H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Debu tebal sisa reruntuhan genteng dan pilar gerbang masih mengepul di udara pekarangan rumah keluarga Pak Bambang. Kerangka bangunan rumah yang kini telanjang tanpa atap tampak begitu mengenaskan di bawah terik matahari sore.
Di atas tanah lapang yang dipenuhi reruntuhan itu, Bu Maya masih terduduk lemas di tanah sambil mempangku kepala Gisella yang perlahan mulai sadar dari pingsannya. Tangisan isak tertahan dari ibu dan anak itu berpadu dengan dengungan mesin eskavator yang sengaja dipadamkan sejenak oleh operator.
Sementara itu, Reno Alamsyah dan Pak Bambang berdiri dengan napas memburu dan pakaian kotor penuh debu. Wajah mereka menyisakan kemerahan akibat amarah yang tertahan di dada.
Tiba-tiba, ponsel pintar berukuran besar yang dipegang oleh salah seorang pengawal pribadi Bu Aura berdering nyaring. Layar ponsel tersebut menampilkan panggilan video aktif dari satu nama: Kalea Mahika.
Bu Aura melangkah maju mendekati dua pria yang sedang diliputi amarah itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita paruh baya tersebut mengangkat ponselnya tinggi-tinggi tepat di hadapan wajah Pak Bambang dan Reno, lalu mengeraskan volume audionya.
Wajah cantik Mahika seketika muncul di layar, terpampang jelas dengan latar belakang studio Mahika Atelier di Bandung yang elegan dan rapi.
Melihat wajah wanita yang baru saja menghancurkan rumah mereka terpampang di layar ponsel, Pak Bambang langsung maju melangkah dengan mata memerah bagaikan banteng terluka.
"Mahika! Kamu anak kurang ajar! Kamu benar-benar sudah hilang akal!" teriak Pak Bambang murka, meludahi tanah di dekat kaki Bu Aura karena geram. "Berani-beraninya kamu merusak rumah bapak sendiri! Kamu sengaja mau menghancurkan keluarga kita, hah?."
Di sebelah Pak Bambang, Reno yang tidak kalah emosi langsung merebut celah untuk ikut menyerang secara verbal. Dengan napas memburu dan harga diri yang sudah hancur lebur di hadapan warga, Reno mencemooh dengan nada suara sinis.
"Heh, Mahika! Jangan belagu kamu!" hardik Reno menatap tajam ke arah layar ponsel. "Kamu pikir dengan pamer kekayaan begini kamu kelihatan hebat? Kamu itu cuma perempuan gila yang stres karena ditinggal nikah sama aku! Kamu sengaja kan merusak semua ini cuma buat cari perhatian aku?."
Mendengar makian dari ayah kandungnya dan hinaan sampah dari mantan tunangannya, Mahika di ujung panggilan video sama sekali tidak terlihat tersinggung. Ia justru mengangkat sebelah alisnya, lalu menyesap teh hangat dari cangkirnya dengan begitu tenang dan anggun.
Mahika menatap layar ponsel, lalu tertawa kecil sebuah tawa ringan yang terdengar sangat meremehkan.
"Cari perhatian kamu, Reno?" ucap Mahika dengan nada suara santai namun setajam silet. "Astaga, tolong sadar diri. Kalau saja saya tahu dari dulu bahwa kamu itu cuma laki-laki mokondo modal tenaga kurang, dompet kosong, tapi urusan numpang hidup dan numpang fasilitas paling gercep saya pasti sudah membuang kamu ke tempat sampah sejak tahun pertama kita pacaran."
Skakmat! Kata-kata laki-laki mokondo yang dilontarkan Mahika langsung menghantam tepat di ulu hati Reno. Wajah pria itu mendadak pias, kehilangan kata-kata di hadapan Bu Aura dan puluhan tetangga yang masih berkerumun.
Mahika mengalihkan pandangannya dari Reno, lalu menatap lurus ke arah Pak Bambang yang tertegun marah di sebelah mantan tunangannya itu.
"Dan untuk Bapak..." lanjut Mahika dengan tatapan mata yang berubah dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum. "Jangan pernah sebut rumah itu sebagai rumah keluarga lagi. Selama bertahun-tahun, bangunan itu bukan tempat berteduh, tapi kandang penindasan di mana saya diperas tenaganya, diperlakukan tidak adil, dan dijadikan sapi perah demi membiayai hidup Kak Gisel dan pria parasit pilihannya."
Mahika menggelengkan kepalanya perlahan.
"Hari ini, saya sengaja mengembalikan fungsi utama tanah dan bangunan itu menjadi rata dengan tanah," ucap Mahika tanpa nada penyesalan sedikit pun. "Uang yang saya keluarkan untuk merobohkan rumah itu tidak ada apa-apanya dibanding semua air mata dan rasa sakit yang kalian berikan ke saya dulu. Anggap saja saya sedang membuang sedikit rezeki kotor yang tidak sengaja menempel di keluarga kalian."
Pak Bambang terhuyung mundur selangkah, napasnya memburu mendengar telaknyal kalimat sang anak bungsu.
"Jijik..." bisik Mahika pelan namun terdengar jelas di mikrofon, menatap layar dengan ekspresi geli. "Kalau saya flashback mengingat bagaimana dulu saya capek-capek membanting tulang mencari uang mendesain pernikahan mereka berdua... saya rasa saya hampir muntah. Tapi, saya harus berterima kasih pada kejadian itu. Pengalaman pahit bersama kalian adalah guru terbaik yang mengajarkan saya cara bangkit menjadi wanita yang tidak bisa lagi diinjak-injak."
Mahika kemudian mengalihkan pandangannya sedikit ke arah sudut layar di mana Bu Aura berdiri memegang ponsel. Senyum hangat terukir di bibirnya.
"Dan terima kasih banyak, Bu Aura... untuk semua bantuan, perlindungan, dan eksekusi lapangan yang luar biasa hari ini," kata Mahika tulus.
"Sama-sama, Mahika kesayangan Ibu," jawab Bu Aura dengan suara lembut, tersenyum bangga pada anak didiknya. "Pekerjaan kotor membersihkan hama sudah selesai di sini. Segera fokus pada koleksi butikmu di Bandung."
"Baik, Bu. Sampai jumpa di Jakarta minggu depan," balas Mahika.
Klik.
Panggilan video itu ditutup oleh Mahika. Layar ponsel Bu Aura kembali gelap.
Suasana di reruntuhan rumah Pak Bambang mendadak hening seketika. Tidak ada lagi yang berani bersuara. Reno berdiri membatu bagaikan patung lumpur, sementara Gisella yang baru sadar di pangkuan ibunya kembali menangis histeris meratapi kehancuran total hidupnya.
Bu Aura memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu melirik sekilas ke arah Pak Bambang dan Reno dengan senyum meremehkan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, Bu Aura berbalik badan. Kedua pengawalnya membuka pintu SUV hitam legam, dan sang CEO Aura Fashion itu langsung masuk ke dalam mobil, meninggalkan keluarga yang kini benar-benar jatuh miskin, bangkrut, dan menjadi bahan tertawaan se-Indonesia.
Ya... se-Indonesia.
Karena tanpa disadari oleh keluarga Pak Bambang, puluhan video amatir yang direkam oleh para tetangga tadi benar-benar meledak di berbagai platform media sosial.
Video detik-detik hancurnya gerbang dan atap rumah akibat eskavator kiriman Mahika, dipadu dengan potongan siaran langsung sindiran Mahika dan rekam jejak pernikahan gagal di atas tanah kosong, mendadak menjadi video paling viral atau FYP (For You Page) di TikTok, Instagram Reels, serta X (Twitter).
Kolom komentar di akun-akun warga kampung yang mengunggah video tersebut dibanjiri oleh puluhan ribu komentar dari warganet seluruh negeri.
@dian_kusuma: "Gilaaa, ini beneran real-life revenge plot paling epik abad ini! Mahika is a queen! Di-spoiled sama CEO Aura Fashion pula, mana peduli sama keluarga toxic kayak gitu wkwk!"
@rara_sintia: "The real rumah mertua indah to rumah tanpa langit speedrun any%. Puas banget liat si cowok mokondo sama kakaknya yang tukang tikung dapet karma instan di hari H.
@fahrul_anwar: "Semangat Mbak Mahika! Laki-laki parasit dan keluarga egois kayak gitu emang pantes dapet kado alat berat. Ditunggu grand opening Mahika Atelier cabang Jakarta."
@siti_aminah99: "Aku tetangga gang sebelah rumah mereka, sumpah seru banget hari ini kayak nonton bioskop gratis. Good job Mahika, kamu wakili perasaan semua anak tengah yang sering dianaktirikan."
Gelombang dukungan masif dari seluruh penjuru negeri mengalir deras untuk Kalea Mahika. Di balik studio mewahnya di Dago Atas, Bandung, Mahika telah resmi memenangkan perangnya. Lembaran hidup baru yang bersih dari noda pengkhianatan kini terbentang luas, siap ia ukir dengan tinta emas kesuksesan yang mutlak.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂