Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Setelah Pesta Dansa Musim Panas dibubarkan secara mendadak, suasana di bagian dalam istana terasa amat mencekam.
Di dalam kamar peraduan mewah milik Raja Aurelius, pintu jati ganda dibanting keras.
PLAKKK!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi mulus Ibu Suri Seraphina hingga wanita itu tersungkur ke atas karpet tebal. Sudut bibirnya memar dan mengeluarkan sedikit darah.
"Kenapa kau melakukan tindakan sebodoh itu?!" bentak Raja Aurelius dengan napas memburu dan mata merah padam dipenuhi murka. "Kenapa kau tidak bisa memusnahkan bukti busuk itu belasan tahun lalu?!"
Seraphina memegangi pipinya yang berdenyut panas, menatap suaminya dengan raut wajah syok.
Namun, senyum tipis yang sarat akan kelicikan mendadak terukir di wajah Raja Aurelius. Ya, Raja Aurelius sebenarnya mengetahui seluruh kejahatan Seraphina dan Oberon sejak lama. Pria itu sengaja menutup mata dan menyembunyikannya semata-mata demi menjaga martabat, harga diri, serta takhtanya agar tidak tercoreng oleh skandal pembunuhan Ratu utama di hadapan rakyat dan dewan kerajaan.
"Aku akan mengumumkan kepada publik bahwa video pembunuhan itu hanyalah rekayasa sihir palsu dari kelompok fraksi penentang," desis Raja Aurelius dingin, merapikan jubah keagungannya. "Aku akan menyelamatkan namamu demi martabat kerajaanku. Tapi untuk Oberon... aku tidak bisa menolongnya lagi. Kejahatan korupsi dan pembangkangan militernya sudah terlalu membendung untuk ditutupi."
Mendengar dirinya masih diselamatkan, Seraphina beranjak merangkak, lalu memeluk pinggang Raja Aurelius erat-erat dengan derai air mata lega. "Terima kasih, Aurelius... Terima kasih, Sayang..."
Sementara itu, di kediaman penthouse, Lucien yang baru saja berganti pakaian resmi kembali berusaha menghubungi nomor ponsel Eliana.
Tut... tut... tut...
Nada dering itu berbunyi berulang kali tanpa ada jawaban, hingga akhirnya terputus otomatis. Firasat buruk langsung menyengat dada Lucien. Manik mata birunya berkilat penuh ketegangan. Ia menekan tombol panggil berulang-ulang, namun hasilnya tetap sama.
KLEK.
Kenneth melangkah masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah amat pucat dan terengah-engah.
"Yang Mulia!" panggil Kenneth panik. "Eliana tidak ada di penthouse! Pengawal luar melapor bahwa ada jejak bekas perkelahian dan bekas rem kendaraan secara mendadak di dekat belokan lorong bawah!"
"APA?!" bentak Lucien, aura membunuh yang teramat pekat mendadak meledak melingkupi seluruh ruangan. Ponsel di genggamannya retak akibat remasan tangannya yang gemetar oleh murka dan ketakutan mendalam. "Cari dia sekarang juga! Lacak seluruh kendaraan yang melintas di area ini!"
Di tempat lain yang terisolasi dari riuk kota, bau amis darah dan kelembapan yang menyengat memenuhi udara.
Eliana perlahan membuka matanya yang terasa amat berat. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut hebat akibat sisa efek obat pembius. Saat mencoba menggerakkan tangannya, ia menyadari kedua pergelangan tangan dan kakinya telah terikat rapat menggunakan rantai besi pada sebuah kursi kayu di dalam gubuk tua yang terbengkalai.
PLAKKK!
Sebuah tamparan keras mendadak mendarat di wajah Eliana, membuat kepalanya terlempar ke samping. Pipi mulusnya seketika memar kemerahan dan sudut bibirnya robek mengeluarkan darah.
"Gara-gara kau, Bangsat!" bentak seorang pria berpakaian serba hitam dengan raut wajah kejam kesetanan. Pria itu adalah komandan pengawal rahasia bentukan Oberon. "Gara-gara ulah campur tanganmu menyerahkan chip itu, Tuan Perdana Menteri Oberon sekarang ditangkap dan dijebloskan ke penjara istana!"
"Ugh..." Eliana meringis kesakitan, terbatuk pelan sembari menyemburkan darah dari mulutnya.
"Bicara! Di mana kau menyembunyikan sisa dokumen rahasia lainnya?!" teriak pria itu murka.
Dua orang anak buahnya langsung maju. Tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun, mereka mulai menyiksa Eliana—mempraktekkan pukulan mentah ke arah perut dan tulang rusuk Eliana hingga tubuh gadis itu terkulai lemah dengan napas yang bergetar hebat.
SREKKK!
Pria berpakaian hitam itu mencabut sebilah pisau belati beracun yang mengilat tajam. Dengan mata penuh kebencian, ia menancapkan belati itu tepat ke perut Eliana!
"AAAKKKHHHHHH!"
Jeritan histeris melengking pecah dari tenggorokan Eliana. Rasa sakit yang teramat dahsyat, panas, dan menusuk langsung menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Pria itu menarik pisaunya kembali dengan kasar, membiarkan darah segar berwarna merah pekat mengucur deras membasahi gaun dan lantai kayu gubuk tersebut.
Gubuk sepi itu berubah menjadi lautan darah. Tubuh Eliana gemetar hebat dalam jeratan rantai, napasnya makin memburu dan dangkal. Pandangan matanya mulai kabur, digantikan oleh rasa dingin yang perlahan menjalar dari ujung kakinya.
"Argh... sakit banget..." gumam Eliana meringis dalam batinnya yang makin meredup, menatap darahnya sendiri yang melumahi pakaiannya. "Apa... apa gue bakal mati di sini...? Padahal... padahal gue belum sempat ngeliat Lucien naik tahta... Gue belum sempat pamit sama dia..."
Di tengah kesadaran yang kian terkikis dan keputusasaan yang melingkupi, bayangan wajah Lucien serta ingatan akan janji Pangeran Mahkota itu menjadi kepingan terakhir yang bertahan di dalam benaknya sebelum segalanya perlahan menjadi gelap.