Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : JALUR YANG SALAH
Shen Mo tidak membangunkan Chen.
Dia berdiri. Map plastik itu dimasukkan kembali ke dalam tas kecil. Ritsleting ditarik pelan agar tidak berisik.
Pintu kamar tertutup tanpa suara.
Di luar, perawat berjaga langsung berdiri.
"Jangan ada yang masuk sampai dia bangun. Termasuk saya."
"Baik, Tuan Shen."
Lift turun.
Bukan ke lobi. Ke lantai 42.
Divisi keuangan Crown Tower masih menyala jam satu dini hari. Tiga orang staf lembur langsung berdiri ketika melihat Shen Mo keluar dari lift.
"Tuan Shen?"
"Buka arsip Yayasan Kasih Mandiri Yucheng. Tujuh tahun. Saya mau semua bukti transfer dan bukti serah terima."
Staf paling senior, Manager Liu, mengangguk cepat.
"Siap. Mohon tunggu sebentar."
Shen Mo duduk di ruang kaca. Tidak menyalakan lampu utama. Hanya lampu meja.
Map datang lima menit kemudian. Tebal. Dua jilid.
Shen Mo membuka jilid pertama.
Bukti transfer. Setiap bulan. Tanggalnya tidak pernah lewat dari tanggal lima. Nominalnya sama. Keterangan: bantuan pendidikan dan kesehatan.
Tanda tangan penerima. Cap yayasan. Stempel lunas.
Semua sah.
Jilid kedua. Bukti serah terima dana tunai dari yayasan ke keluarga penerima. Foto. Tanda tangan. Alamat.
Shen Mo membalik pelan.
Lunas.
Lunas.
Lunas.
Tangannya berhenti di 2019.
Alamat penerima tertulis: Jalan Anyelir No 7, Yucheng.
Dia ingat alamat di kwitansi obat ibu Chen yang ada di map plastik Chen. Tulisannya hampir sama. Tapi tidak persis.
Dia mengambil ponselnya. Membuka peta internal Crown Tower yang terhubung dengan data kependudukan.
"Manager Liu."
"Ya, Tuan Shen?"
"Cetak alamat ini di peta satelit. Jalan Anyelir No 7, Yucheng. Tahun 2019 sampai 2022."
Printer di sudut ruangan menyala.
Foto satelit keluar. Hitam putih. Agak buram.
Shen Mo menatapnya.
Jalan Anyelir No 7 adalah rumah dua lantai dengan halaman. Pagar besi. Di foto tahun 2019, di pagarnya ada papan besar.
DISEGEL BANK.
Rumah kosong.
Dia mengambil map plastik Chen dari tas. Mengeluarkan kwitansi obat yang paling bawah. Kertasnya sudah menguning.
Alamat di kwitansi itu: Jalan Anyelir No 7A, Yucheng.
Beda satu huruf.
Dia meletakkan dua kertas itu bersebelahan.
No 7. Rumah kosong yang disegel bank. Alamat resmi di sistem yayasan.
No 7A. Rumah petak di dalam gang sempit. Alamat asli ibu Chen.
Jantung Shen Mo berdetak pelan tapi berat.
"Manager Liu, siapa yang memverifikasi alamat penerima tahun 2019?"
Manager Liu memeriksa sistem.
"Tim lapangan yayasan, Tuan. Namanya... Zhang Wei. Sudah resign tahun 2021."
"Alasan resign?"
"Pindah ke perusahaan properti. Crown Tower juga, tapi anak perusahaan di distrik selatan."
Shen Mo tidak menjawab. Dia membuka bukti serah terima tahun 2019.
Foto penerima. Seorang wanita paruh baya. Rambutnya diikat. Wajahnya tidak jelas karena foto diambil dari agak jauh. Tapi tanda tangannya ada.
Tanda tangan itu bukan tanda tangan ibu Chen.
Dia tahu tanda tangan ibu Chen. Dia pernah melihatnya di dokumen lama Li Wei.
Ini tanda tangan lain. Lebih cepat. Lebih miring.
"Siapa wanita di foto ini?"
Manager Liu menatap foto itu lama.
"Saya... saya tidak tahu, Tuan. Tim lapangan hanya foto dari depan rumah. Selama ada orang yang menerima dan tanda tangan, dianggap sah."
Sah.
Kata itu mengganggunya.
Shen Mo membalik halaman lagi. 2020. Alamatnya masih Jalan Anyelir No 7. Foto penerima masih wanita yang sama. Tanda tangan sama.
Sama.
Sama.
Tujuh tahun uang itu keluar dari rekeningnya. Tujuh tahun bukti transfernya sah. Tujuh tahun bukti serah terimanya ada tanda tangan.
Secara administratif, tidak ada yang salah.
Hanya saja uang itu tidak pernah sampai ke orang yang seharusnya.
Dia bersandar di kursi.
Tujuh tahun dia mengira dia melindungi keluarga Li Wei dari balik layar.
Ternyata selama tujuh tahun itu ada satu huruf yang membelokkan semuanya.
No 7 dan No 7A.
Satu huruf yang membuat seorang ibu tidak bisa beli obat. Membuat seorang anak harus menghitung dua belas menit keterlambatan hanya untuk bisa masuk ke Crown Tower dengan membawa lima puluh juta yang dia tabung entah dari mana.
Shen Mo menutup jilid itu.
"Manager Liu."
"Ya, Tuan Shen?"
"Jangan ubah apa pun di sistem. Jangan hubungi Zhang Wei. Jangan hubungi yayasan."
"Baik."
"Dan siapkan satu tim audit internal. Dua orang saja. Yang mulutnya bisa dijaga."
"Siap, Tuan Shen."
Shen Mo berdiri. Mengambil dua lembar fotokopi. Jalan Anyelir No 7 dan Jalan Anyelir No 7A.
Dia berjalan kembali ke lift. Naik ke puncak.
Kamar itu masih sunyi. Chen masih tertidur.
Perawat di luar mengangguk kecil.
Shen Mo masuk. Menutup pintu.
Dia meletakkan dua lembar fotokopi itu di atas meja, di sebelah tas kecil Chen.
Dia menatap wajah Chen lama.
Bocah itu tidur dengan alis masih sedikit berkerut. Seperti menahan sesuatu bahkan dalam tidur.
Shen Mo menarik selimutnya sedikit ke atas. Menutupi bahu yang terlalu kurus.
Dia tidak membangunkan.
Dia hanya duduk kembali di kursi di sisi ranjang.
Ponselnya menyala. Pesan dari Manager Liu masuk.
"Tuan Shen, saya cek lagi. Rekening penerima akhir di Jalan Anyelir No 7 atas nama... Li Mei. Bukan Li Na."
Li Na adalah nama ibu Chen.
Li Mei.
Satu huruf lagi.
Shen Mo mematikan layar ponsel.
Di luar jendela, lampu Crown Tower memantul di kaca.
Di dalam kamar, suara infus masih menetes.
Tetes.
Tetes.