Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Ketemu

Di tengah deru hujan lebat yang mengguyur hutan belantara, sayup-sayup telinga Serena menangkap suara baling-baling helikopter yang meraung-raung di udara. Suara itu terdengar membelah awan hitam, membawa secercah harapan di tengah keputusasaannya yang nyaris sempurna.

​Serena dihadapkan pada pilihan yang sulit. Jika ia tetap memejamkan mata dan bertahan di dahan pohon ini dalam keadaan basah kuyup, ia pasti akan mati kedinginan atau kehilangan kesadaran. Namun, jika ia membuka mata, ia harus kembali menatap sosok mayat membusuk yang tergantung tepat di samping kepalanya.

​Rasa takut mati akibat hipotermia akhirnya mengalahkan kengerian visual di sekitarnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Serena memberanikan diri mendongakkan kepalanya ke atas, lalu mulai berteriak-teriak memanggil nama suaminya sekuat tenaga di tengah badai.

​"Max! Tolong aku! Max!" teriak Serena parau, suaranya hampir tenggelam oleh suara guntur. Ia sangat yakin bahwa helikopter yang berputar-putar di atas sana adalah pasukan pencari yang dikirim oleh suaminya.

​Berulang kali Serena memanggil nama itu sambil melambaikan tangannya ke udara, berharap sorot lampu sorot dari helikopter menembus lebatnya kanopi pohon.

​Dan benar saja. Tiba-Tiba, seberkas sorot cahaya putih yang sangat terang dari helikopter menyapu area tempatnya berada, berputar-putar menyoroti pohon tinggi tempat ia meringkuk.

​"Syukurlah... Ya Tuhan, aku takut sekali..." isak Serena pecah, air matanya meleleh deras bercampur air hujan, tubuhnya bergetar hebat karena rasa lega yang luar biasa.

​Dalam hitungan menit, pengamanan ketat dikerahkan ke area koordinat Serena berada. Tim evakuasi darurat bergerak cepat di bawah komando langsung. Sebuah kendaraan khusus berpenyokong hidrolik dengan tangga elevator ulir darurat diterjunkan ke tengah hutan yang basah untuk mengevakuasi Serena dari atas pohon yang tinggi.

​Tangga mekanik itu perlahan naik membelah dahan-dahan pohon. Di atas elevator tersebut, sosok Sergio berdiri tegak. Wajah pria itu tampak kaku, dingin, dan sangat tajam, namun di balik ekspresi datarnya, tersimpan sisa-sisa kepanikan luar biasa yang baru saja ia rasakan.

​Begitu elevator mencapai tingkat dahan tempat Serena bersembunyi, Sergio melangkah turun dengan hati-hati.

​"Serena," panggil Sergio dengan suara baritonnya yang serak, memotong deru angin malam.

​Serena yang mendengar suara itu langsung membuka matanya perlahan. Di hadapannya, di tengah sorot lampu evakuasi, siluet suaminya berdiri nyata di atas tangga mekanik.

​"Max... hiks... Aku takut sekali..." isak Serena dengan suara bergetar parah, bibirnya membiru kedinginan.

​Sergio langsung merangsek maju, merengkuh tubuh istrinya yang gemetar hebat ke dalam dekapannya.

"Tidak apa-apa, Serena... Aku di sini. Kamu sudah aman, kemarilah," ucap Sergio dengan nada yang luar biasa lembut, sebuah kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun selain wanita di pelukannya ini.

​Dengan bantuan dekapan kokoh Sergio, Serena akhirnya berhasil dipindahkan dari dahan pohon menuju tangga elevator. Begitu menginjakkan kakinya di platform, Serena langsung menghambur memeluk erat tubuh suaminya, membenamkan wajahnya di dada bidang Sergio seolah ia ingin mencairkan ketakutan setengah matinya ke dalam tubuh pria itu.

​Sesampainya mereka turun ke permukaan tanah basah, petugas medis langsung bersiap menyambut, namun Sergio menepis isyarat mereka dengan tatapan tajam. Pria itu mendekap istrinya erat-erat, membawanya menjauh dari kerumunan anak buahnya.

​Sergio melonggarkan sedikit dekapannya, lalu menatap lekat-lekat ke wajah pucat pasi istrinya di bawah terpaan air hujan.

"Apa ada yang terluka, Serena? Katakan padaku," tanya Sergio lembut, jemarinya merapikan helaian rambut istrinya yang basah kuyup menempel di dahi.

​Serena menggeleng lemah, giginya bergemeletuk kedinginan. Bibirnya gemetar hebat saat ia mencoba merangkai kata-kata di tengah isak tangisnya.

​"Di sana... di sana ada mayat... hiks..." adu Serena terbata-bata, menunjuk ke arah kegelapan hutan di belakang mereka dengan jari gemetar.

"Ada... ada serigala yang mengejarku... lalu aku panik dan naik ke pohon... tapi... tapi di sebelahku ada mayat manusia yang tergantung... hiks, aku takut sekali, Max..." oceh Serena tidak jelas, kalimatnya melompat-lompat akibat syok psikologis yang teramat berat.

​Melihat kondisi Serena yang kacau balau, ketakutan, dan trauma berat akibat kelalaian di hutan itu, dada Sergio bergemuruh hebat. Sergio benar-benar tidak menyukai melihat Serena dalam keadaan hancur seperti ini, ketakutan yang justru tercipta akibat dunianya sendiri yang kejam.

​Tanpa berkata sepatah kata pun lagi untuk membalas ocehan panik istrinya, Sergio langsung membungkam bibir Serena dengan sebuah ciuman.

​Sebuah ciuman yang sarat akan kemarahan mendalam pada situasi tersebut, bercampur baur menjadi satu dengan rasa khawatir luar biasa yang baru pertama kali dalam hidupnya ia rasakan. Sergio sama sekali tidak peduli pada puluhan pasang mata anak buah dan tim medis yang berdiri di sekeliling mereka di tengah hutan malam itu. Yang ia tahu, baru kali ini seorang Sergio Maximilian Ziegler merasakan cemas setengah mati hingga rasanya jantungnya nyaris copot, dan pelaku dari segala kekhawatirannya kini sedang bergetar di dalam dekapannya.

​Ciuman itu dalam, menuntut, namun penuh perlindungan. Sergio melumat bibir Serena yang membiru hingga bengkak dan napas gadis itu semakin tersengal, seolah menyalurkan seluruh kehangatan dan keyakinan bahwa malam mengerikan ini telah berakhir.

​Setelah puas memastikan bahwa istrinya benar-benar ada di dalam pelukannya dan kembali bernapas normal, Sergio melepaskan ciumannya perlahan. Tanpa membuang waktu, pria bertubuh tegap itu langsung mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya, membawanya menerobos hujan menuju mobil khusus patroli hutan yang terparkir di dekat batas perbatasan.

​Selama di dalam perjalanan meninggalkan hutan menuju mansion, Sergio tidak melepaskan dekapannya sedikit pun. Pria itu memeluk erat tubuh Serena yang masih menutup matanya rapat-rapat, membiarkan istrinya menangis dan menumpahkan sisa ketakutannya di dalam dekapan hangat seorang suami yang berkuasa penuh atas dunia bawah tanah tersebut.

Bersambung...

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!