Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
"Sepertinya Saya keliru, Yang Mulia. Soalnya orang-orang penting kerajaan tidak semua ada. Jadi saya merasa sepi," kata tabib Shen.
"Benarkah?" Pandangan pangeran Zhang mengedar ke sekeliling. Matanya yang tajam dan terlatih menyisir deretan meja.
Feng Chuan juga mengikuti apa yang dilakukan pangeran.
"Apa ada yang terlewat dalam jamuan ini, Feng?" tanya Zhang Li menggerakkan dagunya sedikit pada Feng Chuan.
"Sepertinya selir Lan dan selir Xiao Yu tidak menghadiri jamuan ini, Yang Mulia," jawab Feng Chuan yakin. Sebab dia sudah ikut mengedarkan pandangan ke sekitar ketika tabib Shen Mo bicara soal tamu. "Kalau yang lain masih perlu dipastikan."
Raut wajah Pangeran Zhang Li seketika berubah menegang keras saat menyadari kebenaran ucapan Feng Chuan. Pangeran menghentikan cawan araknya di udara.
"Di mana Selir Lan dan Xiao Yu?" tanya Pangeran Zhang Li pelan.
"Saya belum tahu, Yang Mulai." Feng Chuan sama sekali tidak tahu tentang keadaan kedua selir itu.
Suasana di sekitar meja utama seketika membeku. Rasa tidak tenang yang dipendam Tabib Shen Mo akhirnya menular pada sang pangeran. Pangeran Zhang Li memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengedarkan pandangannya lurus ke arah deretan meja para selir dan tertuju pada satu-satunya selir senior yang hadir di sana.
"Selir Huo," panggil Pangeran Zhang Li datar namun berwibawa. "Kau adalah selir tertua di sini. Ke mana Selir Lan dan Xiao Yu? Mengapa tempat duduk mereka kosong?"
Sebagai selir senior dengan tingkatan paling tinggi, Selir Huo Yan dengan anggun meletakkan kipas sutranya. Ia merapikan posisi duduknya lalu menangkupkan kedua tangan memberi hormat dengan sangat patuh.
"Menjawab Yang Mulia," tutur Selir Huo Yan tenang dan jernih. "Hamba belum melihat adik Lan maupun Xiao Yu sejak perburuan sore tadi. Namun..."
Selir Huo Yan melirik halus ke arah meja Selir Kui di sampingnya dengan tatapan tajam dan bermakna.
"...mungkin Selir Kui lebih tahu? Bukankah tadi sore adik Kui sempat terlihat berbincang dengan Selir Lan di dekat area perkemahan?"
Satu pertanyaan dari Selir Huo Yan seketika melempar umpan beracun tepat ke arah Selir Kui. Namun, Selir Kui tidak sedikit pun menunjukkan getaran gentar. Tumbuh dalam tekanan keluarga yang menuntutnya selalu sempurna dan tangguh sebagai calon nomor satu, mentalnya terbentuk bagai besi tempa.
Dengan dagu sedikit terangkat dan raut wajah yang amat tenang, Selir Kui meletakkan cawannya tanpa menimbulkan bunyi. Ia menatap balik Pangeran Zhang Li dengan mata yang jernih dan senyum anggun yang sukar diretas.
"Menjawab Yang Mulia," sahut Selir Kui tenang, suaranya halus namun mantap tanpa keraguan. "Hamba memang sempat menyapa adik Lan saat perburuan sore tadi. Beliau mengeluhkan tubuhnya yang lelah dan ingin beristirahat lebih awal di tenda. Mengingat udara Hutan Selatan yang sangat dingin malam ini, hamba rasa sangat wajar jika adik Lan dan Xiao Yu memilih untuk tidak menghadiri jamuan."
Selir Kui mengutarakan alibinya dengan begitu sempurna. Dia tampak tidak gugup.
Pangeran Zhang Li menatap Selir Kui sejenak, lalu mengangguk pelan. Raut wajah sang pangeran tetap tak tertebak.
"Kau benar. Perjalanan tadi siang memang melelahkan," sahut Pangeran Zhang Li datar seraya kembali menyentuh cawan porselennya.
Selir Kui menyesap kembali arak hangatnya dengan tenang. Di balik kipas sutranya, Selir Huo Yan menyipitkan mata. Wanita ini memang berbahaya. Ia sama sekali tidak goyah.
Auuuowwwww....!!!
Sebuah lolongan serigala bergema liar menembus kegelapan malam Hutan Selatan. Suara itu begitu melengking tajam.
Seketika itu juga, tawa riang para pejabat terhenti total. Para tamu di dalam tenda saling pandang dengan wajah berubah pucat.
Tabib Shen Mo di samping meja pangeran seketika menegang kaku, jemarinya meremas kain jubahnya sendiri hingga memutih. Lolongan serigala yang mendadak mati itu menandakan adanya pertarungan jarak dekat di tengah kegelapan hutan.
Pangeran Zhang Li perlahan menegakkan tubuhnya. Matanya yang tenang kini berkilat tajam seperti sembilu.
"Feng Chuan," panggil Pangeran Zhang Li rendah. "Bawa beberapa pengawal. Periksa suara itu dan pastikan area sekitar perkemahan aman."
"Baik, Yang Mulia!" jawab Feng Chuan tegas.
Feng Chuan berdiri, melangkah tegap keluar dari tenda jamuan.
*
*
*
Sementara itu di luar tenda tepat ketika sebelum suara lolongan serigala itu terdengar.
Di luar tenda utama jamuan, angin malam Hutan Selatan berhembus makin kencang, menggoyangkan kain tebal pintu tenda dan membuat nyala obor di sepanjang perkemahan bergerak.
Dua pengawal berzirah besi berdiri kokoh memblokir pintu tenda jamuan. Mereka menahan Bao'er dan A-Chui dengan sikap acuh tak acuh dan menatap kedua pelayan itu dengan pandangan meremehkan.
"Kalian ini bicara apa, sih?" ujar salah satu pengawal sambil terkekeh. Dia menggelengkan kepala seolah baru mendengar gurauan konyol. "Nona Yu dan Selir Lan tersesat di hutan? Jangan membuat cerita aneh-aneh hanya karena majikan kalian terlambat menghadiri jamuan."
"Kami tidak berbohong!" tegas Bao'er. Matanya menyala menatap pengawal di depannya meski gaunnya sudah kotor oleh tanah perkemahan. "Nona kami dan Selir Lan belum kembali sejak sore tadi! Tenda mereka kosong! Tolong, izinkan kami masuk melapor pada Pangeran Zhang Li!"
Pengawal kedua menyilangkan tangan di dada, lalu tertawa kecil bernada ejekan.
"Bao'er, A-Chui... kalian ini pelayan baru atau bagaimana?" cibir pengawal kedua dengan raut santai. "Di dalam tenda jamuan, Selir Kui baru saja mengonfirmasi sendiri di hadapan Pangeran bahwa Selir Lan dan Nona Yu sedang tidur nyenyak di tenda mereka karena kelelahan. Apakah kalian mau bilang seorang Selir dari keluarga terpandang sedang berbohong, sementara dua pelayan ceroboh seperti kalian yang benar?"
"Mungkin majikan kalian cuma sedang jalan-jalan sebentar di sekitar perkemahan atau ketiduran," timpal pengawal pertama seraya tersenyum sinis. "Kalian saja yang terlalu panik dan dramatis. Sudah, kembali ke tenda kalian sebelum kami laporkan kalian karena membuat kegaduhan di depan tenda Pangeran!"
A-Chui makin terisak sambil meremas lengan baju Bao'er. Dia merasa putus asa karena tak ada yang mau percaya.
Bao'er baru saja hendak membuka mulut untuk membalas ejekan itu ketika suara misterius terdengar.
Auuuowwwww ...!!
Sebuah lolongan serigala bergema nyaring membelah kegelapan Hutan Selatan.
Tawa kedua pengawal itu seketika terhenti. Senyum ejekan di wajah mereka membeku.
Hening yang begitu janggal dan mencekam menyelimuti area luar tenda. Lolongan yang mendadak terputus di tengah hutan sepi itu memberikan firasat buruk yang teramat pekat.
"D-dari dalam hutan..." bisik A-Chui dengan bibir pucat pasi dan suara gemetar hebat. "Nona Lan pergi ke arah sana kan ..."
selama ini tk ada yg mencurigakan🤔
apa mrk gk lapor klu majikan'a tdk disamping'a? 🙄