“Aku berjanji.”

Marcus menariknya ke dalam pelukan untuk kedua kalinya. Kali ini tekanannya lebih ringan, tetapi berlangsung lebih lama dan baru dilepaskan setelah napasnya kembali teratur.

Penjaga muda itu masih berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia mengalihkan wajah ke sisi lain dan tidak mengatakan apa pun mengenai anak yang dibiarkannya memasuki lift.

Marcus berdiri sambil menjaga satu tangan pada belakang leher Aiden. Ia mengucapkan sesuatu yang terlalu pelan untuk didengar kepada penjaga, kemudian membawa putranya kembali menuju kamar.

Aiden berjalan dekat sisi ayahnya. Mereka tidak membicarakan Miranda, ucapan benci, kamar Mikael, ataupun janji latihan yang baru diberikan Dmitri.

Pintu ruangan hijau telah terbuka. Saat mereka masuk, Aiden melihat Robin duduk pada ranjang tengah dengan pakaian yang sudah diganti.

Kemeja kebesaran dari gudang Haven tidak lagi menutupi tubuhnya. Ia kini mengenakan blus bersih dan rok panjang sederhana, sedangkan rambut pirangnya telah disisir sampai tidak lagi menempel kusut pada pipi.

Beberapa bunga berwarna merah, kuning, putih, dan ungu tersebar di atas kain pada pangkuannya. Robin sedang melilitkan tangkai-tangkai tersebut menggunakan benang untuk membentuk rangkaian kecil.

Bau tanah dan bunga segar memenuhi bagian tengah kamar. Aroma itu menutupi sebagian bau lembap dari dinding serta logam tua pada rangka ranjang.

Robin mengangkat kepala saat Aiden masuk. Pandangannya turun pada sedan biru, lalu berhenti pada sesuatu yang mencuat dari saku celana Aiden.

Aiden menarik mainan tentara tersebut keluar. Sosok kecil itu terbuat dari bahan keras berwarna hijau, membawa senapan pada dada, dan berdiri di atas alas pipih.

“Ini.”

Ia menyerahkannya kepada Robin. Gadis itu meletakkan rangkaian bunga pada pangkuan, menerima mainan menggunakan dua jari, lalu memutarnya untuk memeriksa bagian depan serta belakang.

Kerutan muncul pada dahinya. Ia mengangkat sosok kecil tersebut sejajar dengan mata sebelum memandang Aiden.

“Ini laki-laki.”

Aiden mengulurkan tangan kembali. Rasa malu membuat jawabannya keluar lebih ketus daripada yang direncanakan.

“Kembalikan kalau kau tidak mau.”

Robin segera menarik tangan yang memegang mainan mendekati dada. Kerutan pada dahinya belum hilang, tetapi sudut mulutnya bergerak tipis.

“Tidak. Aku akan menyimpannya.”

Ia meletakkan tentara kecil itu di antara bunga-bunga pada pangkuannya. Sosok hijau tersebut berdiri miring di antara kelopak merah dan kuning.

“Terima kasih.”

Aiden mengangguk. Ia tidak mengatakan bahwa Dmitri menyuruhnya mengambil satu mainan untuk Robin atau bahwa tentara tersebut dipilih karena tampak paling kuat di antara isi kotak.

Marcus mendekati lemari dan mengambil satu tumpukan pakaian yang diletakkan Selma di sana. Ia kembali membawa kemeja, celana, pakaian dalam, dan selembar kain bersih yang ditumpuk rapi.

“Bersihkan dirimu dengan air, lalu ganti pakaianmu.”

Aiden menerima tumpukan tersebut menggunakan kedua lengan. Bau sabun melekat pada kain dan membuatnya semakin menyadari keringat, debu, serta asap yang menempel pada tubuh sendiri.

Ia berjalan menuju ranjang pojok. Sedan biru diletakkan di dekat bantal, kemudian ketapel dikeluarkan dari saku kemeja dan diletakkan di samping mainan tersebut.

Kayu hitam dan mobil berwarna biru tampak ganjil berada di atas kain ranjang yang bersih. Aiden sempat menyentuh atap mobil satu kali sebelum kembali mengangkat pakaian ganti.

“Kamar mandinya berada di ujung lorong.”

Marcus menunjuk ke arah pintu. Wajahnya telah kembali tenang, tetapi matanya tetap mengikuti setiap gerakan Aiden.

Aiden melangkah keluar sambil membawa pakaian dan kain bersih. Ia baru melewati ambang ketika suara Marcus menghentikannya.

“Aiden.”

Aiden menoleh. Marcus berdiri pada tempat yang sama, dengan satu tangan masih terangkat setelah menunjukkan arah lorong.

“Ya?”

Marcus menurunkan tangannya. Ia memandang Aiden selama beberapa saat sebelum berbicara.

“Segeralah kembali setelah selesai.”

Aiden mengangguk. Ia merapatkan pakaian bersih ke dada, lalu melanjutkan langkah menuju kamar mandi tanpa membuat ayahnya meminta janji untuk kedua kalinya.

1
Pena Quality
nice, saling support
Annabelle
Lanjutkan 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!