Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Malam Pertama di Rumah Ular
#
Mobil hitam itu pergi sebelum Bima sempat melangkah.
Tidak ada tembakan, tidak ada kejaran. Kaca belakangnya naik sejengkal demi sejengkal, wajah berkacamata itu tenggelam dalam bayangan, lalu mesin menderu dan mobil menghilang di tikungan gang seolah tidak pernah ada.
Wartini sudah berlari. Selendangnya terlepas, sandalnya tertinggal satu di pagar, dan ia baru berhenti ketika dua pria berjas menahan lengannya.
"Lepas! Itu suamiku! Lepas!"
"Bu." Bima menangkap bahunya. Tubuh ibunya gemetar sampai giginya beradu. "Bu, lihat saya. Bu."
"Dia hidup, Mas. Dia hidup. Dua belas tahun..."
"Saya lihat."
Dari belakang, suara Om Gio mengalun pelan, penuh simpati yang terukur. "Wartini, aku tahu ini berat. Tapi malam ini kamu tidak perlu mengejar apa pun. Semua akan dijelaskan. Di rumah."
"Rumah siapa?" tanya Bima tanpa menoleh.
"Rumahmu sekarang. Mansion Vieri."
Alessia tidak membantah. Itu yang membuat Bima menoleh. Ia berdiri kaku dengan tangan kiri, yang memakai cincin imitasi, terkepal di sisi tubuh. Matanya tidak pada Om Gio. Pada jalan kosong tempat mobil tadi menghilang.
"Mbak," bisik Bima.
"Nanti."
"Itu cincin A. Itu..."
"Aku bilang nanti." Ia akhirnya menatapnya. Sorotnya tajam, tapi di dasarnya ada sesuatu yang retak. "Kalau kamu menolak masuk ke mansion, polisi membawaku sekarang. Dan ibumu, adikmu, tidak punya perlindungan apa pun begitu aku hilang. Kamu paham?"
"Paham."
"Maka berjalanlah seperti suami yang bahagia."
"Saya nggak bisa pura-pura bahagia."
"Pura-pura saja tidak peduli. Itu lebih mudah untuk orang sepertimu."
Bima menggertakkan rahang. Tapi ketika ia melangkah, ia meraih tangan Alessia, tangan yang bercincin palsu, dan menggenggamnya. Bukan karena skenario. Karena ia melihat jari-jari itu masih bergetar, dan ia tidak tahan melihatnya.
Alessia tersentak. Hanya sedetik. Lalu jarinya, tanpa izin pemiliknya, menutup balik.
---
Mansion Vieri malam itu terlalu sunyi untuk rumah sebesar itu.
Lampu kristal menyala di aula, tapi tidak ada tawa, tidak ada langkah pelayan. Hanya deretan pria berjas berdiri di sepanjang dinding, menunduk ketika Alessia lewat. Bima menghitung tanpa sengaja. Dua puluh dua orang. Tidak satu pun berani menatap mata.
"Nyonya Vieri," gumam seseorang ketika mereka lewat.
Bima merasakan tangan Alessia mengencang di tangannya. Gelar itu terdengar seperti nama orang lain.
"Kamar kalian di sayap timur," kata kepala pelayan berseragam hitam, perempuan yang tadi membukakan pintu rumah putih. "Ibu Wartini dan Dimas di sayap barat, dengan penjagaan."
"Saya mau mereka dekat saya," kata Bima.
"Itu tidak diizinkan, Tuan."
"Saya bukan tuan."
"Di rumah ini, Anda sudah."
Alessia melepaskan tangannya. "Biarkan di sayap barat. Dua penjaga kita, bukan penjaga Giovanni. Rico yang pilih."
"Nona..."
"Nyonya," koreksi Alessia dingin. "Kalau kalian memakai gelar itu, pakai dengan benar."
Kepala pelayan menunduk lebih dalam. Dan Bima, untuk pertama kalinya, melihat apa yang dimaksud cerita-cerita yang tidak pernah ia dengar. Pria-pria bersenjata menahan napas hanya karena satu kalimat pendek dari seorang perempuan yang tingginya tidak sampai bahu mereka.
---
Kamar itu besar, dingin, dan hanya punya satu ranjang.
Bima berdiri di ambang pintu seperti orang yang salah alamat. Tirai beludru, perapian yang tidak menyala, lemari yang pasti lebih besar dari seluruh kamarnya di rumah. Dan ranjang berseprai putih dengan dua bantal.
"Saya tidur di lantai," katanya.
"Terserah."
"Atau di sofa."
"Sofanya terlalu dekat jendela. Tidak aman." Alessia melepas mantelnya, menggantungnya dengan gerakan terlatih, lalu mengecek jendela, laci, dan bawah ranjang tanpa bicara. Pistol keluar dari balik pinggang dan masuk ke bawah bantal sisi kanan. "Kamu di sisi kiri. Pakai bantal sebagai pembatas."
"Mbak serius?"
"Satu bantal, satu garis. Kalau kamu melewatinya, aku tidak bertanggung jawab."
"Mbak nodong saya?"
"Aku tidak bilang pakai pistol."
Bima menatapnya. Alessia menatap balik dengan wajah sedatar meja. Lalu sudut bibirnya bergetar, hampir tidak terlihat, dan ia buru-buru memalingkan wajah ke jendela.
Bima tidak berkomentar. Tapi ia menyimpan itu, seperti menyimpan kembalian kecil yang tidak ia sadar menyenangkannya.
Mereka berbaring dalam gelap dengan satu bantal panjang di tengah. Langit-langit tinggi, bayangan dahan bergerak di dinding. Bima menatap kain batik di tangannya, tidak berani membuka lagi halaman tinta biru itu.
"Mbak belum tidur," katanya setelah lama.
"Aku tidak tidur dalam gelap."
"Lampunya Mbak matikan sendiri."
"Itu untuk melihat jendela. Bukan untuk tidur."
"Kalau Mbak nyalain lampu?"
Hening panjang. Lalu klik pelan, dan lampu meja di sisi Alessia menyala, kuning redup, cukup untuk membuat bayangan di dinding mengecil. Bima tidak menoleh, tidak berkata apa-apa. Tapi napas di balik bantal itu perlahan memanjang.
Mungkin lima menit. Mungkin dua puluh. Ketika Bima akhirnya hampir terlelap, suara lirih memanggilnya.
"Bima."
"Hm."
"Pria di mobil itu. Yang berkacamata."
"Saya lihat."
"Kalau dia benar ayahmu." Suara Alessia sangat pelan, seperti takut didengar tembok. "Berarti dua belas tahun ini dia membiarkanmu menjual sate. Membiarkan ibumu mencuci piring dan menangis sendirian. Kamu akan membencinya?"
Bima menatap langit-langit lama sekali.
"Saya belum tahu," katanya jujur. "Tapi kalau dia hidup, saya mau dengar sendiri alasannya. Dan kalau alasannya jelek, saya tetap mau peluk dia dulu."
Tidak ada jawaban. Tapi bantal pembatas itu bergeser sedikit, sangat sedikit, seolah tertarik oleh sesuatu yang tidak disengaja.
---
Pukul dua lewat, Bima terbangun karena suara.
Bukan langkah. Bukan ketukan. Sesuatu yang lebih halus, seperti seseorang bernyanyi sangat jauh, di dalam dinding.
Ia membuka mata. Alessia sudah duduk, pistol di tangan, rambut berantakan, mata nyalang menatap pintu. Lampu meja padam. Ia tidak mematikannya.
"Kamu dengar?" bisiknya.
"Iya."
"Itu bukan dari lorong."
"Dari mana?"
Alessia mengangkat dagu ke arah dinding di belakang perapian, dinding yang tidak punya pintu. Suara itu naik dan turun, bukan lagu, melainkan dua nada yang sama dipanggil berulang, pelan, sabar, dengan nada seorang bapak yang memanggil anaknya makan.
Bima menggigil. Itu nada yang sama dengan ayahnya dulu memanggil dari dapur setiap pulang kerja.
"Bi... ma..."
Suara itu berhenti. Seolah sengaja memberi waktu agar ia menjawab.
Kertas tinta biru di tangan Bima terasa membakar. *Jangan pernah menjawab kalau ada yang memanggil namamu dari kamar di ujung lorong.*
"Jangan," bisik Alessia, mencengkeram lengannya. "Jangan jawab."
"Itu suara..."
"Aku tahu."
"Mbak, itu bapak saya."
"Dua belas tahun lalu aku juga mendengar suara ayahku memanggil dari pintu." Cengkeramannya menguat sampai terasa sakit. "Aku menjawab. Dan semua yang kuingat sesudah itu hilang."
Bima menoleh. Wajah Alessia pucat di bawah cahaya bulan, matanya basah, dan ia tidak berusaha menyembunyikannya.
"Bima... anakku..."
Suara itu kini lebih dekat. Dinding di belakang perapian bergetar halus, dan dari celah tipis di antara panel kayu, selarik cahaya kuning muncul. Sebuah pintu rahasia terbuka satu senti.
Lalu sesuatu menyelip keluar dari celah itu.
Selembar kertas, meluncur pelan di lantai marmer, berhenti tepat di ujung kaki Bima. Bukan tinta biru kali ini. Merah, masih basah, bau besi.
*Alessia boleh ikut masuk. Tapi tanya dulu padanya, kenapa tiga tahun yang hilang itu ada di dalam sini.*
Dan dari balik dinding, jelas, dekat, dengan suara Hadi Ardhana yang tidak berubah dalam dua belas tahun, terdengar bisikan terakhir.
"Alessia sayang... akhirnya kamu pulang."