Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Suara pintu yang terkunci dari luar berdetak pelan, menggema di seluruh sudut kamar VIP yang serba putih itu. Suara itu menandakan keputusasaan Aluna yang kini terkunci rapat di dalam satu ruang yang sama bersama Hayden.
Dalam balutan selimut rumah sakit yang terasa begitu asing dan dingin, Aluna menyembunyikan separuh wajahnya. Matanya terpejam erat, jemari tangannya yang kurus meremas kain katun selimut hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap tarikan napasnya terasa berat, diiringi denyut ngilu di area lengannya yang ditancapi jarum infus.
Hayden berdiri tak bergeming beberapa langkah dari sisi ranjang. Pria itu menatap punggung rapuh Aluna yang bergetar pelan. Jas hitam yang melilit tubuh tegapnya terasa bagaikan beban berat yang menindih dadanya sendiri.
Sosok yang di hadapannya saat ini bukan lagi Aluna yang polos, ceria, dan memancarkan kehangatan saat tersenyum dari balik meja kafe. Gadis itu kini hanyalah cangkang kosong yang terluka parah akibat perbuatannya.
Langkah kaki Hayden terdengar lambat dan berat saat ia berjalan mendekati tepi ranjang. Ia menarik kursi kayu berukir halus di samping tempat tidur, lalu duduk di sana tanpa suara. Keheningan yang tercipta di antara mereka membeku bagaikan es, tebal dan tak tertembus.
"Makanlah sedikit," ujar Hayden akhirnya. Suaranya rendah, datar, dan tersaring dingin, memecah kesunyian yang menyiksa. "Dokter bilang lambungmu luka karena kosong berhari-hari."
Aluna tidak bergerak. Tidak ada sahutan, tidak ada penolakan verbal. Ia hanya menarik selimutnya semakin tinggi hingga menutupi bahunya yang ringkih, memunggungi Hayden secara mutlak.
Hayden menatap mangkuk bubur halus yang diletakkan perawat di atas meja dorong sejak setengah jam lalu. Uap hangatnya sudah lama hilang, berganti menjadi permukaan dingin yang tak menggugah selera.
Dengan jemari tangannya yang ramping, Hayden meraih mangkuk itu beserta sendok kecilnya. Ia menggeser duduknya mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin khas dirinya berbaur rapat dengan bau antiseptik ruangan.
"Aluna. Duduk," perintah Hayden. Nada bicaranya tetap tenang dan mengontrol, seolah perintah itu adalah hal mutlak yang tak boleh disanggah.
Namun Aluna tetap bergeming. Keheningan gadis itu menjadi perlawanan paling tajam yang pernah Hayden terima. Pria yang terbiasa ditakuti dan dipatuhi oleh ratusan orang itu mendadak merasa begitu tidak berdaya menghadapi kebisuan Aluna.
"Jangan membuatku memaksamu," bisik Hayden, kali ini suaranya mengandung ancaman halus yang amat tipis. Pria itu mengulurkan tangannya, menyentuh bahu Aluna yang terbalut selimut untuk mengarahkan tubuh gadis itu agar berbalik.
Sentuhan itu bertindak bagaikan sengatan listrik bagi Aluna. Tubuh gadis itu berguncang hebat, menyentak bahunya kasar dari usapan tangan Hayden.
"Jangan sentuh!" bisik Aluna parau. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan yang mengering. Ia terbatuk pelan, menyisakan napas yang memburu dan tidak beraturan.
Hayden menarik tangannya kembali secara perlahan, membeku sejenak di udara sebelum mengepal kencang dan mendarat di atas lututnya sendiri. Sorot matanya yang sehitam malam berkilat, memperlihatkan ketegangan yang ia tekan sekuat tenaga di balik raut wajah tanpa ekspresinya.
"Kamu harus makan, Aluna. Jika kamu menolak, aku akan menyuruh dokter memasang selang pembuat makanan langsung melalui hidungmu. Kamu mau itu?" ancam Hayden dingin. Itu bukan ancaman kotor, melainkan manifestasi dari rasa bersalah dan dominasinya yang tak tahu bagaimana lagi harus menyelamatkan kondisi fisik Aluna yang begitu kritis.
Kata-kata Hayden merobek sisa keberanian Aluna. Dengan gerakan yang teramat lambat dan kaku, Aluna memutar tubuhnya terlentang. Ia memandang langit-langit kamar rumah sakit dengan mata sembap yang memerah dan kosong, menolak menyentuhkan iris matanya pada ketajaman paras Hayden.
Gadis itu membiarkan Hayden meraih bahunya, membantunya bersandar pada tumpukan bantal di kepala ranjang. Setiap sentuhan jemari Hayden yang merapikan posisi selimutnya membuat bulu kuduk Aluna meremang hebat akibat trauma yang terpatri mendalam.
Hayden mengambil satu sendok bubur, mengarahkannya tepat di depan bibir Aluna yang pucat dan pecah-pecah. "Buka mulutmu."
Aluna tidak membuka mulutnya. Ia hanya menatap lurus ke depan, bagaikan patung bernyawa yang kehilangan jiwanya. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya akhirnya meluncur menembus pipinya yang tirus, menetes tepat di atas kain selimut.
"Buka, Aluna," ulang Hayden dengan intonasi yang lebih dalam dan tegas.
Aluna akhirnya membuka bibirnya sangat sedikit. Ia menerima suapan itu tanpa mengunyah dengan benar, membiarkan bubur dingin itu meluncur di tenggorokannya yang terasa sempit dan sakit. Satu suapan. Dua suapan. Ketiga kalinya, Aluna menggelengkan kepala pelan, mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Cukup..." gumam Aluna amat irit. Suaranya serak dan hampir tak terdengar.
"Satu suapan lagi," sahut Hayden mutlak, tidak memberi kelonggaran.
Aluna hanya memalingkan wajahnya sedikit, memejamkan mata rapat-rapat sebagai tanda penolakan penuh. Keadaannya begitu rapuh, seolah sentuhan lembut sekalipun bisa menghancurkannya menjadi kepingan tak berbekas.
Hayden meletakkan kembali mangkuk itu ke atas meja dorong dengan denting sendok yang cukup nyaring. Pria itu mengusap wajahnya kasar dengan sebelah tangan, sebuah gestur langka yang memperlihatkan frustrasi mendalam yang membakar batinnya.
"Kenapa kamu mengurung diri seperti itu?" tanya Hayden rendah. Tatapannya menatap tajam ke arah wajah Aluna yang memalingkan pandangan. "Kamu pikir dengan menyiksa dirimu sendiri sampai pingsan begini, semuanya bisa selesai?"
Aluna menyerap setiap kata yang keluar dari bibir pria itu. Rasa sakit hati yang tak tertahankan berkecamuk di dadanya. Apakah pria ini tidak sadar? Apakah pria berkuasa seperti Hayden Mahendra benar-benar tidak paham kehancuran apa yang telah ia ciptakan?
"Hayden..." panggil Aluna serak, untuk pertama kalinya melontarkan suara tanpa diminta sejak mereka berada di ruangan itu.
Hayden menegakkan posisi duduknya. "Katakan."
"Aku... ingin pulang," bisik Aluna datar. Sorot matanya memandang kosong ke arah dinding putih. "Aku mau bertemu... Kak Romeo."
Mendengar nama sahabatnya disebut, rahang Hayden mengeras mendadak. Kilatan dingin kembali menguasai tatapannya.
"Tidak," jawab Hayden cepat dan tegas. "Kamu tetap di sini sampai kondisimu pulih sepenuhnya. Romeo tidak boleh melihatmu dalam keadaan kacau seperti ini."
"Dia kakak ku!" pangkas Aluna, suaranya sedikit menaik meski tenaganya sangat terbatas. Air matanya menetes lebih deras. "Dia pasti hawatir... Aku tak mau di sini dengan mu..."
"Dan kau ingin Romeo tau bahwa adiknya hancur karena aku?" potong Hayden dingin. Kalimat itu meluncur dari bibir Hayden tanpa penyaring, mengungkapkan ketakutan terbesar yang tersimpan rapat di balik dada tegaknya.
Aluna membisu seketika. Kata-kata Hayden mengonfirmasi kenyataan bahwa ketakutan terbesar pria itu bukanlah kondisi kesehatannya, melainkan terbongkarnya rahasia bejat itu di hadapan Romeo—sahabat yang begitu mempercayainya.
Tawa lirih penuh sindiran yang menyakitkan keluar dari tenggorokan Aluna. Sebuah tawa tanpa rasa humor, murni diisi kegetiran jiwa. "Jadi... Kau takut... Kak Romeo tahu?"
Hayden mengepalkan tangannya di atas pangkuannya hingga sendi-sendinya memutih. Ia menatap Aluna tajam, menyembunyikan rasa bersalahnya di balik benteng keangkuhan yang tebal.
"Aku melakukan apa yang perlu kulakukan untuk melindungi kita semua," sahut Hayden dingin, suaranya terdengar begitu berjarak. "Romeo butuh fokus untuk fisioterapinya. Dia tidak boleh terbeban oleh masalah ini. Jadi kamu akan tetap di sini, di bawah pengawasanku, sampai aku memastikan semuanya aman."
"Aman?" ulang Aluna, suaranya bergetar hebat. "Aman untuk siapa? Untuk mu? Bagaimana jika... bagaimana jika aku..."
Aluna tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Bayangan jika Romeo tau bahwa adiknya kini kehilangan mahkotanya, terngiang-ngiang mengerikan di ingatannya. Perutnya mendadak terasa mual luar biasa.
Hayden membaca ketakutan di wajah Aluna. Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap gadis itu dengan tatapan posesif yang gelap dan sulit diartikan.
"Jika itu terjadi," ujar Hayden lambat dan tajam, memastikan setiap kata terpatri jelas di benak Aluna, "maka kamu tidak akan pernah bisa pergi dari sisiku. Selamanya."
Ruangan itu mendadak menjadi begitu dingin, bagaikan tidak ada udara yang tersisa untuk dihirup. Aluna menatap Hayden dengan tatapan horor yang mendalam. Kepasrahan total merayapi seluruh sel di tubuhnya. Pria ini memiliki uang, kekuasaan, dan pengaruh yang mampu mengendalikan seluruh jalurnya hidupnya dan sang kakak.
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Aluna menarik selimutnya kembali, membalikkan tubuhnya membelakangi Hayden rapat-rapat. Ia merapatkan kedua tangannya di depan dada, menyembunyikan tangisnya tanpa suara yang membuat dadanya naik turun dengan hening.
Hayden tetap duduk di kursinya, mengawasi setiap jengkal tubuh Aluna dari belakang. Di balik sosoknya yang berdiri tegak, dingin, dan tak tersentuh, Hayden tahu ia telah memenjarakan gadis itu dalam sangkar emas yang tak tertembus. Dan di dalam kegelapan kamar rumah sakit itu, Hayden bersumpah tak akan pernah melepaskan genggamannya, apa pun risiko yang harus ia tanggung.
*
*
*