"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: HARAPAN DI UJUNG KEABADIAN
Mu Bingyun mencerna setiap patah kata yang keluar dari bibir Ketua Agung dengan keheningan yang serba menekan.
Sebagai penguasa Sekte Es Abadi yang telah mencapai ranah Sovereign tingkat menengah, ia paham betul makna tersembunyi di balik pengakuan Han Wuyan. Ini bukan sekadar tentang raga tua yang mengikis oleh waktu, melainkan penolakan mutlak dari hukum alam itu sendiri.
Di puncak ranah Ascendant yang diduduki Han Wuyan, penolakan dari hukum dunia Benua Tianlan yang telah retak ini semakin terasa nyata dan menindas. Dunia fana yang hancur akibat Bencana Langit lima ratus tahun lalu tak lagi memiliki fondasi yang cukup kokoh untuk menampung keberadaan sesosok praktisi setingkat Ascendant. Energi spiritual sang Ketua Agung terlalu masif, bagaikan lautan luas yang dipaksa masuk ke dalam wadah tanah liat yang retak.
Jika Han Wuyan terus memaksakan diri untuk memancarkan aura puncaknya di alam fana ini, bimbingan hukum dunia justru akan berbalik menghancurkan raga serta jiwanya secara perlahan.
Seolah tahu persis apa yang sedang mengusik benak murid utamanya, Han Wuyan kembali menghembuskan napas pelan. Hawa dingin purba keluar dari bibirnya, membentuk kabut tipis yang melayang melintasi undakan takhta.
"Masih ada beberapa tahun lagi, Bingyun..." ucap Han Wuyan, suaranya terdengar lembut namun membawa gema keagungan yang tak tergoyahkan.
"Sebelum waktu itu benar-benar tiba, kau harus siap menanggung seluruh beban dan keberlangsungan Sekte Es Abadi di atas pundakmu sendiri."
Mu Bingyun mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jemari tangannya yang berkulit putih mulus bagai porselen mengepal halus di atas takhta batu kristal.
"Untuk bisa melindungi benteng ini dari serigala-serigala serakah Sekte Angin Surgawi dan faksi luar lainnya," lanjut Han Wuyan, sepasang mata tuanya memancar kilat kejelasan yang menembus malam, "kau harus menembus batasmu saat ini. Kau harus naik ke ranah Sovereign tingkat tinggi agar memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menopang Sekte Es Abadi."
Naik ke ranah Sovereign tingkat tinggi...
Kata-kata itu terdengar sangat sederhana di dalam keheningan Aula Agung, namun implikasi di dalamnya begitu berat. Di ranah kultivasi tingkat tinggi, setiap celah kecil antartingkatan membutuhkan pemahaman Hukum Es yang teramat sangat mendalam serta pasokan Qi spiritual murni dalam jumlah yang tak terbayangkan. Tanpa adanya kesempatan besar, seorang praktisi jenius sekalipun bisa terjebak di ranah Sovereign tingkat menengah selama ribuan tahun tanpa hasil.
Seakan membaca kembali kegelisahan yang membayang di raut wajah cantik muridnya, Han Wuyan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kearifan.
"Tapi kau tidak perlu berkecil hati, Bingyun. Masih ada cukup waktu sampai Teratai Surgawi tumbuh dan mekar secara sempurna."
Mendengar nama tumbuhan magis tersebut diucapkan, Mu Bingyun mendongak secara mendadak. Sepasang matanya yang sewarna batu safir kelam berbinar terang, memancarkan percikan harapan di tengah riak kekhawatirannya.
Mu Bingyun mengangguk pelan, menyetujui ucapan sang Ketua Agung tanpa membantah sedikit pun.
Ia paham betul betapa berharganya keberadaan Teratai Surgawi tersebut. Tumbuhan obat tingkat nirwana yang tumbuh tersembunyi di kedalaman tanah es terlarang itu adalah satu-satunya jalan pintas yang masuk akal baginya. Dengan menyerap esensi murni dari Teratai Surgawi ketika mekar nanti, ia bisa menghemat ratusan tahun masa kultivasi yang membosankan dan langsung menembus kemacetan ranah Sovereign tingkat menengah menuju tingkat tinggi.
Jika ia berhasil mencapai tingkatan itu sebelum Han Wuyan harus mengasingkan diri atau meninggalkan dunia fana ini, Sekte Es Abadi akan tetap memiliki penguasa yang ditakuti oleh sekte-sekte luar.
Han Wuyan kemudian mengalihkan pandangan tuanya kembali ke arah dua figur yang sejak tadi berdiri membisu di bawah undakan takhta. Sinar matanya menyapu wajah Mo Xie yang masih tampak tenang, lalu beralih pada Xue Qingyue.
"Pertempuran di celah selatan dan perjalanan panjang telah menguras raga kalian," ujar Han Wuyan, melambaikan tangan kanannya secara perlahan.
"Sekarang, kalian berdua pergi dan beristirahatlah."
Sang Ketua Agung memberi penekanan khusus pada Xue Qingyue saat ia melanjutkan instruksinya.
"Qingyue, bawa pemuda ini ke kediaman murid. Berikan dia beberapa kristal es murni dari perbendaharaan sekte, dan biarkan dia melatih sirkulasi Qi milikinya di tempat yang aman."
Xue Qingyue segera membungkukkan badannya dengan hormat, menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Menerima perintah Ketua Agung," jawab Xue Qingyue jernih.
Di sampingnya, Mo Xie memandang ke arah Han Wuyan dan Mu Bingyun secara bergantian.
Meskipun ia masih berada di ranah Mortal yang sangat rendah di mata para petinggi ini, otaknya yang tajam telah merekam setiap detail percakapan politik dan kondisi kekuatan sekte barusan. Waktu yang dimiliki Sekte Es Abadi ternyata sama sempitnya dengan waktu yang ia miliki untuk menjadi kuat.
Tanpa mengumbar kata-kata yang tak perlu, Mo Xie kembali menangkupkan tinjunya, memberikan penghormatan singkat namun tegas kepada dua eksistensi tertinggi di aula tersebut.
"Mari, Mo Xie," bisik Xue Qingyue pelan, membalikkan tubuhnya yang anggun dan melangkah mendahului menuju pintu keluar.
Mo Xie berbalik, merapatkan jubah hitamnya yang koyak, lalu melangkah lebar menyusul jejak Xue Qingyue.
Pintu kristal es Aula Agung yang setinggi puluhan meter perlahan bergeser terbuka, memancarkan kabut putih dingin yang menyambut langkah mereka berdua. Saat kedua figur itu melangkah keluar melintasi ambang pintu, gerbang batu purba di belakang mereka perlahan terkatup kembali dengan dentuman halus yang bergaung panjang.
Aula Agung kembali diliputi oleh kesunyian yang mencekam, menyisakan Han Wuyan dan Mu Bingyun yang bertakhta di atas kegelapan es, menatap masa depan Benua Tianlan yang kian kelam.
Langkah kaki Mo Xie dan Xue Qingyue menyusuri lorong-lorong batu kristal yang membeku di dalam lingkup dalam sekte.
Di sini, di balik perlindungan formasi kuno yang ditinggalkan oleh para leluhur, hawa dingin tidak lagi terasa seperti silet yang mengikis kulit, melainkan memancar sebagai pasokan Qi spiritual murni yang teramat padat. Setiap kali Mo Xie menghembuskan napas, ia dapat merasakan bagaimana kelembapan es di udara secara pasif terserap masuk ke dalam pori-pori kulit fananya.
Inti Es Abadi yang bersemayam di balik mata kiri Mo Xie berdenyut halus. Pendar biru gletsernya memancar redup namun stabil, menyerap setiap helai Qi dingin di lorong tersebut untuk menetralkan sisa-sisa gejolak Qi Kegelapan dari Pedang Kehampaan yang masih mengendap di lengan kanannya.
"Kau beruntung Ketua Agung memberikan izin penggunaan kristal es murni untukmu," ujar Xue Qingyue tanpa menoleh, rambut seputih saljunya berkibar lembut seiring langkah kakinya yang konstan.
"Kristal es dari perbendaharaan sekte mengandung esensi spiritual murni dari kedalaman pegunungan abadi. Bagi seorang praktisi di ranah Mortal sepertimu, daya muat energi di dalamnya sangat lebih dari cukup untuk menuntun sirkulasi Dantian milikmu menuju ambang batas penerobosan."
Mo Xie meraba pergelangan tangan kanannya yang masih terbalut rapat oleh kain hitam. Ia menyeringai tipis, sebuah seringai dingin yang dipenuhi tekad liar.
"Ambigu atau tidaknya waktu yang tersisa..." gumam Mo Xie rendah, suaranya teredam oleh desau halus angin lorong. "...ranah Mortal ini sudah terlalu lama mengurungku."
Ia mendongak, menatap ke arah ujung lorong batu tempat kamar tempat tinggalnya berada.
"Aku butuh kristal-kristal itu sekarang. Aku akan menembus ke ranah Awakened."