Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 24
Tiga hembusan angin dari ujung peredam suara membelah ruangan berdinding logam itu dalam tempo kurang dari dua detik. Tiga amunisi kaliber 9mm bersarang tepat di titik vital rompi taktis ketiga pengawal Vanguard. Tubuh-tubuh tegap itu roboh berurutan bagaikan ranting lapuk yang patah, ambruk di atas lantai epoksi pos komando tanpa sempat melepaskan satu pun tembakan balasan.
Asap tipis mengepul halus dari moncong pistol semi-otomatis milik Leo. Pria itu berdiri tegap di ambang pintu yang baru saja ia jebol. Kemeja putihnya yang bergulung lengan memancarkan kontras tajam di bawah pendar lampu neon ruangan yang berkedip pelan.
Keheningan mendadak mencengkeram. Hanya terdengar desis dingin pendingin udara dan napas memburu milik Vanguard yang mematung di ujung meja utama.
Tangan Vanguard menggantung kaku di atas tas taktis hitam yang terbuka setengah. Pria paruh baya berambut perak itu menatap tiga anak buah terbaiknya yang kini terkapar tak berdaya di lantai, lalu mengalihkan pandangannya pada Leo. Untuk pertama kalinya, raut wajah dingin sang dalang operasional Konsorsium Helios itu hancur, berganti dengan ketakutan murni yang tak lagi sanggup ia sembunyikan.
"Ka-kamu..." bisik Vanguard dengan suara parau bercampur getaran frustrasi. "Operasi Cikarang... pembobolan data finansial Singapura... kamu yang menghancurkan semuanya."
Leo melangkah masuk ke dalam ruangan. Suara sol sepatunya mengetuk lantai besi dengan irama yang tenang dan teratur. Setiap langkahnya memancarkan dominasi mutlak seorang perwira elit yang telah memenangkan pertempuran sebelum peluru pertama meletus.
"Konsorsium Helios berakhir di dermaga ini, Vanguard," sahut Leo dingin. Sorot matanya sangat tajam, tak menyisakan celah sekecil apa pun bagi lawan untuk beralih atau bertindak nekat. "Serahkan tas dokumen itu."
Vanguard menyipitkan matanya. Keringat dingin menetes di sepanjang garis bekas luka tembak di pelipisnya. Sambil secara perlahan menggeser tumpuan tubuhnya, ia mencoba mengulur waktu.
"Kamu pikir kamu sudah menang hanya karena bisa melumpuhkan beberapa orang di sini?" Vanguard tertawa sumbang, sebuah usaha terakhir untuk menutupi rasa paniknya. "Saya punya jaringan otomatis di Zurich dan Singapura! Jika saya tidak mengarahkan sinyal verifikasi dalam sepuluh menit, seluruh data rahasia Maheswari Group akan dilelang di pasar gelap! Kamu cuma seorang pengawal pribadi sewaan, kamu tidak punya kapasitas untuk"
Tangan kiri Vanguard bergerak cepat di bawah meja, mencoba meraih sebuah tombol detonator darurat yang terhubung dengan bom pemusnah data.
Pfft!
"UGH!"
Satu peluru presisi bersarang tepat di pergelangan tangan kiri Vanguard sebelum jarinya menyentuh tombol di bawah meja. Pria itu menjerit kesakitan, menarik tangannya yang kini bersimbah darah seraya tersungkur ke belakang. Kursi eksekutifnya terbalik, menghantam meja kontrol hingga jajaran monitor berkedip liar.
Leo tidak membuang waktu. Ia maju dua langkah, menendang senjata cadangan yang terlepas dari saku Vanguard hingga meluncur jauh ke sudut ruangan. Tanpa memedulikan erangan kesakitan sang dalang konspirasi, Leo menjangkau tas taktis hitam di atas meja.
Ia membuka ritsleting tas tersebut dengan satu tangan. Di dalamnya teratur rapi beberapa unit hard drive terenkripsi, berkas transaksi fisik bernilai ratusan miliar rupiah, serta daftar nama para pejabat korporasi dan birokrat yang telah dibeli oleh Helios termasuk bukti konspirasi mendalam yang melibatkan Hendra Maheswari.
"Seluruh dokumen operasional... dan kunci akses jaringan," gumam Leo datar.