Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seandainya
Setelah menempuh perjalanan panjang, mobil mereka pun akhirnya tiba di kawasan Dieng. Udara dingin yang menusuk tulang langsung menyambut begitu pintu kendaraan dibuka, langit sore yang semula membiru telah sepenuhnya berganti menjadi jingga pekat yang perlahan menggelap disapu malam.
Dikta memarkirkan mobilnya secara sejajar dengan mobil milik Aldo di pelataran parkir sebuah vila berarsitektur kayu hangat. Bangunan dua lantai itu terletak tak jauh dari area perkebunan, lengkap dengan deretan lampu hias kekuningan yang menyala di area teras.
"Wah, sampai juga! Dingin banget gilak!" seru Anton seraya melompat keluar dari mobil Aldo dan langsung menyilangkan kedua tangannya di dada demi menahan terpaan angin malam Dieng.
Bagas keluar dari pintu kemudi, merenggangkan otot-otot punggungnya yang kaku. "Yuk, masuk dulu. Kita lihat penginapannya, sekalian rapiin barang-barang,"
Seluruh anggota rombongan membongkar muatan dari bagasi mobil. Reyna menyandarkan ranselnya di bahu, menghirup napas dalam-dalam. Udara pegunungan yang bersih terasa sangat menyegarkan, mengikis sisa kelelahan akibat rotasi roda kendaraan selama berjam-jam. Di sampingnya, Amel tampak sibuk merapikan syal tebal yang melilit lehernya.
Di ruang tengah dilengkapi perapian batu dan deretan sofa empuk, Bagas memegang kunci kamar untuk membagikan penempatan tidur sesuai rencana yang sudah dibuat.
"Oke, biar nggak rebutan, kita bagi kamarnya sekarang ya," ucap Bagas seraya mengangkat beberapa gantungan kunci.
"Karena di lantai atas ada dua kamar dan di lantai bawah juga ada dua kamar, pembagiannya begini,"
Bagas menyerahkan kunci pertama kepada istrinya, "Kamar pertama di lantai atas buat gue sama Agnia,"
"Sip, mantap!" sahut Agnia riang seraya menerima kunci tersebut.
"Terus, kamar kedua di lantai atas buat Reyna sama Amel," lanjut Bagas sembari menyerahkan kunci kepada Amel.
Amel tersenyum lebar dan langsung merangkul lengan Reyna, "Asik! Kita di atas ya, Rey. Bisa sambil ngopi-ngopi cantik di balkon pas pagi!" ucapnya.
"Nah, sekarang buat yang cowok-cowok di lantai bawah. Kamar tiga di lantai bawah buat Faris sama Anton, terus kamar empat yang paling ujung buat Aldo sama Dikta," lanjut Bagas.
"Siap," jawab Anton.
"Oke, udah semua berarti ya? Sekarang kita istirahat aja, besok kita harus bangun pagi buat ke Sikunir," ucap Bagas.
Akhirnya mereka pun pergi ke kamar masing-masing. Reyna segera masuk kedalam kamar mereka yang ada di lantai dua, ia membasuh wajah dengan air hangat dan mengganti pakaiannya menggunakan baju hangat yang tebal terlebih dahulu, lalu duduk di tepi ranjang dan segera merapikan barang-barangnya.
Amel yang baru saja masuk kedalam kamar pun menghampiri Reyna dengan dua cangkir teh manis hangat yang ia buat.
"Nih, Rey. Lumayan buat menghangatkan badan," tawar Amel ramah.
"Terima kasih banyak, Mel," ucap Reyna tulus seraya menerima cangkir keramik tersebut, uap tipis membumbung dari permukaan teh hangat itu.
Sambil menyeruput tehnya, Amel menatap Reyna dengan binar mata ingin tahu namun tetap sopan. "Rey, tadi pas di rest area aku sempat dengar Agnia sama Bagas ngobrol," ucap Amel.
"Ngobrol apa?" tanya Reyna.
"Kamu sama Dikta lahi pdkt ya?" tanya Amel.
Reyna yang tengah menyeruput tehnya pun tersedak, "Uhuk... uhuk... aku nggak ada hubungan apa-apa sama Dikta, aku aja baru kenal," jawab Reyna dan Amel pun manggut-manggut seraya tersenyum mengerti.
"Tapi, kamu cocok loh sama Dikta," ucap Amel.
"Nggaklah, Dikta itu Dokter dan ganteng juga... dia pasti dapat yang lebih baik kok daripada perempuan kayak aku," balas Reyna santai.
"Kalau seandainya Dikta deketin kamu dan ngajakin kamu pacaran gimana?" tanya Amel.
"Nggak mungkinlah, Mel," balas Reyna.
"Seandainya," kekeh Amel.
"Ya nggak mau aku, nanti Dikta malu," balas Reyna.
"Kataku sih, Dikta nggak bakal malu," ujar Amel.
"Kalaupun Dikta nggak malu, keluarganya pasti malu," sahut Reyna.
"Emang kamu pernah ketemu sama keluarganya Dikta?" tanya Amel.
Reyna pun tersentak mendengar pertanyaan Amel, ia tersenyum canggung kearah Amel. "Nggak pernah sih," jawab Reyna.
"Tuh! Kamu aja belum pernah ketemu sama keluarganya Dikta, tapi sudah menyimpulkan kalau keluarganya Dikta bakal malu. Percaya sama aku, keluarganya Dikta nggak akan malu, kamu juga harus tahu kalau calon mertua kamu itu baiknya nggak ada obat," ucap Amel.
"Calon mertua apa sih, Mel. Aku nggak ada hubungan apa-apa ya sama Dikta," ucap Reyna.
"Iya deh, percaya," balas Amel, dengan senyum jahil yang tidak pernah luntur dari wajahnya.
Tak lama kemudian, ketukan di pintu kamar terdengar. Agnia memperlihatkan kepalanya dari balik pintu yang terbuka sedikit.
"Rey, Mel! Yuk turun ke bawah! Mas Bagas sama yang lainnya udah pesan makan malam. Ada mie ongklok sama sate sapi khas sini yang baru diantar," panggil Agnia bersemangat.
Reyna dan Amel bergegas berdiri, menyusul Agnia turun ke lantai utama. Di ruang tengah, aroma rempah gurih dari kuah kental mie ongklok dan aroma bakaran sate langsung menyergap indera penciuman, semua anggota rombongan sudah berkumpul melingkar di atas karpet tebal di depan perapian yang menyala.
Malam ini dihabiskan dengan kehangatan makanan lokal dan gelak tawa. Anton tak henti-hentinya melontarkan lelucon konyol, sementara Faris sibuk mendokumentasikan momen kebersamaan mereka menggunakan kameranya. Reyna yang semula merasa canggung, perlahan-lahan mulai menikmati suasana keluarga dan pertemanan yang begitu tulus.
Saat melihat Reyna kebingungan mencari tisu untuk membersihkan kuah mie yang menetes di tepi mangkuknya, Dikta dengan tenang menyodorkan kotak tisu yang berada di dekatnya tanpa harus diminta.
"Terima kasih, Dikta," ucap Reyna pelan.
Dikta hanya mengangguk singkat, "Sama-sama, dihabiskan makanannya biar badannya hangat,"
Hati semakin malam, rasa lelah akibat perjalanan panjang mulai menggelayuti seluruh anggota rombongan, Bagas berdiri seraya menepuk tangannya pelan untuk mengakhiri kumpul-kumpul malam itu.
"Oke semuanya! Jangan lupa istirahat... ingat besok kita harus bangun pagi buat lihat sunrise di Sikunir. Jadi, pastikan baterai kalian terisi penuh!" seru Bagas memberikan arahan.
"Bener! Jangan sampai besok pagi ada yang susah dibangunin ya, terutama lu Ton!" celetuk Aldo seraya menunjuk Anton.
"Tenang aja, demi sunrise dan pemandangan Dieng, jam empat subuh gue udah siap dengan gaya maksimal!" balas Anton penuh percaya diri.
Satu per satu dari mereka mulai membubarkan diri menuju kamar masing-masing, Reyna kembali ke kamarnya di lantai atas bersama Amel. Sebelum benar-benar merebahkan tubuhnya di atas kasur tebal, Reyna sempat berdiri di balik jendela kaca kamar dan menatap pekatnya malam Dieng dengan hamparan bintang yang tampak begitu jelas di langit.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari dibelit kepedihan akibat masalah pekerjaan di kantor lama dan ketakutan akan masa depan, dada Reyna terasa begitu lapang. Hembusan napas lega keluar dari bibirnya, ia memanjatkan doa singkat dan bersyukur atas hadirnya sahabatnya dan kesempatan untuk menenangkan hatinya di tempat yang begitu indah ini, sebelum akhirnya memadamkan lampu kamar dan tertidur lelap menyongsong esok hari.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor