Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Keesokan paginya, Selena bersiap berangkat ke kampus setelah sarapan. Ia mengenakan kemeja putih, rok selutut, dan sepatu sneakers putih. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara tas kuliah tersampir di bahunya.
Saat tiba di ruang makan, Jason sudah duduk menikmati kopi sebelum berangkat ke kantor.
"Kau berangkat sekarang?" tanyanya ketika melihat Selena mengambil sepotong roti.
"Iya. Hari ini ada kelas pagi."
Jason melirik jam tangannya. "Mau kuantar?"
Selena menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa berangkat sendiri. Lagipula, arah kantormu berbeda dengan kampusku."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Selena tersenyum kecil. "Kau juga."
Setelah sarapan, Selena berpamitan lalu keluar dari rumah. Ia memesan mobil melalui aplikasi dan tiba di kampus sekitar tiga puluh menit kemudian.
Baru saja melewati gerbang, suara seseorang memanggilnya dari belakang.
"Selena!"
Ia menoleh dan mendapati Lusy berlari kecil menghampirinya sambil membawa tas selempang.
"Kau akhirnya datang juga! Kemarin aku mengirim pesan, tetapi kau tidak membalas sampai malam."
"Maaf, aku sedang banyak pikiran," jawab Selena.
Lusy memperhatikan wajahnya dengan saksama. "Kau baik-baik saja? Kelihatannya tidak ada masalah, tapi kau agak berbeda hari ini."
Selena menghela napas ringan. "Aku baik-baik saja. Hanya sedang mencoba menata beberapa hal dalam hidupku."
Lusy tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia mengenal Selena cukup lama untuk tahu bahwa sahabatnya itu akan bercerita jika sudah siap.
Mereka berjalan menuju gedung fakultas bersama. Di sepanjang koridor, beberapa mahasiswa menyapa mereka. Selena membalas sapaan itu sebelum memasuki kelas.
Namun, baru beberapa langkah menuju bangkunya, seorang teman sekelas menghampiri.
"Selena, akhir-akhir ini kau jarang terlihat bersama Ethan. Kalian sedang ada masalah?"
Langkah Selena terhenti sesaat.
Lusy langsung melirik teman mereka itu, sementara Selena menarik napas sebelum menjawab.
"Aku rasa itu bukan urusan yang perlu dibicarakan di kampus."
Teman mereka tampak salah tingkah. "Aku cuma bertanya."
"Dan aku sudah menjawab."
Selena kemudian melanjutkan langkahnya menuju bangku. Ia tidak ingin kehidupan pribadinya menjadi bahan pembicaraan, terlebih ketika ia sendiri masih berusaha memahami apa yang sebenarnya ia inginkan.
Lusy duduk di sebelahnya dan berbisik, "Sepertinya kau harus mulai membiasakan diri menghadapi pertanyaan seperti itu."
Selena membuka buku catatannya. "Aku tidak keberatan kalau mereka bertanya dengan sopan. Tapi aku tidak wajib menjelaskan semuanya kepada semua orang."
Lusy mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, dosen memasuki ruangan dan perkuliahan dimulai. Selena berusaha memusatkan perhatian pada materi, meskipun ia tahu pertanyaan tentang Ethan mungkin tidak akan berhenti sampai di situ.
Kali ini, ia ingin menjalani harinya tanpa membiarkan masalah pribadinya menguasai segalanya.
Satu minggu berlalu. Selena mulai menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Beberapa hari terakhir, ia sering merasa pusing, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, dan rasa mual kerap muncul, terutama pada pagi hari.
Awalnya, Selena mengira semua itu hanya akibat kelelahan karena jadwal kuliah yang padat. Namun, keluhan tersebut tak kunjung hilang. Bahkan pagi itu, saat sedang bersiap berangkat ke kampus, ia harus berpegangan pada tepi meja rias ketika kepalanya mendadak terasa berputar.
“Apa aku kurang tidur?” gumamnya sambil memijat pelipis.
Selena mencoba melanjutkan kegiatannya, tetapi rasa mual kembali menyerang. Ia segera menutup mulut dan bergegas ke kamar mandi. Setelah beberapa saat, ia keluar dengan wajah semakin pucat.
Di depan cermin, Selena menatap pantulan dirinya dengan dahi berkerut. Ia berusaha mengingat kapan terakhir kali merasa benar-benar sehat, tetapi tak menemukan jawaban yang meyakinkan.
Belakangan ini, ia memang sering kehilangan nafsu makan. Beberapa kali, aroma makanan yang biasanya ia sukai justru membuat perutnya terasa tidak nyaman.
Pikiran Selena mendadak tertuju pada satu kemungkinan yang membuatnya terdiam.
“Tidak mungkin, kan?”
Ia menggeleng pelan, berusaha menepis dugaan itu. Namun, semakin ia mengingat perubahan yang dialaminya, semakin sulit baginya untuk mengabaikannya.
Selena mengambil ponsel dari atas meja, lalu membuka kalender untuk menghitung kembali tanggal menstruasi terakhirnya.
Senyum tipis yang semula muncul di bibirnya perlahan menghilang. Ada sesuatu yang harus ia pastikan.