Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Dalam Kotak
Malam telah sepenuhnya menyelimuti istana.
Lentera-lentera di sepanjang koridor menyala redup, sementara angin dingin berembus melewati halaman dan membawa aroma bunga malam yang samar. Di kediaman Liān Huā, suasana sebenarnya tampak tenang.
Namun ketenangan itu hanya berada di permukaan.
Di balik pintu utama, para penjaga berdiri dengan waspada. Mereka telah menerima perintah untuk tidak membiarkan siapa pun masuk tanpa pemeriksaan.
Karena itu, ketika Lù Shān berdiri di hadapan mereka dengan sebuah kotak kecil di tangannya, dua penjaga langsung menghadangnya.
“Apa yang kau bawa?”
Lù Shān menundukkan kepala.
“Pesan untuk Nona Liān Huā.”
“Dari siapa?”
“Dari seseorang yang tidak ingin namanya diketahui.”
Kedua penjaga saling berpandangan.
“Buka kotaknya.”
Lù Shān menggeleng.
“Tidak bisa.”
Salah seorang penjaga langsung memegang gagang pedangnya.
“Kalau begitu kau tidak boleh masuk.”
Lù Shān tetap tenang.
“Baik. Kalau begitu berikan kepada Nona sendiri.”
Beberapa saat kemudian, berita itu sampai kepada Liān Huā.
Ia segera keluar bersama Xiǎo Yàn.
Begitu melihat Lù Shān, tatapannya menjadi serius.
“Kau.”
Lù Shān membungkuk.
“Nona.”
“Kau yang membawa teh pagi tadi.”
“Benar.”
“Dan sekarang kau membawa kotak.”
“Benar.”
Liān Huā memperhatikan kotak tersebut.
“Dari siapa?”
“Saya tidak tahu.”
Xiǎo Yàn langsung menyela.
“Bagaimana mungkin kau tidak tahu?”
Lù Shān menundukkan kepala.
“Orang yang memberikan kotak ini hanya mengatakan satu hal.”
“Apa?”
“Berikan kepada Liān Huā. Jangan kepada siapa pun.”
Liān Huā terdiam.
Ia kemudian menatap para penjaga.
“Bawa kotak itu ke dalam.”
“Nona!”
“Saya tidak akan membukanya sendiri.”
Ia menoleh kepada salah seorang penjaga.
“Periksa terlebih dahulu.”
Kotak tersebut dibawa masuk.
Seorang tabib istana dipanggil untuk memeriksa apakah ada racun atau sesuatu yang berbahaya. Setelah beberapa saat, ia menggeleng.
“Tidak ada tanda racun.”
“Buka.”
Kunci kecil pada kotak itu dibuka perlahan.
Begitu tutupnya terangkat, semua orang di ruangan terdiam.
Di dalamnya terdapat tiga benda.
Sebuah gulungan surat.
Sebuah cincin kecil dengan lambang keluarga Zhāng.
Dan sepotong kain merah tua.
Liān Huā menatap ketiga benda tersebut.
“Ini...”
Xiǎo Yàn menutup mulutnya.
“Lambang keluarga Paman Agung.”
Liān Huā mengambil gulungan surat dengan hati-hati.
Namun sebelum membukanya, ia berhenti.
“Tunggu.”
Ia menatap Lù Shān.
“Siapa yang memberimu ini?”
Lù Shān diam cukup lama.
Kemudian ia berkata,
“Seseorang yang sangat takut kepada mereka.”
“Siapa?”
“Saya tidak tahu namanya.”
Liān Huā menatapnya tajam.
“Kau berbohong.”
Lù Shān tidak menjawab.
Pada saat itu, suara langkah kaki terdengar dari luar.
Cepat.
Banyak.
Para penjaga segera mengambil posisi.
Pintu terbuka.
Yuán Zhēn masuk dengan wajah tegang.
“Liān Huā!”
Liān Huā menoleh.
“Zhēn.”
Yuán Zhēn langsung menghampirinya.
“Apa yang terjadi?”
Liān Huā menunjuk kotak di atas meja.
“Kami baru saja membukanya.”
Tatapan Yuán Zhēn jatuh pada isinya.
Begitu melihat cincin berlambang keluarga Zhāng, wajahnya langsung berubah.
“Dari mana kau mendapatkannya?”
Ia menatap Lù Shān.
Lù Shān segera berlutut.
“Saya hanya mengantarkannya, Yang Mulia.”
“Siapa yang memberikannya?”
“Saya tidak tahu.”
Yuán Zhēn melangkah mendekat.
“Jika kau berbohong, aku akan mengetahuinya.”
Lù Shān menundukkan kepala lebih dalam.
“Saya benar-benar tidak tahu nama orang itu.”
Yuán Zhēn hendak bertanya lagi, tetapi Liān Huā menghentikannya.
“Zhēn.”
Ia menunjuk surat itu.
“Mungkin jawabannya ada di sana.”
Yuán Zhēn mengambil surat tersebut.
Segelnya sudah rusak.
Ia membuka gulungannya.
Tulisan di dalamnya hanya terdiri dari beberapa baris.
Namun setelah membacanya, wajah Yuán Zhēn berubah.
Liān Huā memperhatikan.
“Apa isinya?”
Yuán Zhēn tidak segera menjawab.
Ia menyerahkan surat itu kepada Liān Huā.
Liān Huā membacanya.
Semakin lama, wajahnya semakin serius.
Surat itu berisi catatan tentang beberapa pengiriman bantuan ke wilayah-wilayah yang dilanda bencana.
Nama-nama pejabat.
Jumlah bantuan.
Tanggal pengiriman.
Dan tanda tangan.
Namun yang paling mengejutkan adalah satu hal.
Sebagian besar bantuan yang tercatat telah dikirim ternyata tidak pernah sampai kepada rakyat.
Liān Huā mengangkat wajah.
“Ini bukti.”
Yuán Zhēn mengangguk.
“Bukti bahwa bantuan diselewengkan.”
Xiǎo Yàn menatap surat itu.
“Dan semua perintahnya memakai tanda dari keluarga Zhāng.”
Yuán Zhēn menggenggam surat tersebut.
“Kalau dokumen ini asli, Paman Agung tidak hanya terlibat dalam penyebaran fitnah.”
“Dia terlibat dalam penyelewengan bantuan rakyat.”
Liān Huā menyelesaikan kalimatnya.
Ruangan menjadi sunyi.
Namun Yuán Zhēn justru tampak semakin berhati-hati.
“Masih ada sesuatu yang aneh.”
“Apa?”
“Kenapa seseorang memberikan bukti sebesar ini kepada kita?”
Liān Huā terdiam.
“Karena dia ingin Paman Agung jatuh?”
“Mungkin.”
Yuán Zhēn menatap cincin di dalam kotak.
“Atau karena dia ingin orang lain yang jatuh.”
---
Di kediaman Paman Agung Zhāng, berita tentang hilangnya sebuah dokumen membuat suasana berubah menjadi kacau.
Paman Agung membanting cangkir ke meja.
“Siapa yang mengambilnya?”
Tidak ada yang berani menjawab.
Xiǎo Lán berdiri di dekat jendela.
Wajahnya jauh lebih dingin daripada biasanya.
“Dokumen itu tidak mungkin hilang tanpa bantuan dari dalam.”
Paman Agung menatapnya.
“Jadi ada pengkhianat?”
“Ya.”
“Siapa?”
Xiǎo Lán memejamkan mata sejenak.
“Orang yang kita kira paling tidak berbahaya.”
Paman Agung mengerutkan kening.
“Lù Shān?”
Xiǎo Lán tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup.
Paman Agung terkejut.
“Dia?”
“Dia bekerja di tempat kita selama tiga bulan.”
“Dan selama tiga bulan itu?”
“Dia tidak pernah melakukan kesalahan.”
Paman Agung mulai memahami.
“Itulah sebabnya kita tidak mencurigainya.”
Xiǎo Lán tersenyum tipis.
“Justru karena itu.”
Ia berbalik.
“Cari dia.”
“Dia sudah pergi.”
“Kalau begitu cari siapa pun yang berhubungan dengannya.”
Paman Agung mengangguk.
Namun sebelum ia sempat memberi perintah, suara langkah kaki terdengar dari luar.
Seorang pengawal masuk dengan terburu-buru.
“Putri!”
“Ada apa?”
“Orang yang menjaga gudang dokumen ditemukan tidak sadarkan diri.”
Xiǎo Lán langsung terdiam.
“Dokumen lain?”
“Masih diperiksa.”
“Periksa semuanya.”
“Baik.”
Setelah pengawal pergi, Paman Agung memandang Xiǎo Lán.
“Ini mulai di luar kendali.”
Xiǎo Lán mengepalkan tangan.
“Belum.”
Tatapannya berubah dingin.
“Selama Yuán Zhēn belum mengetahui seluruh kebenaran, permainan ini masih bisa dibalik.”
---
Di kediaman Liān Huā, Yuán Zhēn masih memeriksa dokumen.
Ia menemukan beberapa tanda yang mencurigakan.
“Lihat ini.”
Liān Huā mendekat.
“Ada beberapa tanggal yang tidak cocok.”
“Benar.”
Yuán Zhēn menunjuk salah satu bagian.
“Dokumen ini mengatakan bantuan dikirim pada hari ketiga bulan kedelapan.”
“Namun laporan daerah mengatakan bantuan tiba pada hari kesepuluh.”
“Berarti ada jeda tujuh hari.”
Liān Huā berpikir.
“Selama tujuh hari itu, bantuan bisa dipindahkan.”
Yuán Zhēn mengangguk.
“Dan seseorang mengambil keuntungan dari jeda tersebut.”
Liān Huā menatap dokumen.
“Tapi ini belum membuktikan bahwa Paman Agung yang melakukannya.”
“Benar.”
Yuán Zhēn menarik napas.
“Namun sekarang kita memiliki sesuatu yang jauh lebih penting.”
“Apa?”
“Nama-nama orang yang terlibat.”
Ia menunjuk daftar pejabat.
“Jika kita mengikuti mereka satu per satu, kita bisa menemukan siapa yang menerima bantuan itu.”
Liān Huā tersenyum tipis.
“Dan dari sana kita bisa menemukan sumber sebenarnya.”
Yuán Zhēn mengangguk.
Namun tiba-tiba terdengar suara dari luar.
“Yang Mulia!”
Seorang penjaga masuk.
“Ada apa?”
“Kami menemukan sesuatu di luar tembok kediaman.”
“Apa?”
Penjaga itu menyerahkan sebuah benda kecil.
Yuán Zhēn mengambilnya.
Sebuah kain merah tua.
Sama persis dengan kain yang berada di dalam kotak.
Liān Huā menatapnya.
“Berarti orang yang memberikan kotak itu masih berada di sekitar sini.”
Yuán Zhēn segera berbalik.
“Cari dia.”
Para penjaga langsung keluar.
Namun beberapa saat kemudian, terdengar teriakan dari luar.
“Tidak ada siapa-siapa!”
Yuán Zhēn keluar ke halaman.
Angin malam berembus kencang.
Tidak ada siapa pun.
Hanya sebuah lentera yang bergoyang di ujung koridor.
Yuán Zhēn menatap sekeliling.
Kemudian ia melihat sesuatu di tanah.
Sebuah keping kecil dari batu giok.
Ia mengambilnya.
Di permukaannya terdapat ukiran lambang yang sangat sederhana.
Bukan lambang keluarga Zhāng.
Bukan lambang kerajaan.
Bukan pula lambang keluarga mana pun yang dikenal Yuán Zhēn.
Liān Huā datang mendekat.
“Apa itu?”
Yuán Zhēn menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Namun untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada Paman Agung Zhāng dan Putri Xiǎo Lán.
Karena seseorang telah memberikan bukti kepada mereka.
Seseorang yang mengetahui rahasia keluarga Zhāng.
Seseorang yang dapat keluar masuk wilayah mereka tanpa diketahui.
Dan seseorang yang memiliki lambang sendiri.
---
Di tempat yang jauh dari istana, seorang pria berdiri di bawah bayangan pohon.
Ia mengenakan jubah sederhana.
Di tangannya terdapat sebuah keping batu giok yang bentuknya sama dengan yang baru saja ditemukan Yuán Zhēn.
Ia memandang ke arah istana dari kejauhan.
“Sekarang mereka sudah menemukan petunjuk pertama.”
Seorang sosok lain berdiri di belakangnya.
“Apakah Anda yakin ini keputusan yang benar?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Tidak ada lagi jalan untuk mundur.”
“Kalau Kaisar mengetahui siapa Anda sebenarnya?”
Pria itu terdiam.
Kemudian ia menjawab,
“Kalau dia mengetahui semuanya, maka permainan akan berakhir.”
Ia memandang cahaya istana.
“Tapi sebelum itu terjadi, aku harus memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Liān Huā harus tetap hidup.”
Sosok di belakangnya terkejut.
“Kenapa?”
Pria itu tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam batu giok di tangannya lebih erat.
Karena rahasia terbesar yang belum diketahui siapa pun adalah bahwa Liān Huā bukan sekadar orang yang kebetulan berdiri di sisi Yuán Zhēn.
Dan seseorang dari masa lalu Liān Huā telah kembali.
Seseorang yang selama ini menunggu dalam kegelapan.
Seseorang yang mungkin memiliki hubungan dengan rahasia yang bahkan Liān Huā sendiri belum mengetahuinya.
Sementara di istana, Yuán Zhēn masih menatap keping batu giok itu.
Ia belum tahu siapa pemiliknya.
Namun ia yakin satu hal.
Permainan yang selama ini ia kira hanya tentang perebutan kekuasaan ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih dalam.
Dan semakin ia menggali kebenaran...
semakin dekat ia pada masa lalu yang selama ini disembunyikan dari dirinya.