Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24.Ga takut

Hening sejenak menguasai ruang tamu villa pribadi tersebut setelah kepergian Damar yang terburu-buru menuju arah balkon belakang.

Naya masih berdiri bersandar di dekat dinding, mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk menetralisir debaran jantungnya yang belum juga melambat. Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan ritme yang bergemuruh tak beraturan akibat jarak intim yang tercipta beberapa detik lalu.

"Wah, gila... itu cowok beneran niat menggertak atau mau cari korban serangan jantung sih?" gumam Naya pelan pada dirinya sendiri, setengah sebal setengah geli.

Meskipun tadi ia sempat mati kutu dan terpaksa menelan ludah mentah-mentah di hadapan tatapan tajam sang CEO, Naya sama sekali tidak merasa ciut. Sebaliknya, ingatan tentang telinga Damar yang memerah padam saat berbalik kabur berhasil memancing senyuman penuh kemenangan di bibirnya.

Telinganya merah, woy! Jelas banget itu panik tingkat dewa tapi sok-sokan pasang muka dingin ala kulkas dua pintu, batin Naya terkekeh geli.

Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki area carport villa. Naya yang penasaran langsung melangkah meninggalkan ruang tamu menuju ke arah pintu depan.

Ternyata, mobil sedan hitam milik Andre, asisten pribadi Damar, baru saja terparkir sempurna di halaman. Pria berkacamata itu tampak keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa sambil menjinjing sebuah paper bag berukuran sedang berwarna putih bersih dengan logo butik ternama.

Andre menekan bel villa dua kali sebelum pintu utama terbuka lebar dan menampakkan sosok Naya yang masih setia mengenakan piyama kucing berukuran oversized lengkap dengan pensil kayu yang menancap di cepolan rambutnya.

Melihat penampilan sang nyonya besar yang masih berwujud 'remahan rengginang', Andre sempat mengerjap kaget di balik kacamatanya. Namun, sebagai asisten CEO profesional yang sudah melanglang buana menghadapi berbagai situasi absurd, Andre langsung memasang wajah datar dan menunduk hormat.

"P-pagi, Nyonya Naya," sapa Andre sedikit terbata, menyerahkan paper bag tersebut dengan kedua tangan. "Ini pakaian ganti sesuai dengan instruksi darurat dari Tuan Damar. Lengkap dengan ukuran dan jenis gaun kasual yang sopan."

Naya menerima paper bag itu dengan senyuman lebar tanpa dosa. "Wah, makasih banyak ya, Pak Andre! Kamu emang penyelamat sejati. Kalau ngandelin bos kamu yang hobi main culik terus panik sendiri, bisa-bisa saya seharian terkurung pakai piyama kucing ini."

Andre hanya tersenyum kaku, tidak berani berkomentar banyak mengenai drama rumah tangga atasannya itu. "Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi dulu kembali ke kantor karena masih banyak dokumen penting yang harus ditandatangani Tuan Damar."

"Silakan, silakan. Jangan lupa bilang ke Mas Kulkas di belakang kalau bawahannya udah dateng ya!" balas Naya riang sebelum menutup pintu kembali.

Naya berjalan menuju kamar utama villa yang bernuansa kayu minimalis. Begitu ia membuka paper bag dari Andre, matanya langsung berbinar kagum. Di dalamnya terdapat satu set pakaian lengkap yang sangat pas: satu blouse putih berbahan linen halus dengan potongan elegan, dipadukan dengan celana bahan high-waist berwarna krem muda yang tampak sangat nyaman namun tetap berkelas, serta sepasang sandal datar minimalis.

Tanpa buang waktu, Naya langsung melenggang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setengah jam kemudian, Naya keluar dengan penampilan yang sudah bertransformasi 180 derajat. Rambut panjangnya yang tadinya dicepel sembarangan kini tergerai indah, kering, dan bergelombang natural. Wajahnya yang bersih tanpa pulasan makeup berlebihan tampak segar memancarkan kecantikan aslinya.

Ia melangkah keluar kamar dan berjalan menyusuri koridor villa hingga menemukan sumber suara gemercik air di area dapur terbuka yang menghadap langsung ke taman belakang.

Di sana, Damar berdiri di depan pulau dapur (kitchen island), mengenakan kemeja kerjanya yang lengannya sudah dilipat hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Pria itu sedang sibuk menyeduh kopi hitam menggunakan mesin espresso otomatis dengan wajah yang masih diliputi sisa-sisa kekesalan dan salah tingkah.

Naya melangkah mendekat tanpa suara, lalu bersandar di sisi meja dapur sambil memperhatikan suaminya dengan sebelah alis terangkat.

"Ehem. Sibuk banget kayak orang beneran bisa masak aja, Mas Kulkas," sindir Naya pelan.

Damar refleks menoleh kaget. Saat pandangannya mendarat pada sosok Naya yang kini sudah berpakaian rapi, elegan, dan segar, napas pria itu kembali tercekat untuk kedua kalinya hari ini.

Pakaian sederhana berupa blouse putih dan celana krem itu justru semakin menonjolkan aura anggun dan menawan dari dalam diri Naya, jauh dari kesan wanita rewel yang biasa ia bayangkan.

Damar dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke cangkir kopi di hadapannya, berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang kembali berulah.

"Pakaiannya sudah datang?" tanya Damar dengan suara bariton yang dibuat-buat sedingin dan senormal mungkin, menyembunyikan kegugupannya.

"Udah dong. Berkat penyelamat setia kita, Pak Andre yang baik hati," jawab Naya santai sambil mengambil sebuah apel hijau segar yang terletak di keranjang buah di atas meja. Ia menggigitnya pelan, menciptakan bunyi kriuk yang renyah. "Makasih ya udah dibawain baju beneran. Kalau enggak, saya sumpahin kamu seharian ngobrol sama dinding villa ini sendirian."

Damar mendengkus pelan, menuangkan air panas ke dalam cangkirnya lalu menyesap kopi hitamnya tanpa menoleh ke arah Naya. "Baguslah kalau sudah ganti baju. Setidaknya sekarang wujud kamu tidak bikin malu perusahaan kalau sewaktu-waktu ada orang luar yang datang."

Naya memutar bola matanya malas mendengar ucapan gengsi suaminya itu. Ia tahu persis Damar hanya berusaha menutupi rasa salah tingkah atas kejadian di ruang tamu tadi.

"Iya deh, yang paling menjaga imej perusahaan," balas Naya meledek. "Tapi jujur ya, Mas... akting kamu tadi di depan dinding lumayan juga bakat jadi aktor antagonis sinetron azab. Kurang lampu spotlight sama musik dramatis aja."

Wajah Damar seketika menegang. Cangkir kopi di tangannya hampir saja ia letakkan terlalu keras jika ia tidak menahan diri. Pria itu melirik tajam ke arah Naya.

"Jangan mulai lagi, Naya," ancam Damar dengan suara tertahan, meski sudut telinganya kembali merona merah muda. "Kalau kamu terus-terusan memancing kesabaran saya, jangan salahkan kalau saya ulangi lagi kejadian tadi dengan cara yang lebih serius."

Mendengar ancaman bernada peringatan itu, Naya justru tertawa kecil. Ia tidak merasa takut sama sekali; justru, ia merasa menikmati permainan tarik-ulur emosi di antara mereka berdua.

Naya mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Damar, menatap mata suaminya lekat-lekat dengan senyuman penuh tantangan. "Oh ya? Coba aja kalau berani. Emang kamu kira saya gampang ciut digituin dua kali?"

Damar tertegun. Jarak wajah mereka kini sangat tipis. Aroma sabun mandi bercampur wangi lavender yang lembut kembali menyerang indra penciuman Damar, membuat akal sehatnya yang susah payah ia kumpulkan sejak tadi pagi mendadak buyar berkeping-keping.

Pria itu mengepalkan tangannya di atas meja marmer dapur, menatap bibir Naya yang sedang tersenyum mengejek, lalu naik menatap sepasang mata jernih sang istri yang memancarkan keberanian luar biasa.

Untuk sepersekian detik, Damar benar-benar tergoda untuk membuktikan ucapannya. Namun, suara dering ponsel di saku celananya tiba-tiba memecah keheningan dapur, menyelamatkan mereka berdua dari situasi yang semakin berbahaya.

Brrrr... Brrrr...

Damar langsung tersadar. Pria itu buru-buru membuang muka, mengambil ponselnya dari saku dengan tangan sedikit kaku, lalu melihat nama 'Andre' tertera di layar.

"S-sebentar," ucap Damar terbata, buru-buru mengangkat panggilan tersebut dan berjalan menjauh beberapa langkah ke arah jendela taman belakang untuk menghindari Naya.

Naya terkekeh pelan melihat tingkah salah tingkah suaminya yang tertangkap basah nyaris kehilangan kendali lagi. Ia menggigit apel hijaunya dengan nikmat, merasa bahwa hari yang awalnya kacau balau karena piyama kucing ini ternyata berujung menjadi tontonan drama pribadi yang jauh lebih seru dari serial televisi mana pun.

Dih, giliran ditelepon asistennya langsung kabur. Bilang aja deg-degan kan, Mas Kulkas? batin Naya puas sambil tersenyum lebar.

_Bersambung

1
Runa fatia
rada ngakakkk ngebayangin wajah damar🤣🤣🤣 apa ga malu kali tuh
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!