( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 }:{secret journey }
Sampainya di Negeri Api. Zeo yang melihat Negeri Api tidak ada raja mencoba mencari raja baru Negeri Api.
Saat Zeo mulai menelusuri Negeri Api, Dewi Bunga menatap pemuda miskin penuh dengan luka. Badannya kurus, sendirian berdiam di pojokan.
“Zeo, kamu bisa perhatikan pemuda di sana. Aku sangat sedih melihatnya.”
“Benar, Bunga. Semoga dia memiliki takdir yang baik untuknya.”
Semua rakyat berkumpul saat Zeo datang di tempat keramaian. Mereka menatap Zeo dengan wajah yang masih menyimpan ketakutan dari kejadian masa lalu.
“Ketua Zeo, kami sangat merasa terhormat. Ketua Zeo masih mau menginjak tanah Negeri Api, dengan apa yang dilakukan raja kami kala itu.”
Zeo menatap rakyat yang berkumpul di hadapannya.
“Aku sangat terhormat kalian masih menghormatiku. Aku datang ke sini untuk satu tujuan, memilih raja baru untuk kalian.”
Sesaat kemudian, seorang ibu maju. Wajahnya dipenuhi kesedihan saat mengingat apa yang terjadi pada anaknya.
“Aku tidak ingin seorang raja lagi. Anakku dihabisi di depan mataku sendiri. Kembalikan anakku.”
Wanita itu amarahnya tidak stabil, hingga harus dibawa menjauh oleh rakyat yang lain.
Tangan Dewi Bunga memegang tangan Zeo.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan saat ini. Fokus pada tujuanmu.”
Zeo menarik napas dan kembali menghadap rakyat.
“Wahai semua rakyat Negeri Api. Apakah kalian masih menginginkan seorang raja?”
Rakyat saling memandang. Tidak ada yang langsung menjawab pertanyaan Zeo.
“Kami sudah tidak percaya lagi dengan seorang raja. Tapi bila memiliki raja baru bisa membuat kami makmur, kami siap menerima seorang raja lagi.”
“Tapi siapa yang akan menjadi raja?”
Mata Zeo menatap ke arah ujung dari keramaian. Napasnya tertahan sejenak dan langsung menuju ke pemuda yang Dewi Bunga lihat.
“Dia yang akan menjadi raja Negeri ini.”
Semua mata menatap ke arah pemuda itu. Semua suara seakan tenggelam oleh kesunyian.
“Benarkah dia yang akan menjadi raja kita?”
Pemuda itu menatap ke arah keramaian. Ia terlihat bingung melihat semua rakyat menatap ke arahnya.
“Apa yang mereka lihat? Mengapa mereka menatapku begitu?”
Zeo memandang pemuda itu.
“Ke mari, pemuda suci.”
Pemuda itu melangkah ke arah Zeo dengan menyeret kakinya yang penuh luka.
“Iya, Ketua. Ada yang bisa aku bantu?”
“Berdirilah di sampingku.”
Keringat menetes di wajah pemuda itu.
Zeo kemudian menghadap rakyat yang masih memperhatikan mereka.
“Pemuda ini yang akan meneruskan Negeri Api ini, menjadi pemimpin bangsa Api.”
Pemuda itu langsung memotong pembicaraan Zeo.
“Aku tidak ingin menjadi. Aku tak ingin harta yang ku miliki setelah menjadi raja membuatku menjadi orang yang berbeda. Aku tidak ingin menjadi seorang raja.”
Mata pemuda itu memancarkan trauma berat kepada seorang raja.
“Aku sudah tidak memiliki apa-apa. Keluargaku semua telah lenyap oleh Raja Api. Aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri. Hanya ini yang ku miliki satu-satunya.”
“Maafkan aku, Ketua Zeo. Aku tidak bisa menjadi raja Api selanjutnya.”
Pemuda itu menyeret kakinya melangkah menjauh.
“Tunggu. Bila memang keputusanmu sudah bulat, maka aku akan hancurkan Negeri Api.”
Pemuda itu berhenti, sambil menahan lukanya itu. Berbalik menghadap Zeo.
“Habisi saja aku, Ketua Zeo.”
Semua rakyat Negeri Api menghela napas. Mereka mulai terlihat panik mendengar ucapan Zeo.
“Jangan hancurkan negeri ini. Hancurkan saja aku dengan tanganmu. Aku sudah tidak memiliki tempat untuk pulang. Kembalikan saja aku ke alam ini yang kini terasa sunyi untukku. Biarkan negeri ini menjadi tempat untuk rakyat Negeri Api.”
“Aku yang menolak menjadi raja. Maka hukum aku.”
Dewi Bunga menatap pemuda itu dengan hati yang tergores oleh kejamnya takdir.
“Aku tidak akan menyesal dengan keputusanku.”
Pemuda itu memperlihatkan luka-luka di sekujur tubuhnya.
“Bila isi alam hanya memberiku luka dan duka, maka kembalikan aku pada alam semesta.”
Rakyat satu per satu memandang pemuda itu bukan sebagai seorang anak penuh luka, tapi sebagai pemimpin.
Seorang ibu bersujud di hadapan Zeo.
“Jangan hukum pemuda ini, Ketua Zeo.”
Melihat ibu itu bersujud, rakyat yang lain mulai mengikuti.
Semua rakyat mulai berlutut di hadapan Zeo.
“Hukum kami juga bila Ketua Zeo akan menghukum pemuda itu.”
Zeo hanya menatap dingin sambil menatap rakyat Negeri sangat peduli pada pemuda penuh luka itu.
“Berdirilah kalian. Biarkan aku yang akan memutuskan apa yang harus diterima pemuda ini.”
Dengan muka datar.
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya