Indonesia
NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalau Saya Tidak Mau?

Pernikahan terpaksa ini sudah berjalan beberapa minggu. Anehnya, suasana dingin di paviliun sayap timur mendadak berubah.

Evan mulai bertingkah aneh. Gengsinya memang masih setinggi langit. Tampangnya juga tetap sedingin es batu. Tapi, matanya sekarang selalu mencuri pandang ke arah Aira.

Bahkan, pria itu sampai menelan harga dirinya sendiri. Dia diam-diam menyuruh Tama, asistennya, untuk memantau Aira di bengkel.

Selama dibebaskan dari tugas CEO sebagai hukuman dari Kakek Baskara, kegiatan Evan berubah total. Dia tidak lagi memimpin rapat di Wirasena Group.

Evan lebih banyak diam di ruang santai Paviliun dengan tabletnya. Pakaiannya juga berubah semenjak rajin gym privat.

Dia sengaja memakai kaos hitam polos berbahan ketat yang menonjolkan dada bidang dan lengan berototnya. Dia sengaja mondar-mandir di area terbuka agar bisa melihat Aira yang lalu-lalang.

Makan malam baru saja selesai di mansion utama.

Evan berdiri dari kursinya. Dia menarik sedikit bagian bawah kaos hitamnya yang agak ketat, berusaha terlihat santai meski rahangnya kaku.

"Kakek, Papi, aku izin kembali ke paviliun duluan. Ada data analitik yang harus aku cek," ucap Evan datar, sengaja menghindari tatapan Helena.

Aira juga ikut berdiri. "Saya juga izin pamit tidur duluan, Kakek, Papi Surya."

Kakek Baskara terkekeh renyah. Beliau mengetukkan tongkatnya ke lantai marmer sambil melirik cucu pertamanya dengan pandangan usil.

"Sebentar, Evan. Kakek perhatikan, akhir-akhir ini kaosmu ketat sekali ya? Sampai mau meledak begitu. Sengaja mau pamer badan ke seseorang?" goda Kakek Baskara sambil mengerling ke arah Aira.

Wajah Evan langsung membeku. Dia refleks menarik kerah kaosnya, mendadak merasa gerah.

"Kakek berlebihan. Ini untuk menjaga kebugaran fisik agar stamina kerja tetap optimal. Tidak ada hubungannya dengan hal lain," bantah Evan kaku. Sialnya, telinganya mulai memerah tipis.

Surya yang sedang meminum kopi hitamnya langsung ikut tertawa. "Oh, stamina kerja? Tapi sore tadi Papi lihat kamu baca buku di taman belakang. Bukunya terbalik, tapi matamu fokus sekali melihat Aira menyiram bunga. Itu melatih stamina juga, Van?"

Evan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Urat lehernya menegang menahan malu di depan keluarganya.

"Itu... Mataku cuma sedang mengawasi keamanan lingkungan. Logikaku mengharuskan aku waspada," sahut Evan ketus, mencoba menutupi kegugupannya dengan alasan yang tidak masuk akal.

Kakek Baskara tertawa terbahak-bahak. "Ah, dasar bocah! Kamu itu bukan robot, Evan. Kamu cuma pria yang takut mengakui kalau hatimu sudah mulai tertarik karena seorang wanita. Kaos ketatmu itu sudah meneriakkan isi hatimu!"

Helena yang sejak tadi menyimak langsung memasang wajah sinis. Dia tidak sudi kalau anak sulungnya sampai naksir gadis montir.

"Papa, Mas Surya, tidak mungkinlah Evan begitu," potong Helena dengan nada merendahkan. Matanya melirik pakaian kasual Aira dengan sinis.

"Selera Evan kan tinggi. Tidak mungkin matanya tertuju pada gadis yang seharian berkutat dengan debu ban dan oli mesin. Evan pasti cuma sedang menilai efisiensi rumah ini, itu saja."

"Helena, kecantikan sejati itu ada pada ketangguhan hati, dan Aira memilikinya," bela Surya dengan suara baritonnya yang tegas.

"Betul kata Surya! Kakek bertaruh, keangkuhan robotik Evan ini sebentar lagi akan runtuh total di tangan Aira," tambah Kakek Baskara puas, membela cucu menantu kesayangannya.

Evan merasa punggungnya mulai berkeringat dingin. Dia tidak sanggup lagi memakai topeng dinginnya di sini.

"Cukup," potong Evan singkat, suaranya naik satu oktav. "Aku permisi."

Tanpa menunggu jawaban, Evan berbalik dan melangkah cepat, berusaha kabur dari godaan keluarganya.

Aira membungkuk sopan, "Saya pamit dulu," lalu berjalan cepat menyusul langkah Evan.

Langkah kaki mereka bergema di koridor utama mansion yang luas dan sunyi. Suasana malam itu sepi, hanya terdengar dengungan halus AC sentral.

Evan berjalan di depan dengan langkah lebar dan kaku. Jarak mereka sekitar tiga meter.

Di balik punggung tegapnya, pikiran Evan sebenarnya sedang kacau. Dia ingin berbalik dan mengajak Aira mengobrol hal sederhana, tapi lidahnya terasa mendadak kelu.

Sementara itu, Aira berjalan di belakang dengan santai. Matanya fokus menatap layar ponsel, lincah mengetik balasan di grup obrolan anak-anak bengkel.

Aira sama sekali tidak menyadari kalau langkah kaki Evan di depan tiba-tiba melambat, lalu berhenti di tengah koridor.

Evan menghela napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Dia memutar badan dengan cepat.

"Aira, kau—"

BAM!

Karena Aira sedang asyik mengetik, momentum langkahnya tidak bisa direm. Tubuhnya langsung menabrak dada bidang Evan dengan cukup keras.

"Eh?!" seru Aira kaget.

Ponselnya refleks terlepas dari genggaman. Tangannya yang lain secara otomatis mencengkeram bahu Evan agar tidak terjungkal.

Evan ikut terhuyung sedikit ke belakang, tapi kakinya yang kokoh segera menapak kuat. Instingnya bekerja lebih cepat dari otaknya.

Set!

Tangan kanan Evan dengan sigap menangkap pinggang Aira. Tangan kirinya bergerak cepat menahan siku gadis itu.

Posisi mereka mendadak terkunci. Dada Aira menempel sepenuhnya pada dada bidang Evan yang berbalut kaos ketat.

Napas Evan mendadak memburu berat akibat benturan, membuat dadanya yang naik turun menekan tubuh Aira dengan ritme yang jelas.

Aira mendongak. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Evan.

Matanya melebar. Dia bisa melihat kilatan syok di mata Evan, yang perlahan berubah menjadi tatapan yang sangat dalam.

Wangi maskulin Evan yang segar langsung menyerbu indra penciuman Aira, bikin kepalanya mendadak kosong. Sebaliknya, Evan juga mencium aroma sampo buah yang manis dari rambut Aira yang mengacaukan seluruh fokusnya.

"Aira..." gumam Evan serak.

Pria itu tidak melepaskan pelukannya di pinggang Aira. Cengkeramannya justru sedikit mengencang.

Aira menelan ludah. Jantungnya berdegup gila-gilaan, ratu cepat dengan detak jantung Evan yang terasa nyata di dadanya.

"Maaf," bisik Aira dengan bibir bergetar halus. Pipinya sudah merah padam. "Lo tiba-tiba berhenti."

"Kau yang salah."

"Kok gue?"

"Jalan pakai mata, bukan pakai ponsel."

"Ya lo ngapain berhenti kayak patung tanpa apa-apa?!" balas Aira pelan, mencoba mengembalikan keberaniannya.

Alih-alih mendorong Evan menjauh, jemari Aira yang mencengkeram bahu pria itu justru bergeser, meraba otot lengan Ivan yang keras dibalik bahan kaos hitamnya.

Sentuhan kecil itu seperti mengirim aliran listrik ke seluruh tubuh Evan. Pria itu menarik napas. Matanya menyipit, menatap lurus ke dalam manik mata Aira dengan intens yang membuat suasana malam itu mendadak terasa panas.

"Lepasin nggak?" bisik Aira, tapi matanya malah menatap bibir Evan.

"Kalau saya tidak mau?" tantang Evan rendah, suaranya makin serak dan dalam.

Di koridor yang sunyi itu, waktu seolah berhenti total. Hanya ada dua orang yang terjebak dalam gravitasi yang sama, dengan dada yang saling menempel rapat dan detak jantung yang berbunyi serempak dalam keheningan malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!