Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setelah drama semalam, Alina baru bisa memejamkan mata menjelang pukul satu dini hari. Itu pun setelah beberapa kali memastikan Lorenzo benar-benar tidur dan tidak tiba-tiba mengeluarkan ide aneh lagi.
Akibatnya, pagi ini dia bangun kesiangan. Begitu membuka mata, Alina langsung meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Matanya membulat melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat.
"Astaga!"
Alina langsung bangkit dari tempat tidur. Rambut panjangnya berantakan, sementara selimut yang semula menutupi tubuhnya terlempar begitu saja ke lantai. Biasanya, dialah yang bertugas membangunkan Lorenzo. Namun, pagi ini sisi tempat tidur pria itu sudah kosong.
"Ke mana dia?"
Alina buru-buru keluar kamar. Dia sempat mengira Lorenzo mungkin pergi ke ruang kerja. Namun, baru beberapa langkah, hidungnya menangkap aroma mentega dan telur goreng dari arah dapur.
Alina mempercepat langkah. Begitu sampai di ambang pintu dapur, langkahnya mendadak terhenti. Lorenzo ada di sana.
Pria itu berdiri di depan kompor dengan mengenakan kaus sederhana dan celana panjang santai. Rambutnya masih sedikit berantakan, tetapi entah kenapa pemandangan itu justru membuat Alina terpaku.
Di tangannya terdapat spatula, sementara sebuah teflon berada di atas kompor. Di dalamnya ada telur ceplok yang bagian pinggirnya mulai kecokelatan.
Alina berkedip beberapa kali. Dia belum pernah melihat Lorenzo memasak.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, pria itu lebih sering duduk di meja makan sambil menunggu makanan tersaji atau pergi makan di luar. Melihatnya sekarang berdiri di dapur dengan ekspresi serius hanya karena hendak menggoreng telur terasa seperti melihat matahari terbit dari arah barat.
"Kenapa dia terlihat keren banget ketika sedang memasak?!" Alina tanpa sadar tersenyum. Mata Alina berbinar.
Astaga. Ternyata si kulkas bisa juga memasak. Lihat itu! Tangannya memegang spatula dengan gagah. Kenapa cuma masak telur ceplok saja kelihatannya seperti sedang syuting iklan suami idaman?
Lorenzo yang sedang berkonsentrasi hendak membalik telur mendadak membeku. Spatula di tangannya berhenti di udara. Keningnya berkerut. Suara Alina kembali terdengar begitu jelas di kepalanya.
Suami idaman?
Lorenzo menoleh sedikit. Di belakangnya, Alina masih berdiri dengan mata berbinar-binar.
"Jangan-jangan dia benar-benar memujiku?" gumam Lorenzo dalam hati.
Entah karena terkejut, salah tingkah, atau konsentrasinya buyar, gerakan tangannya menjadi terlalu kuat ketika membalik telur. Telur ceplok itu bukannya kembali ke dalam teflon. Telur tersebut justru melayang ke udara.
Alina mendongak, begitu juga dengan Lorenzo. Keduanya mengikuti perjalanan telur itu selama beberapa detik. Lalu...
Plok!
Telur ceplok tersebut mendarat tepat di atas kepala Lorenzo.
"Ya Tuhan!" Alina menutup mulut.
Lorenzo berdiri kaku. Sebagian putih telur menempel di rambutnya, sementara kuning telur yang masih utuh bergoyang di atas kepalanya sebelum akhirnya meluncur perlahan ke dahinya.
"Astaga, kenapa bisa begini?!" batin Lorenzo kesal.
Pria itu menunduk. Telur itu pun jatuh tepat ke teflon.
Alina menggigit bibir sekuat tenaga. Bahunya mulai bergetar. Baru beberapa detik lalu dia menganggap Lorenzo terlihat keren seperti suami idaman. Sekarang pria itu justru berdiri dengan telur di kepala. Imej keren tersebut lenyap tanpa bekas.
"Kenapa?" tanya Lorenzo sambil mengusap rambutnya.
"Tidak ada."
Alina memalingkan wajah agar Lorenzo tidak melihat bibirnya yang mulai bergetar menahan tawa.
Jangan tertawa, Alina. Jangan tertawa! Dia suamimu. Tapi, bisa-bisanya telur itu harus mendarat tepat di kepala Lorenzo?
Lorenzo memicingkan mata. Dia tahu istrinya sedang menahan tawa sambil mengatainya dalam hati.
"Aku mau mandi dulu sebelum sarapan."
Alina segera menunjuk ke arah kamar. Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan berlari kecil meninggalkan dapur. Dia menutup mulut dengan kedua tangan.
Begitu sampai di lorong, Alina akhirnya tidak sanggup lagi. "Hihihi!"
Sementara itu, Lorenzo masih berdiri di dapur dengan wajah masam. Dia mengambil napas panjang, lalu membersihkan kepalanya.
"Bagus. Baru sekali memasak sudah dipermalukan telur."
Beberapa saat kemudian, Alina sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
Ketika masuk ke ruang makan, dia langsung berhenti di depan meja. Di atas meja sudah tersedia sarapan. Roti bakar, telur ceplok, dan salad sayuran tersusun rapi.
Lorenzo duduk di seberangnya sambil memegang cangkir kopi. Rambutnya sudah kembali rapi, seolah insiden telur beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
Alina duduk perlahan. Matanya langsung tertuju pada telur. Dia kemudian melirik Lorenzo, lalu kembali melihat telur.
Lorenzo mengangkat alis. "Itu telur baru," ucapnya datar.
Alina langsung tahu maksudnya. Pria itu ternyata masih kesal karena telur pertama tadi gagal mendarat di teflon.
Alina menahan senyum. Dia mengambil roti, lalu mulai makan. Begitu mencicipi telur, matanya langsung membesar.
Ternyata enak.
Alina menoleh ke arah Lorenzo. "Kamu yang membuat semuanya?"
Lorenzo mengangguk santai. "Iya."
Alina kembali makan dengan lahap.
Lumayan juga. Ternyata si kulkas punya fungsi lain selain bikin orang pusing dan kesal.
Lorenzo yang sedang minum kopi langsung berhenti. Dia menatap Alina dengan tatapan datar.
"Kenapa? Kamu pikir aku tidak bisa memasak!""
Alina hampir tersedak. Dia buru-buru menutup mulut sambil pura-pura sibuk mengunyah.
***
Hari itu Alina ikut bersama Lorenzo menghadiri pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya, Juan Morales. Pertemuan berlangsung di sebuah ruang rapat privat.
Juan merupakan pria paruh baya dengan pakaian mahal dan sikap percaya diri yang berlebihan. Sejak awal pertemuan, tatapannya beberapa kali berpindah dari Lorenzo ke Alina.
Alina awalnya berusaha mengabaikannya. Namun, setelah beberapa kali pria itu menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, kesabarannya mulai menipis. Dia menggeser posisi duduk sedikit lebih dekat ke Lorenzo.
Juan masih saja melirik.
Alina mengembuskan napas pelan.
Dasar tua bangka! Pantas saja dibenci sama anak-anaknya, matanya jelalatan terus tiap melihat wanita.
Lorenzo yang sedang membaca proposal langsung mengangkat kepala. Tatapannya berpindah kepada Juan.
Benar saja. Juan sedang menatap Alina sambil tersenyum lebar.
Rahang Lorenzo mengeras. Tangannya yang memegang tumpukan kertas perlahan mencengkeramnya sampai lembaran-lembaran itu berkerut. Entah kenapa, melihat pria lain memandang Alina seperti itu membuat dadanya terasa panas. Dia menutup proposal dengan suara cukup keras.
"Tuan Juan Morales."
Juan segera mengalihkan pandangan. "Ya, Tuan Lorenzo?"
"Proposal yang Anda ajukan masih banyak kesalahan." Lorenzo mendorong berkas itu ke tengah meja dengan tatapan dingin. "Buat ulang. Besok suruh sekretaris Anda mengirimkannya kepadaku."
Juan tampak terkejut. "Tapi, Tuan Lorenzo, kita baru—"
"Tidak ada yang perlu dibahas lagi." Nada suara Lorenzo membuat ruangan seketika sunyi.
Juan membuka mulut, tetapi akhirnya menutupnya kembali.
Lorenzo berdiri. "Kita selesai."
Alina yang sejak tadi duduk diam segera ikut berdiri. Dia mengambil tasnya dan berjalan mengikuti Lorenzo keluar dari ruang rapat.
Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Alina mengembuskan napas lega. **Syukurlah! Akhirnya bebas dari pria tua bangka itu!**
Lorenzo meliriknya sekilas. Sudut bibirnya hampir terangkat..
Begitu mobil mulai meninggalkan gedung, Lorenzo berkata dengan suara tenang, "Kedepannya, jika kamu bertemu dengan pria yang kurang ajar, hajar saja."
Alina langsung menoleh. Matanya membulat. "Hah?"
Lorenzo tetap menatap jalan.
"Tapi ... kalau nanti aku dilaporkan ke polisi bagaimana?" tanya Alina polos.
Lorenzo justru terlihat santai. "Tenang. Kita punya tim pengacara hebat dan uang kita banyak."
Alina mengedipkan mata bulatnya beberapa kali.
"Lagian," lanjut Lorenzo, "kamu bisa beralasan membela diri karena jadi korban."
Alina terdiam beberapa saat. Kemudian bibirnya perlahan melengkung lebar.
"Oke, kalau begitu!"
Lorenzo meliriknya. Melihat wajah Alina yang tampak puas, dia tiba-tiba merasa khawatir.
Kenapa dia terlihat senang sekali?
Berarti kalau ada pria kurang ajar, aku boleh memukulnya? Alina sendiri sudah membayangkan banyak hal.
Wah, ternyata menikah dengan orang kaya ada manfaatnya juga!
Lorenzo menggelengkan kepala. Dia kemudian melihat ke kanan dan kiri jalan sebelum berkata, "Kita makan siang di restoran saja."
Alina mengangguk. "Baik."
Mereka akhirnya berhenti di sebuah restoran Italia yang sudah lama menjadi langganan Lorenzo. Begitu memasuki restoran, suasana di dalam terasa nyaman dan elegan. Aroma pasta, roti panggang, dan rempah-rempah memenuhi udara.
Alina berjalan di samping Lorenzo sambil melihat-lihat tempat tersebut. Baru beberapa langkah masuk, langkah Lorenzo mendadak melambat. Tatapannya berhenti pada satu meja di sudut restoran.
Alina mengikuti arah pandangannya. Matanya langsung membesar. Di sana duduk Bianca. Dan wanita itu tidak sendirian. Samuel duduk tepat di hadapannya. Keduanya sedang menikmati makan siang bersama.
Alina spontan menahan napas dan Lorenzo juga berhenti berjalan. Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri di tempat.
Bianca yang kebetulan mengangkat wajah akhirnya melihat Lorenzo. Wajahnya seketika berubah.
Samuel pun ikut menoleh. Ekspresinya tak kalah terkejut.
Sementara itu, Alina perlahan melirik suaminya. Kemudian melirik Bianca. Lalu Samuel. Sudut bibirnya mulai bergerak naik.
Wah ... apakah akan ada drama tontonan gratis?
Lorenzo mendengar isi pikiran Alina. Dia menoleh dan menatap tajam kepada istrinya itu. Namun, Alina sudah memasang wajah polos.
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya
nyesel lho klo beneran Lorenzo lari k wanita lain, apalagi dia skarang mulai menyukai kaaaamu....