Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintaku Direbut Kakak Angkat Aku Dinikahi Raja Dunia

Cintaku Direbut Kakak Angkat Aku Dinikahi Raja Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: namice

Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.

​Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.

​Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.

​Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.

​Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.

​Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ULURAN TANGAN DEWAN TETUA DAN ANCAMAN BARU

​Kemenangan atas tewasnya Kazan Vance di Dermaga Sektor 9 dan musnahnya benteng Pulau Mortis membawa angin segar yang menenangkan di seluruh penjuru negeri. Pagi hari di Palazzo disambut oleh kicau burung dan kehangatan sinar matahari yang menembus pilar-pilar pualam. Namun, bagi sebuah kerajaan besar yang membawahi belasan wilayah otonom, matinya satu iblis di dunia bawah sering kali justru memicu bangkitnya serigala-serigala politik yang bersembunyi di balik jubah kebangsawan.

​Di ruang makan pribadi Palazzo, meja kayu jati berukir lapis emas terhidang berbagai santapan pagi yang menggugah selera. Arumi Vardhana duduk anggun mengenakan gaun muslimah berwarna krem lembut berpadu jilbab syar'i bersulam benang emas. Di sampingnya, Raja Zean duduk tegap mengenakan kemeja kain hitam santai.

​Sisi dingin Sang Penguasa Baret Hitam seolah meleleh saat berada di dekat istrinya. Dengan kelembutan yang teramat telaten, Zean memotongkan daging steak lembut di piring Arumi, lalu menyodorkannya pada sang istri.

​"Makan yang banyak, Ratuku," bisik Zean rendah dengan senyuman tipis di sudut bibirnya. "Beberapa hari terakhir kamu sangat lelah mendampingiku di ruang strategi."

​Arumi tersenyum manis, menerima suapan dari suaminya dengan rasa bahagia yang membuncah. "Terima kasih, Mas Zean. Tapi Mas juga harus istirahat. Aku tahu Mas hampir tidak tidur mengawasi pembersihan sisa-sisa pasukan Vance."

​Zean menggenggam jemari Arumi di atas meja, mengecup punggung tangannya penuh kehangatan. "Melihatmu aman dan tersenyum seperti ini sudah cukup mengembalikan seluruh energiku."

​Namun, momen manis keharmonisan suami-istri itu terinterupsi saat langkah kaki tergesa-gesa Felix terdengar dari balik pintu aula makan.

​Felix membungkuk hormat dengan raut wajah yang cukup tegang—sebuah ekspresi yang jarang terlihat pada perwira kepercayaan Zean tersebut.

​"Tuan, Yang Mulia Ratu..." panggil Felix seraya menyerahkan sebuah surat kaleng ber-segel lilin merah berlambang Mahkota Tiga Bintang—lambang kebesaran Dewan Tetua Kerajaan Agung Barat. "Rombongan utusan diplomatik dari Konsorsium Kerajaan Barat baru saja mendarat di pangkalan udara utama."

​Mata abu-abu Zean seketika berubah dingin. Kehangatan di wajahnya sirna, berganti menjadi ketegasan mutlak. Ia meraih surat tersebut, memecahkan segel lilinnya, dan membaca baris demi baris kalimat di dalamnya.

​Arumi memperhatikan perubahan raut wajah suaminya. "Ada apa, Mas? Siapa Dewan Tetua Kerajaan Barat?"

​Zean meletakkan surat itu di meja. "Dewan Tetua adalah aliansi bangsawan murni dari lima kerajaan tetangga yang memegang kendali atas izin perdagangan maritim dan traktat militer internasional. Selama ini mereka bersikap netral... sampai hari ini."

​"Apa isi suratnya, Tuan?" tanya Felix.

​"Mereka meminta audiensi mendadak di Aula Agung siang ini," desis Zean dengan suara bass yang mengintimidasi. "Mereka membawa Putri Elena dari Dinasti Aethelgard... dan mempertanyakan keabsahan status Arumi sebagai Ratu karena dianggap tidak memiliki garis keturunan darah murni bangsawan."

​Siang hari di Aula Agung Istana Kerajaan...

​Atmosfer ruangan bernuansa pualam itu mendadak menjadi sangat menekan dan dingin. Ratusan menteri senior dan pejabat militer Baret Hitam berdiri rapat di sisi kiri dan kanan aula.

​Di panggung takhta ganda, Raja Zean duduk tegap berbalut seragam kebesaran hitamnya, sementara Arumi duduk anggun di takhta Ratu di sampingnya. Meski merasakan hembusan intimidasi politik yang kental, Arumi tetap menjaga postur tubuhnya yang tegak, memancarkan ketenangan jiwa seorang putri kiyai yang berilmu dan bermartabat.

​Di tengah aula, rombongan utusan Kerajaan Barat melangkah masuk dengan keangkuhan yang nyata. Paling depan, berdiri seorang pria tua berjanggut putih mengenakan jubah beludru merah berhias emas—Duke Archibold, pimpinan tertinggi Dewan Tetua.

​Di samping Duke Archibold, melangkah seorang wanita muda berparas cantik jelita dengan kulit seputih porselen dan rambut pirang keemasan yang terurai mewah. Ia mengenakan gaun sutra biru malam bertabur permata murni dengan mahkota bangsawan di kepalanya. Dialah Putri Elena von Aethelgard—wanita dari garis keturunan darah murni teratas di Benua Barat yang sejak lama dijodohkan oleh dewan tetua untuk menjadi pendamping Raja Zean.

​Putri Elena mendongak, menatap Raja Zean dengan binar kekaguman dan obsesi yang tak terselubung. Namun, saat tatapannya beralih pada Arumi yang duduk di samping Zean, mata birunya seketika memancarkan tatapan merendahkan yang amat tajam.

​Duke Archibold membungkuk tipis—sebuah penghormatan canggung yang hampir tidak sopan bagi seorang Penguasa.

​"Selamat atas kemenanganmu menumpas bandit dunia bawah Kazan Vance, Raja Zean Vardhana," suara Duke Archibold bergema berat di dalam aula. "Namun, kami dari Dewan Tetua Kerajaan Agung merasa perlu meluruskan hal fundamental yang menyangkut masa depan dan kehormatan takhta dinasti ini."

​Mata abu-abu Zean menyempit tajam. "Katakan maksud kedatanganmu, Archibold. Jangan membuang waktuku dengan kata-kata manis."

​Duke Archibold tersenyum miring, mengangkat tongkat emasnya seraya menunjuk halus ke arah Arumi.

​"Kedatangan kami adalah untuk mengingatkan Traktat Darah Murni pasal tujuh," tegas Duke Archibold dengan suara lantang yang sengaja dikeras-deraskan agar terdengar oleh seluruh menteri. "Seorang Ratu yang bertakhta mendampingi Penguasa Dunia harus berasal dari garis keturunan bangsawan murni yang diakui oleh Konsorsium Internasional! Wanita yang duduk di sampingmu hanyalah rakyat biasa, putri dari seorang ulama lokal tanpa gelar kebangsawan!"

​Bisik-bisik panik seketika melanda barisan menteri di aula.

​Putri Elena melangkah maju dua tindak, menyunggingkan senyuman manis yang dipenuhi kepalsuan dan keangkuhan.

​"Raja Zean yang terhormat..." panggil Putri Elena dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Takhta Kerajaan Agung memerlukan seorang Ratu yang mampu menjaga aliansi militer dan diplomasi lima benua. Saya, Elena von Aethelgard, hadir untuk menunaikan janji aliansi darah murni tersebut. Wanita di samping Anda mungkin pantas menjadi selir penenang... tapi tidak untuk menjadi Ratu Utama!"

​Pernyataan penuh keangkuhan dari Putri Elena seketika membuat udara di aula terasa membeku. Hawa membunuh dari tubuh Raja Zean melonjak naik ke tingkat yang teramat berbahaya. Handguard kursi takhta pualam yang digenggam Zean bahkan mulai retak oleh cengkeraman jarinya!

​"Jaga mulutmu, Elena!" desis Zean dengan suara bass yang menggelegar bagaikan petir, membuat seluruh hadirin menundukkan kepala ketakutan. "Satu kata penghinaan lagi keluar dari mulutmu terhadap Wanitaku, maka aku akan memastikan Dewan Tetua kehilangan seluruh hak diplomatiknya di tanah ini!"

​Namun, sebelum Zean meluapkan kemarahannya lebih jauh...

​Arumi menyentuh lengan tegap suaminya secara perlahan. Sentuhan kelembutan Arumi seketika menahan aura membunuh Zean.

​Arumi berdiri anggun dari takhtanya. Gaun krem bersulam emasnya menjuntai halus saat ia melangkah satu tingkat ke depan panggung. Wajah cantiknya yang dilindungi kecerdasan dan ketenangan jiwa menatap lurus ke arah Duke Archibold dan Putri Elena tanpa sedikit pun rasa gentar.

​"Duke Archibold... dan Putri Elena yang terhormat," ucap Arumi dengan nada suara yang teramat merdu, tenang, namun memancarkan wibawa yang menusuk tajam hingga ke ulu hati.

​Putri Elena mengangkat dagunya angkuh. "Apa yang ingin kamu katakan, Wanita Biasa? Apakah kamu ingin memohon agar tidak diturunkan dari takhta?"

​Arumi tersenyum tipis—sebuah senyuman elegan yang memancarkan kearifan tinggi.

​"Kehormatan seorang Ratu dan kemuliaan sebuah takhta tidak diukur dari seberapa banyak perhiasan yang menempel di tubuhnya atau seberapa panjang silsilah darah murni yang disombongkannya," tegas Arumi, matanya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Kemuliaan sejati seorang Ratu diuji dari ketulusannya menjaga rakyat, kesetiaannya mendampingi Raja di masa-masa tergelap, serta keadilannya dalam mengayomi negeri."

​Arumi melirik dingin ke arah Putri Elena. "Di mana posisi Dewan Tetua dan Kerajaan Barat saat negeri ini dihantam oleh ancaman bom dan sabotase Kazan Vance? Kalian bersembunyi di balik benteng mewah kalian di Barat. Dan kini, saat kedamaian telah ditegakkan oleh darah dan perjuangan suami saya... kalian datang membawa silsilah darah murni hanya demi merebut potongan kekuasaan?"

​SKAKMAT!

​Seluruh menteri di aula utama seketika terperangah kagum! Jawaban Arumi yang begitu cerdas, menohok, dan sarat akan nilai moral tinggi membuat Duke Archibold bungkam seribu bahasa dengan wajah memerah menahan malu. Putri Elena mengepalkan tangannya rapat-rapat, wajah cantiknya pucat pasi karena tak menyangka wanita yang dianggapnya "rakyat biasa" memiliki mentalitas dan ketajaman lidah yang begitu luar biasa!

​Raja Zean menatap istrinya dengan rasa bangga dan cinta yang tak terhingga. Pria penguasa itu berdiri, melangkah mendekati Arumi, lalu merangkul pinggang sang istri dengan penuh dominasi di hadapan seluruh utusan Barat.

​"Kamu mendengar jawaban Ratuku, Archibold?" tegur Zean dengan suara dingin nan berwibawa. "Arumi Vardhana adalah Ratu Tunggal di Istana ini. Tidak akan ada selir, dan tidak akan ada wanita lain yang sanggup menggantikan posisinya. Keputusan ini mutlak dan tidak dapat diganggu gugat oleh traktat busuk manapun!"

​Duke Archibold mengepalkan tangannya di atas tongkat emas. "Raja Zean... tindakanmu menolak aliansi darah murni akan membawa konsekuensi politik yang berat dari Konsorsium Barat!"

​"Maka aku akan menunggu seluruh armada Baratmu di perbatasan!" ancam Zean tanpa rasa takut sedikit pun. "Felix! Kawal utusan Dewan Tetua keluar dari wilayah Istana sekarang juga!"

​"Siap, Yang Mulia!" seru Felix tegas seraya menyiagakan puluhan prajurit Baret Hitam untuk menggiring rombongan utusan Barat yang gusar tersebut keluar dari aula.

​Sebelum berbalik pergi, Putri Elena menatap Arumi dengan kilatan dendam yang teramat pekat di dalam mata birunya. "Ini belum selesai, Arumi Vardhana... Aku akan memastikan kamu meneteskan air mata darah di istana ini!" bisik Elena di dalam hatinya.

​Saat aula kembali steril dan hening, Zean memutar tubuh Arumi, menatap mata jernih istrinya dengan kelembutan yang sangat dalam.

​"Kamu luar biasa, Ratuku," bisik Zean rendah seraya mengusap lembut pipi Arumi.

​Arumi tersenyum hangat, menyandarkan kepalanya di dada Zean. "Selama aku di sampingmu, Mas... aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merendahkan pernikahan kita."

​Badai politik baru dari Kerajaan Barat telah resmi menabuh genderang perang. Namun di balik takhta sakral ini, cinta dan keberanian Arumi serta kekuatan perlindungan Zean siap menghadapi konspirasi tingkat tinggi yang akan datang.

1
°RhaiKen™
ciee...malam pengantin...🤭🤭
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
namice: 😘😘, terimakasih bnyak ya kak sudah baca novelku😘😘😘😘
total 1 replies
°RhaiKen™
asikkk... akhirnya Abi tau siapa yg musuh dlm selimut 🤭..mudah"an semuanya kebongkar dlu lah..biar cerita nya agak enteng kak..jgn terlalu berat y konflik nya 🤣🤣🙏/Facepalm/
°RhaiKen™
aaahhhh...so sweet /Drool//Drool//Drool//Drool/
namice: 😄😄😘😘😘😘😍😍😍, terimakasih banyak ya kak sudah baca novelku😘😘😘😘
total 1 replies
°RhaiKen™
lagi kak..lagi..../Determined//Determined//Determined//Determined/
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
namice: 😘😘😘😘😘😘😘
total 3 replies
°RhaiKen™
woww...keren...karya baru nya kak...semangattt/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
namice: 😍😘😘😘, terimakasih banyak kak sudag suka dan baca novelku😘😘😘😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!