Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lu Ke Mana?
Ranaya menyipitkan kedua matanya. Masih tidak percaya. "Kenapa?"
Arka kali ini menoleh dan benar-benar menatap wajah penasaran Ranaya, lekat. Ia menarik napas panjang lalu berkata, "Cowok kayak gue belum pantas buat suka sama cewek. Ngurus diri sendiri aja berantakan gini. Lu liat sendiri kan? Gue cuman anak rantau yang enggak punya apa-apa, dekatin anak orang mau modal apa? Modal muka doang? Entar yang ada gue malah dicap MOKONDO!"
Jleb. Jawaban Arka berhasil membungkam mulut nyerocos Ranaya.
Keduanya saling menatap. Tapi kali ini Ranaya benar-benar bingung harus memberikan jawaban apa.
"Itu fakta," ucap Arka sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangannya.
Suasana hening. Ranaya mengutuki diri, harusnya dia tidak bertanya sejauh ini dan membuat suasana malah jadi tidak nyaman seperti sekarang. Ranaya benar-benar bingung harus menanggapi seperti apa ucapan Arka.
"Aduh, sorry ya, gue baru balik sekarang."
Ranaya menoleh. Ia membuang napas lega melihat kedatangan Agatha. Gadis itu benar-benar menyelamatkan Ranaya dari kecanggungan yang ia ciptakan.
"Santai aja," jawab Arka. Ranaya bisa melihat dengan jelas, pria itu tersenyum ke arah Agatha, yang entah mengapa membuat hati Ranaya tidak nyaman melihatnya.
"Emm, gue keluar dulu." Ranaya melayang keluar dari kamar, karena sudah ada Agatha, jadinya Ranaya tidak perlu lagi kan ada di sana?
"Mau ke mana?" tanya Arka, tapi tidak mendapatkan jawaban apa pun. Ranaya benar-benar keluar tanpa menoleh sedikit pun.
"Ranaya, ya?" tanya Agatha, ia ikut menatap ke arah pintu, meskipun tidak melihat siapa pun di sana.
"Iya, dia udah keluar."
"Dia lagi marah?"
Arka menggeleng. "Gue enggak tau. Harusnya sih, enggak, ya," jawab Arka ragu.
Agatha diam sejenak. "Oya, lu gimana? Udah mendingan?"
"Lumayan."
"Maaf, ya, gue baru balik. Tadi ada yang harus diurus dulu," ucap Agatha, gadis itu menghela napas panjang.
"Iya, santai aja."
"Btw, nomer rekening lu mana? Mumpung gue inget." Agatha mengeluarkan handphone-nya, membuka m-banking.
"Itu, sebenarnya gue—"
"Udah, sini. Mana?" Agatha menatap Arka serius. Kalau seperti ini, gadis itu benar-benar mirip dengan Ranaya. Aura tidak mau kalahnya benar-benar kerasa.
Meskipun merasa tidak enak. Arka akhirnya tetap menyebutkan nomor rekeningnya, dan beberapa detik kemudian, notifikasi masuk ke dalam handphone pria itu. Nominalnya sesuai dengan kesepakatan akhir Arka dan Ranaya.
"Harusnya—"
"Udah, terima aja. Biaya rumah sakit anggap aja sebagai bentuk pertanggungjawaban gue dan Ranaya. Ranaya pasti bakal marah kalau lu nolak!"
Arka menghela napas. Sejujurnya ia malu menerima uang dari wanita seperti ini. Tapi satu sisi, Arka juga sadar dia butuh uang ini dan lagi pula, Arka tidak mendapatkannya secara percuma, kan?
"Terima kasih." Arka tersenyum tulus.
"Gue dan Ranaya yang harusnya terima kasih." Agatha diam sejenak, ia menatap Arka ragu-ragu. "Gue boleh minta tolong, enggak?"
"Apa?" tanya Arka.
"Nanti kalau lu ketemu Ranaya, bilang ke dia, ya, ada hal penting yang mau gue sampein. Tadi gue udah ke kamarnya sebelum ke sini, eh, ternyata dia di sini dan giliran gue di sini, dia malah pergi."
Arka mengangguk paham. "Oke, nanti gue sampein."
"Terima kasih, tapi maaf, ya, gue enggak bisa lama. Enggak apa-apa kan kalau gue tinggal lagi?" ucap Agatha, ia terlihat tidak enak tapi sepertinya ada hal penting yang harus ia lakukan.
"Iya enggak apa-apa."
Agatha meninggalkan ruang rawat Arka, jelas dari wajahnya kalau dia sedang terburu-buru dan memang harus pergi saat itu juga. Sedangkan Arka, ia kembali menoleh menatap jendela kamar, hujan masih deras di luar sana. "Lu ke mana?"
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️