Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Pernikahan
Arven bersandar. “Pernikahan.”
Mireya mengerutkan keningnya menggelengkan kepala dengan perlahan.
“Bukankah sejak awal kita menikah untuk....?”
“Maksudku kontrak sebelumnya terlalu banyak yang membuat pernikahan kita menjadi kaku.”
Pundak Mireya sedikit turun. “Mungkin pernikahanmu sebelumnya mungkin memang begitu. Tapi sebenarnya pernikahan kita—”
Ucapannya terhenti. Ia segera menutup mulut.
'Tidak!'
'Aku tak boleh mengatakannya.'
Arven menatapnya beberapa saat. “Sebenarnya apa?”
Mireya menggeleng cepat. “Tidak ada.” Ia kembali menunduk pada kontrak.
'Rahasia ini harus tetap disimpan. Setidaknya untuk sekarang.'
Arven seolah tak peduli dengan apa pun alasan Mireya, mengambil pena dari meja dan meletakkannya di hadapannya.
“Mulai sekarang, jangan jadikan kontrak sebagai alasan untukmu menjauh dariku.”
Mireya menatap pria itu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Kemudian ia mengambil pena. 'Ah, nanti saja membicarakannya lagi bila dia mulai minta aneh-aneh.'
“Baik," ucap Mireya pada akhirnya Ia membubuhkan tanda tangan.
Arven mengambil lembar tersebut setelah Mireya selesai. Lalu dengan samar, ada perubahan yang tampak di bibir Arven. Tetapi, dengan cepat menghilang.
Mireya masih memperhatikannya. “Mas.”
“Apa?”
“Kalau kontraknya sudah berubah…”
Arven menatapnya.
“…saya harus bagaimana dong sekarang?”
Arven diam sesaat. “Kamu ke kamarku.”
Mireya menggaruk pelipisnya. Lalu memutar kepala menatap Elden yang pulas dalam tidurnya. “Elden sengaja tidur di sini denganku.”
Arven bangkit dari posisinya tadi. "Ya, dia harus mengerti. Orang tuanya memiliki privasi sendiri."
"Tapi, Mas?"
Arven berjalan keluar kembali. “Besok pagi.”
Mireya menoleh.
"Besok pagi kontraknya baru berlaku." Pintu ditutup dan terdengar langkah yang semakin menjauh.
"Bagaimana ini?" Mireya menggigit bibirnya.
.
.
Keesokan paginya, Mireya sudah berada di halaman bersama Elden. Mereka sama-sama telah memakai pakaian yang biasa untuk bekerja.
Elden membawa sekop kecilnya. Mireya membawa beberapa bibit. Mereka bahkan sudah menentukan lahan yang akan ditanami hari ini.
“Ayah sebentar lagi keluar," ucap Elden penuh keyakinan.
Namun tepat ketika jam menunjukkan pukul enam, Arven tidak kunjung muncul.
Mireya menoleh ke arah rumah.
Beberapa menit kemudian, Pak Can datang dengan langkah tergesa-gesa.
“Tuan ... Tuan …” Ia berhenti, lalu mengoreksi ucapannya. “Maksud saya, Nyonya.”
Mireya tersenyum tipis. “Ada apa, Pak Can?”
“Sepertinya Tuan Arven tidak bisa ikut berkebun hari ini.”
Elden langsung menoleh. “Kenapa?”
Pak Can tampak ragu menjawab. “Di wilayah timur desa ada masalah.”
Mireya mengerutkan kening. “Masalah apa?”
“Beberapa warga berkumpul sejak subuh. Mereka menolak bekerja di lahan Tuan Arven.”
Elden memeluk sekop kecilnya. “Jadi Ayah tidak jadi berkebun dengan kami?”
“Untuk sementara tidak.”
Mireya menatap ke arah gerbang. Tak lama kemudian, ia melihat mobil Arven meninggalkan halaman.
Pria itu bahkan tidak sempat berpamitan.
Mireya menghela napas. “Yah…”
Elden menunduk. “Tapi Ayah sudah janji.”
Mireya berjongkok di hadapannya. “Kalau begitu, hari ini kita berkebun berdua seperti biasa.”
Elden mengangkat wajah. “Benarkah?”
“Benar.” Senyumnya kembali muncul.
“Kalau begitu, nanti kita tunjukkan hasilnya kepada Ayah.”
Elden langsung mengangguk. “Banyak-banyak!”
Mireya tertawa kecil.
Sementara itu, mobil Arven semakin jauh meninggalkan perkebunan.
Di wilayah timur desa, puluhan warga sudah berkumpul. Beberapa pekerja berhenti bekerja. Suasana terlihat sangat tegang.
Arven turun dari mobil. Tatapan tajamnya langsung menyapu kerumunan.
Seorang pria paruh baya maju. “Kami tidak mau bekerja sebelum masalah ini diselesaikan!”
Arven berhenti beberapa langkah di hadapannya. “Apa masalahnya?”
“Upah kami.”
Suara warga mulai terdengar dari berbagai arah.
“Sudah terlambat!”
“Kami tidak bisa terus bekerja seperti ini!”
“Kami punya keluarga!”
Arven tetap tenang. Ia tidak membentak. Tidak pula langsung menyalahkan siapa pun.
“Panggil orang yang mengurus pembayaran.”
Pak Can mengangguk. “Baik, Tuan.”
Arven menatap seluruh warga. “Aku akan mendengar semuanya. Tapi, kalau alasan kalian hanya dibuat-buat, siap-siap saja ... Kalian hanya tinggal nama."
Kerumunan itu tiba-tiba mematung. Mereka kembali teringat peristiwa yang telah berlalu. Dan, mereka hanya saling pandang dengan bahasa tubuh masing-masing.
Sementara di rumah, Mireya dan Elden sudah mulai menggali tanah.
Hari itu, keduanya berkebun tanpa Arven.
Dan tanpa mereka sadari, masalah di wilayah timur akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar bagi keluarga Zarretti.
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?